
Jemari lentik saling meremas. Jangan ditanya seberapa dinginnya telapak tangan yang berkeringat itu. Denyut jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, berlomba dengan ketakutan yang menyerangnya sejak setengah jam yang lalu. Melihat mertuanya merosot membentur lantai, pengalaman yang tidak bisa di lupakannya,
Lupa sudah dengan tas mahal yang baru saja dikaguminya, lenyap sudah keinginan untuk memilikinya. Semua berganti kepanikan saat melihat tubuh renta mama mertuanya ambruk di depan mata.
Seketika dunianya berhenti berputar, waktu berhenti berdetak saat melihat tubuh Ibu Citra jatuh tidak tertenaga, lunglai di atas lantai toko.
Sampai sejauh ini dia masih menyembunyikan ketakukan yang berkolaborasi dengan kepanikan. Suara keras Pram masih tergiang jelas di telinga. Suaminya tidak mengomel lagi, tetapi langsung membentaknya saat mendapat kabar dari telepon kalau mamanya pingsan di sebuah toko tas ternama.
Lima menit duduk sendirian di depan ruang IGD, terdengar langkah kaki kasar menghampiri. Cukup mendengar Kailla tahu lebih dari satu orang yang mendekat.
“Bagaimana mama?” tanya Pram, memandang ke arah pintu ruangan. Menyusul di belakangnya Pieter. Keduanya berlari panik menuju ke rumah sakit, melupakan mantel hangatnya, menembus cuaca dingin kota Wina.
Pram sedang menikmati makan siang di kediaman Pieter setelah kunjungan santainya di kantor KRD saat Kailla menghubunginya.
Gelengan kepala Kailla tanpa suara menandakan dia sendiri tidak tahu bagaimana kondisi mama mertunya.
“Baru sebentar aku meninggalkannya padamu, Kai. Tetapi kamu sudah membuat mama ambruk seperti ini.” Pram mengomel dengan nada terkontrol. Masih menjaga emosinya karena Pieter juga bersama mereka saat ini.
“Ma-af.”
Hanya sebuah kata saja keluar dari bibir Kailla. Selebihnya dia tertunduk merutuki kesalahannya. Terlalu bersemangat, sampai melupakan kesehatan mertuanya yang baru saja sembuh.
“Minta sopir mengantarmu pulang, Kai.”
Hening—
Kailla tidak menjawab, hanya sanggup mencuri pandang pada suaminya. Lelaki tampan itu masih saja mengeraskan garis wajahnya. Meskipun Pram tidak mengeluarkan banyak kata, Kailla tahu suaminya sedang marah.
“Sayang, maafkan aku,” bisik Kailla, meraih tangan Pram yang berdiri tidak terlalu jauh dari tempat duduknya. Sesekali melirik ke arah Pieter. Rasanya ingin memeluk dan menangis di pundak suaminya kalau saja tidak ada Pieter bersama mereka.
Pram bergeming. Jangankan menjawab, melihat istrinya pun tidak. Emosi terlalu menguasi hatinya, dia lupa bukan hanya dia, Kailla pun sama khawatirnya.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, masih belum ada kabar dari dalam ruangan. Entah apa yang terjadi pada mamanya di dalam sana. Setiap mengingat mamanya yang jatuh, amarah Pram merambat naik.
__ADS_1
“Kenapa mencuri keluar lagi? Kenapa kamu suka membantahku, Kai?” tanya Pram, mengusap kasar wajahnya. Menghempaskan tubuhnya, duduk di kursi yang sama dengan istrinya. Hanya terpaut jarak satu kursi kosong. Senjaga Pram tidak mau duduk terlalu dekat. Kekesalannya terlihat nyata.
“Maaf, aku salah,” bisik Kailla penuh penyesalan. Saat ini dia menyesal telah membawa mertuanya ikut serta dalam kenakalannya.
“Pulang sekarang. Aku tidak mau semakin bertambah kesal melihatmu,” perintah Pram.
Kailla menitikan air matanya, mulai menangis seperti biasa. Tetapi kali ini dia menggigit bibirnya kuat-kuat supaya isaknya tidak terdengar keluar.
Mungkin keduanya sedang saling menjaga hubungan mereka supaya terlihat baik-baik saja di depan orang lain, termasuk Pieter.
“Jangan menangis terus, Kai. Orang akan mengira aku memarahimu terus. Jujur aku sudah lelah harus marah padamu,” ucap Pram, kesal.
Susah payah dia menahan emosinya supaya tidak memarahi istrinya. Tidak meneriaki Kailla seperti yang sudah-sudah.
“Pulang sekarang, aku yang akan menunggu mama,” lanjut Pram.
“Aku tidak mau pulang,” rengek Kailla, bergeser duduk, merengkuh lengan Pram dan bersandar disana.
“Aku mohon maafkan aku ya,” bisik Kailla, menautkan jemarinya pada jemari suaminya.
Pram tetap diam. Tidak mau meladeni rengekan Kailla. Tidak juga membalas perlakuan mesra istrinya. Hanya pasrah, sembari menutup matanya bersandar di kursi.
“Sayang..,” bisik Kailla lagi. Kembali merengkuh lengan suaminya.
“Maafkan aku,” bisik Kailla tidak kenal lelah dan menyerah untuk mendapatkan maaf suaminya.
“Sudahlah Kai, kepalaku pusing. Bisa tidak tutup mulutmu. Aku lelah mendengar suaramu,” ucap Pram. Walau dengan intonasi lembut, tetapi lumayan membuat perasaan Kailla tercekat.
Tidak lama, muncul seorang dokter, keluar dari ruangan. Pieter dan Bayu yang duduk di bangku lain tampak bergegas maju dan menghampiri. Dengan bahasa Jerman sang dokter menjelaskan, Pieter menyimak semua penjelasan dokter selanjutnya menerjemahkan semuanya pada Pram.
“Tidak apa-apa, Pram. Hanya kecapekan saja. Tensinya sedikit tinggi, butuh istirahat sebentar, tidak perlu rawat inap. Selebihnya baik-baik saja.” Pieter menjelaskan panjang lebar, dia akhir kata dia masih melempar senyuman pada Kailla.
Kailla bisa tenang, tangis dan airmata yang sempat muncul berganti senyuman. Sesekali bersandar manja di lengan suaminya yang bahkan tidak meladeninya.
“Sudah Kai, aku lelah. Sebaiknya kamu pulang saja.” Pram berkata, sembari melepaskan diri dari belitan tangan istrinya yang mengunci lengannya.
__ADS_1
“Sayang, mama sudah baik-baik saja. Jangan marah lagi padaku, ya?” bujuk Kailla untuk kesekian kalinya, dan selalu saja mendapatkan penolakan.
“Karena mama sudah tidak apa-apa, jadi kesalahanmu dianggap selesai. Jadi tidak masalah lagi. Begitu maksudmu, Kai? Nanti kamu tinggal mengulanginya kembali. Begitu kan maksudmu?” ucap Pram dengan nada sedikit meninggi.
“Sayang, aku kan sudah minta maaf,” bisik Kailla tertunduk.
Pram menghela nafasnya. Berusaha menahan emosinya supaya tidak meletup-letup.
“Bay, bawa Kailla pulang ke rumah,” perintah Pram.
“Sayang, aku tidak mau pulang. Aku mau tetap disini menjaga mama bersamamu.” Kailla kembali menolak.
Pram tersenyum sinis. Menatap istrinya, sembari menghela nafas supaya tetap tenang dan terkendali.
“Aku mohon jangan membantahku kali ini, Sayang. Aku tidak mau menyakitimu. Pulang sekarang dengan Bayu. Renungi semua kesalahanmu di rumah,” ucap Pram, mengecup kening istrinya, sebelum mengusir Kailla pergi dari rumah sakit.
Tetapi bukan Kailla bisa ditaklukan dengan mudah. Bukannya pergi, dia malah memeluk pinggang suaminya.
“Jangan marah lagi. Aku akan pulang kalau kamu tidak marah padaku. Aku kan sudah minta maaf,” bisik Kaiila.
“Iya, sudah minta maaf berarti selesai. Nanti tinggal mengulangi. Pulang sekarang! Kamu tidak bisa diandalkan. Untuk apa tetap disini. Aku sudah mempercayakan mama padamu, tetapi kamu tidak bisa membuktikan kalau kamu istri yang bisa mendukung suamimu,” ucap Pram.
“Aku hanya memintamu menjaga mama sebentar selama aku ke kantor. Bukan merawatnya seperti yang Kinar lakukan,” lanjut Pram.
“Memang tidak ada yang bisa melayani mama sebaik Kinar. Sampai sejauh ini tetap dia yang terbaik dalam hal mengurus mamaku,” ucap Pram.
Kata-kata yang keluar dari bibir Pram memang lembut, tidak ada kemarahan, tetapi menusuk hati. Kailla tertunduk, ada dua bulir air mata yang mengalir turun di pipinya tanpa bisa ditahan.
“Sayang, aku pulang,” ucapnya pelan. Masih saja menunduk, menyembunyikan air matanya yang turun kian deras.
“Bay, kita pulang sekarang,” bisik Kailla terisak, merengkuh lengan Bayu, menumpahkan airmatanya di sana.
“Jangan menangis lagi, Non. Pak Pram hanya emosi sesaat. Dia hampir gila saat tahu mamanya pingsan. Lagipula kenapa Non main pergi tanpa izin dari Pak Pram.” Bayu berusaha menenangkan.
Tbc
__ADS_1
Love you all
Terimakasih.