Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 151 :Dia baik-baik saja Bay


__ADS_3

“Ma, aku tidak masuk ke dalam,” sahut Kinar, berusaha menahan tangisnya.


“Kamu tahu kan, di dalam ada Pram. Sudah pernah sekali dipermalukan, kenapa masih belum jera juga, Kinar.” Ibu Citra memejamkan matanya. Perasaannya saat ini campur aduk, antara kesal dan kasihan. Kesal karena Kinar tidak ada kapoknya, kasihan karena tanpa sengaja sudah memukul gadis yang sudah dianggap putrinya sendiri.


“Aku tidak bermaksud masuk ke dalam, Ma. Aku juga tahu,” sahut Kinar, mencoba membela diri.


“Lalu kenapa berdiri di depan pintu?” todong Ibu Citra, sedikit melunak.


“Kamu tahu sendiri kan, kalau Pram sedang di dalam. Itu artinya apa,” lanjut Ibu Citra.


“Iya Ma, aku juga tahu. Aku hanya ingin menyerahkan ponselnya Mas Pram, sejak tadi berdering. Khawatir ada kabar baik tentang Kailla,” jelas Kinar, menunjukan ponsel yang baru saja berhenti berbunyi.


“Itu pun aku urungkan, takutnya Mas Pram salah paham lagi.” Kinar lanjut menjelaskan, dan menyerahkan ponsel di tangannya pada Ibu Citra.


Pram yang mendengar suara berisik, menganggu tidurnya ikutan keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi. Masih dengan wajah berantakan, setengah mengantuk, memaksa matanya membuka.


“Ada apa, Ma?” tanya Pram dengan suara serak khas bangun tidur.


“Bayu menghubungimu, Mas,” sahut Kinar, menunjuk ponsel di tangan Ibu Citra. Gadis itu bergegas pergi meninggalkan ibu dan anak itu berdua, berdiri di depan pintu.


Pram mengambil alih ponselnya dari tangan Ibu Citra. Lelaki itu bergegas masuk untuk menghubungi Bayu tanpa mau pembicaraannya didengar Ibu Citra maupun Kinar.


“Iya Bay, ada apa?” tanya Pram, begitu sambungan telepon tersambung.


“Ada kabar baik, Bos. Orangku berhasil melacak posisi Non Kailla, tertangkap cctv di salah satu hotel kecil di Kebayoran Lama, tetapi kemarin pagi Non Kailla check out.” Bayu menceritakan apa yang diketahuinya,


“Bisa kirimkan videonya? Aku ingin melihat sendiri bagaimana kondisi istriku,” pinta Pram, sedikit lega. Setidaknya dia bisa memastikan kalau Kailla dan bayi mereka baik-baik saja.


“Baik Bos.”


“Kalian dimana?” tanya Pram


“Rumah baik-baik saja, kan?” tanya Pram lagi.


“Baik, Bos. Aku di Rumah Riadi yang lama bersama Sam dan Ricko.”


“Baiklah, aku menyusul ke sana,” ucap Pram sebelum memutuskan panggilan.


***

__ADS_1


Pram sudah mandi dan berdandan rapi dengan tampilan santai. Kebetulan hari ini hari minggu, dia tidak pergi ke kantor, seharian ini bisa mencari Kailla dengan maksimal. Apalagi laporan dari Bayu, membuat lelaki itu bersemangat.


Begitu keluar dari kamar, kembali dia disuguhkan dengan suara Ibu Citra yang mengomeli Kinar tidak berkesudahan. Lebih tepatnya, memberi nasehat pada gadis itu supaya menjauhi putranya. Tampak Kinar masih mengenakan celemek, berdiri di samping meja makan. Ibu Citra sendiri, duduk menikmati segelas susu sereal tanpa rasa.


“Ma, sudahlah!” ucap Pram, menarik kursi di samping mamanya. Bersiap menikmati sarapan pagi, nasi goreng telur buatan Kinar.


“Kamu boleh pergi! Ada yang ingin aku bicarakan dengan mama. Jangan menguping, aku tahu itu kebiasaanmu, hobimu.” Pram memberi perintah pada Kinar, tanpa menatap sang lawan bicara.


Tangannya dengan lincah membalik piring yang tertelungkup di atas meja, bersiap menyendokan nasi goreng. Kinar yang hendak membantu, segera ditolak Pram.


“Tidak, terimakasih. Aku bisa sendiri. Kamu bisa pergi sekarang. Kamu bisa keliling komplek sepuluh putaran!” ucap Pram, asal tanpa berpikir.


Setelah memastikan Kinar sudah menjauh darinya, Pram pun membuka suara.


“Ma, sudahlah. Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Kinar. Aku tidak membelanyaa, tetapi tadi dia memang tidak masuk ke kamar,” ujar Pram, membuka pembicaraan di meja makan.


Ibu Citra yang sedang menyuapkan sereal ke mulutnya menoleh, menatap putranya yang sedang menikmati nasi goreng.


“Apa kamu keberatan dia tinggal disini?” tanya Ibu Citra.


“Tidak. Dan istriku juga tidak keberatan,” sahut Pram, masih sibuk menyuapkan sarapan paginya ke dalam mulut.


“Pram, mama serius. Kalau kamu keberatan, mama bisa meminta Kinar tinggal sendiri. Di dekat-dekat sini. Jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak saat harus bertemu dengannya setiap menginap disini.”


“Sebenarnya kalau boleh jujur, aku dan Kailla tidak mempermasalahkan keberadaan Kinar. Bagiku dan Kailla, Kinar itu bukan ancaman untuk rumah tangga kami. Tidak berpengaruh sama sekali,” jelas Pram.


“Bagi kami dia tidak penting. Makanya kami tidak menganggap dan melihat keberadaannya,” lanjut Pram.


Terlihat Pram menghela nafas.


“Kalau mama merasa nyaman dengannya, silahkan saja. Kalau pun, mama memilih tinggal terpisah dengan Kinar, aku tidak mempermasalahkannya. Terserah mama saja. Namun, jangan jadikan aku dan Kailla alasannya. Kami tidak terganggu dengan keberadaannya selama dia tidak melewati batasannya.


“Contohnya seperti beberapa waktu yang lalu,” lanjut Pram.


“Bagaimana dengan Kailla?”


Pram terkekeh.


“Apalagi Kailla. Dia cukup dewasa menanggapi perasaan Kinar padaku. Dia percaya sepenuhnya padaku, suaminya, makanya dia tidak pernah mempermasalahkan keberadaan Kinar. Bagi Kailla, Kinar itu bukan saingannya. Hanya saja dia suka kesal melihat tingkah Kinar, termasuk kelancangan Kinar memelukku kemarin.”

__ADS_1


“Terbukti selama ini dia menerima Kinar dengan baik, memperlakukan Kinar dengan baik, meskipun terkadang sering memanas-manasi Kinar.” Pram tertawa mengingat bagaikan Kailla yang mengumbar kemesraan mereka saat di depan Kinar.


“Kailla juga menghargai Kinar demi mama. Dia tahu seberapa berartinya Kinar untuk mama.”


“Kamu serius, Pram?” tanya Ibu Citra.


“Aku serius. Aku mengenal istriku dengan baik. Kalau memang Kailla merasa Kinar itu ancaman, dia tidak akan tinggal diam. Pasti dia akan menjambak Kinar dan mengajak gadis itu bergumul. Pasti berulah padaku dan mengamuk tidak berkesudahan, tetapi dengan Kinar dia biasa saja meskipun dia tahu Kinar menyukaiku. Baginya asalkan Kinar tidak menyentuh miliknya. Dia tidak akan menganggu. Dan selama ini Kinar belum sampai tahap itu,” jelas Pram.


“Sudahlah ma. Aku tidak mau membahas Kinar yang tidak penting. Aku harus mengurus istriku. Terserah mama mau diapakan. Jangan bertanya padaku, hanya membuang-buang otakku untuk memikirkan hal yang tidak penting begini.”


Pram sudah bangkit, setelah menyelesaikan sarapannya dengan cepat.


“Kamu mau kemana, Pram?” tanya Ibu Citra, buru-buru menahan tangan putranya.


“Mencari istriku.”


“Nanti kamu pulang kesini lagi?” tanya Ibu Citra.


“Lihat saja, nanti. Aku tidur dimana saja boleh, asal bersama istriku,” ucap Pram, mulai bisa tersenyum.


***


Mobil Pram sudah masuk ke pekarangan rumah Riadi. Sam yang baru saja tiba di sana, buru-buru menyapa majikannya itu dengan senyuman.


“Bagaimana?” tanya Pram, setelah turun dari mobil sport hitamnya.


Sam menggeleng. Menatap Pram yang beberapa hari ini menghilang dan tidak pulang ke rumah mereka yang di Pantai Mutiara. Majikannya itu terlihat kurus, kusam dengan lingkar hitam di dekat mata.


“Bayu mana? Panggil dia kemari!” Perintah Pram mengedar pandangan ke sekeliling. Menatap rumah yang tadinya dia dan Kailla tinggali sebelum pindah ke rumah mereka yang sekarang.


Tak lama, asisten kesayangan itu sudah berlari menghampiri Pram di teras rumah. Majikanya terlihat lebih segar dengan tampilan casual putihnya. Berdiri sembari menyelipkan kedua tangan di saku celana. Tampak Bayu mengabarkan berbagai perkembangan yang didapatkan dari orang-orangnya.



Pram masih menatap ponsel di tangannya. Melihat rekaman cctv di hotel membuat lelaki itu bisa bernafas lega dan tersenyum.


“Dia baik-baik saja, Bay,” ucap Pram, mengusap layar ponselnya. Melepas rindunya pada Kailla yang sudah menggunung selama beberapa hari ini.


***

__ADS_1


To be continue


__ADS_2