
“Pak.” sapa Sam, dengan suara gemetar ketakutan. Berjalan mendekati Pram.
Sam tertunduk, bersiap menerima hukuman.
“Panggilkan Ibu Ida dan Ibu Sari!” perintah Pram. Pandangan tertuju pada istrinya.
Kailla diam di tempat, menunduk sembari meremas ujung piyamanya. Tidak berani beradu tatap dengan suaminya.
“Panggilkan!” perintah Pram setengah berteriak.
“Kamu boleh memukulku sekarang,” ucap Kailla pelan.
“Lepaskan mereka, aku yang bersalah,” lanjut Kailla, maju beberapa langkah mendekati suaminya.
Pram terlihat menghela nafas, berusaha menahan emosi yang menyesak di dadanya.
“Kamu tahu salah, kenapa diulangi, Kai?” tanya Pram, sedikit melunak.
“JAWAB!” bentak Pram. Semakin Kailla diam, semakin dia kesal.
Kailla mulai menangis seperti biasanya, saling meremas jemari dan tertunduk. Saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Maaf, semua kesalahanku Pak.” Sam akhirnya membuka suara. Setelah tidak tega mendengar Kailla menangis.
“Silahkan menghukumku. Boleh memukulku, tapi jangan membentak Non Kailla. Semua kesalahanku, semua ideku, semua saranku.” jelas Sam, melirik Kailla sekilas.
Mendengar ucapan asistennya itu, Kailla langsung memeluk Sam, sembari menggigit bibirnya, supaya suara tangisnya tidak terdengar keluar.
Pram memijat kepalanya. Kemarahan membuat darahnya naik dan sedikit pusing. Entah apa yang dipikirkan keduanya. Dia hanya bisa menatap punggung istrinya terguncang hebat, menangis di bahu Sam.
“Sam, untuk sementara aku akan meliburkanmu. Kamu tidak perlu bekerja sampai aku memintamu kembali!” ucap Pram dengan tegas, meraih tangan Kailla dan membawanya ke pelukan. Membiarkan istrinya menangis di bahunya.
“Maafkan aku, jangan menghukum Sam,” isak Kailla. Dia langsung berbalik, menatap Sam.
“Pergi dari hadapanku, Sam!” usir Pram.
“Panggilkan Ibu Ida dan Ibu Sari untukku Sam. Cepat!” perintah Pram. Kali ini dia merasa perlu untuk memarahi kedua wanita itu juga. Setidaknya mereka juga mendukung kebodohan istrinya.
“Sayang , maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tetapi jangan memarahi Ibu Ida dan Ibu Sari,” pinta Kailla, meraih lengan Pram, memohon suaminya melepaskan kedua asisten rumah tangga itu.
“Sayang, kalau begitu menyayangi mereka seharusnya kamu berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu,” ucap Pram, dengan penuh ketegasan.
Dari arah dapur, muncul kedua wanita tua itu dengan ragu dan wajah tertunduk. Untuk pertama kalinya kedua asisten rumah tangga itu mendapat kemarahan langsung dari Pram.
“Maaf Pak” sapa Ibu Sari, memberanikan diri menatap majikannya.
__ADS_1
“Istriku membuat kesalahan lagi. Kenapa kalian ikut-ikutan meladeninya!” tanya Pram, menatap tajam pada wanita itu satu per satu.
“Maafkan aku Pak,” ucap Ibu Ida pelan. Serba susah untuknya di posisi saat ini. Kalau dia tidak mengikuti kemauan Kailla, yang ada majikannya itu akan marah-marah dan mengamuk. Tetapi saat diikuti suaminya yang berganti mengamuk.
“Sayang, sudah. Ini semua kesalahanku. Hukum aku saja,” pinta Kailla memohon kembali.
Pram menghela nafas. Antara kesal, marah dan bercampur tidak tega melihat istrinya menangis.
“Mulai saat ini, aku akan menghukum siapa saja yang mendukung kenakalanmu. Tidak terkecuali, siapa pun di rumah ini akan mendapat hukuman yang sama. Jadi, aku sarankan padamu, Kai. Kalau begitu menyayangi mereka, jangan menyulitkan semua asistenmu,” ucap Pram. Bergegas naik ke kamarnya.
Melihat itu, Kailla menyusul. Berusaha memohon maaf dan meredam amarah Pran seperti biasanya.
“Sayang, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan menemui siapa pun lagi setelah ini,” ucap Kailla, mengikuti langkah suaminya.
“Terserah padamu, Kai. Aku lelah, mau tidur sekarang,” sahut Pram. Menengok pun tidak ke arah ?istrinya.
“Sayang.” Kembali Kailla memanggil, meraih tangan Pram.
“Lepaskan Kai. Aku sedang tidak mau membahasnya. Aku butuh istirahat. Renungkan saja apa kesalahanmu. Hukumanmu akan aku jelaskan besok pagi,” ucap Pram, meraih gagang pintu kamar.
Kailla baru saja hendak mengekor masuk ke dalam kamar, saat daun pintu itu dibanting kencang dari dalam.
Blammmm!
Jantungnya langsung berdegup kencang. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, ingin rasnya mendobrak masuk ke dalam. Tetapi akhirnya Kailla memilih turun ke bawah menyusul kedua asistennya.
“Ibu.., tunggu aku,” panggilnya, mengejar kedua asisten rumah tangganya.
“Aku tidur dengan ibu saja,” pinta Kailla, meraih lengan Ibu Ida, bersandar manja di sana.
“Maafkan aku, Bu. Kalian dimarahi suamiku karena ulahku,” lanjutnya lagi.
Kedua asisten rumah tangga itu saling melempar pandangan. Keingian Kailla yang meminta tidur dengan mereka, membuat ragu. Kalau sampai Pram tahu, mereka takut dimarahi kembali. Sudah membiarkan istrinya tidur di kamar sempit tanpa pendingin ruangan.
“Jangan nakal lagi, Non.” Ibu Ida berbisik pelan, sembari mengusap wajah majikannya.
Kailla adalah anak yang mereka asuh sejak bayi. Mereka melihat sendiri Kailla tumbuh dari bayi, gadis kecil, remaja hingga menikah dengan Pram.
“Kasihan Pak Pram,” bisik Ibu Sari ikut menimpalinya.
“Kembali ke kamar Non saja ya. Ibu akan menemanimu menemui Pak Pram,” pinta Ibu Ida.
Kailla menggeleng. “Aku tidak mau, dia membanting pintu kamar. Tidak mengizinkanku masuk,” jelasnya.
“Kamar Ibu sempit, hanya ada kipas angin. Non Kailla tidak akan bisa tidur.”
__ADS_1
“Aku tidak mau tidur dengannya, aku tidur dengan Ibu saja.” Kailla memohon, masih saja bersandar di lengan wanita tua itu.
***
Pram duduk bersandar di ranjang, berusaha merendam perasaannya yang campur aduk. Sembari memejamkan mata, berpikir ulang semua kejadian yang baru saja dilaluinya.
Dari kekesalannya mendapat kabar kalau Kailla sedang berdua dengan Ditya, drama Kailla yang memancing emosinya sampai tangisan Kailla yang memohon maaf dan membela semua asistennya.
Dia bisa melihat sendiri Kailla yang menangis di pundak Sam.
Deg—
Perasaan Pram biasa-biasa saja. Tidak ada cemburu yang berlebih, tidak ada kemarahan atau emosi di saat melihat pemandangan itu. Tetapi kenapa hanya dengan melihat foto Kailla yang makan berdua dengan lelaki itu, dia langsung emosi. Bukankah seharusnya dia mencari tahu kebenarannya. Memastikan bagaimana perasaan Kailla yang sebenarnya.
Tetapi begitu sampai di rumah, dia sudah disambut drama yang lagi-lagi memancing kemarahannya. Ada sedikit sesal, kenapa tidak bisa sedikit bersabar dan menyelesaikannya seperti biasa. Tidak perlu membentak dan mengomeli Kailla, sampai membanting pintu kamar.
Namun, kalau selalu bersabar istrinya tidak pernah mau berubah. Hanya meminta maaf dan mengulangi kembali. Terus begitu saja, berulang kali.
Lama berpikir dan merenung, membawa lelaki itu tertidur. Dia baru terbangun saat menjelang tengah malam. Dengan mata terpejam menepuk sisi ranjang yang biasa ditiduri Kailla. Ada yang aneh dan tidak biasa.
Mengusap lembut seprei dingin yang tidak ditiduri. Lelaki itu langsung terjaga.
“Sayang, kamu dimana?” bisiknya pelan, masih belum menyadari. Lupa dengan kemarahannya beberapa jam yang lalu. Kantuk membuatnya belum sadar sepenuhnya.
Deg—
“Kailla,” bisiknya pelan. Langsung terjaga dari tidurnya. Terlihat berpikir, sebelum akhirnya melompat turun. Melempar selimut dan berlari keluar kamar.
Pram mulai panik saat mencari di semua kamar dan ruangan, tetapi tidak menemukan keberadaan Kailla sama sekali. Istrinya seperti hilang begitu saja.
“Kai..Kai...!” panggilnya, berhenti sejenak menunggu jawaban.
“Kamu di mana, Sayang?” bisiknya pelan, mulai menyesal setelah hampir lima belas menit mengitari ruangan demi ruangan tidak menemukan istrinya. Mencari dari kamar satu ke kamar lainnya, semuanya kosong.
Sampai akhirnya langkah kaki membawanya ke rumah belakang, meminta bantuan para asisten untuk mencari istrinya.
”Sam!” teriak Pram, mengetuk pintu kamar yang ditempati asisten istrinya itu.
***
To be continued
Love You all
Terima kasih.
__ADS_1