
“Kailla! Apa yang kamu lakukan?” tanya Pram, melihat Kailla yang tersenyum salah tingkah.
Pandangan Pram tertuju pada Ibu Citra, wanita tua itu ikut mengendap-endap di belakang menantunya.
Laki-laki itu mengulum senyuman, menatap menantu dan mertua yang begitu kompak dalam segala hal.
“Bay, kamu boleh keluar sekarang!” titah Pram, sembari menarik tangan istrinya, mengajak ibu hamil itu masuk ke ruang kerjanya.
Ibu Citra baru saja akan mengekor langkah kaki menantunya, tetapi begitu sampai di ambang pintu tubuhnya tertahan lengan kekar putranya.
“Ma, aku butuh waktu berdua dengan Kailla. Mama bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengenal menantu barumu,” ucap Pram, menunjuk ke arah punggung Bayu yang berjalan menjauh.
Ibu Citra kesal sendiri. Rencananya tadi mengajak Kailla menguping untuk mencari tahu apa yang terjadi, malah sebaliknya dia tidak diizinkan masuk untuk bertanya.
Dengan tidak tahu malu, wanita dengan setelan batik biru itu melangkah masuk meski sudah ditahan putranya.
“Ma, aku mau bercinta dengan istriku sekarang, mama mau menontonku dan Kailla?” tanya Pram masih berusaha menahan.
“Pram mama serius. Kamu harus menjelaskannya sekarang!” tegas Ibu Citra, menolak mendengar perintah putranya. Kembali wanita tua itu menerobos masuk
“Ma, aku sudah tidak tahan, butuh istriku untuk pelampiasan,” tegas Pram, masih berusaha menahan.
“Nanti malam saja, sekarang kita butuh bicara Pram. Mama mau mendengar semua yang kamu bicarakan dengan si borokokok itu.”
“Nanti saja, Ma. Aku sedang membutuhkan istriku. Kami masih harus bercinta sebelum aku ke kantor. Aku ingin menjenguk bayi kembar kami.”
Jari tangan Pram sudah mulai membuka kancing teratas kemejanya. Berharap ucapan dan tindakannya akan memukul mundur mamanya. Melihat pergerakan putranya, Ibu Citra melengos. Dia sudah mengenal baik Pram, bahkan dia tahu betapa tidak tahu malu putranya itu kalau di depannya. Tanpa ada yang ditutupi, anak lelakinya itu bisa dengan santai bercumbu di depan matanya tanpa beban.
“Sudah selesai dengan Kailla, temui mama!” Akhirnya Ibu Citra mengalah, setelah melihat kemeja hitam Pram hampir terbuka sampai ke perut.
Melenggang keluar, dengan wajah asam kecut. Ekor matanya masih menangkap sudut bibir Pram tersenyum penuh kemenangan.
“Ma, temui Bayu. Kalian perlu mengenal dari hati ke hati!” teriak Pram sebelum menutup pintu ruang kerjanya.
***
Pram tersenyum saat mendapati Kailla bersandar di dinding sedang cemberut padanya. “Hei Nyonya, kenapa wajahmu begini menggemaskannya?” tanya Pram. Laki-laki itu sudah berdiri di depan istrinya, menahan pundak Kailla supaya tetap bersandar di dinding.
“Kenapa bicara seperti itu. Memalukan sekali!” gerutu Kailla kesal. Tatapannya tertuju pada dada bidang suaminya yang terbuka sempurna.
“Tolong rapikan kembali kemejaku, Kai,” perintah Pram.
__ADS_1
“Mama itu keras kepala. Kalau tidak begitu, dia akan memaksa masuk. Aku tidak bisa bicara berdua denganmu. Hanya dengan alasan itu, mama baru mau mengalah,” jelas Pram, tersenyum.
“Memalukan!” omel Kailla.
“Ya, biarkan saja. Mama lebih tidak tahu malu lagi.”
Keduanya saling menatap, dengan jemari Kailla yang sibuk mengancingkan kembali satu persatu kancing kemeja suaminya.
“Kai, mulai sekarang dan seterusnya, Bayu akan mengawalmu. Bersikap baiklah padanya. Dia sekarang adik iparmu.”
“Bagaimana bisa, setua itu menjadi adik iparku! Ini tidak adil,” gerutu Kailla.
Pram tergelak setelah mendengar protes Kailla. “Adil atau tidak, begitulah kenyataannya. Dia menikahi Kinar, perempuan yang kuanggap adikku sendiri.”
Kailla mengangguk tanpa protes.
“Rumah yang sekarang mama tempati, aku hadiahkan pada Bayu. Dan mama akan tinggal di dekat kita,” cerita Pram. Laki-laki itu tersenyum, menatap lekat istrinya yang baru saja selesai mengancingkan kemeja hitamnya.
“Lalu?” Kailla mengerutkan dahi, menunggu kelanjutkan cerita suaminya.
“Aku berencana membeli rumah kosong di sebelah rumah kita untuk mama. Jadi kalian bisa menggosipkanku sampai puas setiap hari. Membahas seberapa panas ranjang di kamar kita setiap malam,” ucap Pram, terbahak. Meraih kedua tangan Kailla dan membiarkan istrinya bergelayut manja di lehernya.
“Aku tidak mau pusing saat kalian berselisih paham. Kalian berdua pasti saling mengeluh satu sama lain padaku. Kalau kalian tinggal terpisah, kalian bisa saling menghargai dan tahu batasannya. Contohnya, saat mama berkunjung ke rumah kita, tentu dia tahu batasannya dan aturan bertamu yang baik. Hak dan kewajibannya hanya sebatas tamu. Demikian juga istriku, saat berkunjung ke tempat mama, tentu dia harus tahu aturannya.”
Kailla mengangguk.
“Selama ini kami baik-baik saja, Sayang.” Jemari lentik itu sedang bermain-main di tengkuk sang suami.
“Karena kalian tidak tinggal bersama. Coba saja kalau bersama. Kapal pasti karam, Kapten! Satu mau ke timur, satu mau ke barat. Dua-duanya merasa jadi nahkoda. Mau mencoba?” tawar Pram, sambil mengunci pinggang istrinya. Membuat perutnya beradu dengan perut bulat sang istri.
Kailla menggeleng.
Di dalam rumah tangga mereka, keputusan Pram adalah keputusan final dan terbaik. Dia tidak meragukannya lagi. Selama ini, memang suaminya si pengambil dan pembuat keputusan, walaupun Pram tetap mengajaknya berdiskusi dan mengizinkannya mengajukan keberatan.
“Aku tahu sifat istri dan mamaku dengan baik. Mereka akur karena memiliki karakter yang sama, tetapi akan ada satu titik di mana kalian berselisih pendapat kalau bersama setiap hari. Dan kalau itu terjadi, yang satu bernapas lebih banyak dari yang lain saja sudah menjadi masalah. Padahal udara itu gratis.” Pram mengecup ujung hidung lancip istrinya.
“Lalu?” tanya Kailla kembali. Menunggu apa yang selanjutnya akan disampaikan Pram.
“Aku juga menghadiahkan Bayu dan Kinar mobil baru. Tentu mereka juga membutuhkan itu. Kalau rumah, aku masih bisa memberi rumah bekas mama tinggal, tetapi kalau mobil rasanya tidak pantas memberi mobil bekas kita pakai. Bisa saja aku meminta Bayu memilih salah satu mobil yang terparkir di garasi kita, tetapi rasanya kurang elok dilihat. Walaupun Bayu hanya pekerja, tetapi selama ini aku tidak menganggapnya begitu. Itu caraku menghargai kesetiaannya dan Kinar selama ini pada keluarga Pratama dan Riadi Dirgantara.”
Kailla mengangguk.
__ADS_1
“Sejauh ini kamu tidak keberatan?” tanya Pram.
Kailla menggeleng.
“Kalau keberatan, itu namanya kelewatan, Sayang. Yang aku hadiahkan pada mereka, nilainya setara dengan tas pink yang kamu jinjing kemana-mana, yang kamu lempar saat merajuk padaku. Artinya itu hanya sepersekian persen dari apa yang kita miliki saat ini, tetapi bagi mereka itu adalah penghargaan yang luar biasa. Itu pasti sangat berarti untuk mereka.”
“Semoga aku menemukan kesetiaan yang sama pada pekerja lainnya dan aku bisa menghadiahkan untuk mereka juga. Mereka membutuhkan kita tetapi jangan lupa, kita juga butuh mereka. Perlakukan mereka seperti kita memperlakukan keluarga kita,” jelas Pram.
Kailla mengangguk.
“Kemarilah Sayang.” Pram mendekap erat istrinya sembari mengusap lembut punggung Kailla. Laki-laki itu menjatuhkan dagunya di pundak Kailla.
“Kalau kamu tidak mau belajar berbisnis, setidaknya belajarlah tentang kehidupan,” bisik Pram di telinga istrinya.
“Untuk bisa sampai di posisi kita sekarang, kita hanya butuh satu orang pintar yang berdiri di samping kita, tetapi untuk tetap bertahan di posisi kita sekarang, kita butuh dukungan banyak orang-orang yang setia berdiri di samping kita.”
Kailla mengerutkan dahinya, otaknya yang hanya level biasa tidak paham dengan semua ucapan ketinggian suaminya.
“Untuk mencari orang pintar itu tidak sulit Kai, tetapi untuk mencari orang yang setia itu bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami.”
“Kepintaran itu bisa dipelajari, kesetiaan itu langka! Aku bersyukur sampai detik ini masih dikelilingi orang-orang yang setia padaku. Aku juga akan memperlakukannya sama seperti apa yang diberikannya padaku selama ini.”
“Bukan masalah uang, seberapa pun yang aku berikan untuk mereka, itu tidak akan setara dengan dedikasinya pada kita. Mereka bekerja bukan hanya karena uang, tetapi karena prinsip hidupnya ingin memberikan yang terbaik untuk tuannya. Jadi kenapa aku harus hitung-hitungan untuk menghargai kerja keras mereka selama ini.”
“Sejauh ini kamu mengerti, Kai?”
“Sedikit ....”
“Bagimu Sam adalah keluarga. Dan bagiku Bayu dan Kinar juga seperti itu. Mereka orang-orang yang setia pada kita selama ini. Mereka adalah keluarga kita, Kai.”
“Aku tahu.”
“Good girl!! Cium suamimu sekarang, aku harus ke kantor. Butuh ciumanmu untuk membakar semangatku,” pinta Pram. Laki-laki itu segera menempelkan bibirnya, melumat’ pelan sebelum melepaskannya.
“Aku mencintai kalian,” bisik Pram lagi.
“Kami juga mencintaimu.”
***
TBC
__ADS_1