
Mobil yang dikendarai Pram sudah kembali menyapu jalanan ibukota di tengah pekatnya pagi. Jalanan masih terlalu sepi, dia bisa memacu mobilnya sekencang mungkin.
Bagaimanapun dia harus mendapatkan Kailla hari ini. Tidak bisa membiarkan istrinya terlalu lama di luar tanpa pengawalan. Fokusnya sejak kemarin hanya tertuju pada Kailla, mengabaikan sosok Kinar yang sejak kedatangannya menginap di rumah sang mama, membuat gadis itu bisa tersenyum lega.
Setidaknya Pram sudah tidak menjaga jarak dan marah pada seperti sebelumnya. Meskipun dia tahu alasannya, karena pikiran Pram sedang kacau dan hanya tercurah pada Kailla, dibandingkan mempermasalahakn keberadaannya yang bagai butiran debu.
Tidak membutuhkan waktu lama, kendaraan roda empat milik Pram sudah terlihat muncul di gerbang pagar rumah Riadi yang lama. Membunyikan klakson berulang kali, buah ketidaksabarannya, membuat Sam yang masih mengenakan sarung mengumpat sambil berlari kencang. Seperti biasa, nyaris terguling karena sarungnya sendiri.
“Tidak yang perempuan, tidak yang laki. Kalau masalah tidak sabarnya, sama saja!” gerutu Sam, mendekap sarungnya agar tidak melorot. Buru-buru membuka pintu gerbang, yang belakangan tidak dijaga sekuriti lagi.
Mobil sport itu masuk bahkan disaat Sam belum mendorong penuh. Baru setengah terbuka, mobil Pram sudah menyerobot masuk, berhenti sembarangan dan turun menemui Bayu.
“Bagaiamana Bay?” tanya Pram, ikut bergabung dengan Bayu dan Ricko yang sedang menyeruput kopi di temani pisang goreng buatan Ibu Sam di halaman belakang.
“Belum ada hasil, Bos, tetapi orangku masih terus mencari,” sahut Bayu.
“Ditya?” tanya Pram lagi.
“Sepertinya dia tidak tahu apa-apa Bos. Lelaki itu di Jerman sejak seminggu yang lalu,” jelas Bayu.
“Dion?” tanya Pram lagi.
“Tidak ada. Bahkan aku menanyakan langsung ke orangnya. Dion juga ikut membantu mencari,” sahut Bayu.
Pundak Pram terkulai lemas, setelah memastikn keberadaan Kailla yang belum terlihat titik terangnya. Lelaki matang tampak menarik kursi dan bergabung dengan para asistennya.
“Rick, kamu sudah menanyakan pada teman-teman kampusnya?” tanya Pram, beralih menginterogasi asisten Kailla yang lain.
“Sudah Pak, tetapi semuanya juga tidak tahu,” sahut Ricko takut-takut. Bukannya apa-apa, di antara ketiga asisten, dirinyalah yang paling sering dimarahi Pram.
“Sam!!” teriak Pram, melihat asisten itu berjalan dengan lemah gemulai, seolah-olah mengulur waktu,
“I-iya Pak, bagaimana?” tanyanya terbata.
__ADS_1
“Apa yang kamu hasilkan?” tanya Pram, menatap tajam pada Sam.
“Ti-tidak ada, Pak. Non Kailla bagai lenyap ditelan bumi,” sahutnya tertunduk. Tidak berani bergabung, takut menjadi bulan-bulanan Pram.
“Baiklah, lakukan pencarian. Segera laporkan padaku perkembangannya. Aku mau mandi dulu, setelah itu lanjut mencari istriku.”
***
Tiga hari melakukan pencarian tanpa membuahkan hasil, Pram benar-benar tidak ke kantor untuk mengurus perusahaan. Ada banyak pekerjaannya yang terbengkalai, apalagi David yang masih berada di Austria untuk mengurus perusahaan disana. Menggantikan Pieter yang mengalami kelumpuhan pasca kecelakaannya.
Selama Kailla masih belum ditemukan, Pram memilih pulang ke rumah mamanya setiap malam. Dia tidak bisa kembali ke rumahnya. Di sana, setiap sudut mengingatkannya pada Kailla. Bayangan Kailla selalu menyapanya dan itu membuatnya tidak bisa tidur.
Di hari ke empat, Pram memilih kembali ke kantor dengan perasaan hancur berantakan. Seperti raga tak bertuan. Setengah dari dirinya pergi bersama Kailla, yang tertinggal hanya tubuh tanpa nyawa.
Proses pencarian Kailla dilanjutkan para asisten dan dibantu oleh orang-orangnya Bayu. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Perusahaan juga membutuhkannya.
Beberapa hari ini, hidupnya tidak teratur. Tidak bisa makan dengan baik, tidak bisa tidur dengan baik. Beruntung Ibu Citra cukup mengerti keadaannya. Wanita lansia itu sepanjang hari terus menghubungi putrannya, demi memastikan putra semata wayangnya baik-baik saja.
Siang itu, Pram masih berkutat dengan tumpukan berkas di atas meja kerjanya. Tiga hari tidak ke kantor, membuat Pram kewalahan. Kursi wakil direktur yang sudah lama kosong, sekarang membuatnya berpikir untuk mengisinya kembali. Selama ini ada David, asistennya, jadi dia tidak merasa kekurangan orang. Namun, sejak David terbang ke Austria, semua terasa berbeda.
“Pram, mama meminta Kinar menitipkan makan siang untukmu.” Terdengar suara lembut Ibu Citra dari seberang telepon, begitu ponsel pintar itu menempel di telinganya.
“Tidak perlu, Ma. Aku bisa makan di kantin atau Stella bisa memesan untukku,” tolak Pram.
“Kinar sudah menuju ke kantormu. Habiskan makan siangmu, setelah itu titipkan kotak bekalnya pada Kinar lagi,” jelas Ibu Citra.
“Ma..,” panggil Pram, sedikit keberatan.
“Sudah. Mama sudah meminta Kinar menitipkannya di sekretarismu saja. Jadi kamu tidak perlu bertemu Kinar langsung,” terang Ibu Citra.
“Kinar akan menunggu sampai kamu menghabiskannya, baru pulang membawa kotak bekal kosong. Kalau tidak begitu, kamu akan melewatkan harimu dengan perut kosong lagi,” jelas Ibu Citra lagi.
Pram menghela nafas kasar. Tidak bisa membantah.
__ADS_1
“Pram, Kailla sudah ada kabar?” tanya Ibu Citra pelan. Sebenarnya ragu untuk bertanya, karena Pram akan terpikir kembali dengan masalahnya, tetapi dia juga tidak kalah mengkhawatirkan menantunya itu.
“Belum Ma,” sahut Pram, dengan raut sedihnya. Matanya mengembun, membayangkan nasib istri dan anak-anaknya yang masih belum jelas. Dia hanya bis berdoa, semoga Kailla baik-baik saja.
Dengan tangan kirinya, mengurut pangkal hidungnya. Berusaha agar air mata tidak keluar lagi, setiap mengingat Kailla.
“Pram, selama Kailla belum ditemukan, pulang ke rumah mama,” pinta Ibu Citra.
“Iya Ma.”
“Jangan pulang terlalu larut. Mama menunggumu,” ucap Ibu Citra, sebelum mematikan sambungan teleponnya.
***
Tiga hari bersembunyi di sebuah hotel kecil, di Jakarta Selatan, Kailla akhirnya memilih keluar dari persembunyiannya setelah persediaan uangnya menipis. Dia hanya menarik uang lima juta rupiah dari ATM di rumah sakit. Itupun sudah hampir habis untuk sewa kamar dan makan, selain itu dia juga sempat membeli beberapa potong pakaian ganti dan kebutuhan mandi.
Tadinya, dia ingin kembali ke rumahnya yang lama, tetapi sampai di depan rumah dia melihat Bayu juga sudah berada di sana. Kailla tahu kalau Pram sudah menyadari kepergiannya, membuatnya mengurungkan niatnya untuk sementara. Sejak tiga hari ini dia tidak berani keluar dari hotel. Ada beberapa orang berbadan tegap yang tampak mencurigkan, mondar mandir di dekat lobi hotel.
Kailla juga tidak tahu mereka siapa, tetapi ada baiknya dia berjaga-jaga. Berada dalam pelarian, membuatnya mencurigai semua orang.
Selama ini dia benar-benar tidak menyangka, Pram menyembunyikan dendamnya di balik sikap baiknya, dibalik cintanya yang luar biasa. Teror yang dikirimkan padanya beberapa hari yang lalu, ternyata benar adanya.
Dengan penuh perjuangan, Kailla check out dari kamar hotel saat pagi-pagi buta. Bahkan ayam saja masih tidur, belum berkokok. Tujuannya, tetap sama. Dia tidak bisa pergi jauh. Selama mengenal Pram, dia tahu jelas bagaimana suaminya itu. Dia tidak akan bisa lepas dari genggaman Reynaldi Pratama. Hanya bisa menghindar sejenak, sampai dia dan bayi-bayinya terlahir dengan aman, dan dia cukup kuat untuk melawan seorang Reynaldi Pratama.
Beruntung kali ini, dia bisa aman sampai ke tujuannya, meskipun tetap was-was. Setelah turun dari taksi, Kailla menatap nanar pagar rumah tinggi yang harus dilewatinya. Belum lagi harus mencari celah supaya tidak tersorot kamera cctv.
Dengan terpaksa, Kailla harus memanjat pagar dalam keadaan perut yang mulai membesar. Perasaannya lumayan tenang saat tubuh suburnya berhasil melewati pagar dan berpindah ke sisi sebelah dalam.
Tepat saat kakinya menginjak tanah, terdengar suara seseorang mengejutkannya.
“Kamu siapa?” tanya orang itu pada Kailla. Di tengah keremangan pagi semuanya tidak terlihat begitu jelas. Hanya mengandalkan lampu jalan yang menguning, tidak bisa mengenali siapa tamu yang berani meloncat pagar rumah mewah Riadi Dirgantara.
Maling kesiangan atau tetangga yang salah masuk rumah.
__ADS_1
***
TBC