Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 181 : Ada apa gerangan?


__ADS_3

Kailla sudah duduk di depan kertas-kertas putih dengan huruf dan angka bertebaran di atasnya. Tumpukan kertas dengan surat pembuka dan beberapa lembar rincian nilai barang dan jasa dan hitungannya, berikut biaya-biaya lain senilai miiliaran rupiah itu sedang menunggu persetujuannya. RAB yang sudah disusun rapi bawahannya, akan dikirim ke calon klien mereka setelah dibubuhkan tandatangan persetujuan.


Dari enam proyek, dua di antaranya untuk mengikuti tender. Di tumpukan sebelahnya ada 3 bundel berkas proyek apartemen yang sedang dalam tahap pemilihan kontraktor. Semua pekerjaan ini, dulunya Pram yang memegang dan menentukan. Dan sekarang setelah laki-laki itu terbaring koma, pekerjaan ini jadi terbengkalai.


“Bagaimana Nyonya? Apa sudah yakin?” tanya Stella. Sekretaris itu memendam ibanya pada ibu hamil yang gemetar memegang pena hitam milik presiden direktur perusahaan mereka.


Bagaimana tidak kasihan, ini hanya sebagian kecil yang disodorkannya pada Kailla. Di mejanya masih menumpuk berkas lain yang sedang mengantri untuk mendapat perhatian.


Laporan dari anak perusahaan di Bandung dan Austria. Belum lagi laporan perkembangan proyek yang sedang berjalan. Ini semua belum termasuk laporan dari anak perusahaan yang baru saja dibangun Pram beberapa bulan yang lalu, PT. Wijaya Indraguna.


“Aku tidak yakin Ste. Sudah berulang kali aku pelajari, aku tidak paham sama sekali. Ini jauh berbeda dengan yang aku pelajari di kampus. Dua tahun aku mengenyam jurusan bisnis, tetapi ini berbeda. Tidak sama dengan yang aku pelajari,” cicitnya pelan menahan debaran jantung yang berdetak kencang.


“Mau aku panggilkan lagi, supaya yang menyusun RAB ini menjelaskan kembali pada Nyonya,” tawar Stella.


Kailla menggeleng. “Teori ini bisa aku pelajari pelan-pelan, karena sebenarnya hitungannya jelas, hanya aku saja yang belum paham,” ucap Kailla, menepuk pelan tumpukan berkas di atas meja.


“Akan tetapi, kemampuan mengambil keputusan, melihat peluang dan kesempatan itu yang membuatku ragu. Aku sama sekali buta akan hal ini. Yang bertahun-tahun belajar di jurusan ini saja masih bisa membuat kesalahan saat terjun di lapangan, apalagi aku yang tidak tahu apa-apa.”


“Kamu tidak lihat, Ste. Angka-angkanya saja begitu banyak nolnya. Artinya ini menyangkut uang yang tidak sedikit. Kamu saja yang sudah menemani suamiku sekian tahun, melihat angka-angka ini sampai bosan, tetapi masih tidak memahami dengan jelas. Apalagi aku, Ste,”


Stella tertawa. “Di perusahaan ini bidang pekerjaan kita jelas, Nyonya. Tidak ada yang kerja serabutan. Kami bekerja sesuai dengan bidang dan skill kami masing-masing. Aku lulusan sekolah sekretaris, makanya pekerjaanku hanya sebatas sekretaris.” Stella menjelaskan.


“Akan ada yang mengurus masalah hitung-hitungan, ada yang memegang bagian desain, keuangan, lapangan dan lain-lain. Pak Pram benar-benar menempatkan kami di bidangnya.” Stella melanjutkan.


“Lalu yang menguasai ini selain bapak-bapak di ruang rapat itu, siapa lagi?”


“David yang membantu Pak Pram memeriksa RAB dan semua data yang akan masuk ke meja presdir, tetapi tetap keputusan semua ada di tangan Pak Pram. David tidak pernah mengambil keputusan, semua diambil Pak Pram sendiri."


"Kecuali kebijakan yang tidak menyangkut kontrak kerja perusahaan atau masalah kecil di internal perusahaan. Seperti kebijakan untuk karyawan, pekerja di lapangan, mengurus masalah gaji dan lain-lain, perekrutan karyawan baru, semua tidak melalui Pak Pram, itu diselesaikan Pak David sendiri," lanjut Stella.


Kailla menghela napas setelah menjelaskan apa yang menjadi keraguannya. “Sambungkan dengan David, aku akan meminta pendapatnya. Kirimkan file-file ini kepadanya,” titah Kailla yang sudah bergaya layaknya pimpinan perusahan. Iris matanya tertuju pada Sam, sang asisten yang sedang menikmati waktu santainya dengan berbaring di sofa.

__ADS_1


“Sam! Sebaiknya kamu menunggu di lobi saja. Semakin melihatmu bersantai di sana, aku semakin ingin melemparmu dengan sepatu,” omel Kailla mencari pelampiasan, setelah Stella keluar dari ruangannya. Kailla sudah bersiap melepas sepatunya.


Mendengar ancaman Kailla, Sam langsung bangkit berdiri. Berlari keluar secepat kilat sambil menenteng sandal jepit swallow yang bertali karet biru, yang dipinjamnya dari OB perusahaan. Kakinya lecet harus mengenakan sepatu kulit sepanjang hari, alhasil tumitnya terkelupas parah.


“Hampir saja!” dengus Sam, memeluk erat sandal jepit di dadanya.


Stella tertawa geli melihat tingkah konyol asisten Kailla yang bertelanjang kaki. “Sam, ada apa?” tanya Stella masih tergelak hebat.


“Non Kailla hampir saja melemparku dengan high heelnya. Bukan apa-apa, aku tidak mau sampai high heel itu kenapa-kenapa. Aku bisa diomeli Non Kailla tiga hari tiga malam,” jelas Sam dengan bahu melemas.


“Kecintaan Non Kailla pada sepatunya itu hanya setingkat di bawah kecintaan Non Kailla pada Pak Pram. Jadi bisa dibayangkan kalau sampai terjadi sesuatu pada sepatu kesayangannya itu,” lanjut Sam.


***


“RAB itu sudah oke, Nyonya Pram.” ucap David melalui sambungan video call. Dia tertawa geli melihat kursi Pram sedang diduduki sang istri yang tidak tahu apa-apa.


“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Kailla menatap wajah tampan David.


“Terserah padamu, Nyonya. Mau dilanjutkan apa tidak. Keputusan ada di tanganmu. RAB itu biasanya sudah dimargin sekian persen. Nilai yang tertera di sana biasanya sudah termasuk profit perusahaan. Hanya saja keputusan itu bukan dinilai dari angka yang tertera di kertas itu saja. Pengawasan dan pengerjaan di lapangan itu juga penting. Kalau sampai terjadi penyimpangan di lapangan, baik dari pengerjaan atau pembelian bahan, perusahaan akan merugi. Belum lagi seandainya ada kecelakaan kerja, medan yang akan dihadapi terlalu beresiko dan lain-lain. Itu juga jadi pertimbangan .” David menjelaskan.


“Astaga Dave, jadi aku harus bagaimana? Bagaimana aku bisa tahu keadaan di lapangan?”


“Biasanya aku yang membantu Pak Pram mengurus masalah ini, tetapi kamu bisa meminta bantuan salah satu kepala divisi yang ada di perusahaan untuk membantumu. Bisa dari tim desain atau dari tim yang menyusun RAB itu sendiri. Biasanya sebelum memulai, mereka survey ke lapangan. Dan Pak Pram selalu mendengar pendapat mereka, jika tidak bisa ke lokasi langsung.”


“Aduh! Masalahnya itu, mereka sudah menjelaskan, tetapi aku tidak paham, Dave,”


Jangan lupa, nanti kirimkan padaku kembali, apa jawaban dan tanggapan pihak sana setelah membaca penawaran yang kita ajukan. Apa perlu ada perubahan lagi, tambahan atau langsung oke.”


“Aduh! Kepalaku semakin pusing!” keluh Kailla memijat pelipisnya.


“Inilah yang sering aku katakan padamu, Kai. Kalau punya otak jangan keseringan dititip ke dengkul. Jadi begini nih!” ledek Dave, terbahak.

__ADS_1


“Dave, jangan lupa. Suamiku itu sedang koma, belum almarhum. Saat dia bangun nanti, aku pastikan akan memecatmu duluan.” Kailla mengomel, memutuskan panggilan video


Menghela napas berkali-kali sebelum menyetujui semua berkas yang ada di hadapannya.


***


Dua bulan berlalu, Kailla sedang menggengam tangan suaminya di ruang ICU di jam istirahat makan siangnya. Perutnya membuncit di kehamilan yang masuk usia lima bulan, layaknya wanita hamil tujuh bulan.


Mulai banyak keluhan, seperti kesulitan tidur, kesulitan bergerak. Belum lagi kakinya yang sering kesemutan dan pinggang yang kesakitan hampir setiap saat kala dia duduk terlalu lama.


Enam puluh hari yang sangat berat untuknya dan bayi-bayi mereka yang sudah diketahui jenis kelaminnya, meskipun masih dugaan. Kemungkinan besar bayi kembarnya laki-laki, kalau dugaan dokter tidak meleset.


“Sayang, aku baru menandatangani proyek baru lagi,” ucap Kailla, membawa tangan suaminya untuk meraba perut buncitnya.


"Hotel dan apartemen di Jakarta Pusat. Mudah-mudahan kali ini menguntungkan. Aku menggandeng Om Bara di proyek ini. Tim kita sudah terlalu banyak pekerjaan, aku menyerahkan urusan interior pada perusahaan Om Bara."


Lama terdiam, Kailla membuka suara kembali.


“Ayo bangun, jagoanmu ingin mendengar suaramu. Ingin merasakan usapanmu lagi. Sudah lama kamu tidak menjenguk mereka, nanti mereka melupakanmu,” bisik Kailla pelan, berusaha menahan air matanya supaya tidak turun.


“Kamu tahu ... ladangmu sudah gersang, tidak terurus. Tidak ada yang merawat lagi, sudah ditumbuhi rumput dan ilalang. Ayo bangun, Sayang.” Kailla berucap lirih.


Mengecup hangat kening Pram, Kailla bergegas keluar dari ruang ICU. Tidak ingin berlama-lama menatap suaminya yang lemah tak berdaya, tertidur di atas brankar bahkan tidak mampu meresponnya sama sekali. “Aku mencintaimu, Sayang. Sangat!” bisik kailla.


Begitu keluar, air matanya tumpah ruah. Menutup mulut dengan kedua tangan, menahan suara tangisnya supaya tidak pecah.


“Bagaiamana aku melewati semua ini, Sam,” isaknya. Tangis itu terhenti, seiring bunyi ponsel dari dalam tas mahalnya yang sedang ditenteng Sam.


“Non, Stella ....”


Buru-buru meraih ponsel dari tangan asistennya. Bola mata Kailla hampir jatuh, mulut terngaga tidak bisa bisa bicara saat mendengar berita yang disampaikan Stella.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2