Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 66 : Belum Membuat Perhitungan


__ADS_3

“Aku pamit Ma, mau ambil kamar dulu.” Pram tersenyum usil, mengedipkan sebelah matanya. Masih dengan menggandeng Kailla, dia menghampiri mamanya.


Ibu Citra terbelalak. Belum selesai dia menutup mulutnya, Pram benar-benar akan mengambil kamar untuk menyelesaikan hasratnya.


“Ckckckck! Kamu benar-benar memalukan!” gerutu Ibu Citra, memukul lengan Pram. Putranya sedang berdiri tepat disisi ranjang dimana dia berbaring.


“Aku hanya mengikuti permintaan mama.” Pram tersenyum jahil.


“Serius Pram, jangan gila!” Kembali Ibu Citra memukul lengan putranya.


“Aku serius Ma. Aku kesini hanya ingin bertanya. Mama mau dibuatkan cucu yang seperti apa? Laki-laki atau perempuan. Mau satu atau langsung dua sekaligus,” ucap Pram, kembali menjahili sang mama.


“Pram!!” teriak Ibu Citra semakin kesal.


“Hahaha.. aku serius Ma. Kalau mama meminta cucu kembar laki-laki, berarti malam ini aku tidak bisa menunggu mama di rumah sakit. Aku benar-benar harus bekerja keras untuk itu,” lanjut Pram, tersenyum usil memandang istrinya yang merona menahan malu.


Sebuah cubitan mendarat di pinggang Pram. Terlalu kesal, kali ini Kailla yang bereaksi dengan semua candaan suaminya.


“Mama lihat, istriku sudah tidak sabar. Ayo mama segera sebutkan mau request cucu seperti apa. Sebisa mungkin aku akan mengabulkannya,” ujar Pram.


Bergantian dia memandang ekspresi kesal mama dan Kailla, sebelum akhirnya tawa itu pun pecah.


“Hahahahahahaha! Aku bercanda, Ma.”


“Anak kurang ajar!” gerutu Ibu Citra.


“Aku serius, mau mengambil kamar di sebelah. Kami akan menginap di rumah sakit selama mama dirawat. Sepulang kuliah, Kailla akan menjaga mama. Bukankah begitu Sayang?” tanya Pram, menunggu jawaban istrinya.


Senyum terukir di bibir lelaki tampan itu saat melihat istrinya mengangguk.


“Kurang apa lagi menantumu ini, Ma. Setelah mama memukulnya, dia masih bersedia menjaga mama dengan setulus hati. Bukankah begitu Sayang?” tanya Pram kembali.


Bukannya Pram tidak tahu isi hati Kailla saat ini. Bagaimana perasaannya pada sang ibu mertua. Tetapi Pram tidak bisa menuntut, masalah hati tidak bisa dipaksakan. Disaat Kailla sudah mencintai mamanya, sudah pasti dia akan melakukannya dengan sukarela. Bukan hanya sekedar tanggung jawab sebagai istrinya.


Anggukan Kailla kali kedua, langsung dihadiahkan Pram sebuah kecupan di puncak kepalanya, lengkap dengan usapan lembut di wajah dengan punggung telunjuk.


“Aku mencintaimu, Sayang,” bisik Pram lembut, mengecup pipi istrinya yang masih merona merah.


“Terimakasih mau merawat mama,” ucap Pram, tersenyum. Mengacak asal pucuk kepala, membuat rambut Kailla berantakan.


Pernyataan cinta Pram yang tidak hanya ditujukan pada sang istri, sekaligus menunjukan pada sang mama betapa berharganya Kailla untuknya.


“Tetapi aku juga mencintaimu, Ma,” ucap Pram, mengecup kedua pipi Ibu Citra.


Baru saja Pram melepaskan pelukannya dari sang mama, pintu kamar perawatan itu diketuk pelan dari luar sebelum terbuka. Terlihat Ibu Ida masuk ditemani Sam yang mengekor di belakang sembari menyeret koper hitam berukuran kecil.


“Ma, ini Ibu Ida, asistenku di rumah. Selama Kailla kuliah, dia yang akan menemani mama,” jelas Pram, mengenalkan asisten rumah tangganya pada sang mama.


“Sam, koperku tolong diletakan di kamar sebelah,” perintah Pram lagi.


Asisten Kailla itu menurut, segera keluar untuk melaksanakan perintah majikannya. Tidak banyak bertanya seperti biasanya.

__ADS_1


“Kai, aku tinggal sebentar ya. Aku ada urusan dengan Bayu,” pamit Pram, melepaskan genggaman tangannya pada sang istri,


“Iya, jangan terlalu lama. Aku akan memanaskan makan siangmu,” sahut Kailla.


Pram tersenyum. “Iya Sayangku,” ucapnya bergegas keluar kamar.


Kailla yang masih berdiri di samping mertuanya terlihat canggung. Untuk pertama kali, mereka berada di tempat yang sama dalam keadaan damai.


“Ma, mau aku suapin makan?” tanya Kailla, saat matanya tertuju pada makanan yang tersaji di nampan. Masih utuh, belum disentuh sama sekali.


Ibu Citra menggeleng. Seharian di rumah sakit disajikan menu yang hampir sama, selera makannya pun hilang.


“Kai, kamu membawa bakmi goreng?” tanya Ibu Citra.


“Iya Ma. Mama mau?” Kailla balik bertanya. Tapi dia sendiri bingung harus mengizinkan atau tidak. Dia tidak paham, untuk kondisi mertuanya saat ini boleh mengkonsumsi makanan dari luar rumah sakit atau tidak.


“Ma, tunggu Pram saja ya,” tolak Kailla.


“Mama makan menu yang disiapkan rumah sakit saja dulu. Nanti kalau Pram mengizinkan, aku akan menyiapkannya untuk mama,” jelas Kailla.


Kailla terlihat sibuk menyiapkan makanan, kemudian membantu menyuapkan pada sang mertua. Kondisi Ibu Citra sudah jauh lebih baik dibandingkan tadi pagi. Wajahnya pun sudah tidak sepucat saat baru sadar.


Tidak ada komunikasi lebih jauh. Kailla hanya diam, sesekali menyuapakan sendok berisi makanan ke dalam mulut sang mertua. Demikian juga dengan Ibu Citra, tidak bersuara. Diam-diam mencuri pandang pada menantunya.


***



Sesekali Bayu masih sempat menunjukan sesuatu di ponselnya, entah apa itu, yang jelas bentuk pembelaan dan penjelasan sekaligus bukti untuk meloloskan diri dari angkara murka seorang Pram.



“Saat aku meninggalkan keduanya, mereka terlihat baik-baik saja, Bos,” jelas Bayu.


“Kamu seperti tidak mengenal Kailla saja. Dia lebih sering mengedepankan uratnya dibanding otaknya. Kalau sudah emosi, dia akan melakukan apapun yang terlintas pertama kali di otaknya, tanpa berpikir ulang. Itu yang aku takutkan. Emosinya mudah meledak, tapi gampang meredup juga. Tergantung kita memperlakukannya,” ucap Pram.


“Sampai sekarang aku harus mengingatkannya berulang kali. Mungkin karena sejak lahir hidup di bawah tekanan. Dan itu memang tidak enak, butuh kelapangan hati untuk bisa menerimanya. Aku pernah mengalaminya saat bersama Riadi. Apalagi Kailla yang jelas-jelas putrinya, yang harus dilindunginya dengan pengawalan ketat.”


“Kamu tahu Bay, kalau saja istriku tadi membuat kesalahan. Misalnya melukai Kinar atau semacamnya. Aku tidak bisa membayangkannya!” ujar Pram, meraih secangkir kopi hitam di atas meja dan menyeruputnya dengan penuh kenikmatan.


Pram sengaja tidak memesan makanan berat untuk mengganjal perutnya yang mulai demo minta diisi makanan, mengingat Kailla sudah membelikannya makan siang.


“Maafkan aku, Bos!” ucap Bayu, tertunduk merasa bersalah.


“Aku akan menarik kembali lamaran pada Kinar. Wanita sepertinya tidak pantas dijadikan istri.” Perkataan Pram kali ini cukup membuat Bayu tersentak. Cinta memang aneh. Walaupun jelas-jelas dia tahu seperti apa Kinar, tapi ada sedikit ketidakrelaaan mendengar pernyataan majikannya.


“Baik, Bos,” sahut Bayu.


“Wanita itu cukup beruntung hari ini. Setidaknya Kailla hanya berdrama, tidak membuat keributan seperti biasanya.”


__ADS_1


Senyuman tersungging di bibir Pram, ketika dia diingatkan kembali bagaimana Kailla bersandiwara saat dia masuk ke dalam kamar mamanya.


“Apa yang kamu lakukan pada Kinar?” tanya Pram tiba-tiba.


“Kamu jadi memukulnya?”


Bayu menggeleng.


“Aku tidak tega, dia menangis tanpa henti saat Bos mengusirnya,” cerita Bayu.


“Baiklah, lupakan dia. Aku akan melamar gadis manapun yang kamu sukai. Aku akan menjamin kehidupan kalian.”


“Ingatkan aku untuk mencari perawat untuk mamaku. Setelah ini sepertinya aku harus menempatkan seorang perawat untuk menjaga mama di rumah,” ucap Pram pelan.


Pram baru saja berdiri, tapi diurungkannya. Dia teringat sesuatu.


“Bay, sewaktu di Austria kamu yang membelikan Kailla alat untuk mengecek kehamilannya. Tolong belikan lagi. Aku penasaran, istriku sudah hamil atau belum,” pinta Pram sambil tersenyum.


“Baik Bos.” Asisten itu hanya mengangguk dan tersenyum seperti biasanya. Walaupun hatinya sedang getir saat Pram dengan serius mengatakan akan menarik kembali lamarannya pada Kinar.


***


Kailla sedang memanaskan mie goreng ke dalam microwave. Makanan itu dingin dan sedikit mengeras karena terlalu lama di dalam kotak mika.


“Sayang, sebentar lagi aku harus ke kantor,” ucap Pram, tiba-tiba sudah melangkah masuk ke dalam kamar.


Lelaki tampan itu, terlihat membuka jas dan melemparnya ke sofa dimana Ibu Ida sedang duduk, melanjutkan mengupas buah untuk majikannya.


“Makan dulu, aku sedang memanaskan mie goreng kesukaanmu,” pinta Kailla, masih berdiri di depan microwave yang sedang beroperasi.


“Hmmmm,” gumam Pram, lelaki itu segera mendekati istrinya, sembari melipat tangan kemeja sampai sebatas lengan. Tiba-tiba, Pram sudah membelit pinggang Kailla dengan kedua tangannya.


“Apakah disini sudah ada penghuninya?” tanya Pram, berbisik pelan di telinga istrinya. Tangannya pun tidak tinggal diam, mengusap lembut perut yang tertutup dress hitam.


“Belum ada laporan yang masuk padaku, kalau ada pendatang baru,” sahut Kailla asal, menepuk lengan suaminya.


“Lepaskan tanganmu. Aku hanya bermanis-manis karena mama ada di sini. Nanti setelah tidak ada siapa-siapa, aku akan membuat perhitungan denganmu!” ancam Kailla, dengan wajah cemberut yang disembunyikan. Dia tidak mau terlihat mertuanya bertengkar dengan Pram.


“Hah?! Masih belum selesai, Kai?” tanya Pram, dengan tatapan tidak percaya.


“Aku saja belum memulainya, bagaimana bisa dikatakan selesai,” jelas Kailla, melirik sekilas ke arah mertuanya. Takut pembicaraan mereka terdengar sampai ke telinga Ibu Citra.


Pram menatap ke arah yang sama. “Malam ini kita tidur disini saja,” putus Pram tersenyum usil. Pram yakin, kalau mereka tidur terpisah, Kailla akan mengajaknya perang terbuka.


“Tidak! Kita tidur di sebelah. Aku akan mengulitimu!” ancam Kailla, menatap sinis.


***


To be continued


Love You all

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2