Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 111 : Mengeluh pada Mama


__ADS_3

“Menemuinya lagi?” tanya Pram berusaha menahan amarah dan mempertebal kesabarannya. Tangan itu terkepal, menjuntai di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Dengan bibir mengatup, berusaha menahan emosi bercampur cemburu.



“Aku tidak sengaja bertemu dengannya, bukan sengaja menemuinya,” sahut Kailla, memberanikan diri menatap suaminya. Sedikit tidak terima dengan kalimat Pram, yang menuduhnya sengaja bertemu Ditya. Padahal sejak pertengkaran mereka yang terakhir, Kailla tidak pernah bertemu dengan Ditya sama sekali.



Pram menghela nafasnya. Berusaha meredam emosi yang terlanjur membara di dadanya. Pandangannya menurun, menatap shopping bag yang ditenteng istrinya.


“Kemarikan!” perintah Pram, menadahkan tangannya. Berharap suara tegasnya cukup membuat Kailla paham dan menurut.


“Apa itu? Kamu membeli apa?” tanya Pram menyelidik.


“Aku tidak suka dipaksa!” tolak Kailla, dengan raut wajah menantang. Tidak tampak ketakutan sedikitpun terpancar di wajahnya.


“Aku tidak bersalah. Aku tidak janjian bertemu dengannya. Aku ti....”


“Aku tidak mau berdebat denganmu disini, Kai. Ikut aku!” potong Pram, meraih tangan istrinya.



Pram sudah menarik kasar tangan istrinya yang memberontak. Menyeret Kailla, memaksa untuk mengikuti langkahnya. Mungkin sekarang dia harus lebih tegas. Semakin hari, Kailla semakin berani membantah. Entah harus menggunakan cara apalagi untuk menyadarkan istrinya.


“Aku tidak mau!” Kailla menghempaskan tangan suaminya, bergegas menjauh dan menghindar dari Pram.


Tangan itu dengan lincahnya mengeluarkan ponsel dari tas slempang hitamnya. Dia harus segera menghubungi Sam untuk membawanya pulang. Untuk saat ini, dia tidak ingin pulang bersama suaminya yang sedang murka.



Tepat saat ponsel itu tersambung dengan Sam, dari arah belakang Pram sudah mengambil alih ponselnya.



“Ikut aku! Mau menghubungi siapa lagi? Sepertinya selama ini aku masih kurang tegas padamu!” omel Pram. Lelaki itu sudah berdiri berhadapan dengan istrinya.


“Kembalikan ponselku!” pinta Kailla, mulai terpancing kesal.



“Tidak! Aku akan menyita ponselmu sampai batas waktu yang tidak ditentukan!” tegas Pram, berjalan mendahului.


“Kita ke rumah mama. Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapmu. Aku perlu mengadu kelakuanmu padanya. Selama ini, kamu yang selalu mengadu kelakuanku. Sekarang dia harus tahu, betapa kelewatan putrinya ini.”


“Aku tidak mau. Apa-apaan ini!” tegas Kailla.


“Aku lelah harus berdebat denganmu, Kai. Ikut aku!” perintah Pram, merengkuh tangan Kailla dengan kencang. Tidak membiarkan istrinya itu memberontak.


***


Mobil sedan hitam yang dikendarai Bayu terlihat masuk ke dalam tol. Cuaca kota Jakarta yang terbilang panas, semakin membakar dua orang anak manusia yang saling membuang pandangan dan menutup rapat mulutnya. Keduanya duduk di sisi yang berbeda, berusaha menjaga jarak supaya tidak terjadi kontak fisik.


Pram yang duduk di sisi kanan kursi penumpang, sudah mulai biasa. Raut ketegangan dan kekesalannya mulai menguap bersama pendingin mobil yang bisa meredam panas emosinya.


Dan Kailla, si keras kepala yang tidak mau mengalah itu, duduk di sisi kiri kursi penumpang. Bersandar di kaca jendela, menikmati pemandangan di pinggiran tol yang tidak terlalu jelas, karena Bayu mengambil lajur jalur cepat.

__ADS_1


Butuh waktu sedikit lebih lama untuk sampai di pemakaman elit yang terletak di pinggiran kota Jakarta itu. Mereka sempat terjebak macet di beberapa ruas jalan tol. Begitu di pintu masuk, mereka sudah disambut senyuman ramah bapak-bapak sekuriti. Hamparan rumput hijau dengan pepohonan di kiri dan kanan jalan sudah melambai, mempersilakan tamunya berkunjung.


Pemakaman mewah yang dilengkapi dengan helipad, dengan keindahan bak taman bunga, sudah sangat familiar untuk Kailla dan Pram. Hampir setiap bulan mereka berkunjung ke sini selama dua puluh empat tahun. Sejak Kailla masih belum mengerti apa-apa, masih digendong Ibu Sari atau Ibu Ida, Pramlah yang selalu membawanya mengunjungi makam sang mama. Dan di tempat inilah, biasanya Kailla dan Pram mengeluh.


Mobil itu berhenti tidak jauh dari hamparan rumput dengan nisan terbaring. Pram memilih turun terlebih dulu, begitu memastikan Kailla terlelap di dalam mobil.


“Bay, titip Kailla,” pesan Pram, sebelum melangkah menuju makam mama mertuanya.


Mama mertua yang umurnya tidak jauh berbeda dengannya hanya terpaut beberapa tahun. Mama mertua yang semasa hidup dipanggilnya Rania. Namun, sejak ada Kailla, Pram memilih memanggil tante, tetapi sejak menikah, Pram memanggilnya mama seperti Kailla.


“Ran, aku datang ingin mengeluh tentang putrimu,” ucap Pram, lelaki itu sudah duduk di depan pusara. Di atas rumput hijau dengan mengunci kedua lututnya. Posisi santai dan ternyaman Pram setelah selama ini harus menjaga sopannya di depan Kailla.


Setelah sekian tahun, akhirnya dia memanggil kembali dengan panggilan sewaktu perempuan yang sekarang hanya tertinggal batu nisan itu masih hidup.


“Kenapa harus menurunkan sifat j”alangmu padanya. Dia persis sekali sepertimu,” keluh Pram, berkata kasar untuk pertama kalinya. Kemarahan sudah membuatnya lepas kontrol.


“Kalau aku dan Riadi tidak menjaganya seketat ini, dia akan bernasib sama sepertimu. Berakhir di pelukan banyak laki-laki. Kenapa dia mudah sekali dirayu, kenapa dia mudah sekali tersentuh hanya dengan perhatian kecil,” lanjut Pram.


“Kamu tahu, aku sudah tidak tahan. Ingin rasanya mengembalikan pada kalian, tetapi dimana aku harus mengantarnya,”ucap Pram tersenyum. Mengingat kedua mertuanya, yang satu sudah meninggal dunia, satunya lagi koma hampir empat tahun lamanya.


“Kalau boleh jujur, aku lelah. Dia keras sekali. Apa ini karena dia lolos dari kematian beberapa kali bahkan sejak di dalam perutmu, sampai jiwa pemberontak menurun di sifatnya.”


“Apakah ini imbas karena dia harus bertahan seorang diri sewaktu di kandunganmu. Di saat tidak seorang pun menginginkan kehadirannya di dunia. Dia benar-benar sulit diatur,” keluh Pram.


Dua tetes air mata terjun bebas dari mata yang sekarang mulai bekerut di kedua sudutnya. Senyum kaku Pram tersungging kembali, ketika pikirannya kembali ke masa lalu.


“Kalian sedang menertawakanku bukan?” tanya Pram, mengubah posisi duduknya menjadi bersila.


“Kalau aku tidak memohon kepada kalian untuk mempertahankannya, mungkin hidupku sudah tenang sekarang. Membiarkannya bertarung dengan pil-pil penggugur kandungan,” ucap Pram, meneteskan air mata.


Sejak saat itu, identitas Kailla disamarkan. Bayi yang dikandungan Rania, diberitakan meninggal dunia di tempat bersama ibunya.


Kailla selalu dikawal sejak kecil. Tidak ada seorang pun yang mengetahui Kailla putri kandung Riadi Dirgantara. Sama seperti Pram, Kailla hanya anak adopsi, meskipun hasil tes DNA menyatakan Riadi adalah ayah biologisnya.


Namun, belakangan identitas Kailla terbongkar dan berujung dengan penculikan. Disitu Pram harus kehilangan calon anaknya. Perebutan harta yang tidak ada selesainya. Bahkan sampai saat ini, Pram yakin musuh masih mengintai nyawa istri, bahkan mungkin anaknya.


Pram termenung di tempat, memandang batu nisan itu dengan tatapan penuh kesedihan. Sampai seseorang memeluk pundaknya dari belakang, tanpa permisi dan begitu tiba-tiba.


“Sayang, maafkan aku. Aku jujur, tidak sengaja bertemu dengannya,” bisik Kailla, ditelinga suaminya. Kecupan demi kecupan dilabuhkannya di pipi yang basah oleh bekas air mata.


“Kamu menangis?” tanya Kailla heran.


“Kamu serius mengeluh pada mama?” tanya Kailla lagi.


“Iya, supaya mama tahu kelakuan putrinya. Beraninya dia menyukai lelaki lain, disaat suaminya masih bernafas lancar,” gerutu Pram.


“Aku hanya menyukainya sebatas menyukai opa-opa korea itu,” sahut Kailla membela diri.


“Tunggu aku merenggang nyawa, baru boleh menyukai lelaki lain,” lanjut Pram, menoleh ke arah istrinya. Mata melotot, berharap istrinya ciut, tetapi Kailla tetaplah Kailla. Tidak akan takut dengan kemarahan, Kailla hanya akan lemah dengan kelembutan.


“Kamu serius mengadu keburukanku pada mama?” tanya Kailla lagi.


“Minta Bayu mengeluarkan rangkaian bunga di bagasi mobil,” perintah Pram, enggan menjawab pertanyaan tidak penting istrinya, menepuk lembut lengan Kailla yang sedang mendekap erat tubuhnya. Lelaki itu masih duduk di hamparan rumput hijau, sembari mengusap bekas air mata yang belum mengering benar di pipinya.


Tidak lama, Kailla sudah kembali dengan buket mawar merah di tangannya saat Pram bangkit dari duduknya. Menepuk pelan celananya, sebelum berjalan dan bersimpuh di sisi batu nisan bersama istrinya.

__ADS_1


“Ma, aku akan wisuda beberapa hari lagi,” cerita Kailla setelah meletakan rangkaian bunga itu di dekat nisan.


“Aku..”


“Kai, aku menunggu di mobil,” potong Pram tiba-tiba. Lelaki itu sudah berjalan menuju mobilnya terparkir, memberi ruang untuk Kailla berkeluh kesah.


Baru saja menjatuhkan tubuhnya di kursi mobil, ujung matanya menangkap kehadiran shopping bag yang berisi kotak perhiasan tergeletak pasrah di kursi mobil. Tanpa membuka, Pram mengantongi kotak perhiasan itu dan meminta Bayu membuang kantong luarnya ke tempat sampah.


“Bay, cukup katakan tidak tahu kalau Kailla bertanya mengenai kotak perhiasannya,” perintah Pram.


“Siap Bos!”


Terlihat Pram mengeluarkan ponsel dari tangannya, menghubungi David melalui panggilan video call.


“Dave, tolong atur pertemuanku dengan Ditya Halim Hadinata, besok,” perintah Pram sesaat setelah wajah asistennya muncul di layar ponselnya.


“Baik Presdir,” sahut David.


“Kosongkan jadwalku sampai Kailla wisuda,” perintah Pram lagi.


“Baik, Presdir.”


“Tolong hubungi pengacaraku. Ada beberapa aset yang harus aku alihkan kepemilikannya dan mengenai perusahaan baruku, pastikan semuanya beres sebelum akhir bulan,” lanjut Pram lagi.


Tepat saat panggilan itu terputus, Kailla membuka pintu mobil dan memamerkan senyum terindahnya. Seolah tidak ada masalah yang terjadi sebelumnya.


“Sayang, aku lapar,” adu Kailla, bersandar manja di pundak Pram seperti biasa. Setelah mengadu, dia melupakan pertengkaran dan perselisihannya dengan sang suami.


“Kamu mau makan apa?” tanya Pram, merengkuh pundak Kailla dan mendekap tubuh istrinya.


“Aku mau makan bakso,” sahut Kailla seperti biasa. Makanan kesukaannya yang sejak dulu tidak pernah berubah.


“Baiklah. Bay, antarkan Nyonyamu ini kemana pun yang dia mau,” pinta Pram lagi, langsung dianggukin Bayu. Lelaki itu sejak tadi sudah siap di depan kemudi.


“Pinggangku sakit, perutku kram,” keluh Kailla dengan manjanya, memainkan kancing teratas kemeja hitam Pram yang sudah terlepas dasinya entah sejak kapan.


“Bagaimana bisa begitu?” tanya Pram heran, kali ini membantu mengusap perut istrinya.


“Mungkin aku berjongkok terlalu lama di makam mama,” sahut Kailla, ujung telunjuk lentik itu mengarah keluar jendela.


“Masih sakit?” tanya Pram lagi, setelah hampir lima belas menit mengusap disana, dan Kailla tidak bersuara.


“Hmmm, aku mau tidur. Aku capek. Tolong bangunkan aku, kalau sudah sampai ke tempat baksonya,” gumam Kailla.


“Capek!?!” Pram terkekeh, mencerna kata capek yang dimaksud Kailla. Sepanjang perjalanan ke pemakaman istrinya tertidur lelap. Baru terbangun beberapa menit yang lalu, tiba-tiba mengeluh capek.


“Ya sudah tidur saja,” sahut Pram, tertawa. Mengeratkan pelukannya.


***


To be continued


Love You all


Terimakasih,

__ADS_1


__ADS_2