Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 161 : Hari memanjakan suamimu


__ADS_3

“Dulu, kamu datang menemuiku untuk memohon maaf dan sekarang aku datang menemuimu untuk memberi maaf,” ucap Ibu Citra dengan suara bergetar.


Memaafkan bukanlah hal mudah, seringan bibir berucap, semudah kaki melangkah, secepat mata menatap. Untuk bisa memaafkan apa yang sudah Riadi lakukan pada keluarga mereka, dimana termasuk kategori biadab adalah hal yang paling sulit.


Kalau dulu hidupnya diisi dengan dendam, harinya dipenuhi derai airmata, langkahnya selalu memutar ulang peristiwa demi peristiwa tragis yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Meski harinya berat dan suram, tetapi kenyataannya wanita lansia itu menua dengan semua kenangan buruk itu.


Namun, sekarang sejak bersua kembali dengan putra semata wayangnya, Pram. Dia menemukan harapan hidup yang baru. Meski semua tak sesuai harapannya, kehadiran Pram yang menuntun serta Kailla masuk ke kehidupannya memberi warna baru.


Dari menantu yang tak diharapkannya harus menjadi menantu yang diterima apa adanya. Cinta Pram terlalu besar untuk Kailla, bahkan sejuta luka keluarga mereka selama ini tak sanggup mengoyahkan lelaki itu.


Saat Kailla pergi, ibu Citra seperti tertampar. Dia satu-satunya saksi yang melihat bagaimana terpuruknya Pram saat itu. Disaat orang lain hanya bisa melihat betapa kuatnya Pram, dia malah sebaliknya. Putranya menangis di pangkuannya karena perempuan yang tak lain adalah musuh keluarga mereka.


Sebagai ibu, dia bisa apa? Di dalam hidupnya, lebih tepat mungkin di sisa hidupnya, dia hanya ingin melihat kebahagiaan putranya. Untuk itu, wanita lansia itu harus belajar memaafkan banyak hal, memaafkan takdir hidup yang begitu kejam padanya.


Tidak mudah! Bahkan Ibu Citra harus berkali-kali menyakinkan hatinya selama sebulan ini, demi membuat airmata Pram berhenti menetes lagi.


“Bangunlah sekarang! Aku mengizinkanmu bersimpuh di hadapanku untuk meminta maaf atas dosa-dosamu!” perintah Ibu Citra, teringat kembali bagaimana dia tidak memberi kesempatan pada laki-laki yang terbaring tak berdaya di hadapannya.


Kailla hanya diam, berdiri mematung di belakang mertuanya dengan tatapan nanar. Setiap masuk ke ruangan dengan nada teratur alat-alat medis, tanpa ada pergerakan dan kehidupan di dalamnya, ada kengerian yang sulit diungkapkan.


Ibu hamil itu takut, kalau suatu saat dokter mengabarinya kalau Riadi Dirgantara sudah tidak ada di dunia ini. Kemana lagi dia harus mengadu kalau sedang bertengkar dengan Pram, dengan siapa lagi dia harus berbagi kegembiraan.


Dia tidak akan sanggup melihat daddynya dalam bentuk batu nisan seperti mamanya. Untuk saat ini, dia belum sanggup kalau harus menghadapi kenyataan kehilangan Riadi. Sejauh ini, Kailla masoh memupuk harapan yang sama besarnya dengan empat tahun silam. Ingin daddy segera bangun kembali.


“Dad, aku datang membawa mama mertuaku. Dia baik sekali, bisakah kamu bangun sebentar dan berkenalan dengannya?” bisik Kailla sambil membungkuk di telinga Riadi. Tangannya sudah mengenggam jemari dingin dan kaku daddynya. Membawa pelan untuk mengusap perutnya.


“Dad, cucu-cucumu juga ingin merasakan sentuhan tangan opanya. Ayo cepat bangun, mereka ingin bisa bermain lari-larian denganmu. Mereka juga ingin diajak memancing ikan koi di kolam belakang rumah.”


Tenang sekali. Tidak ada respon sama sekali, tidak ada pergerakan apapun. Satu-satunya yang terlihat hanya dua bulir air mata Kailla yang menetes turun.

__ADS_1


“Ayo Dad, berhenti main-mainnya. Kamu sudah tidur terlalu lama, sudah bersembunyi terlalu lama. Ini sudah empat tahun. Aku butuh pelukanmu lagi, cucu-cucumu perlu dekapan hangat opanya,” ucap Kailla, di sela isaknya.


Semua bujuk rayu Kailla sia-sia, kata-kata memaafkan yang diucapkan Ibu Citra tidak berpengaruh apa-apa. Semuanya tetap sama, Riadi masih betah dengan keadaannya. Tidur terlalu lama, membuatnya terlalu nyaman dan susah terbangun.


Hampir lima belas menit di dalam, sampai seorang perawat masuk untuk melakukan pengecekan kembali. Dan mempersilakan Kailla dan Ibu Citra keluar.


Baru saja berbalik, kaki Kailla baru melangkah sampai ke pintu saat terdengar suara perawat dengan seraga, khususnya. “Bapak menangis, sepertinya beliau bisa mendengar,” ucap sang perawat, yang hampir empat tahun dia mengurus Riadi di ruangan ini.


“Semoga cepat sehat kembali, Pak,” bisik perawat, menghapus air yang keluar di pelipis Riadi.


***


Beberapa hari berlalu, setelah kunjungan Kailla dan Ibu Citra ke rumah sakit untuk menjenguk Riadi, tidak ada perubahan apa pun. Semua tetap sama.


Pagi itu, Kailla bangun lebih cepat dari biasanya. Begitu membuka mata, ibu hamil itu langsung mencuci muka dan turun ke dapur, Mereka akan memenuhi undangan Ibu Citra untuk sarapan pagi di rumah mamanya itu.


“Sudah Non. Wortel sudah ibu potong korek, kol juga sudah diiris, toge sudah dibersihkan ekornya, daun bawang sudah dipotong-potong. Jagung juga sudah dipipil,” sahut Ibu Ida, menunjukan semua bahan sayuran yang sudah siap diolah.


Garis bibir itu melengkung. “Tepungnya sudah siap, kan?” tanya Kailla lagi. Dia akan membuat bakwan sayuran untuk dibawa ke rumah mertuanya. Kemarin dia sempat membuatkannya untuk Pram, dan suaminya sangat menyukai cemilan itu.


“Sudah Non!” sahut Ibu Sari yang berdiri tidak jauh, asisten rumah tangga itu sibuk mencuci perabotan.


Dengan terampil dan terlatih, Kailla mencampur semua bahan dan menuangkan tepung siap saji di dalam baskom menyusul sayuran potong. Mengaduk dan mencampur dengan air, setelah kekentalannya dirasa pas, barulah calon ibu bercelemek putih itu mulai menggoreng. Dia mengikuti apa yang diajarkan Ibu Sam padanya.


Kailla sedang sibuk membolak-balikan adonan di atas wajan, saat kedua tangan tiba-tiba menyusup dari sisi pinggangnya dan mengunci di perut buncitnya.


“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Kailla. Cukup dengan mencium aroma tubuhnya saja, Kailla tahu lelaki yang sedang bersandar manja adalah suaminya.


“Hmmm,” gumam Pram, mengecup pelan pundak Kailla, setelah menurunkan tali pengikat di bahu istrinya.

__ADS_1


“Kenapa bangun? Ini masih pagi,” ucap Kailla, masih saja serius dengan capit di tangannya. Dia harus konsentrasi, bakwan sayurannya butuh perhatian. Kalau tidak, terancam hangus.


“Aku merindukan kalian,” sahut Pram dengan suara seraknya. Tangan kekarnya sudah mengusap-usap perut Kailla. Wajahnya sudah dibenamkan di pundak Kailla, menggesek manja di area pundak, leher dan tengkuk istrinya.


“Kamu mau membawa ini ke rumah mama?” tanya Pram, memastikan. Mata lelaki itu masih setengah terpejam. Semalaman dia dan Kailla ke ladang. Sampai sekarang pinggangnya masih berasa, karena kebanyakan mencangkul. Umur tidak bisa bohong, bekerja terlalu berat sedikit saja, semuanya terasa sakit.


“Iya.”


Kailla masih sibuk di depan penggorengan, tetapi tubuh Pram semakin lama semakin terasa berat, menempel erat di punggungnya,


“Sayang, kamu tidur lagi?” tanya Kailla.


“Hmmm, aku mengantuk,” sahut Pram dengan suara pelan.


“Ya sudah. Kembali ke kamar,” pinta Kailla.


“Aku mau tidur di pelukanmu,” bisik Pram, suaranya semakin mengecil.


“Ayo Sayang, biarkan Ibu Sari yang melanjutkannya. Temani aku tidur sekarang,” ajak Pram, meminta dengan manjanya.


“Aku masih harus menggoreng. Adonannya masih banyak,” sahut Kailla.


“Tinggalkan saja. Aku mengantuk. Ayo, temani aku tidur sebentar lagi. Aku ingin memelukmu,” pinta Pram dengan suara seraknya. Tanpa bertanya, lelaki itu sudah memberi perintah pada Ibu Sari untuk meneruskan pekerjaan istrinya.


“Ayo ke kamar. Hari minggu itu seharusnya hari khusus untukku. Setelah seminggu aku bekerja keras, hari ini harusnya kamu memanjakan suamimu,” ucap Pram, menggengam tangan Kailla dan membawa istrinya kembali ke kamar, setelah sebelumnya melempar celemek Kailla.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2