
“Sayang, dia kan dirawat di sebelah kamar mama!” ucap Kailla tiba-tiba, ikut memandang foto di layar ponsel David.
Pram terperangah, buru-buru mematikan layar ponselnya. Terkejut dengan informasi yang disampaikan sekaligus terkejut dengan kehadiran Kailla yang sudah berdiri di sampingnya. Terlalu fokus pada si crazy rich, sampai tidak memperhatikan istrinya sudah berdiri di samping saja.
“Sayang, dia siapa?” Kailla mulai dengan rasa penasarannya.
“Aku tidak mengenalnya,” sahut Pram asal.
Tidak mau sampai David mengetahui banyak hal tentang hubungan Ditya dan Kailla. Dengan tenang, menarik Kailla duduk di pangkuannya. Berusaha mengalihkan perhatian.
“Dave bisa tinggalkan kami,” pinta Pram, mengedipkan mata pada asistennya.
David menurut. Belasan tahun bekerja dengan Pram, dia sudah paham dengan kebiasaan atasannya itu, hanya dengan sebuah kedipan mata saja.
Keduanya masih terdiam, menatap pintu ruangan menutup dengan perlahan. Kalau Kailla sedang menikmati duduk di pangkuan suaminya, berbeda dengan Pram.
Lelaki itu sedang mencerna segala informasi yang disampaikan David. Pram harus memutar otak, mencari cara menjauhkan Kailla dari si Ditya. Meminimalkan akses yang bisa saja menjadi wadah mereka bertemu kembali. Sebisa mungkin dia akan menjaga Kailla dengan tangannya sendiri.
Ditya bukanlah orang biasa. Melihat latar belakang keluarganya, Pram yakin lelaki itu hanya perlu menunjuk saja pasti dia bisa menemui Kailla kapan saja, dimana saja yang dia mau.
Dibandingkan dengan Ditya, dia masih tertinggal jauh. Dari segi kemapanan, kekuasan, mungkin termasuk ketampanan. Yang membuatnya di atas angin adalah statusnya yang suami Kailla. Tapi selain itu, dia tidak ada apa-apanya. Apalagi kalau bicara umur, Ditya sepuluh tahun lebih muda darinya.
“Katakan padaku, Kai. Kamu mengenal Ditya dimana?” tanya Pram, berusaha bersikap setenang mungkin.
“Yang di ponsel itu Ditya? Yang mengirimkanku bunga raksasa?” Kailla memastikan lagi.
Senyum terukir di bibirnya, ternyata pengagum rahasianya adalah si tampan penghuni kamar sebelah. Kedua tangannya saling menaut didada, senyum terkembang dengan pikiran melayang kemana-mana.
“Suamimu masih hidup, Sayang,” celetuk Pram kesal. Melihat ekpresi Kailla yang berbunga-bunga.
“Katakan dimana kamu berselingkuh dariku?” tanya Pram masih berusaha tenang.
Dengan memandang netra mata suaminya, Kailla ragu-ragu menjawab. ”Tapi janji tidak marah padaku,” pintanya dengan raut menggemaskan.
Kailla sudah berpindah arah. Masih duduk dipangkuan, tetapi kali ini dia memilih sedikit berhadapan dengan suaminya. Dengan tangan kanan dirangkulkan di pundak suaminya.
“Aku salah masuk kamar, kemarin,” sahut Kailla, menunduk. Khawatir jawabannya akan memicu emosi sang suami karena kecerobohannya.
“Maksudmu?” tanya Pram, menyimak dengan serius. Jemarinya sedang menyusuri lekuk bibir sang istri. Mengusap lembut bibir merona itu dengan ujung telunjuknya.
“Aku...aku tidak sengaja masuk di kamarnya, sewaktu kamu rapat. Ingat kan, waktu aku membawa sepiring mie goreng. Sebelumnya, aku salah, masuk ke kamarnya.”
Buru-buru Kailla menautka jemarinya ke jemarin sang suami. Berharap apa yang dilakukan bisa meredam kemaraham Pram.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Pram, kembali mencari tahu, menatap lekat manik mata Kailla.
“Tidak ada!” Kailla menjawab singkat, kali ini dengan manja bersandar di dada Pram. Masih mencari cara supaya tidak terkena semprotan.
“Kamu tidak berbohong padaku?” tanya sang suami yang mulai ketar ketir tidak karuan.
__ADS_1
Kailla menggeleng dengan kuat, kemudian membenamkan wajahnya di dada sang suami.
“Aku tidak melakukan apapun. Hanya tersenyum dan minta maaf karena salah masuk kamar,” gumam Kailla.
Hening. Pram tidak bicara juga tidak bertanya lagi. Hanya menatap lekat istrinya dalam diam.
“Ahhhhh, kamu jangan marah padaku! Aku tidak melakukan apapun dengan lelaki tampan titisan dewa yunani itu,” dengus Kailla salah tingkah. Hampir mencak-mencak melihat Pram yang terus-terusan menatapnya tanpa berkedip.
Pram terkekeh, melihat reaksi berlebihan Kailla. Mau marah pun, urung jadinya. Disaat istrinya terlihat begitu menggemaskan seperti ini.
“Buktikan di dalam sini masih penuh dengah Reynaldi Pratama,” pinta Pram, menunjuk ke arah dada istrinya.
“Kamu mau apa?” tanya Kailla, tersenyum menggoda.
“Aku mau seorang bayi, sekarang juga,” sahut Pram setengah bercanda.
“Huh! Memang aku yang menentukan hamil atau tidaknya,” keluh Kailla kesal.
Kedua tangan kekar itu langsung memeluk dengan erat, tidak memberi kesempatan Kailla berontak. Berbisik lembut di telinga istrinya.
“Rumah tangga itu didasarkan kepercayaan. Dan aku berusaha memberimu kepercayaan itu bahkan disaat aku sendiri sebenarnya tidak yakin. Tetapi aku berusaha untuk mempercayai semua ucapanmu.”
Pram menghela nafas, sebelum melanjutkan ucapannya.
“Aku mungkin bisa mengatur hidupmu, Kai. Tetapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanmu. Hanya kamu sendiri yang bisa mengendalikan apa yang kamu rasakan, Kai.”
“Aku tidak melakukan apapun dengannya. Bahkan kami tidak berkenalan,” ujar Kailla, berbisik lirih.
Dengan meletakan dagu di pundak istrinya, Pram berbisik kembali.
“Tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku percaya padamu. Cukup ingat saja, Kai. Dimana pun kamu berada, dengan siapapun nanti. Ada seorang Reynaldi Pratama yang menunggumu dengan cinta di salah satu sudut dunia ini.”
Kailla berbalik, memeluk erat suaminya. Ada dua bulir air mata menetes di pipinya.
***
Malam harinya.
Setelah berpikir ulang, Pram memutuskan memindahkan kamar rawat sang mama. Selain itu mereka akan pulang ke rumah setiap hari. Dia dan Kailla tidak akan menginap di rumah sakit lagi, mengingat Ibu Citra sudah lumayan membaik kondisinya.
Tidak hanya itu saja, mulai besok Kailla tidak perlu menjaga mamanya sepulang kuliah. Pram sudah membayar perawat dan meminta Ibu Ida berjaga di rumah sakit. Dan kalau mamanya menginginkan Kinar kembali, dia tidak keberatan. Toh, istrinya tidak akan berada di sana.
Malam ini, setelah pulang dari kantor, Pram dan Kailla kembali menjenguk mamanya di kamar inap yang baru. Baru saja membuka pintu, mereka sudah dikejutkan dengan meja yang penuh dengan makanan hotel berbintang lima. Lengkap dengan rangkaian bunga yang hampir sama dengan diterimanya tadi siang.
“Ma, ada apa ini?” tanya Pram heran. Menatap pemandangan di depan matanya, hampir tidak percaya.
“Semua ini dikirimi pihak rumah sakit,” jelas Ibu Citra, menunjuk ke arah makanan yang sebagian sudah dimakan, tertinggal yang tersisa di atas meja.
“Itu juga,” jelas Ibu Citra, saat melihat Pram mengangkat rangkaian bunga raksasa kombinasi gading dan pink.
__ADS_1
Kembali terselip kartu ucapan. Kailla langsung menarik kartu yang masih menempel di buket bunga mawar itu, membacanya perlahan.
Pram menatap istrinya. Raut wajah Kailla berubah menjadi cerah, dengan senyum terkulum di bibirnya. Berulang kali, Kailla membaca kembali kartu ucapan. Dan mengeja nama si pengirim tanpa suara.
“Ditya Halim Hadinata,” ucapnya tanpa suara. Tapi Pram masih bisa membaca gerak bibir itu.
“Sayang, dia siapa sebenarnya? Kenapa dia bisa tahu namaku?” tanya Kailla heran. Tapi kebahagiaan yang terpancar di wajahnya itu tidak dapat disembunyikan.
Pram menggeleng. Memilih menyembunyikan semua fakta yang sudah diketahuinya. Dia harus mengetahui dengan jelas apa motif si Ditya mengirimi istrinya bunga dan hadiah. Bahkan laki-laki itu bisa tahu kamar rawat mamanya yang baru.
Apakah lelaki itu tidak tahu kalau sekarang dia sedang bermain api dengn istri orang. Dengan langkah kasar, Pram menitipkan mama dan istrinya pada Bayu. Dia berencana menemui langsung si Ditya, lelaki tidak tahu diri itu.
Dengan tangan terkepal dan rahang mengeras yang berusaha disembunyikan, Pram berpamitan dengan mamanya.
“Ma, aku ada urusan dengan dokter. Mudah-mudahan mama bisa pulang ke rumah secepatnya,” pamit Pram.
“Sayang, mau kemana?” tanya Kailla, mulai membaca ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya.
“Aku harus menemui dokter. Siapa tahu mama bisa pulang malam ini,” bisik Pram, mengusap lembut punggung istrinya yang masih saja mendekap rangkaian bunga di dadanya.
Kailla mengangguk.
Bayu yang mulai paham dengan perasaan hati majikannya, merasa tidak tenang. Saat ini Pram sedang dalam kondisi tidak baik. Bayu tahu, Pram sedang cemburu berat di level tertinggi. Dan akan sulit dihentikan kalau bertemu dengan lawan yang seimbang. Tetapi dia tidak bisa apa-apa, selain menuruti semua perintah.
***
Pram sudah berdiri di depan kamar yang katanya di tempati Ditya. Kamar itu tepat di samping kamar perawatan mamanya sebelum dipindahkan. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa kecolongan kali ini.
Terlihat dia menggedor kasar pintu kamar yang ditempati Ditya.
Buk!Buk!Buk! Pram menggedor kasar dengan kepalan tangannya.
“Buka pintunya, Brengs”ek!!!” teriak Pram.
Baru saja dia akan menggedor kembali, tangannya masih mengepal di udara.
Ceklek! Pintu kamar itu terbuka.
To be continued
**
Love you all
Terima kasih.
__ADS_1