
“Kai, kemari,” pinta Pram menepuk dudukan sofa di sebelahnya.
Kailla baru akan menjatuhkan bokong di sebelah Pram, tetapi lelaki itu sudah lebih dulu menarik istrinya duduk di pangkuan.
Melihat itu, Ibu Citra tersenyum bahagia. Rencananya lolos dari maut berjalan sempurna, syal brandednya pun aman di dalam dekapannya. Secara syal itu bukan sembarang syal. Itu limited edition, tidak sembarang orang bisa membelinya. Bukan karena uangnya, tapi terbatasnya. Dan dia yakin putra semata wayangnya tidak sanggup mendapatkannya.
Kembali memandang ke arah putra dan menantunya. Asal putra dan menantunya sudah di posisi tumpang tindih, berarti sebentar lagi situasi akan aman terkendali.
“Sayang, ada yang datang menemuimu barusan?” tanya Pram, dengan tangan memeluk pinggang ramping istrinya, tetapi tatapan menghunus tajam pada mamanya.
Deg—
Ibu Citra menghentikan gerakan memeluk hadiahnya. Berganti menatap putranya yang sedang terbakar emosi.
“Ya Tuhan, disaat memeluk istrinya saja, dia belum rela melupakan segala amarahnya,” batin Ibu Citra.
“Iya... ta...” Kailla belum selesai menjawab, mertuanya sudah memotong.
“Aduh Pram, umurmu sudah hampir kepala lima. Perbanyak doa, jangan perbanyak praduga tidak bersalah dan berburuk sangka,” potong Ibu Citra.
“Ma! Aku bertanya pada istriku bukan pada mama,” ucap Pram, menegaskan.
“Aku tahu, tapi kamu tidak kasihan pada istrimu sudah ketakutan disana.” Ibu Citra melipat syalnya dan memasukan kembali ke kantongnya.
“Ada yang datang kesini, tapi menemuiku. Bukan menemuinya. Kamu tidak lihat, hadiah ini milikku, bukan milik Kailla,” jelas Ibu Citra.
Pram tertegun, menatap mama dan istrinya bergantian.
“Untuk apa dia menemui mama?” tanya Pram, masih tidak yakin.
“Mama menjawab sejujurnya, tidak ada yang ditutupi atau dilebih-lebihkan. Si arjuna datang kesini hanya ingin memperkenalkan diri, lalu meminta izin pada mama,” jelas Ibu Citra, masih dengan kalimat menggantung.
“Arjuna?” Pram mengulang kembali. Heran dengan nama yang disebut mamanya.
“Iyalah, mama sudah terlalu tua untuk mengingat namanya, apa tadi namanya. Mama lupa.”
“Lalu, untuk apa dia meminta izin pada mama?” tanya Pram kembali, masih tidak puas dengan jawaban mamanya. Lelaki matang yang masih tampan di usia kepala empat itu terlihat mendekap erat sembari mengecup pundak istrinya.
“Dia mau mengenal putri mama lebih jauh, mau serius mengenal lebih dekat. Tetapi kamu tahu sendiri kan, mama tidak punya putri. Hanya ada satu putra, itu pun satu-satunya. Mana sering membantah dan suka marah-marah,” gerutu ibu Citra, membalas tatapan putranya, berharap Pram lupa dengan kemarahannya.
Kembali Ibu Citra menatap shopping bag, memandang logo yang setiap kali melihat sanggup mengalihkan dunianya.
“Memang banyak anak banyak rezeki. Coba kalau putriku banyak, bisa berjejer yang mengantar hadiah ke rumah,” ucap Ibu Citra dalam hati. Senyum-senyum memandang menantunya.
“Apa maksud ucapan mama tadi? Siapa putri mama yang dimaksudnya?” Pram mulai emosi, pikirannya sudah menggila saat mendengar Ditya meminta izin pada Ibu Citra untuk mengenal putrinya, Kali ini dia mengalihkan pandangannya pada Kailla, istrinya menunduk sembari meremas ujung gaunnya.
“Kai, angkat kepalamu. Jawab aku sekarang! Apa maksud mama?” pinta Pram, mulai meradang kembali.
__ADS_1
“Aduh! Aku salah bicara,” batin Ibu Citra.
“Begini Pram, si arjuna itu hanya salah orang. Aku belum meluruskan padanya, eh dia main pamit saja. Jelas-jelas aku tidak memiliki putri. Hanya kamu satu-satunya.”
“Eitss tunggu! Kamu jangan menuduhku berselingkuh dari papamu dan memiliki anak lain selainmu,” lanjut Ibu Citra asal. Yang penting saat ini bisa meredam kemarahan putranya.
“Sudah-sudah. Kepalaku semakin pusing mengobrol dengan mama. Bersiap-siap sekarang, mama sudah boleh pulang,” tegas Pram.
Kailla segera berdiri dari pangkuan Pram, segera mendekati mertuanya. Membantu mertuanya turun dari ranjang.
“Ma, aku dan Kailla tidak mengantar. Aku akan menguliti istriku dulu. Nanti mama diantar Sam dan Ibu Ida.”
Kedua wanita itu terkejut. Kailla yang sedang menggandeng tangan mertuanya membeku seketika, demikian juga Ibu Citra. Pram tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Sebentar lagi akan ada bom meledak, kalau Kailla tidak hati-hati bicara.
Ibu Citra menatap menantunya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Aku tidak yakin dengan menantuku yang polos ini. Nasibku dan nasib Pram bisa diujung tanduk, kalau dia menunjukan kebodohannya di depan suaminya,” batin Ibu Citra.
Beberapa hari bersama Kailla, dia mulai mengenal karakter menantunya. Dari kepolosan, kecerobohan, kemanjaan dan kebodohan. Kailla terlalu polos, mengarah ke bodoh. Tidak bisa berpikir licik, seperti orang lain. Selalu mengedepankan emosi di saat dia meledak, tidak menggunakan otak dan kepintaran untuk menghadapi orang. Hanya bisa menangis dan merengek pada putranya saja.
Melihat reaksi Kailla yang biasa-biasa saja terhadap Ditya, dia sudah tahu seberapa polosnya sang menantu. Kalau wanita lain sudah pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk menguras habis kekayaan Ditya yang tidak perlu diragukan. Sanggup memberi hadiah mewah di perjumpaan pertamanya.
Atau menggunakan kesempatan ini untuk memanas-manasi suaminya dan membuatnya cemburu demi mendapat perhatian lebih. Tapi Kailla tidak, menantunya terlalu polos untuk berpikiran licik. Mungkin pasion Kailla bukan disitu.
Hanya satu kelebihan Kailla, dia bisa membuat Pram menggila atau jinak hanya dengan satu pergerakan saja. Itu saja yang sampai sekarang membuat Ibu Citra bingung. Apa yang dimiliki Kailla dan tidak dimiliki wanita lain, termasuk dirinya dan Kinar.
Kailla bisa mempengaruhi hidup Pram tanpa wanita itu sadari. Hanya saja Kailla terlalu polos untuk memainkan perannya sendiri.
“Ma, bisa jalan sendiri atau menggunakan kursi roda?” tanya Kailla.
Wanita tua itu tampak berpikir, sebuah ide terlintas di benaknya. Sembari tersenyum dia berkata.
“Mama menggunakan kursi roda saja.”
“Pram, tolong minta ke perawat ya,” perintah Ibu Citra pada putranya yang duduk mematung menyaksikan keakraban mertua dan menantu yang baru saja terjalin beberapa menit belakangan.
Setelah memastikan Pram keluar dari ruangan, Ibu Citra segera menarik Kailla.
“Kai, jangan sampai Pram tahu mengenai niat lelaki itu. Dia pasti akan menembak mati kepala si Arjuna,” pinta Ibu Citra, mengejutkan Kailla.
“Kalau dia memaksa, aku harus bagaimana? Aku tidak mau berbohong pada Pram,” sahut Kailla.
“Ah, kamu paling tahu kelemahan Pram. Kalau suamimu melotot, kamu harus menatapnya semanis mungkin. Kalau dia masih saja mengomel, dicium saja bibirnya supaya dia berhenti marah-marah.” Ibu Citra mengajarkan menantunya. Sesekali menatap ke arah pintu, takut Pram tiba-tiba muncul.
“Kalau masih belum bisa meredakan emosinya, kamu masih punya kartu as,” lanjut Ibu Citra, menatap menantunya, tersenyum usil.
“Lelaki akan melupakan kemarahannya dan menyerah saat di tempat tidur,” jelas Ibu Citra, tersenyum malu-malu saat mengucapkannya.
__ADS_1
“Kalau cuma itu, aku tahu Ma,” celetuk Kailla kesal.
“Tidak apa-apa. Kalau terpaksa, keluarkan jurus itu. Halal, tidak ada yang menggerebekmu,” lanjut Ibu Citra.
“Pokoknya, jangan sampai Pram tahu mengenai niat mulia si.. si.. siapa namanya tadi.” Ibu Citra terlihat berpikir.
“Ditya!”
“Ah iya. Jangan sampai Pram tahu. Mama tidak mau dia bertengkar dengan lelaki itu karenamu. Pram sudah tidak muda lagi, tidak pantas bertengkar sampai baku hantam dengannya hanya karena wanita yang memang sudah menjadi hak putraku,” ucap Ibu Citra.
“Aku ingatkan padamu, Kai. Harga diri dan kehormatan suamimu itu sekarang ada di tanganmu,” tegas Ibu Citra bernada mengancam.
Kailla tercengang pada kalimat terakhir mertuanya. Intonasinya sedikit berbeda dari sebelumnya.
“Aku memang tidak pernah menerimamu sebagai menantuku. Tapi aku tidak mau harga diri anakku diinjak laki-laki lain. Meskipun dia lebih segalanya dari Pram, tapi yang membuat Pram jauh di atasnya, karena putraku itu suamimu,” lanjut Ibu Citra.
“Aku menyukai syalnya, tapi aku juga tidak mau putraku menangis karenamu!” tegasnya kembali.
Pembicaraan mereka terputus, tiba-tiba Pram masuk ke dalam kamar dan menyambar shopping bag tanpa permisi.
"Eitttss, itu mau dibawa kemana?" tanya Ibu Citra terkejut.
"Dikembalikan ke pemiliknya," sahut Pram singkat
"Tetapi sekarang mama pemiliknya," jelas Ibu Citra tidak mau kalah.
"Istriku jauh lebih berharga dari selembar barang murahan ini! Aku tidak menjual istriku, Ma!!" ucap Pram, bergegas menarik tangan Kailla. Keluar kamar mengikutinya.
***
Ditya sedang menikmati segelas wine di kediamannya. Masih berbalut bathrobe, terlihat dia memutar-mutar gelas berkaki itu sedemikian rupa, sembari menikmati pemandangan ibukota dari dinding kaca.
Senyumnya terkembang menatap kesibukan di jalan utama. Kendaraan saling susul menyusul. Dari tempatnya berdiri, semuanya terlihat seperti miniatur. Tidak salah dia menjatuhkan pilihannya pada salah satu penthouse di pusat ibukota.
Brukkk!!!
Matt, sang asisten menjatuhkan map tebal berisi data-data yang diminta Ditya padanya. Butuh dua jam untuk Matt mendapatkan data yang akurat dan terpercaya. Selain karena gadis ini bukan gadis sembarangan. Ada banyak data yang disamarkan tentang gadis yang menjadi target sang majikan.
“Ini Bos!” ucap Matt, tersenyum melihat majikannya.
“Aku lelah kalau harus membacanya. Kamu saja yang membacakannya untukku,” perintah Ditya, meneguk habis sisa wine di gelasnya.
Ting! bunyi gelas kristal yang berbentur dengan meja granit.
“Kailla Riadi Dirgantara.” Matt mulai membaca, mengawalinya dengan namanya.
***
__ADS_1
Love You All
Terima kasih