Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 60 : Pagi Di Rumah Sakit


__ADS_3

Kailla tertunduk lesu, melangkah dengan setengah menyeret kakinya. Dia tidak menduga sama sekali kalau keputusannya untuk mencari Pram ke dalam rumah sakit akan berakhir dengan amarah suaminya. Padahal, dia bermaksud baik. Hanya ingin menemani Pram.


Dia tahu jelas bagaimana perasaan suaminya saat ini. Dia pernah di posisi itu dan memang tidak mengenakan. Tidak bisa apa-apa, hanya menunggu dan berdoa untuk orang yang disayang.


Walau jauh di dalam hatinya masih ada kesal karena mertuanya begitu tidak berperasaan padanya. Tetapi dia juga tidak bisa menyalahkan Pram yang begitu peduli pada mamanya. Seburuk-buruknya Ibu Citra, dialah adalah mama kandung suaminya.


Dia juga akan melakukan hal yang sama. Sejahat-jahatnya daddy di luar sana, dia akan tetap menyayangi dan mencintainya. Bagi Kailla, tetap daddy yang terbaik, meskipun bagi sebagian orang Riadi Dirgantara adalah seorang penjahat.


Tatapan Kailla tertuju pada deretan bangku kosong yang dilewatinya, tidak terlalu jauh dari kamar perawatan mertuanya. Dengan berbagai pertimbangan, dia memilih duduk sembari merenung. Entah apa salahnya sampai Pram mengomelinya. Tetapi dia tidak bisa membantah seperti biasanya untuk saat ini, suaminya butuh ketenangan.


Duduk bersandar dengan menatap langit-langit rumah sakit. Sesekali dia bisa melihat perawat dan keluarga pasien lainnya lalu lalang di depannya.


“Non, ternyata disini! Aku mencari sampai kemana-mana,” seru Bayu tiba-tiba. Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di kursi yang sama dengan majikannya. Hanya terpaut jarak dua seat kosong di antara mereka.


“Aku dimarahi Bosmu, Bay,”sahut Kailla pelan.


“Non kemana saja? Pak Pram hampir gila mencarimu, Non,” cerita Bayu.


“Aku tadi mencari kamar perawatan mertuaku, Bay. Aku pikir sebaiknya menunggu di dalam saja daripada tidur di mobil,” jelas Kailla. Kembali tertunduk, kali ini netranya mulai berkaca-kaca.


“Tapi kenapa tidak menungguku. Non, bisa memberi kabar padaku, jadi Pak Pram tidak panik. Aku tadi ke warung membeli rokok.”


“Iya, aku salah karena main pergi saja,” sahut Kailla pelan.


Ingatannya kembali tertuju pada Kinar yang tersenyum melihat Pram mengomelinya. Perempuan licik itu sengaja keluar mengikuti mereka, padahal dia masih harus menjaga Ibu Citra di dalam kamar.


“Dia pikir aku akan semudah itu dikalahkan! Baiklah aku akan membuka matanya, supaya dia sadar di mana tempatnya,” batin Kailla.


Tangan terkepal tanpa sadar, berkali-kali menghela nafas kasar.


“Non, ayo kita pulang,” ajak Bayu.


“Pak Pram tadi memintaku membawa Non Kailla pulang ke rumah,” lanjutnya lagi.


“Aku tidak mau pulang. Aku harus menjaga suamiku yang sekarang masuk ke sarang penyamun!” ucap Kailla menolak ajakan Bayu.


Bayu terbelalak mendengar perkataan Kailla. Dia tidak habis pikir, apa maksud ucapan majikannya itu.


“Kamu tahu Bay, calon istrimu itu menatap suamiku seperti hidangan lezat,” adu Kailla.


“Hahaha, begitukah? Dan bagaimana respon Pak Pram?” tanya Bayu memancing.


Daripada menunggu tidak jelas, sebaiknya mengobrol saja dengan Nyonya majikannya yang kadang-kadang terlihat lucu.


“Suamiku terlihat biasa-biasa saja. Tapi aku takut saat dia tertidur, calon istrimu itu akan menerkamnya. Kamu tidak melihat wajah Kinar, air liurnya menetes keluar seperti singa betina kelaparan yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu makanan,” jelas Kailla panjang lebar.


“Jadi bagaimana sekarang? Apa Non mau pulang atau bagaimana kalau kita kabur saja,” goda Bayu. Mengingatkan Kailla pada kebiasaan majikannya setiap dimarahi suaminya.


“Enak saja! Kabur disaat ini sama saja menyerahkan suamiku pada rubah betina itu!” gerutu Kailla kesal mendengar ucapan Bayu.


“Jadi, dia sebenarnya singa betina apa rubah betina, Non?” tanya Bayu terkekeh. Ucapan Kailla yang tidak konsisten memberi perumpamaan pada Kinar terdengar lucu.


“Bay, aku serius!” gerutu Kailla.

__ADS_1


“Iya aku juga serius, Non. Aku akan memberitahumu satu rahasia Pak Pram yang ditutupinya. Saat ini Pak Pram sedang dalam posisi terpuruk,” cerita Bayu.


Beberapa hari ini majikannya selalu mengeluh padanya. Ada banyak beban yang ditanggungnya. Fisik dan mentalnya terlalu lelah.


“Maksudnya?” tanya Kailla heran.


Dia sudah mencoba bertanya, tapi suaminya tidak mau bercerita. Melihat wajah lelah Pram setiap pulang kerja, Kailla bisa menebak kalau suaminya sedang dalam kondisi tidak baik.


“Masalah di proyek itu menyita waktu dan pikirannya. Sebagian korban mau diajak kompromi, tapi sebagian lagi menuntut dan itu harus Pak Pram langsung yang menanganinya.


“Belum lagi pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari musibah ini. Ini bukan kecelakaan kecil. Menguras waktu, pikiran dan keuangan perusahaan. Kerugian yang ditanggung Pak Pram tidak sedikit, walaupun sudah dijamin asuransi.”


“Maksudnya bagaimana Bay, aku tidak mengerti,” tanya Kailla.


“Pak Pram bahkan harus mengeluarkan uang pribadinya untuk menyantuni para korban. Belum lagi, saat ini Pak Pram sedang membangun perusahaan baru untuk mamanya.”


“Pak Pram bukan hanya harus mengurusi Non Kailla dan mamanya. Ada ribuan karyawan termasuk aku yang bergantung hidup padanya,” jelas Bayu.


“Suamiku sedang kesulitan keuangan?” tanya Kailla bingung.


“Aku tidak tahu, yang jelas dia harus memastikan perusahaan-perusahaannya tetap berjalan. Dan proyek kemarin, menyebabkan kerugian perusahaan cukup besar,” cerita Bayu.


“Apa suamiku begitu menyedihkan hidupnya?” tanya Kailla.


“Menurutku iya, dia memiliki istri tapi seperti tidak ada. Di usianya yang sudah 44 tahun, bahkan belum memiliki anak. Belum lagi, permasalahan dengan mamanya. Itu belum termasuk masalah perusahaan atau masalah yang Non Kailla ciptakan untuknya.”


“Aku tidak mau mengungkit masa kecilnya yang begitu menyedihkan. Dia hidup untuk orang lain, tapi tidak seorang pun memikirkan bagaimana kehidupannya.


Kailla diam, merenung dan mencerna kata demi kata yang diucapkan Bayu.


“Aku tidak mau pulang,” tolak Kailla. Kembali dia teringat dengan Kinar yang sekamar dengan suaminya.


“Aku tidur disini saja!” pinta Kailla, mengambil posisi bersandar di kursi ruang tunggu sambil memejamkan mata.


“Mati aku di tangan Pram, kalau sampai tahu istrinya tidur di luar,” batin Bayu.


“Non, ayo kita pulang,” ajak Bayu, berusaha membujuk Kailla.


“Sudah. Jangan berisik. Kamu tidur saja, Bay. Kamu jangan terlalu lelap, takutnya suamiku butuh pertolonganmu disaat hampir diterkam singa betina,” lanjut Kailla terkekeh.


Ucapan Kailla mampu memancing tawa Bayu kembali.


“Non, senyummu itu obat untuk Pak Pram,” celetuk Bayu tiba-tiba saat melihat senyum terukir indah di bibir majikannya.


“Sudah, jangan berisik. Aku mau tidur!” pinta Kailla.


“Jangan lupa bangunkan aku setiap satu jam sekali, Bay. Aku harus mengintip kondisi di dalam kamar mertuaku,” lanjut Kailla lagi.


Bayu menggelengkan kepala, mengingat kelakuan aneh majikannya.


“Kenapa tidak tidur di dalam saja sih, Non?” tanya Bayu, menatap ke arah ruang perawatan di ujung lorong sisi yang lain.


“Aku takut dia akan menyuruhku pulang ke rumah. Aku jadi tidak bisa mengawasi Kinar.”

__ADS_1


“Jangan lupa, bangunkan aku satu jam lagi!” pinta Kailla mengingatkan kembali.


Bayu menurut, hanya saja resikonya dia pasti akan dimarahi Pram. Tapi itu jauh lebih baik dibanding Kailla yang mengamuk dan membuat kepala Pram pusing seperti biasanya.


***


Pram masih terlelap di salah satu sofabed saat Kinar membangunkannya. Sepanjang malam dia tidak bisa tidur memikirkan istrinya. Wajah sedih Kailla itu membayang terus-menerus di pelupuk matanya. Ada rasa bersalah dan penyesalan yang mengisi relung hatinya.


“Mas..,” panggil Kinar. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Semburat mentari pun sudah mulai masuk ke kamar perawatan itu.


Panggilan pertama Pram tidak bereaksi. Hanya sedikit berpindah posisi kemudian tertidur lagi. Kinar pun terpaksa membangunkan kembali, sembari mengguncang pelan tubuh kekar yang terbalut kaos hitam,


Rasanya ingin berlama-lama menatap wajah tampan Pram dari jarak dekat. Kesempatan yang tidak pernah terjadi di saat Pram terjaga.


“Mas..,” panggilnya lagi,


“Hmmmmmm,” gumam Pram masih memejamkan mata.


“Sayang, aku masih mengantuk,” ucap Pram dengan suara serak.


“Mas, sudah jam tujuh,” panggil Kinar, mencoba sekali lagi.


“Iya Sayang, peluk aku sekarang,” sahut Pram, langsung menarik Kinar ke dalam pelukannya. Menikmati kehangatan tubuh wanita yang dikira sang istri.


“Aku masih mengantuk, Sayang,” ucap Pram lagi, mengecup kepala yang bersandar di dadanya.


Dia belum menyadari, tapi saat aroma shampo itu tercium olehnya, Pram membuka mata. Membeku beberapa detik, sebelum mendorong kasar tubuh yang sedang menimpanya.


“Br*engsek!!” umpat Pram, yang tidak tahu ditujukan pada siapa.


Kinar hampir terjatuh, saat Pram mendorongnya kasar. Tapi baginya itu cukup terbayar, setidaknya dia bisa merasakan pelukan hangat Pram, lelaki yang hadir disetiap mimpinya.


Masih dengan kepala yang sedikit pusing, Pram berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Mencuci wajahnya dengan air dingin yang mengucur dari wastafel untuk menghilangkan kantuknya.


Dan Kinar, dia bisa tersenyum. Untuk pertama kali Pram memeluk dan mengecupnya, walau Pram melakukannya tanpa sadar. Dengan perasaan bahagia, dia sudah menyiapakan secangkir kopi panas, saat Pram keluar dari kamar mandi.


“Mas, kopimu aku letakan di atas meja,” ucap Kinar malu-malu, menutupi wajahnya yang merona.


Pram tidak menjawab, melangkah ke arah pintu. Dia memilih keluar dari kamar, sekedar mencari udara segar dan matahari pagi.


Tetapi, langkah Pram terhenti saat melewati koridor menuju ke arah lift. Terkejut, nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Deg—


Matanya tertuju pada sosok cantik yang sedang tertidur pulas dengan wajah polos di bangku ruang tunggu, bersandar di pundak laki-laki yang sangat dikenalnya.


“Kailla...”


***


To be continued


Love You All

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2