Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 67 : Pasien Tampan Penghuni Kamar Sebelah


__ADS_3

Pram menatap ke arah yang sama. “Malam ini kita tidur disini saja,” putus Pram tersenyum usil. Pram yakin, kalau mereka tidur terpisah, Kailla akan mengajaknya perang terbuka.


“Tidak! Kita tidur di sebelah. Aku akan mengulitimu!” ancam Kailla, menatap sinis.


Pram tidak mau kalah. Bukannya menciut mendengar ancaman istrinya malah terbahak.


“Jangan berisik!” gerutu Kailla, berusaha lepas dari belitan yang melingkar di perutnya.


“Ma, menantumu mau mengulitiku. Apakah aku bisa tidur dengan mama saja malam ini. Aku takut padanya, Ma,” adu Pram. Sontak membuat Kailla semakin kesal. Cubitan demi cubitan mendarat di perut dan pinggang Pram. Semuanya baru berakhir tatkala Pram berteriak kesakitan.


“Aw... ini sakit, Sayang,” keluh Pram, ketika jari Kailla mencubit pinggangnya dengan sekuat tenaga.


Tapi setelah melihat mimik wajah istrinya yang kian cemberut dengan tingkat keasaman di atas rata-rata, Pram mengalah. Memeluk tubuh ramping itu dari belakang sembari, mencium aroma rambut Kailla yang memabukan.


Ibu Citra yang terganggu dengan suara berisik keduanya, sampai mengalihkan pandangannya. Kembali dia menggelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan kelakuan putranya yang semakin menjadi. Ini kali pertama dia menyaksikan langsung keseharian Pram bersama Kailla. Biasanya putranya itu akan bersikap serius padanya atau Kinar.


“Itu sudah biasa, Nyonya,” jelas Ibu Ida yang sedang membantu menyuapkan potongan apel. Dia cukup memaklumi kalau wanita yang sedang dilayaninya jarang menghabiskan waktu bersama dengan majikannya, jadi tidak paham dengan kelakuan Pram kalau di rumah atau bersama istrinya.


“Ya Tuhan. Bukan istrinya yang berubah menjadi dewasa, sebaliknya dia yang menjadi kekanak-kanakan,” ujar Ibu Citra berdecak kesal.


“Pak Pram tidak setiap hari seperti itu. Hanya dengan Non Kailla saja,” jelas Ibu Ida kembali.


Diantara semua asisten, memang hanya Ibu Ida yang menemani Pram paling lama. Sejak lelaki itu kembali dari Inggris, Ibu Ida ditugaskan Riadi untuk bekerja di tempat Pram, sekalian merawat Kailla kecil jika dibawa menginap di tempat Pram.


Ibu Ida paham betul bagaimana Pram menghabiskan usianya hanya dengan bekerja. Pram akan berangkat pagi-pagi sekali dan pulang menjelang malam. Hampir setiap hari, tidak jarang harus keluar kota berhari-hari. Setahu Ibu Ida, tidak pernah ada wanita di hidup Pram, walau selentingan kabar mengatakan kalau Pram memiliki kekasih dan hampir mau menikah di saat masih kuliah di Indonesia.


Hidup Pram dihabiskan untuk mengabdi pada Riadi Dirgantara. Baik mengurusi perusahaan maupun mengurusi putri nakal yang sekarang diperistrinya.


Pram pribadi yang serius, bahkan cenderung kaku dan jarang bicara. Tapi sejak menikah, Pram banyak berubah.


Ibu Citra kembali menatap Pram. Anak lelakinya itu sedang tertawa menggoda istrinya. Tidak jelas apa yang dirasakannya saat ini, tapi hatinya tersentuh saat melihat putranya tersenyum.


***


Pram masih saja menggoda Kailla yang sedang mengeluarkan mie goreng dari dalam microwave. Tapi kesenangannya terhenti ketika ponsel di saku celananya berdering.


“Dave..,” bisiknya. Nama itu muncul di layar yang berkedip. Beranjak ke sofa, mencari posisi tenang untuk menerima panggilan asistennya.


“Iya Dave,” sapa Pram, saat menempelkan ponsel pintar itu di telinganya.


“Presdir, sebentar lagi ada rapat. Jam berapa kira-kira Presdir sampai ke kantor?” tanya Dave memastikan.


“Oh..!” Pram terkejut, menatap jam mewah di pergelangan tangannya. Dia sudah menghabiskan waktu makan siangnya.


“Mulai saja rapatnya sekarang. Sambungkan ke ponselku,” pinta Pram. Tidak sempat lagi kalau harus menunggunya tiba di kantor.


David menurut, mengikuti apa yang diperintahkan atasannya. Segera memutuskan sambungannya untuk sementara dan akan menyambungkannya kembali saat rapat dimulai.

__ADS_1


“Kai, aku ada rapat sekarang,” jelas Pram setelah mengantongi kembali ponselnya. Melangkah mendekat pada istrinya.


“Kamu tidak makan?” tanya Kailla heran. Suaminya belum makan siang sejak tadi. Dia baru saja selesai memanaskannya.


“Nanti saja, aku harus kembali bekerja. Aku pindah ke kamar sebelah, aku harus mengikuti rapat sekarang,” pamit Pram, mengecup pipi istrinya.


“Tunggu Sayang!” Kailla menghentikan suaminya. Tangannya dengan lincah mengisi sesendok penuh mie goreng yang masih panas dan mengepul, meniup sebentar kemudian menyuapkannya ke dalam mulut sang suami.


“Terimakasih,” ucap Pram dengan mulut penuh.


“Ma, aku keluar sebentar,” pamitnya bergegas keluar dari kamar perawatan.


***


Hampir satu jam menunggu, Kailla yang mulai bosan terlihat mondar mandir. Mau tiduran di sofa, tapi sungkan dengan mertuanya. Dia sudah mengantuk sekali. Kalau tetap duduk diam, bisa dipastikan dia tertidur. Kembali menatap ke arah Ibu Citra yang masih terjaga dengan mata besarnya. Wanita tua itu sedang ditemani Ibu Ida menonton acara televisi.


“Apa nenek tua ini tidak mengantuk sama sekali,” ucap Kailla dalam hati.


Untuk pertama kali di dalam hidupnya, harus berpikir ulang untuk melakukan hal biasa hanya demi nama baiknya tetap terjaga. Biasanya dia masa bodoh, tidak peduli dengan pendapat dan perasaan orang lain.


“Apa aku tidur di kamar sebelah saja,” ucapnya pelan. Tersenyum dengan ide brilian yang tiba-tiba melintas di otaknya.


Dengan berbekal mie goreng yang sudah dipanaskannya kembali, Kailla berpamitan pada mertuanya.


“Ma, aku melihat Pram di sebelah,” ucapnya, sembari menunjukan sepiring makanan di tangannya.


Deg—


Piring di tangannya hampir terlepas, saat menyadari penghuni kamar sebelah bukanlah suaminya, Pram. Tetapi lelaki lain yang tidak kalah tampan dan mempesona, sedang terbaring dengan kaki terbalut perban.


Kailla membeku seketika. Kantuknya hilang, saat matanya terkunci pada sosok menawan, kulit putih dengan wajah rupawan, mengukir senyum indah untuknya.


“Ma-maaf,” ucap Kailla terbata, pandangannya tidak lepas dari wajah tampan yang semakin terlihat tampan saat tersenyum.


“Tidak apa-apa, Nona,” suara berat terdengar seksi di gendang telinga Kailla, semakin menambah nilai lebih si pasien tampan.


Semakin lama disini, bukan hanya kantuknya hilang, suaminyaa pun sebentar lagi menghilang dari pikirannya. Bergegas dia keluar, tanpa berpamitan. Hanya mengulas senyuman termanis yang dimilikinya.


Hatinya masih dag dig dug, senyum pun belum sepenuhnya hilang dari bibir. Kakinya melangkah ke kamar sisi lainnya. Lelaki tampan penghuni kamar sebelah masih mengisi sebagian otaknya.


Menurut perkiraan Kailla, umurnya pasti tidak terlalu jauh berbeda darinya. Terlihat wajahnya yang masih mulus mengkilap tanpa kerutan. Sangat kontras kalau disanding dengan suaminya, Pram. Sungguh terlalu tidak adil kalau harus dibandingkan. Bisa dikatakan Pram hanya lebih di umur dan kerutan yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah.


“Dimana-mana keluaran terbaru memang lebih menggugah selera,” celetuk Kailla, melangkah masuk di kamar sebelah kiri kamar mertuanya.


Dan benar saja, begitu pintu terbuka dia sudah disuguhkan pemandangan suaminya yang sedang duduk di sofa, fokus dengan ponsel di tangan. Saat keluar dari kamar mertuanya, dia masih berpikir Pram lah satu-satunya lelaki yang paling sempurna di muka bumi ini. Tapi beberapa detik yang lalu, persepsinya berubah. Pram tidak ada apa-apanya dibanding pasien kamar sebelah.


Dengan kasar dia meletakan sepiring mie goreng ke atas meja. Tanpa kata pengantar atau pun basa basi untuk suaminya, dia melenggang menuju sofa yang lain. Bersiap merebahkan diri, meluruskan kaki dan pikirannya.

__ADS_1


“Huh!” dengusnya kesal. Entah pada siapa kekesalan itu harus ditumpahkan, entah kesal untuk alasan apa. Dia tidak tahu dengan jelas. Kailla memilih memejamkan matanya berharap saat terbangun bayangan laki-laki yang ketampanannya bak dewa Yunani itu segera hilang dari pikirannya.


***


Dua jam kemudian..


Tidur Kailla terganggu, saat ada tangan yang mengusap kedua pipinya silih berganti. Tidak sampai disitu, hembusan nafas menerpa wajahnya membuat bulu kuduk meremang.


“Kai, bangun. Aku harus ke kantor sekarang.” Pram sedang berjongkok di samping sofa, membangunkan istrinya.


“Hmmmm,” gumam Kailla, membuka mata.


“Jam berapa sekarang? Rapatnya sudah selesai?” tanya Kailla lagi, ketika kesadarannya mengumpul sempurna.


“Sudah. Sekarang jam empat sore. Mie gorengnya pun sudah habis,” jelas Pram, menunjuk ke arah piring kosong di atas meja.


Lelaki itu segera membuka koper yang diletakkan Sam di pojok kamar. Mengeluarkan setelan santai dan bergegas berganti pakaian.


“Sayang bukannya kamu mau ke kantor?” tanya Kailla heran, melihat Pram yang sudah rapi dengan kaos lengan panjang dan celana santai. Tampilan berbeda dari biasanya.



“Aku hanya mengambil beberapa berkas. Tidak perlu terlalu formal. Sampai disana, sebagian karyawan pun sudah pulang,”


“Kenapa tidak meminta Bayu atau Sam saja yang mengambilnya?” tanya Kailla, mulai curiga.


“Ada yang perlu aku bahas dengan kepala divisi,” sahut Pram tersenyum.


Setelah melabuhkan kecupan di kedua pipi istrinya, Pram bergegas keluar. Tetapi sampai di pintu, dia teringat sesuatu.


“Kai, aku meminta Bayu membeli.... emmm..” Tampak Pram berpikir. Dia susah menyebut nama alat yang tidak familiar di bibirnya.


“Untuk mengecek kehamilan. Aku letakan di atas meja!” lanjut Pram.


Kailla heran. “Aku belum telat kan?” tanya Kailla memastikan.


“Belum, beberapa hari lagi jadwal menstruasimu,” sahut Pram dengan penuh keyakinan.


“Lalu kenapa memintaku mengecek kalau memang belum terlambat.” Kailla keberatan.


“Aku hanya penasaran. Siapa tahu kamu hamil,” jelas Pram tersenyum.


***


Besok mungkin aku akan telat up, soalnya ada pekerjaan di dunia nyata.


Love You all.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2