
“Jadi, kamu lebih memilih menjualku pada Anita. Begitu, Kai?” todong Pram, tersenyum licik.
Duduk gelisah di paha kiri Pram, Kailla berusaha bersikap tenang dan semanis mungkin. Kedua tangannya membelit manja leher suaminya, Kailla tersenyum sebelum bersuara. Ibu hamil itu mulai melancarkan rayuan maut dalam kebungkamannya.
“Kenapa senyum-senyum?” Pram mendekatkan ujung hidungnya pada ujung hidung mancung Kailla.
Ah! Sudah lama sekali tidak memanjakan gadis nakal, istri kecilnya. Sudah lama tidak menggendong Kailla yang sekarang membengkak hampir dua kali lipat.
“Aku ....” Kailla menggelitik tengkuk Pram dengan ujung jemarinya, tak lama jemari itu sudah berpindah ke daun telinga, mengusap perlahan dalam diamnya. Senyum terkulum dengan sorot mata memandang penuh makna.
Tak jauh dengan Kailla, Pram mengulum senyuman. Sesekali menatap, sembari menikmati sentuhan demi sentuhan menggoda yang hampir dua bulan ini absen dari kesehariannya.
“Jawab pertanyaanku dulu, Sayang,” pinta Pram, mencekal tangan nakal Kailla yang sejak tadi memancing gairahnya.
“Pilih aku atau tas-tasmu?” ulang Pram, melempar senyuman seiring kedipan di mata kanannya.
“Aku memilihmu.” Kailla menjawab cepat.
“Yakin?”
Kailla mengangguk. “Tentu saja! Kamu tidak tergantikan, Sayang. Memilihmu, aku bahkan bisa mendapatkan dua kali lipat dari lemari tas ku sekarang.”
Pram terkekeh. “Jenius! Meskipun memilihku, tetap saja targetmu tas-tas itu.” Pelukan di pinggang itu semakin mengerat. Sesekali terlihat Pram meringis menahan sakit ketika kakinya tanpa sengaja bergerak.
“Tentu saja aku jenius. Aku hanya terlihat biasa saat disandingkan denganmu. Kamu terlalu sempurna,” jelas Kailla.
“Benarkah?” Pram balik bertanya.
“He-em ....”
“Aku tidak sesempurna itu, Kai. Aku suka marah-marah, coba tanyakan pada Sam. Pasti dia akan mengangguk. Aku suka mengumpat dan memukul, coba tanyakan pada Bayu. Aku suka mengerjaimu. Benar, kan?” tanya Pram.
“Aku hanya berusaha menjadi sempurna untukmu dan anak-anak kita saja, tetapi tidak untuk orang lain. Karena aku tahu, aku juga memiliki keterbatasan. Tidak mungkin menyenangkan semua orang,” lanjut Pram.
“Aku hanya berusaha terbaik untukmu dan anak-anak kita saja. Aku masih banyak kekurangan, Sayang. Dan, aku memiliki alasan untuk itu. Ketika laki-laki lain menempatkan dirinya sebagai partner di dalam hidup pasangannya, aku menempatkan diriku sebagai orang tuamu. Seorang ayah itu akan memiliki segudang sabar dan pengertian untuk anaknya.”
Kailla menatap Pram dengan wajah berbinar. “Apakah aku menganggapmu seperti itu juga sebenarnya. Seperti seorang ayah?”
Pram terlihat berpikir. “Mungkin,” ucap Pram, sembari mengusap lembut perut Kailla.
“Kisah kita berawal dari hubungan yang tidak sama dengan orang lain. Sedikit tidak adil saat harus membandingkannya dengan kisah pasangan lain.” Pram tersenyum.
Laki-laki itu tampak menerawang, menatap brankar kosong di depannya, sedangkan Kailla masih konsentrasi dengan jemarinya. Wanita hamil itu sibuk mengukir di lekuk wajah suaminya dengan ujung jari tangannya.
“Mama pernah bertanya padaku ....” Terdengar helaan napas kasar, Pram berhentik sejenak menatap istrinya.
__ADS_1
“Kenapa aku memanjakanmu? Mama selalu komplain di awal-awal mengenal pernikahan kita.” Pram berucap.
“Lalu?”
“Kamu memang sekarang istriku, tetapi jauh di lubuk hatiku, kamu masih tetap putriku. Putri tertuaku yang nakal. Aku hanya bisa menganggapmu seorang istri seutuhnya, saat berbagi rasa di atas tempat tidur.” Pram terkekeh.
“Ah! Daddy ....” Kailla mengalungkan kedua tangannya kembali ke leher Pram, menghujami kecupan di seluruh wajah Pram.
“Yes, Mommy!”
“Aku mencintaimu, Dad.”
“Aku juga, Mom.” Berganti Pram menghadiahkan ciuman di kening dan pucuk kepala Kailla.
“Aku cukup bahagia saat kamu mengakui kejeniusanku.” Kailla tersenyum, kembali ke pembicaraan awal.
“Mulai sekarang, berpikirlah seperti saat kamu memilih tas atau diriku. Setiap mengambil keputusan penting, terutama saat berada di bisnis ini, berpikirlah seperti itu. Keuntungan yang kamu lihat di depan mata, terkadang itu menyesatkan. Pertimbangkan sedikit lebih jauh, Mom. Aku tidak menyalahkanmu untuk semua kerugian yang kamu ciptakan. Karena awal terjun di sini, aku juga hanya berpikiran pendek dan menggunakan sisi ambisiusku. Ternyata bisnis tidak seperti itu!”
“Ikut denganku! Aku akan menunjukan RD Grup padamu.” Pram meminta Kailla untuk membantunya berdiri dan berjalan dengan kruknya.
“Dad, dengan dua kruk ini, kamu semakin terlihat tua.” Kailla masih sempat menertawai Pram.
“Dengan balon di perutmu, kamu juga terlihat jauh lebih dewasa dari biasanya, Mom. Bukankah itu namanya hukum alam. Ketika aku menua, kamu pun akan bertambah dewasa?” Pram menanggapi ucapan Kailla.
Lima belas menit mengitari sebagian dari gedung RD Grup dan di sinilah keduanya. Ruangan dengan banyak layar monitor kecil, menampilkan semua aktivitas karyawan dari lantai satu sampai lantai lima perusahaan kontraktor dan real estate developer itu.
“Berbisnis itu seni. Bahkan kamu bisa belajar tentang kehidupan di dalamnya.”
Kailla terbelalak.
“Tidak akan ada bisnis yang tidak merugi, tetapi bukan berarti kita bangkrut, Sayang. Kita masih memiliki banyak aset. Perusahaan ini akan tetap bertahan bahkan di saat divisi keuangan berteriak kalau mereka tidak memiliki uang sepeser pun. Proyek-proyek yang masih berjalan normal, itu aset kita juga. Uang yang kita tanamkan di sana, bisa kita ambil saat sudah sampai waktunya. Semua ini tidak akan bisa hancur dalam semalam. RD Grup tidak akan hancur hanya karena beberapa proyek merugi, di tengah puluhan proyek menguntungkan.”
Kailla menoleh, menyimak ucapan yang keluar dari bibir Pram. Sedangkan yang ditatap terlihat sibuk mengamati aktivitas pekerjanya dari kamera cctv.
“Berada di sini, kamu tidak perlu menghitung keuntunganmu setiap hari. Itu sudah pasti menguntungkan sejak awal kontrak itu ditandatangani. Kamu hanya cukup memastikan semua berjalan sesuai rancangan awal. Selama ini tugasku hanya itu, memastikan semua berjalan pada tempatnya. Dengan begitu aku bisa mengisi rak-rak kosong di lemari kamar kita.” Pram tersenyum menatap Kailla dengan bertumpu pada kruknya.
“Aku mulai menyukai tempat ini, Dad.”
“Setelah melahirkan anak-anak kita. Kembali belajar!” ucap Pram tiba-tiba.
Kailla terkejut. Sejak tadi hanya memilih diam dan menyimak. “Maksudnya?” tanya Kailla, bingung.
“Dua bulan kamu belajar di perusahaan, aku harus membayar dengan melayangnya miliaran rupiah. Aku tidak akan marah, karena belajar itu tidak ada yang gratis, butuh perjuangan dan pengorbanan. Ilmu itu memang mahal,” jelas Pram.
“Setelah anak-anak bisa ditinggal. Lanjutkan kuliahmu!” tegas Pram.
__ADS_1
“Bagaimana kamu bisa memaksaku untuk terus kuliah? Kailla melotot.
“Lanjutkan S2 di desain atau mengulang kembali di bisnis!” Pram memberi penawaran.
“Sayang, aku tidak mau kuliah lagi. Aku mau mengurus anak-anak kita saja. Jadi ibu rumah tangga dan mengurusmu.”
“Kemarilah, Mom.” Membentangkan tangan kirinya, membiarkan Kailla masuk ke dalam dekapannya. Hanya bertumpu dengan satu kruk, Pram sedang menikmati berbagi kehangatan dengan istrinya.
“Aku pernah berjanji untuk menjadikanmu mommy terbaik untuk anak-anak kita. Lanjutkan kuliahmu dan kamu bisa mengajarkan anak-anakku banyak hal dengan ilmumu. Itu tugasmu, Sayang.”
“Hanya untuk mengurus anak-anak aku harus kuliah lagi?” Kailla melotot.
Pram terkekeh. “Mulai sekarang persiapkan dirimu. Tugasmu juga bertambah ketika menjadi mommy dari baby B dan Baby K.”
“Astaga! Kamu bahkan sudah menyiapkan nama bayi-bayiku tanpa berkompromi denganku lebih dulu,” dengus Kailla kesal.
“Karena aku tahu, kamu hanya akan mengangguk untuk setiap ucapanku. Makanya kuliah lagi, supaya kita bisa berdebat untuk banyak hal.” Pram tersenyum saat wajah cantik istrinya kian cemberut.
“Mulai sekarang, tugasmu bukan hanya menyiapkan sarapan pagi untukku. Asupan anak-anakku, semua hanya boleh dari kedua tanganmu,” tegas Pram.
“Aku ingin kamu memegang kedua bayiku dengan tanganmu sendiri. Aku tahu ini merepotkan, tetapi aku ingin kamu benar-benar melakukannya sendiri.”
“Astaga! Apa ini benar-benar nyata?” Kailla mencubit kedua pipi Pram dengan keras.
“Aw! Ini sakit, Sayang.” Pram menjerit saat wajahnya dicubit tanpa perasaan.
“Aku sudah menyiapkan dua orang asisten dan dua orang babysitter yang akan aku wawancara sendiri sebelum mengirimnya untuk putra-putraku.” Pram bercerita.
“Lalu untuk apa aku mengurus semua hal, kalau ada mereka.”
“Mereka hanya akan membantumu, bukan mengambil alih tugasmu!” lanjut Pram.
Ucapan-ucapan Pram kian membuat Kailla terbelalak.
“Aku tidak mau hamil lagi. Cukup ini saja!” Kailla menciut setelah mendengar ada banyak aturan yang Pram beberkan di depannya.
“Tidak masalah. Dua saja cukup,” sahut Pram.
“Besok, kita ke dokter kandungan. Aku tidak mau mengambil resiko, aku sudah memutuskan kalau kamu akan melahirkan secara caesar. Jangan menawar apa-apa lagi, cukup persiapkan dirimu empat bulan ke depan. Cukup nikmati kehamilanmu selama empat bulan ini.”
“Kamu tahu, Sayang. Selama ini aku selalu ketakutan membayangkan akan melahirkan ....” Jeda. Kailla tampak berpikir.
“Normal atau pun caesar, tetap saja rasanya mengerikan untukku. Apa tidak ada cara mengeluarkan mereka yang lebih mudah. Misalnya, cukup dibatuk saja dan mereka akan keluar seperti dahak. Tidak perlu disuntik,” ucap Kailla, bergidik.
“Hahaha ... aku janji, akan berbagi ketakutan itu denganmu nanti.” Pram menggengam erat tangan Kailla.
__ADS_1
***
TBC