
Kelopak mata yang membengkak itu terbuka sempurna dan yang pertama tertangkap netranya adalah wajah panik Pram. Suaminya itu hampir menangis menatap panik padanya. Kecupan berlabuh tiba-tiba seiring dekapan erat menguatkan.
“Maafkan aku, Kai. Kamu sudah bangun, Sayang.” Suara lembut Pram, bercampur keriuhan di area pemakaman. Kailla ditidurkan di deretan kursi tepat di depan pusara. Ada Bella yang ikut menggengam tangannya, berdiri dengan raut prihatin.
“Yang sabar, Kai. Ingat kamu sedang hamil,” bisik sahabatnya pelan, menenangkan.
Begitu kesadaran mengumpul sempurna, Kailla segera bangkit berdiri, menatap peti jenazah daddy yang sudah masuk ke liang lahat. Hampir hilang keseimbangan, tetapi dia berusaha menguatkan diri. Tidak ada lagi protes seperti sebelumnya, Kailla memilih diam, tidak banyak bicara. Fakta itu membuatnya terpukul sekaligus sadar akan keinginannya yang tidak mungkin menjadi kenyataan.
“Sayang ....” Pram menyerahkan sekeranjang bunga untuk Kailla. Istrinya masih terguncang di balik diamnya.
Kelopak mawar itu berterbangan dan jatuh menimpa peti jenazah, mengiringi kepergian Riadi ke keabadian. Para penggali kubur mulai menimbun. Kailla yang tidak mau sedetik pun melewatkan momen ini hanya bisa menangis menatap jasad daddy yang perlahan menghilang tertutup tanah.
“Sayang .... “ Pram mendekap tubuh Kailla yang berguncang hebat dari belakang. Menyalurkan kekuatan dan kehangatan. Berharap Kailla baik-baik saja dan bisa melewati semuanya. Titik terberat untuk Kailla saat ini, tetapi dia mau istrinya melihat sendiri, menyaksikan detik-detik ini dengan matanya sendiri. Menyakitkan, tetapi dengan begitu Kailla baru bisa bangkit dari keterpurukan dan melangkah maju ke depan.
Kenyataan memang menyakitkan, tetapi butuh kesakitan itu untuk bisa selangkah lebih ke depan dan mendekat pada titik kedewasaan.
Ketika semua sudah tidak terlihat, Kailla berbalik memeluk Pram, tangis itu semakin hebat. Memeluk erat sembari menggigit bibir. Kailla mengantar daddynya sampai di penghujung cerita. Perjalanan Riadi Dirgantara, akhirnya berakhir di sini setelah hampir empat tahun koma.
***
Pulang dari pemakaman, Kailla mengurung diri seharian di kamar. Ibu Citra terpaksa menginap di tempat Pram hari ini. Tidak tega meninggalkan Kailla yang masih bersembunyi di balik kesedihannya, apalagi di tengah kehamilan bayi kembarnya.
“Pram, apa tidak sebaiknya ke dokter. Mama khawatir dengan Kailla. Sejak kemarin istrimu itu hanya menangis. Tidak bisa makan dan istirahat dengan baik. Mama takut kenapa-kenapa dengan bayi kalian,” ucap Ibu Citra.
Ibu dan anak itu baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Minus Kailla yang menolak turun dan memilih menikmati makan malam sendirian di dalam kamarnya. Suasana duka masih terlihat jelas di kediaman mewah Reynaldi Pratama. Tidak banyak kegiatan, baik para asisten dan pekerja. Semuanya memilih beristirahat setelah tiga hari ini disibukan dengan prosesi pemakaman Riadi.
“Ya, Ma. Besok aku akan membawa Kailla ke dokter.”
“Ma, sampai Kailla membaik, aku akan mengambil libur dan bekerja dari rumah. Kalau memang harus meninggalkan Kailla sendirian, aku mohon mama bisa menemani Kailla di sini,” pinta Pram.
Laki-laki itu sudah bangkit dan melangkah menuju kamar tidurnya. Tidak bisa terlalu lama meninggalkan Kailla sendirian. Begitu pintu kamar itu terbuka, Pram disuguhkan pemandangan memilukan.
__ADS_1
Kailla duduk memeluk guling, menangis berurai air mata. Bersusah payah, menggigit bibir supaya suaranya tidak keluar. Bunyi pintu terbuka, sontak membuat ibu hamil itu mengalihkan pandangannya sekilas, kembali memeluk gulingnya tidak mempedulikan kehadiran sang suami.
“Sayang, kamu belum makan?” Pram berjalan mendekat, menatap nampan berisi makanan yang belum tersentuh sama sekali.
“Aku suapin, ya.”
Kailla menggeleng.
“Ayo Sayang. Jangan begini, kamu tidak kasihan dengan bayi-bayi kita di dalam sini,” ucap Pram. Duduk di tepi ranjang memangku nampan makanan. Dengan tangan kirinya, menyelinap masuk dari sela guling yang dipeluk Kailla, mengusap pelan perut istrinya.
Melihat Kailla yang tetap bergeming, calon daddy itu pun meletakan nampan ke atas tempat tidur. Menyingkirkan guling dan menempelkan telinganya tanpa permisi ke tempat bayi kembar mereka tertidur.
“Hai anak-anak, ini daddy. Hari ini mommy sedang sedih, jadi kalian puasa dulu, ya. Tidak apa-apa, kan?” ucap Pram, berbicara dengan perut besar Kailla. Sesekali melirik wajah sembab yang terus menerus basah oleh air mata.
“Harus kuat ya. Kalau kalian sudah lapar, tendang perut mommy yang kencang. Supaya mommy tahu, kalau kalian masih kecil. Belum bisa diajak puasa,” lanjut Pram.
Kailla melirik sekilas ke arah suami yang sedang berbaring di perutnya, tangannya ikut mengusap perutnya. Ucapan Pram, menamparnya supaya sadar akan kenyataan yang sebenarnya. Melihat itu, Pram semakin bersemangat membujuk.
“Sebentar ya, dek. Kakaknya lapar juga?” tanya Pram lagi, mengernyit berpura-pura mendengar sesuatu dari perut Kailla.
“Oh ... kakak lapar juga. Sebentar ya, daddy bujuk mommy dulu,” lanjut Pram.
Laki-laki menuju setengah abad itu sudah bangkit dan mengambil posisi duduk tepat di depan istrinya. Tersenyum menatap Kailla. Senyuman hangat dah teduh.
“Kita makan sekarang, mommy. Kamu tidak dengar, anak sudah protes di dalam sini. Kasihan mereka, mommy,” bujuk Pram kembali.
Tatapan sendu Kailla mengarah pada manik mata hitam sepekat jelaga suaminya. Sorot mata penuh kedukaan yang mendalam. Selaras dengan wajah sembab yang masih berjejak air mata. Ujung hidung memerah, dengan napas putus-putus karena sesuatu yang menyumbat di dalamnya, imbas terlalu banyak menangis. Ibu hamil itu sedang menahan kepalanya yang berdenyut sejak tadi.
“Kita makan sedikit saja, Mommy. Makan untuk anak-anak,” ucap Pram, tersenyum. Meraih sendok dan mengisinya dengan nasi dan kuah sup. Menyodorkannya tepat di depan bibir sang istri.
“Apakah aku benar-benar anak daddy?” Setelah sekian lama terdiam, Kailla bersuara.
__ADS_1
“Makan dulu, nanti aku akan ceritakan semua yang aku ketahui dan ingin kamu ketahui.”
Pram begitu bersemangat. Setelah bangun dari pingsannya tadi siang, setelah mengetahui kebenarannya, Kailla memilih menutup mulutnya rapat-rapat. Istrinya tenggelam dalam lukanya sendiri, menutup diri dan menikmati kesakitannya seorang diri.
“Aku suapi, setelah makananmu habis, aku akan menceritakan semuanya padamu,” ucap Pram. Dengan ujung jari, mengusap sisa-sisa air mata yang berjejak di pipi mulus bak pualam.
Mengangguk perlahan sebelum melahap suapan pertama makan malamnya. Pram sedikit lega, saat Kailla bisa diajak kompromi.
***
“Daddy tidak menikahi Mama Rania.” Kalimat pembuka yang keluar dari bibir Pram.
Laki-laki dengan setelan tidur itu berbaring telentang, menatap langit-langit kamar. Sang istri sedang menelungkup mencari kehangatan di dada bidangnya, menikmati alunan detak jantungnya yang terdengar teratur dan menenangkan.
“Kenapa?” Suara Kailla terdengar pelan, tanpa ekpresi dan emosi di dalamnya. Seharian menangis, Kailla sudah lupa cara marah dan bersedih yang seharusnya itu bagaimana.
“Ehem ....” Cukup berat untuk Pram membuka kebenaran tanpa melukai hati istrinya. Namun, hari ini pasti tiba dan dia tidak bisa menghindar lagi. Kailla juga berhak tahu, meskipun hanya sebagian kisah.
“Kai, seandainya suatu saat kita berpisah atau kamu meninggalkanku ....” Ada jeda sebelum Pram melanjutkan kalimatnya.
“Dan aku memilih untuk tetap setia menjaga cintaku padamu, menjaga hatiku untukmu. Apa aku salah Kai?” tanya Pram.
Kailla tertegun. Jemari tangannya yang sejak tadi mengukir di dada suaminya terhenti seketika.
“Tidak ... itu bukan suatu kesalahan.” Kailla mengemukakan pendapatnya.
“Itulah yang dilakukan daddy selama ini, Kai.”
“Daddy tidak menikahi mamamu, karena menjaga hati untuk istrinya Anna Wijaya.”
***
__ADS_1
TBC