Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 59 : Pulang Sekarang


__ADS_3

Pram masih mendengar cerita Kinar tentang kondisi mamanya. Untaian kata demi kata yang keluar dari bibir Kinar, semakin membuatnya merasa bersalah. Terpukul karena penyebab sakit mamanya adalah dia. Apakah dia sudah menjadi anak yang tidak berbakti. Apakah dia terlalu keras pada mamanya sendiri. Ada banyak pertanyaan dan penyesalan yang memenuhi pikirannya saat ini.


“Mama sedang ditangani dokter,” ucap Kinar, memecahkan keheningan yang tercipta diantara keduanya.


Mereka sedang duduk menunggu di depan ruang IGD. Kinar duduk di ujung kanan dan Pram duduk di ujung kiri kursi tunggu kapasitas empat orang. Keduanya sama-sama menatap ke arah pintu kaca di depannya dengan wajah cemas. Berulang kali Pram mengusap kasar wajahnya, penyesalan terasa menyesak di dadanya.


Tak lama, seorang laki-laki muda berpakaian putih keluar dari ruangan langsung menemui Kinar.


“Maaf, Ibu keluarga pasien wanita di dalam?” tanya sang dokter yang mengenali Kinar, karena sempat bertatap muka sebelum masuk ke ruangn IGD sebelumnya.


“Saya putranya, Dok,” ucap Pram langsung berdiri.


“Oh maaf, begini Pak. Kenalkan saya dokter Roni. Kebetukan saya yang bertugas malam ini. Kondisi pasien sudah lumayan stabil. Tekanan darahnya sempat tinggi. Besok, kami akan melakukan pemeriksaan dan beberapa tes lanjutan untuk memastikannya.”


“Baik Dok,” sahut Pram.


“Pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Bapak silakan mengurus administrasinya. Saya permisi dulu. Nanti akan ada perawat yang membantu,” ucap sang dokter, berpamitan pada Pram dan Kinar.


Mendengar penjelasan dokter, Pram bisa bernafas lega. Setidaknya tidak ada hal buruk yang terjadi.


“Kinar, aku titip mama,” ucap Pram, bergegas ke bagian kasir untuk menyelesaikan administrasi dan kepindahan mamanya ke ruang perawatan.


“Baik Mas.” Kinar mengangguk dan tersenyum. Setelah sekian lama, Pram akhirnya mau mengajaknya bicara baik-baik. Mau kembali menatapnya walau cuma sekilas. Mau menggangap dia ada. Tidak seperti sebelumnya, bahkan Pram tidak pernah menghargai keberadaannya.


Setelah menyelesaikan semua administrasinya, Ibu Citra pun dipindahkan ke ruang perawatan. Kamar rawat itu luas, dengan fasilitas mewah bak hotel berbintang lima. Ada dua sofabed yang bisa digunakan pihak keluarga untuk menunggu pasien.


Pram memilih duduk di samping tempat tidur mamanya. Tangannya terus menggengam erat tangan Ibu Citra yang masih belum terbangun dari tidurnya.


“Mas.” Kinar menyodorkan secangkir kopi panas untuk Pram. Lama tinggal bersama dengan Ibu Citra, dia sudah hafal dengan minuman kesukaan Pram. Bahkan dia tahu semua hal tentang Pram.


“Terimakasih,” sahut Pram, meletakan kopi di atas nakas. Membiarkannya begitu saja.


Baru saja dia akan menggengam kembali tangan mamanya, tiba-tiba dia teringat dengan Kailla yang ditinggalnya di mobil bersama Bayu. Sejak tadi sibuk mengurus mamanya, dia benar-benar melupakan keberadaan istrinya.


Deg—


Pram berlari keluar, tanpa memberitahu Kinar apa yang terjadi. Perasaannya tidak tenang, menyesal sudah meninggalkan Kailla di mobil. Pikiran buruk itu tiba-tiba kembali memenuhi otaknya. Dua kali, dia masih mengingat jelas. Dua kali dia meninggalkan Kailla di mobil sendirian dan selalu berakhir dengan penculikan.


“Mas..,” panggil Kinar, kebingungan. Mengekor di belakang Pram, tapi laki-laki pujaannyaa itu sudah berlari menuju ke lift.


***


Pram yang masih tersengal-sengal karena berlari menuju parkiran, membuka pintu mobil dengan kasar.

__ADS_1


“Kai...”


Kalimatnya menggantung, dunianya berhenti seketika saat melihat kursi bagian belakang kosong.


“Kai..,” panggilnya lagi. Mengedarkan pandangan ke sekitar parkiran. Tidak ada siapa-siapa. Hanya deretan mobil tersusun rapi dalam kesunyian malam.


“Bay..,” panggil Pram setengah berteriak. Dia panik, dia takut, dia cemas.


Pram berlari menyusuri parkiran, berharap bertemu seseorang yang bisa ditanyai. Dari kejauhan, Pram bisa melihat Bayu yang berjalan mendekat.


“Bay!” teriaknya.


Mendengar suara teriakan majikannya, Bayu segera berlari menghampiri Pram. Melihat gelagat majikannya saja dia sudah bisa menebak, kalau telah terjadi sesuatu.


“Iya Bos,” sahut Bayu dengan santai. Menenteng kantong plastik di tangan kanannya.


“Bay, istriku mana?” tanya Pram, khawatir.


“Di mobil,” sahut Bayu masih belum menyadari Kailla sudah tidak ada disana.


“Bre*ngsek!! Aku memintamu menjaganya, tapi kamu meninggalkannya.”


Pram langsung mendorong kasar asistennya. Berlari keluar mencari Kailla. Hampir lima belas menit berlari kesan kemari, bertanya pada security. Tetapi masih belum menemukan jawaban. Kailla seperti hilang ditelan malam. Tidak ada seorang pun yang melihat keberadaan istrinya. Setiap orang yang ditanyainya hanya menjawab dengan gelengan kepala.


“Bay, cari di luar! Cari sampai dapat, kalau tidak aku akan membunuhmu!” ancam Pram, menarik kerah kemeja Bayu. Wajahnya memancarkan amarah bercampur dengan kecemasan.


Bayu yang baru saja kembali, mencari di jalanan sekitar rumah sakit pun menemui Pram dengan tangan kosong. Tidak ada Kailla.


“Maaf Bos, diluar juga tidak ada,” lapor Bayu, tertunduk lemas. Menyadari kebodohannya sudah meninggalkan Kailla sendirian di mobil demi sebungkus rokok.


Pram menghela nafas kasar, meremas rambutnya menahan kesal, marah dan khawatir yang mengumpul jadi satu.


“Tolong cek cctv rumah sakit. Aku menemui Kinar sebentar. Aku harus menitipkan mamaku padanya,” ucap Pram, berlari menuju lift.


Perasaannya campur aduk saat ini. Ingin berteriak dan menangis sekaligus. Beban pekerjaan, tekanan mamanya, belum lagi istrinya menghilang sekarang. Rasanya tidak adil, kenapa Tuhan harus mengujinya seperti ini disaat bersamaan.


Tangan Pram sudah membuka pintu kamar perawatan mamanya. Pandangannya tertuju pada Kinar yang sedang duduk menemani mamanya. Tidak jauh dari sana, tampak Kailla yang sedang duduk di sofa, sembari memejamkan matanya.


Pram tidak bisa berkata-kata. Antara kesal dan lega.


“Kai, ikut aku!” perintah Pram, sudah menyeret istrinya keluar kamar. Meninggalkan Kinar yang melihat mereka dengan penuh tanda tanya.


“Sayang, ada apa?” tanya Kailla heran.

__ADS_1


Dia belum lama bisa duduk nyaman di kamar, setelah hampir setengah jam mondar mandir, bertanya ke petugas bagian informasi yang tidak kunjung mendapat jawaban pasti. Kembali dia harus berlari sampai ke ruang IGD, mencari tahu keberadaan suami dan mama mertuanya.


Tadinya dia ingin tidur saja di mobil, tapi setelah dipikir-pikir kasihan juga pada suaminya sendirian menunggu mamanya di rumah sakit. Akhirnya dia menyusul turun.


“Darimana saja kamu?” tanya Pram kesal. Mereka sudah berdiri di koridor rumah sakit, tidak jauh dari kamar Ibu Citra.


“Aku menyusulmu, tapi aku tidak tahu jadi aku..”


Kailla tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Pram sudah mengomelinya.


“Kenapa tidak mengabari Bayu? Kenapa pergi diam-diam? Aku mencarimu kemana-mana? Kapan kamu bisa mengerti, Kai?” potong Pram, berusaha menahan amarahnya.


Kailla tidak bisa menjawab, hanya menunduk. Tidak menduga Pram akan memarahinya.


“Kalau hanya bisa menyusahkanku, harusnya kamu tinggal di rumah saja!” omel Pram.


“Tidak perlu ikut ke rumah sakit,” lanjut Pram lagi. Nafasnya masih memburu karena panik. Dia berlari kesana kemari, menyusuri rumah sakit, berbagi tugas dengan Bayu yang mencari di luar.


“Sekarang pulang ke rumah. Minta Bayu mengantarmu. Kamu bisa tidur sepuasnya!” ucap Pram, mengusir istrinya.


Masalah mamanya belum selesai, ditambah Kailla yang menambah masalah untuknya. Belum lagi seharian ini dia disibukan dengan pekerjaan kantor yang tidak ada habis-habisnya. Bahkan dia belum sempat beristirahat dengan benar.


Kailla hanya diam, meremas ujung kaosnya sembari menunduk. Kinar yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka, menyembunyikan senyumannya saat melihat Kailla yang diomeli suaminya.


Ya, Kinar perempuan licik itu sengaja mengekor keduanya. Dia sudah curiga saat melihat Kailla yang tiba-tiba muncul di rumah sakit, hampir bersamaan dengan Pram yang berlari keluar tanpa pamit padanya. Apalagi tadi saat masuk ke dalam, dia sempat melihat sekilas raut wajah Pram yang tidak bersahabat.


“Maaf,” ucap Kailla pelan.


“Minta Bayu mengantarmu pulang. Kamu bisa tidur di rumah. Disini juga tidak nyaman,” ucap Pram, sedikit melunak saat melihat Kailla yang tidak mau menatapnya.


“Iya...”


“Aku mencintaimu. Pulang sekarang,” pinta Pram, menghampiri istrinya. Memeluk Kailla sebentar, kemudian mengecup dahinya berulang kali.


Kailla tidak banyak bicara atau membantah. Langsung menurut semua perintah suaminya. Pram sedang banyak masalah, dia tidak mau menambahnya lagi. Dia pernah di posisi Pram sekarang, saat daddynya masuk rumah sakit.


Saat berbalik, ujung mata Kailla menangkap sosok Kinar yang sedang mengintip mereka. Wanita itu tersenyum melihatnya dimarahi Pram.


“Dia sedang mengejekku. Kalau saja tidak ada suamiku, sudah kupastikan akan merobek mulutnya. Lihat saja, dia masih bisa tersenyum tidak!” gerutu Kailla dalam hati.


Pram menatap Kailla yang menjauh pergi. Ada rasa sesal sudah memarahi istrinya. Menyesal telah kehilangan kontrol sesaat. Kalau saja bukan mamanya yang dirawat, dia akan memilih pulang menemani Kailla.


***

__ADS_1


To be continued


Love You All


__ADS_2