Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 97 : Cobaan apa lagi ini


__ADS_3

Mertua dan menantu itu sudah kembali ke kamar, meninggalkan Pram terpaku sendirian di tempatnya berdiri. Tidak menduga, mamanya akan menculik istrinya secara terang-terangan, merampas paksa Kailla dari pelukannya.


“Kai, apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai begini?” tanya Ibu Citra, meraih tangan Kailla.


“E...” Kailla tidak sanggup menjawab, tepatnya tidak mungkin bercerita kalau dia dan Pram baru saja terbang ke awan. Harusnya mertuanya tidak perlu bertanya lagi.


“Ya sudah, temani mama tidur saja. Mama tidak betah tidur sendirian. Selama ini ada Kinar yang menemani,” ucap Ibu Citra sudah berbaring terlebih dahulu.


Tidak perlu bertanya sebenarnya dia bisa melihat apa yang terjadi pada putra dan menantunya. Kailla yang tidak mengenakan pakaian dalam, hanya berbalut kaos kebesaran Pram, mencetak jelas sesuatu yang membusung di puncak dada.


“Dipikir-pikir aku kelewatan juga ya. Bahkan tidak memberi kesempatan Kailla menganti pakaiannya. Tapi sudah terlanjur. Sebaiknya tidur saja,” batin Ibu Citra.


Kailla yang ikut merebahkan diri di ranjang yang sama, menarik selimut. Rasanya tidak nyaman sekali, masih berkeringat dan belum sempat membersihkan diri. Tiba-tiba, dia dan Pram digrebek oleh mertuanya sendiri.


*“Menunggu mama tertidur saja. Nanti mama malah banyak bertanya lagi,” gumam Kailla dalam hati. *


***


Pram yang tidak bisa tidur sejak istrinya dirampas mamanya sendiri, layaknya penjajah Belanda, mengambil secara paksa tanpa kompromi. Lelaki itu bolak balik ke kiri dan ke kanan, merasa tidak nyaman di tinggal tidur sendirian.


Sudah berusaha memejamkan matanya, tetapi otak dan tubuhnya tidak berjalan selaras. Padahal tubuh kekar itu sudah lelah, tetapi pikirannya masih tertuju pada istrinya.


Menatap jam yang tergantung di dinding kamar, sudah hampir tengah malam. Hawa dingin pun mulai menyeruak masuk melalui pori-pori. Biasa dia bisa melampiaskan dengan memeluk Kailla,sekarang dia harus memeluk dirinya sendiri.


“Ah.. aku tidak kuat!” Bergegas bangun dan membuka lemari, mencari pakaian ganti untuk istrinya sekaligus salep untuk mengoles luka Kailla yang belum sempat dilakukannya tadi. Sudah keburu dikacaukan mamanya sendiri.


Berjalan perlahan, menyerang pertahanan lawan. Dengan langkah mengendap-endap, Pram membuka pintu kamar mamanya perlahan. Senyum merekah sempurna ketika melihat istri dan mamanya tertidur pulas.


“Kai, Kai, bangun Sayang,” bisik Pram, menguncang kecil, sembari berbisik di telinga Kailla dengan setengan membungkuk.


Panggilan pertama, lolos. Istrinya masih enggan terbangun.


“Kai, bangun Sayang. Ganti pakaianmu,” bisik Pram lagi. Kali ini menghembus kasar di telinga Kailla, berharap istrinya berekasi seperti biasa.


Kesal, lelaki tampan itu menyusupkan tangannya ke balik selimut, kemudian menelusupkan jari-jemari nakal itu di balik kaos longgar yang menutupi tubuh istrinya. Senyum menyeringai, saat tangan itu berhasil menemukan harta karun yang terpendam. Meremas dan memaikannya gunung kembar itu bergantian kiri dan kanan. Sampai si empunya terganggu.


“Aaaah.....!” desah Kailla tertahan, dengan tubuh menegang. Bibir mungil itu harus menutup kembali, karena Pram membungkamnya dengan bibirnya sendiri.


Mata Kailla membuka sempurna dan tangan yang sudah mempermainkan tidurnya itu sudah kembali ke pemiliknya. Keluar melalui jalur cepat sebelum diomeli istrinya.


“Ganti pakaianmu. Aku sudah membawa gaun tidurmu,” bisik Pram, setelah melepaskn ciumannya.


“Kapan kamu datang?” tanya Kailla dengan suara serak, masih kaget dengan perlakuan Pram yang tiba-tiba.

__ADS_1


“Stttt!” Jangan membangunkan mama,” bisik Pram, menempelkan telunjuk pada bibirnya.


“Ayo bangun ganti pakaianmu. Setelah itu aku akan mengobati tanganmu,” bisiknya tersenyum.


***


Keduanya sudah duduk berhadapan di sofa. Terlihat Pram mengoles lembut permukaan kulit tangan Kailla yang memerah, sesekali menekannya pelan.


“Maafkan aku,” bisik Pram. Penyesalan yang sejak siang tadi masih betah menghuni hatinya.


“Aku sudah tidak apa-apa,” sahut Kailla, tersenyum.


“Mulai besok akan ada asisten rumah tangga yang membantumu dan mama disini. Kamu tidak perlu memasak lagi untuk sementara ini. Aku sudah meminta Pieter mencarikannya,” cerita Pram.


Kailla hanya mengangguk.


“Aku juga sudah meminta Pieter memanggil teknisi. Kompor model ini akan diganti ke kompor induksi. Jadi kamu tidak perlu khawatir pijaran apinya akan mengenai tanganmu lagi,” lanjut Pram lagi. Teringat cerita Kailla yang terkejut dengan api menjalar naik mengelilingi wajan.


“Tetapi aku tidak masalah,” sahut Kailla heran.


“Tidak apa-apa, tadinya memang kompor induksi. Hanya saja sewaktu kita membawa Ibu Ida, aku khawatir dia tidak terbiasa, jadi menggantinya dengan kompor tanam biasa,” jelas Pram.


“Kompor listrik lebih aman untukmu,” lanjut Pram.


“Kembalilah tidur,” bisik Pram, membawa Kailla ke dalam dekapannya, kemudian menghadiahkan sebuah kecupan hangat di kening dan kedua pipi Kailla.


“Ah.. aku mencintaimu,” ucap Kailla, kali ini dia yang merangkul Pram, melabuhkan ciuman hangat di bibir suaminya.


“Aku juga mencintaimu. Kembali tidur dengan mama. Aku akan tidur di sini,” bisik Pram, menepuk sofa sembari tersenyum.


“Aku tidak mau. Aku mau tidur denganmu,” tolak Kailla, menggelengkan kepala, ciri khasnya. Membuat rambut dikuncirnya bergerak ke kanan dan ke kiri.


“Di sini sempit. Kamu tidak akan nyaman. Kembali tidur dengan mama. Aku tidak akan pergi kemana-mana,”pinta Pram, memohon.


Gelengan kepala sedikit kencang itu kembali dilakukan Kailla. Bukannya menurut dia malah merebahkan diri di sofa, mengambil posisi ternyaman. Tidak sampai disitu, dia menggeser tubuh mungilnya dan menarik suaminya berbaring bersamanya.


“Jangan protes, aku mau tidur di pelukanmu,” ucap Kailla pelan, menelusup masuk ke dekapan suaminya, berbagi sofa yang sempit.


“Kamu jangan berani-beraninya melepaskan pelukanmu, kalau tidak kamu akan terjatuh,” pinta Kailla, ikut memeluk pinggang Pram. Berbaring, saling memeluk berhadapan.


Dengan posisi ini, Kailla bisa mendengar dengan jelas suara detak jantung suaminya. Seolah menjadi musik pengantar tidur. Mata indah itu pun kembali terpejam, seiring usapan lembut di kepala dan ciuman hangat Pram di dahinya.


Hampir lima menit keduanya terdiam, saling memeluk dan berbagi kehangatan dengan posisi yang sama. Kedua tubuh itu menempel rapat. Bergerak sedikit saja Pram akan terjatuh ke lantai.

__ADS_1


“Kamu sudah tidur?” tanya Pram.


“Hmmm,” gumam Kailla, bersama helaan nafas yang mulai teratur. Belitan di pinggang Pram pun semakin erat.


Disaat seperti ini, di mata Pram, Kailla benar-benar seperti anak kecil yang diasuhnya selama ini. Belaian demi belaian tangan Pram, mengantar Kailla semakin masuk ke alam mimpi.


“Kamu nyaman tidur seperti ini?” tanya Pram, setelah merasa ada pergerakan kecil Kailla di dadanya.


“Hmmm,” gumam Kailla setengah tertidur.


“Kembali ke tempat tidur ya,” rayu Pram kembali. Rasanya tidak tega membiarkan Kailla menikmati sofa sempit bersamanya.


“Aku tidak mau, aku mau di sini saja,” ucap Kailla.


“Begitu mencintaiku kah?” bisik Pram, pelan. Menempelkan kepalanya di pucuk kepala Kailla.


“Hmmmm.” Gumaman Kailla terdengar untuk kesekian kalinya.


“Kalau mencintaiku, jangan nakal lagi,” bisik Pram.


“Iya...” Sebuah jawaban singkat, entah Kailla mendengarnya atau asal menjawab.


Pram tersenyum, memilih ikut memejamkan mata. Menikmati tidur berbagi sofa dengan istrinya. Disaat ini, semua lelahnya hilang, semua amarah dan emosinya padam. Berganti perasaan hangat yang tidak bisa didapatkannya dari orang lain. Aroma istrinya bak aroma terapi, bisa menenangkan pikiran dan syaraf-syarafnya.


***


Pram dan Kailla sudah keluar dari kamar, menyusul Ibu Citra yang sudah terlebih dulu keluar menuju dapur. Pram dengan pakaian kerjanya dan Kailla dengan gaun rumahannya, keduanya bergegas menuju meja makan.


Terlihat Bayu yang menyesap kopi hitam dan Ibu Citra dengan segelas teh hangat. Pagi itu terlihat lebih indah, berwarna dan berbeda. Meja makan yang biasanya sunyi senyap, tidak banyak hidangan tersaji di meja, tetapi kali ini penuh warna. Aneka sajian sudah tertata rapi memenuhi meja kayu terlihat menggugah selera.


Baru saja Pram menggeser kursi dan mempersilahkan istrinya duduk untuk menikmati sarapan, tetapi mulutnya terngaga nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Ya Tuhan, cobaan apalagi yang kamu kirimkan untukku pagi ini,” ucap Pram, dengan mata melotot.


Bayu hanya tersenyum, ikut memandang ke arah yang sama. Dan Kailla...


***


To be continued


Love You All


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2