Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 37 : Aku Mau Melamar Kinar


__ADS_3

Meja bulat yang tadinya hanya diisi Kailla dan Pram, mulai terlihat ramai dengan kehadiran Kinar yang duduk di sebelah kanan Ibu Citra dan Pram di sisi kiri.


Kailla, istri kesayangan Pram memilih duduk di sebelah suaminya. Menyingkir sedikit jauh supaya tidak memancing dan terpancing pertengkaran yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu di tengah kemelut mertua vs menantu yang terpaksa berdamai.


Dan Bayu, laki-laki yang selalu mengintil dimana pun sang tuan berada saat ini sedang berlari menuju mobilnya. Membawa tiga bingkisan hadiah yang dibeli Pram khusus untuk para wanitanya dengan status yang berbeda-beda. Tidak termasuk Kinar, karena Kinar sudh dihibahkan Pram untuk sang asisten yang selama ini menyandang status jomblo akut.


“Ma, mau pesan apa?” tanya Pram tersenyum menatap sang bunda yang masih saja menggerutu setiap mengingat betapa dia bisa melahirkan penerus keluarga yang tidak tahu malunya. Bercumbu mesra dengan istrinya di tempat umum.


Brak!!! Buku menu setebal seperempat dari tebalnya kamus Indonesia - Inggris itu dibanting Ibu Citra di atas meja.


“Kamu saja yang pesan, Pram.”


Ibu Citra menatap sang pelayan yang sedang berdiri di depan mereka siap mencatat pesanan.


“Sayang, kamu kamu makan apa?” tanya Pram. Mengalihkan tatapannya dari sang mama ke istri kecilnya yang menunduk terus sejak mertuanya masuk.


“Kamu saja yang pesan, Sayang,” sahut Kailla, melirik ibu mertua yang sedang menatap ke arahnya.


Pram terlihat mulai sibuk membolak balikan buku menu dan tebal itu. Menyebut satu per satu menu yang kemungkinan merupakan kesukaan dan favorit istri dan mamanya.


Di tengah pendataan menu, Ibu Citra bertanya pada Kinar.


“Kinar, kamu mau pesan apa?” tanya Ibu Citra, tersenyum. Memandang Kinar yang terlihat canggung dan risih dengan pertemuan keluarga kali ini.


Kinar menggeleng, menyerahkan semuanya pada Pram. Sesekali mengintip ke arah Kailla.


Setelah memastikan menu tercatat semua, pelayan pun memohon izin untuk melanjutkan pesanan ke koki restoran.


Hening. Suara berat Pram yang sejak tadi terdengar mengeja menu makanan, sekarang hilang. Berganti suara kursi yang ditarik mundur. Pram berdiri tepat di belakang istrinya.


Pram menyentuh pundak Kailla, sedikit membungkuk dan berbisik lembut.


“Sayang, pindah ya,” pinta Pram, meminta Kailla berpindah ke kursi yang tadi didudukinya.


Kailla menurut, duduk manis di samping mertuanya. Sesekali melempar senyum palsu. Dan Ibu Citra pun demikian, memilih beramah tamah.


“Ma, bukankah mama berjanji akan meminta maaf pada istriku?” Pram mengingatkan sang mama. Berbisik pelan di telinga Ibu Citra.


Ibu Citra mendongak, hampir tidak percaya. Putranya menagih janji yang pernah diucapkan saat di bawah tekanan. Dengan menghela nafas berulang-ulang, menguatkan hati dan niat. Suara Ibu Citra keluar juga, walau sedikit tercekat.


“Kailla, maafkan ucapan mama tempo hari ya,” ucap Ibu Citra, pelan nyaris tidak terdengar.


Dengan mengangkat pandangannya ragu-ragu, Kailla tersenyum dan mengangguk menatap Ibu Citra.


“Iya Ma..”


Diam, mengalihkan pandangan ke arah suami yang sedang berdiri di belakangnya. Senyum Pram, dan usapan hangat di pundak seolah menguatkan.

__ADS_1


“Aku juga minta maaf,” lanjut Kailla, meremas kedua tangannya.


“Baiklah, kalian boleh berpelukan!” canda Pram menarik kursi yang tadinya diduduki Kailla. Menjatuhkan bokongnya di sana. Tawanya hampir pecah, menyaksikan kecanggungan yang tercipta di antara keduanya.


Bayu masuk dengan tiga bungkusan. Menyerahkan dua bungkusan kepada Pram dan tetap menyimpan bungkusan tersisa di tangannya.


“Ini untuk mama, ini untuk istriku Kailla.”


Pram meletakkan kedua bungkusan itu tepat dihadapan mama dan istrinya. Senyumnya terkembang saat melihat senyum kedua wanitanya.


Kailla hanya melihat logonya saja sudah tersenyum sumringah. Hal itu juga berlaku dengan Ibu Citra, menatap lekat tulisan yang ada di tas belanjaan.


“Kai, kamu tidak mau membukanya,” pinta Pram, mencairkan suasana.


Kailla langsung mengeluarkan kotak besar dalam tas belanjaannya. Mengeluarkan tas pesanannya dari dalam kotak. Senyumnya pecah saat melihat tas yang sudah diinginkan sejak beberapa minggu ini, sekarang ada di depan mata. Walau warna hitam bukan kesukaannya, tapi ini tetap yang terbaik.


Cup! Sebuah kecupan mendarat mulus di bibir Pram.


“Terimakasih Sayang!” ucap Kailla, mengelus tas itu dengan mata berbinar-binar.


Mata Ibu Citra hampir melotot keluar melihat tas yang ada di tangan menantunya. Hitam elegan, warna favoritnya.


“Ma, kamu tidak mau melihat hadiahmu. Aku membelikannya sama seperti milik Kailla,” ucap Pram, mengejutkan Ibu Citra yang terus-terusan menatap tas Kailla, tidak berkedip.


Mendengar kata-kata Pram, Ibu Citra tersenyum membayangkan akan mendapat hadiah yang sama dari putra kesayangannya. Secepatnya dia sudah membongkar isi kotak dan mengeluarkan tas.


Kecewa!


Tas yang dihadiahkan Pram memang sama. Merk dan type yang sama, tapi warnanya berbeda. Seketika Kailla melemas, menatap penuh harap tas berwarna pink yang ada di tangan Ibu mertuanya. Dan itu juga yang terjadi pada mama mertuanya, menatap penuh damba tas hitam yang ada di tangan menantunya.


“Baiklah, semoga kalian suka dengan hadiahnya!” ucap Pram tersenyum, menatap Kailla dan mamanya yang tidak bersemangat.


Bunyi pintu terbuka, mengalihkan semuanya. Bayu dan Kinar yang duduk bersebelahan dan sejak tadi diam, menatap ke arah pintu. Demikian juga Pram, Kailla dan Ibu Citra, kompak menatap deretan pelayan yang membawa nampan.


Piring-piring berisi makanan itu sudah memenuhi meja bulat. Terlihat Kailla mengambil sendok nasi dan mengisi nasi putih di piring mertuanya, diiringi senyuman di bibir Pram.


“Silahkan Ma,” ucap Kailla, berusaha melepas senyuman terpaksa. Hatinya terlanjur kecewa setiap kali melihat tas berwarna pink yang disingkirkan di meja lain.


“Iya Sayang,” sahut Ibu Citra tak kalah lesu.


“Bagaimana bisa Pram memberiku tas berwarna pink. Dikira mamanya ini abg apa,” gerutu Ibu Citra dalam hati.


“Apa aku mengajak bocah nakal ini tukaran saja ya.”


Menu mewah yang terhidang di atas meja, terasa hambar di lidah Kailla. Sejak tadi dia sudah ingin protes pada Pram. Ingin rasanya merebut paksa tas berwarna pink itu. Tapi kalau dia berani melakukannya, sudah bisa dipastikan Pram akan mengomelinya.


“Sayang, tidak bisakah menukar tasku dengan yang warna pink milik mama,” bisik Kailla pada Pram.

__ADS_1


“Coba kamu bernegosiasi saja dengan mama langsung. Mungkin kalau kamu meminta baik-baik, mama akan merelakan tas kesayangannya itu jatuh pada menantu kesayangannya ini,” sahut Pram pelan.


“Huh! Tidak bisakah kamu membantuku? Aku kesal padamu, bagaimana bisa memberi tas pink itu kepada mama. Jelas-jelas kamu tahu warna kesukaanku,” keluh Kailla berbisik, menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


“Sepertinya Stella salah membaginya tadi Kai. Aku tidak tahu menahu,” ucap Pram tersenyum licik.


Disisi lain, Ibu Citra mengeluh pada Kinar. Matanya juga terus-terusan mencuri pandang pada tas hitam kilap yang menggoda. Dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, saat tas itu ada di dalam dekapan Kailla.


“Mama coba saja mengajak Kailla tukaran, siapa tahu dia mau.” Kinar memberi ide.


“Tapi mama malu, kemarin baru saja mengajakmya perang, masa sekarang harus mengemis padanya,” sahut Ibi Citra, menjaga gengsi.


“Kalau begitu, aku tidak bisa menolong Ma,” lanjut Kinar, tersenyum pada Bayu yang meliriknya sedari tadi.


Suasana hening di meja makan yang tercipta sejak awal berakhir ricuh saat Pram berdiri, memeluk Ibu Citra dari belakang


“Ma, terimakasih sudah merestui Kailla,” ucap Pram tersenyum.


“Asal kamu bahagia,” ucapnya menepuk lembut tangan Pram yang sekarang melingkar di lehernya.


“Aku akan memberi mama hadiah lagi,” ucap Pram mengecup pipi mamanya.


Tangannya meraih dan menggengam tangan Kailla yang duduk disebelah sang Ibu.


“Ma, aku mau melamar Kinar,” ucap Pram serius dan tegas.


Semua yang sedang berada di ruangan itu mengarahkan pandangannya pada Pram, tak terkecuali Kinar. Semuanya terkejut, apalagi Kailla.


“Kamu serius?” tanya Mama Citra, memastikan.


“Iya, aku serius,” jawab Pram, tersenyum.


Kailla langsung menarik tangannya. Air matanya turun, mengucur deras. Menatap Pram, yang saat ini bahkan membuang pandangannya. Suaminya yang beberapa detik yang lalu masih menatapnya penuh cinta, tapi dalam sekejap menghancurkan hatinya berkeping-keping.


“Sayang.....” Kailla memanggil Pram dengan berlinang airmata.


“Apakah ini balas dendam Pram.”


Kailla tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya menatap dan terus menatap suaminya yang sedang tersenyum.


Reaksi berbeda di tunjukan Ibu Citra, yang tersenyum menepuk pipi Pram yang saat ini sedang bermanja-manja dengannya.”


“Mama berjanji akan menyayangi Kailla, istrimu,” bisik Ibu Citra.


***


To be continued

__ADS_1


Love You All


Terimakasih.


__ADS_2