Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 186 : Bertukar tempat, bertukar rasa


__ADS_3

“Kurang ajar!” Ibu Citra masih mengoceh tak jelas. Setiap menatap Bayu, emosinya selalu terpancing. Sejak laki-laki itu menikahi Kinar, tidak sekali pun sikap Ibu Citra melunak padanya. Tiap kali bersua selalu saja mendengus kesal. Sampai Kinar tidak enak hati pada suaminya.


“Ma, sudahlah.” Kinar berusaha menengahi. Wanita hamil tiga bulan yang duduk di samping suaminya itu mengulum senyuman. Sesekali melirik Bayu yang sibuk dengan setir di tangan. Cinta yang tumbuh setelah menikah membuat rumah tangga mereka terasa lebih indah.


“Sudah bagaimana? Pecundang ini sudah membohongiku selama dua bulan. Putraku terbaring di rumah sakit, dia malah menyembunyikan fakta ini dariku. Menantu apa ini namanya.” Ibu Citra memukul kencang pundak Bayu yang duduk di depannya.


“Ma ....” Kinar kembali mengingatkan.


“Punya menantu, dua. Kompaknya luar biasa!” omel Ibu Citra, menyalahkan Bayu dan Kailla bersamaan.


Saat tiba di kamar perawatan Pram pun, wanita lansia dengan terusan hijau muda itu terus saja menggerutu. Begitu masuk beberapa langkah, netranya menangkap pemandangan menyejukan yang berusaha dikesampingkannya. Tampak Kailla sedang membantu Pram mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu dan atas bibir. Laki-laki itu sedang memeluk pinggang berisi Kailla dengan erat sambil senyum-senyum memandang lekat wajah istrinya.


“Kedua anakku sudah hampir gila semua karena dua menantu tidak tau diri ini. Yang satu membela suaminya terus-terusan. Yang ini apalagi, tersenyum memandang istrinya sampai seperti itu. Tidak sadar dengan yang lain. Bahkan aku datang pun tidak disambut,” gerutu Ibu Citra.


“Ini juga, apa maksudmu membohongi mama, Kai! Apa kamu kira mama akan lebih bahagia jadi orang bodoh selama dua bulan ini!” gerutu Ibu Citra, mengomeli Kailla tiba-tiba.


Matanya melotot menatap Kailla, reaksi sama seperti yang ditunjukannya pada Bayu. Kalau tidak mengingat Kailla sedang hamil cucunya, pasti dia akan mengomel tidak berkesudahan seperti sikapnya pada Bayu.


Raut wajah ibu Citra sedikit melunak saat melihat Pram yang duduk di atas tempat tidur. “Apa yang terjadi, Pram? Kenapa bisa sampai seperti ini?” Ibu Citra menggeser tubuh gembul Kailla, mencuri tempat supaya bisa lebih mendekat dengan putra kesayangannya.


“Sudah Ma. Aku baik-baik saja.” Pram menatap istrinya yang diusir dengan kasar.


“Sudah bagaimana. Tidak suami Kinar, tidak istrimu. Semuanya sama saja!” Bibir itu terus mengomel, mengoceh sejak pagi.


“Maaf Ma ....” Kailla berusaha membujuk sang mertua.


“Sana! Jangan mendekat. Emosi mama bisa meledak setiap saat,” usir Ibu Citra. Dia sendiri tidak ingin membuat menantunya yang sedang hamil itu terluka, tetapi saat ini butuh pelampiasan untuk menyalurkan kesalnya.


Menghela napas berulang kali. “Kamu kenapa Pram? Apa yang terjadi sebenarnya?” Sejak pagi mengoceh, tak seorang pun mau bercerita padanya.


“Aku terserempet mobil.” Pram menjawab dengan singkat. Tidak mau membuat sang mama panik, memilih kata paling sederhana untuk menjawab.


“Terserempet apanya? Kenapa butuh dua bulan untuk pemulihan?” Cerocos Ibu Citra lagi.


“Kaki kananku patah, Ma. Ini saja masih belum bisa jalan.”


“Ini! Yang di kepala kenapa lagi?” tanya Ibu Citra, menunjuk perban yang membungkus kepala putranya.


“Ini hanya mencium aspal sedikit, Ma. Beberapa hari lagi sudah bisa dibuka perbannya.” Pram menjawab.

__ADS_1


Pandangan laki-laki itu tak sekalipun lepas dari istrinya, sejak tadi Kailla hanya diam dan mendengar. Ada rasa kasihan saat Kailla diomeli oleh mamanya. Itu saja Ibu Citra tidak tahu kalau semua ini terjadi karena dia menyelamatkan Kailla. Kalau sampai mengetahui semuanya, tidak terbayang bagaimana ocehan mamanya yang seperti sepur.


Bunyi dering ponsel di tas mahal Kailla tiba-tiba, membuat semua orang mengalihkan pandangannya pada satu titik yang sama.


“Sayang, aku terima telepon sebentar,” ucap Kailla berpamitan keluar sambil menunjukan ponselnya yang berkedip-kedip.


Tak sampai lima menit, Kailla sudah masuk kembali. Menerobos keakraban antara ibu dan anaknya itu. Mau tidak mau dia harus melakukannya.


“Sayang, aku harus ke kantor. Ada sedikit masalah yang harus diselesaikan,” pamit Kailla, memotong percakapan suami dan mertuanya.


Pram mengalihkan pandangannya. Obrolan dengan sang mama terhenti, Pram mengalihkan perhatiannya pada sang istri.


“Mau ke mana?” tanya Pram, menahan tangan Kailla secepat kilat.


“Aku harus ke kantor. Baru saja, Stella menghubungiku.” Kailla menjawab dengan terus terang.


“Apa tidak bisa hari ini tidak ke kantor, Kai?” tanya Pram dengan memohon. Cekalan tangan itu terlepas, Pram merengkuh pinggang Kailla agar mendekat padanya.


“Sayang, ada sedikit masalah. Aku janji akan pulang secepatnya.” Kailla menjelaskan.


Mata itu sesekali menatap ke arah jam di dinding. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Dia harus ke Bandung pagi ini, supaya bisa kembali ke Jakarta di hari yang sama. Ada calon klien potensial, di anak perusahaan mereka yang di Bandung. Nilai proyek ini lumayan fantastis. Kalau perusahaan mendapatkannya, setidaknya bisa membantu keuangan perusahaan yang carut marut.


Sejak tadi berusaha membujuk Pram untuk melepaskannya tetapi suaminya itu tetap kukuh menahannya di rumah sakit.


“Minta Dave mengurusnya!” titah Pram lagi.


“Sayang, Dave masih di Austria. Tidak ada yang bisa mengurusnya.” Kailla menjelaskan.


Deg—


Pram memijat pelipisnya. Ingatannya kembali, saat ini tidak ada siapa-siapa yang mengurus perusahaan.


“Kembali secepatnya begitu pekerjaanmu selesai,” titah Pram. Meringis menahan sakit di kaki kanannya saat tanpa sengaja bergerak untuk merengkuh tubuh Kailla.


“Ya ....” Kailla mengangguk.


“Sayang, minta Donny dan Sam menemanimu di mana saja kamu berada. Ingat! Jangan pergi ke sembarang tempat. Pikirkan dua jagoanku yang saat ini menumpang di tubuhmu.” Pram kembali berpesan.


Bukannya apa-apa, kemarin Bayu baru saja bercerita padanya, kalau penyelidikan yang sedang dilakukan asistennya itu mengarah pada kecelakaan berencana dan menargetkan Kailla sebagai calon korbannya. Meskipun kasus ini sudah ditangani kepolisian, tetapi Bayu mencurigai ada dalang lain yang seharusnya bertanggung jawab. Bukan hanya sopir yang tidak tahu apa-apa, hanya beralasan ketiduran, yang saat ini sudah meringkuk di jeruji besi, mempertanggungjawabkan kelalaiannya.

__ADS_1


“Ya ....”


“Cium aku sekarang! Pulang secepatnya, pekerjaanmu belum selesai.” Pram mengusap dagunya sendiri. Memberi isyarat pada sang istri.


“Ya, aku tahu. Nanti pulang aku akan melanjutkannya. Atau kamu bisa meminta bantuan Bayu untuk mencukurnya.”


“Tidak, aku mau kamu yang melakukannya untukku. Aku tidak mau orang lain. Bahkan aku sendiri bisa, kalau aku mau. Aku hanya mau kamu.” Pram berkata dengan manjanya.


“Ya ....”


Sejak tadi Kailla hanya menjawab singkat. Sepatah kata “ya”, yang jujur saja membuat Pram berpikiran buruk. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan.


Kailla baru saja akan berbalik setelah mendapat izin suaminya, tetapi Pram sudah menahannya terlebih dulu.


“Kai, kamu belum menciumku!” ucap Pram, mengingatkan. Tanpa malu-malu di tengah banyak orang. Bayu dan Kinar saling melempar senyuman sedang Ibu Citra semakin menggerutu kesal mendengar kemanjaan putranya.


“Kalau tidak mau melihat silakan keluar. Aku ingin mencium istriku!” titah Pram, setelah melihat mata melotot sang mama.


Pukulan mendarat di pundak Pram, laki-laki itu malah tersenyum usil mendapati pukulan yang terasa manis. “Aku merindukanmu, Kai. Sebenarnya, aku tidak mau kamu pergi.” Pram berkata dengan manjanya saat tertinggal mereka berdua di kamar perawatan. Ibu Citra dan rombongannya memilih keluar setelah diusir secara halus oleh pasien penghuni kamar.


“Ada sedikit pekerjaan di kantor. Aku janji pulang secepatnya.” Kailla beralasan.


“Tidak ada masalah serius di kantor, kan?” tanya Pram, memastikan.


Kailla menggeleng.


“Kamu tidak bisa berbohong padaku, Kai. Apa yang tidak aku ketahui tentang istriku.” Pram berusaha menekan.


“Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya pergi sebentar.”


Dengan menahan sakit, Pram memeluk Kailla dengan manjanya. “Sekarang aku tahu bagaimana perasaanmu selama ini. Sejak kemarin, aku hampir gila.” Pram berterus terang, memeluk pinggang Kailla dengan manja. Mengecup perut istrinya berulang kali.


“Emm ... rasa apa?” Kailla kebingungan.


“Rasanya menjadi dirimu. Setiap hari ditinggal sendirian dan aku lebih memilih sibuk di kantor sepanjang hari, bahkan baru pulang saat larut malam. Maafkan aku sudah menduakanmu dengan pekerjaanku,” bisik Pram.


Kailla terkekeh. “Aku sudah katakan sejak dulu, aku tidak keberatan, Sayang. Asalkan kamu benar-benar bekerja,” sahut Kailla.


“Cium aku sekarang. Pulang secepatnya, aku menunggumu,” pinta Pram.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2