Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 74 : Tolong Dininabobokan Saja.


__ADS_3

Ditya merutuki dirinya sendiri. Kepercayaan diri terlalu tinggi, sehingga dia melupakan hal yang paling penting. Masih berusaha menutupi kegugupannya, karena sudah salah perhitungan, Ditya berpamitan. Dia harus mencari tahu dengan detail, baru datang kembali mengemukakan niat baiknya untuk mengenal si pemilik senyum terindah lebih jauh lagi.


Brakkkk!!!


Bunyi pintu terbanting mengenai dinding. Semua mata mengalihkan pandangannya ke arah yang sama. Terlihat Sam berdiri dengan cengegesan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sembari memamerkan deretan gigi yang baru saja dipasangkan kawat gigi.


“Ma-maaf semuanya,” sahut Sam tergagap. Tidak kuasa membalas tatapan menawan sang tamu yang sejak tadi membuatnya terpaku di pintu. Dia terhipnotis dengan semua perkataan Ditya yang begitu sempurna sebagai lelaki tangguh dan itu yang membuatnya terlena, tanpa sengaja mendorong pintu sehingga membanting dinding.


“Maaf, sepertinya saya harus berpamitan,” ucap Ditya, memecahkan keheningan orang-orang di dalam kamar.


Dengan langkah gagah, Ditya mengulurkan tangannya pada Ibu Citra.


“Semoga Ibu cepat sembuh,” ucap Ditya, kedua tangannya sedang menggengam tangan Ibu Citra, yang dipikirnya adalah sang calon mertua. Entahlah dia sendiri masih bingung karena keteledorannya.


Ibu Citra terlalu terpana dengan sosok gagah di depan matanya, lidahnya keluh. Tidak bisa bersuara, hanya tersenyum.


“Semoga Ibu puas dengan pelayanan rumah sakit kami,” ucapnya lagi. Terlihat Ditya mengeluarkan kartu nama dari saku jasnya.


“Next time, kalau Ibu membutuhkan bantuan di rumah sakit, bisa menghubungi saya langsung,” ucapnya, tersenyum dengan sedikit membungkuk menjaga sopannya.


Perawat yang berdiri di belakang Ditya, langsung menutup mulutnya yang terngaga tiba-tiba. Pasalnya Ditya bukan orang biasa, bahkan mereka jarang mendengar lelaki itu membuka mulut atau bersuara. Tetapi saat ini dia melihat sendiri, bagaimana seorang Ditya, putra pemilik rumah sakit membungkuk untuk seorang wanita tua yang bahkan tidak dikenalnya.


Pandangan Ditya beralih pada Kailla yang masih memeluk buket bunga mawar, tetapi sebelum melangkah mendekati, dia meminta izin dengan sorot matanya pada Ibu Citra.


“Kita belum berkenalan secara sopan. Kenalkan aku Ditya Halim Hadinata. Call me, Ditya,” ucapnya tersenyum mengulurkan tangan.


Kailla bergeming. Hanya terpaku di tempatnya berdiri. Tidak membalas uluran tangan Ditya sama sekali. Sejak tadi dia hanya memperhatikan gerak gerik lelaki yang selama ini mengiriminya rangkaian bunga.


Senyum Ditya pecah, saat Kailla hanya menatapnya dalam diam. Terlihat Ditya melambaikan tangannya di depan wajah Kailla yang tertegun.


“Hai..., kamu menyukai bunganya?” tanya Ditya dengan suara lebih keras dari sebelumnya.


“Oh... suka. Terimakasih.” sahut Kailla saat tersadar kembali dari lamunannya.


“Aku pamit,” ucapnya pelan.


Dengan satu tangan yang masih dimasukan ke kantong celananya, Ditya berjalan mendekati Kailla. Tampak dia mengeluarkan kotak perhiasan dari saku celananya dan meletakannya di antara kuntum mawar merah yang sedang di dekap Kailla.

__ADS_1


“Untukmu,” bisiknya pelan, mengedipkan mata. Mungkin hanya Kailla yang bisa mendengarnya.


“Baiklah, aku permisi,” pamitnya sekali lagi kepada semua orang yang berada di dalam ruangan. Terlihat perawat mengekor Ditya yang sudah berjalan ke arah pintu.


Baru saja kaki Ditya melangkah keluar, tiba- tiba Pram muncul di depan matanya. Ditya memicing, berusaha mengingat lelaki yang terlihat begitu familiar. Beberapa detik kemudian dia langsung mengingat, lelaki ini pernah berjalan bersama Kailla, di pertemuan kedua mereka.


Senyum Ditya langsung mengembang, mengingat kalau mungkin saja lelaki berumur ini salah satu kerabat si pemilik senyum terindah. Mungkin pamannya atau siapalah tapi tidak mungkin ayahnya Kailla mengingat ibunya sudah setua itu. Ditya tidak tahu jelas dan tidak mau mencari tahu juga. Berusaha meninggalkan kesan baik, Ditya mengalah dan menyapa lebih dulu.


“Om..,” sapa Ditya sembari membungkuk dan tersenyum. Tidak menunggu jawaban, Ditya berlalu pergi.


Pram berbalik, hanya bisa menatap punggung Ditya berjalan menjauh. Kejadiannya begitu mendadak, dia tidak sempat menyeret lelaki tidak tahu diri yang berani mendekati istrinya.


Langkah kasar Pram masuk ke dalam mengejutkan penghuni kamar yang masih tertegun dan kebingungan, kecuali Ibu Citra. Wanita tua itu sedang membongkar shopping bag sambil tersenyum. Menarik keluar syal keluaran terbaru dari Louis Vuitton.


Sam dengan sigap mendekati Kailla, mengantongi kotak perhiasaan beludru, supaya tidak memancing kemarahan Pram.


“Non, aku amankan dulu,” bisik Sam.


Ibu Citra yang masih saja mengagumi hadiahnya, sama sekali tidak menyadari kehadiran Pram diantara mereka.


“Kai, ini kisaran sepuluh juta,” ucap Ibu Citra, tersenyum sumringah pada menantu yang berdiri di sisi ranjang bersamanya.


“Apa-apan ini!” teriak Pram. Matanya sedang menyapu seisi kamar. Pandangannya tertuju pada rangkaian bunga di atas ranjang.


Ibu Citra dan Kailla langsung menciut dan mengkerut. Suara Pram terdengar begitu mengerikan. Kailla yang baru saja akan mendekati suaminya, segera ditahan mertuanya.


“Kalau menantuku ini salah bicara, syal ini bisa hilang dalam sekejap. Aku harus turun tangan,” batin Ibu Citra.


“Kenapa datang sudah marah-marah, Pram?” tanya Ibu Citra, bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bermanis-manis untuk menenangkan putranya yang sedang tidak dalam keadaan baik.


“SEMUANYA KELUAR DARI RUANGAN INI!” teriak Pram tiba- tiba.


Sam berlari tunggang langgang menyelamatkan diri, demikian juga Ibu Ida, seketika melepas tas di tangannya. Bergegas keluar sambil menunduk.


“Aku takut Non Kailla bakal dimarahi Pak Pram,” bisik Ibu Ida, saat mereka sudah berada di luar kamar. Sam yang berdiri sembari bersandar di dinding, tepat di sebelah Ibu Ida hanya tertunduk, mengeluarkan kotak perhiasan dari saku celananya.


“Mudah-mudahan, Non Kailla baik-baik saja. Kamu lihat Sam, mata Pak Pram seperti mau menerkam mangsa bulat-bulat.” Ibu Ida berkata lirih.

__ADS_1


“Jangan khawatir Bu. Non Kailla itu kan istrinya Pak Pram, tidak mungkin ditelan bulat-bulat,” celetuk Sam asal. Tangannya membuka kotak perhiasan yang tadi berusaha di selamatkannya. Keduanya terpukau baik Ibu Ida maupun Sam, sebuah cincin bertahta berlian terselip di dalamnya.


“Bu, tanganku gemetar,” ucap Sam, terkejut melihat perhiasan mahal di depan matanya.


“Lihat saja. Silaunya beda dengan yang dijual di kios-kios pinggir jalan,” lanjut Sam lagi, terkekeh.


“Bu, pasti dia orang kaya ya. Aromanya saja jauh beda. Mungkin mandinya berendam pakai minyak wangi, harumnya tidak hilang-hilang,” lanjut Sam lagi.


“Kalau aku jadi Non Kailla, pasti dilema ini. Yang tadi itu benar-benar varietas unggul. Bersin saja mungkin keluar dollar, kalau batuk keluarnya emas batangan,” ucap Sam, semakin asal bicara.


***


Suasana di dalam kamar masih senyap. Kailla menunduk ketakutan sembari menautkan jari jemarinya, jauh berbeda dengan Ibu Citra yang terlihat biasa-biasa saja.


“Kai, ayo angkat kepalamu. Jangan biarkan Pram tahu,” bisik Ibu Citra, menyemangati Kailla.


“Mama akan menolongmu. Ayo rayu suamimu itu, mama tidak mau syal ini diambil kembali oleh Pram.”


“Bagaimana merayunya. Mama tidak lihat itu matanya memerah,” sahut Kailla, mencuri tatap ke arah suaminya yang sedang duduk di sofa dengan tangan melipat di dada. Raut wajah suaminya itu terlihat mengerikan. Tidak ada senyuman atau kelembutan seperti biasanya.


“Tidak adakah yang mau bercerita padaku?” tanya Pram menatap tajam bergantian pada istri dan mamanya.


Hening—


Ibu Citra dan Kailla saling melempar pandangan.


“Jawab!!” ucap Pram setengah berteriak.


“Kai, suamimu itu tolong dininabobokan saja. Biasanya kamu kan paling pintar. Ayo sana!” bisik Ibu Citra, sembari mendorong punggung menantunya itu supaya mendekat pada putranya.


“Kalau perlu, mama bisa menunggu di luar,” lanjut Ibu Citra, kembali menatap syal di tangannya.


***


To be continued


Love You all

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2