Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 153 : Tahan Dia


__ADS_3

Pram melajukan mobilnya bersiap mencari Kailla kembali. Entah kenapa, melihat kedua orang tua Sam ada haru yang menyergap perasaannya tiba-tiba. Dia tidak punya alasan, tetapi ada sesuatu yang menariknya.


Lelaki itu masih mencari, mengobrak-abrik jalanan ibukota. Area pencarian kali ini lebih difokuskan ke Jakarta Selatan. Daerah terakhir dimana Kailla tertangkap kamera cctv. Siang berlalu berganti senja, pencarian Pram masih belum menghasilkan apa-apa. Bahkan sampai malam menjemput, Pram masih menyusuri perkampungan, mencari keberadaan sang istri yang entah bersembunyi dimana.


Pram baru menyudahi setelah merasa malam kian larut, perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Lelahnya sudah tidak terkata, penatnya sudah tidak terukur. Mobil sport hitam itu jadi saksi perjuangan seorang suami yang mencari istri tercintanya.


Hampir tengah malam, Pram baru kembali ke rumah Ibu Citra. Suasana rumah sudah senyap, tidak terlihat aktivitas apa pun. Begitu masuk ke kamar mamanya, Pram terkejut saat melihat Ibu Citra menangis.


“Ma, apa yang terjadi?” tanya Pram heran, mendekati Ibu Citra yang berbaring memeluk guling, menumpahkan semua beban perasaannya melalui tangis.


“Putriku pergi,” ucap Ibu Citra, pelan.


“Maksud mama Kinar pergi?” tanya Pram, memastikan.


“Iya.., Kinar pergi tadi sore,” sahut Ibu Citra dengan suara bergetar.


“Apa yang terjadi?” tanya Pram lagi, duduk di samping mamanya.


“Kalau Kinar pergi bagaimana dengan mama. Siapa yang akan menemani mama disini,” ucap Pram lagi.


"Aku percaya sepenuhnya pada Kinar kalau masalah merawar mama. Tidak ada yang sebaik dia. Makanya selama ini aku dan Kailla menekan ego kami dan tetap menghargainya."


Wanita lansia itu terlihat bersusah payah bangkit. Duduk bersandar di tumpukan bantal yang baru saja disusun putranya.


“Mama mengusirnya,” bisik Ibu Citra, pelan.


Kali ini Pram menghela nafas kasar. Urusan istrinya saja belum menemukan titik terang, sekarang mamanya sendirian disini.


“Kalau mama menginginkannya tetap tinggal bersama, kenapa mama mengusirnya. Dia tidak punya siapa-siapa di luar sana. Kalaupun mama mau mengusir, seharusnya membekalinya,” ujar Pram, merengkuh tubuh renta itu dan memeluknya erat. Berusaha menenangkan.


“Mama jangan menangis. Kinar pastu baik-baik saja. Aku akan meminta Bayu mencarinya. Kalau memang mama merasa tidak enak hati, karena aku menginap sini. Jujur, aku tidak keberatan dengannya,” ucap Pram, menghapus airmata yang turun di kedua pipi keriput mamanya.


“Aku bisa keluar. Dan tidur di apartemen,” lanjut Pram lagi.


“Tidak, kamu tetap disini. Mama khawatir kalau kamu tidur sendirian di apartemen,” tegas Ibu Citra, menggeleng.


“Besok aku akan meminta, Ibu Ida ke sini menemani mama. Tidak bisa kalau tidak ada siapa-siapa disini. Kalau terjadi sesuatu pada mama, tidak ada yang tahu,” jelas Pram.


“Mama tidur saja dulu. Aku akan meminta Bayu mencari Kinar. Kalau dia tidak tinggal bersama mama lagi, setidaknya kita harus menyediakan tempat tinggal untuknya. Aku harus tetap memenuhi semua kebutuhannya. Kasihan dia, hanya memiliki kita sebagai keluarganya,” lanjut Pram.

__ADS_1


Tampak Pram mengeluarkan ponselnya, menghubungi Bayu. Perasaannya tidak tenang, walau bagaimanapun sikap Kinar, dia tidak bisa membiarkan wanita itu terlantar sendirian di jalanan.


“Bay! Tolong cari Kinar. Kata mama, dia meninggalkan rumah sejak sore. Kalau sudah bertemu, carikan dia rumah. Kalau kamu membutuhkan uang, kamu bisa menghubungiku,” perintah Pram, memutuskan panggilan teleponnya bahkan sebelum Bayu bertanya lebih jauh padanya.


***


Sebulan berlalu, tanpa terasa. Kailla banyak belajar hidup sederhana bersama kedua orang tua Sam. Kandungannya pun mulai menginjak usia tiga bulan lebih. Mual dan muntahnya sudah jauh berkurang. Hanya saja, tubuhnya semakin kurus, dengan perut jauh lebih membesar dibanding sebelumnya.


Pakaian yang dibelinya sesaat setelah meninggalkan Pram, kaos-kaos itu sudah mengetat di bagian perutnya, Kehamilan kembar ini membuatnya seperti hamil lima bulan untuk kehamilan wanita pada normalnya.


Selama 30 hari ini, Pram tidak berhenti mencari. Orang-orangnya bekerja siang malam untuk mencari keberadaan Kailla. Bahkan disaat Pram tidak ke kantor, dia akan menghabiskan waktunya seharian untuk mencari istrinya.


Hampir putus asa, seluruh penjuru Jakarta sudah ditelusurinya. Untuk menghilangkan beban pikiran dan perasaan khawatir akan istrinya, Pram memilih mengalihkannya dengan bekerja dan bekerja. Lelaki itu kembali membangun perusahaan baru, anak perusahaan yang akan memperkuat RD Group ke depannya.


Pram akan pergi ke kantor pagi-pagi sekali, dan pulang hampir tengah malam. Seluruh waktunya habis dengan bekerja sembari menunggu laporan dari para asistennya.


Dan Kinar, perempuan itu ditemukan setelah dua hari pergi dari kediaman Ibu Citra. Sekarang Kinar tinggal sendirian tidak terlalu jauh dari rumah Ibu Citra. Gadis itu akan datang setiap pagi, dan kembali saat menjelang sore. Pram menghadiahkannya sebuah rumah tinggal atas ketulusannya selama ini menjaga Ibu Citra. Dan semua kebutuhannya tetap dipenuhi Pram.


***


Pagi itu, Kailla terbangun dari tidurnya dengan mimpi buruk yang membuatnya dadanya sesak. Sejak beberapa hari, dia tidak bisa tidur lelap.


Kailla hanya bisa mengigit bibir agar tangisnya tidak keluar. Duduk mendekap kedua lututnya di dipan sederhana yang beralas kasur tipis. Selama sebulan ini, Bapak Sam mengalah. Tidur beralas tikar di lantai, merelakan tempatnya untuk Kailla.


“Bu, aku akan ke rumah sakit,” ucap Kailla saat membantu Ibu Sam mencuci piring setelah sarapan pagi.


Selama sebulan, Kailla sudah mulai mahir melakukan banyak hal pekerjaan rumah. Hanya saja untuk memasak, dia tidak terlalu bisa. Masakannya selalu tidak sesuai dengan lidah, makanya Ibu Sam memilih memasak sendiri, merelakan Kailla melakukan pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Mengingat perut Kailla yang mulai membesar, tidak tega memintanya melakukan pekerjaan berat.


“Apa akan baik-baik saja, Non?” tanya Ibu Sam, mengernyit. Bingung dengan Kailla yang tiba-tiba berani keluar dari persembunyiannya.


“Perasaaanku tidak tenang, Bu,” sahut Kailla.


“Beberapa hari ini, entah kenapa aku selalu memikirkan daddy. Apa karena itu juga, aku jadi mimpi yang tidak-tidak tentang daddy. Sewaktu belum meninggalkan rumah, aku rutin mengunjungi daddy.”


Kailla bercerita sembari mengeringkan piring yang selesai dicuci dengan kain lap bersih.


“Apakah itu artinya daddy merindukanku, Bu,” ucap Kailla lagi.


“Bisa jadi, Non.”

__ADS_1


“Non Kailla mau berangkat jam berapa? Nanti Ibu temani saja,” ucap Ibu Sam, tersenyum. Selama sebulan Kailla di sini, dia merasa senang. Ada teman mengobrol, teman mengerjakan pekerjaan rumah. Rasanya dia seperti memiliki putri saja.


“Sebentar lagi Bu. Aku pergi sendiri saja, Bu.”


“Tidak Non. Ibu temani saja. Khawatir nanti tertangkap suamimu,” ucap wanita lansia itu, mengelus pelan perut Kailla yang membuncit.


“Kamu tidak sekalian memeriksnya. Memastikan bagaimana keadaan bayi-bayimu.”


Kailla menggeleng. Dia tidak punya uang. Sebenarnya dia bisa saja menggesek kartu-kartu dari suaminya, tetapi sekali gesek saja, Pram pasti tahu posisisnya dimana. Dia tidak mau tertangkap Pram, setidaknya sampai bayi-bayinya lahir.


Setelah menyelesaikan pekerjaan di rumah, akhirnya Kailla ditemani Ibu Sam mengunjungi Riadi di rumah sakit.


Dengan perasaan was-was dan ketakutan yang tertahan. Untuk pertama kalinya setelah sebulan, Kailla menginjakan kakinya ke halaman depan bangunan utama. Biasanya ruang gerak ibu hamil itu hanya di taman belakang dan rumah kecil tempat tinggal Bapak dan Ibu Sam.


***



Pram sedang memimpin rapat saat ponsel di mejanya bergetar. Berkedip-kedip dari kejauhan, tetapi dia tidak bisa apa-apa, sampai selesai berbicara.



Lelaki itu terlihat jauh lebih kurus, dari biasanya. Kehilangan Kailla membuat hidupnya jauh berubah. Saat kembali ke tempatnya, barulah dia bisa mengecek ponsel. Jantung berdegup kencang saat melihat Donny menghubunginya dari rumah sakit.


“Iya Don, ada apa?” tanya Pram, berjalan keluar dari ruang rapat. Takut terjadi hal buruk pada Riadi.


“Segera ke rumah sakit Pak. Ada Non Kailla menjenguk Pak Riadi, aku takut tidak bisa menahannya terlalu lama di sini,” cerita Donny. Lelaki itu terpaksa bersembunyi, menatap Kailla dari kejauhan.


Mendengar informasi yang disampaikan asisten Riadi itu, Pram berlari masuk ke dalam ruang rapat.


“Maaf, rapat ditunda! Stella akan memberi informasi selanjutnya," ucapnya buru-buru, tersenyum sumringah.


Tanpa berpamitan, lelaki itu berlari kencang menuju parkiran. Semua hal menjadi tidak penting, saat ini dimatanya hanya ada Kailla. Sembari menghubungi Bayu, lelaki itu masuk ke dalam lift dengan buru-buru.


“Bay! Kailla di rumah sakit. Tahan dia!” perintah Pram dengan nafas tersengal-sengal karena berlarian sepanjang koridor.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2