
Pram dengan perasaan kesal keluar dari kamar mamanya, menyusuri koridor rumah sakit yang masih sepi di kala pagi hari. Hanya sesekali terlihat petugas rumah sakit dengan seragam putihnya lewat, mengecek satu per satu kamar pasien.
Dengan mengusap kasar wajahnya, Pram tampak menggerakan kepala ke kiri dan kanan untuk melonggarkan otot lehernya yang kaku karena tidur di sofabed yang tidak seempuk kasur mewah di rumahnya.
Tetapi, langkah Pram terhenti saat melewati koridor menuju ke arah lift. Terkejut, nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia sampai berulang kali memastikan apa yang dilihatnya tidaklah salah.
Deg—
Matanya tertuju pada sosok cantik yang sedang tertidur pulas dengan wajah polos di bangku ruang tunggu, bersandar di pundak laki-laki yang sangat dikenalnya.
“Kailla...”
Perasaannya campur aduk. Ingin marah tetapi muncul iba disaat bersamaan. Semalaman dia tidur di dalam kamar, tidak menyadari istrinya menahan dingin tidur di bangku keras yang bahkan tidak enak untuk diduduki.
“Bay!!” panggilnya menepuk pundak asisten yang sudah membantah perintahnya. Tepukan kencang itu tidak sanggup membangunkan Bayu, tetapi malah mengusik tidur lelap istrinya.
“Mmmm..,” gumam Kailla.
Pram segera duduk disisi kanan Kailla, mengambil alih kepala istrinya yang entah sejak kapan menumpang tidur di pundak laki-laki lain.
“Kai..., bangun Sayang,” panggil Pram, mengelus lembut pipi yang terasa dingin, karena sepanjang malam tidur di luar.
“Ya Tuhan,” gumam Pram.
Tidak sampai disitu, saat menggengam tangan Kailla yang tidak kalah dingin, hatinya kembali tercubit.
“Sayang bangun! Kita pindah tidur di kamar.” Pram masih berusaha membangunkan Kailla.
Istri, tukang tidurnya masih saja menutup matanya rapat-rapat. Karena Kailla yang masih saja terlelap, seolah tidak terganggu, terpaksa Pram menggendongnya ala bridal style.
“Mmmm, aku dimana?” tanya Kailla tiba-tiba, saat sudah berada di gendongan Pram. Kesadarannya terusik saat tubuhnya berguncang di dalam dekapan suaminya.
“Kita pindah tidur ke kamar,” jelas Pram.
Kailla membuka mata, mulai terjaga dan sadar sepenuhnya. Dengan manja mengalungkan kedua tangannya ke leher sang suami, kepalanya pun mulai disandarkan manja di dada suaminya. Tempat ternyaman selama empat tahun pernikahan mereka.
Melewati Bayu, laki-laki itu menendang kasar kaki asistennya sehingga terkejut dalam tidurnya. Tendangan kencang mengenai betis, terkandung amarah yang berusaha ditahannya. Bagaimana tidak marah, Bayu bukannya mengantar Kailla pulang, malah menemani istrinya tidur di luar. Sekaligus memanfaatkan istrinya yang terlelap supaya bisa bersandar mesra di bahunya.
“B-bos!” ucap Bayu, terkejut dengan mata membulat hampir keluar, menatap tajam padanya. Belum lagi rahang mengeras ciri khas seorang Reynaldi Pratama di kala murka.
“Ma-maaf Bos,” ucap Bayu segera berdiri, tertunduk. Saat sudah menguasai keadaan.
“Urusan kita belum selesai, Bay! Setelah ini, persiapkan dirimu!” ancam Pram, melewati Bayu yang berdiri membeku di tempat.
Pram menendang pintu kamar mamanya, setelah Kailla menarik turun gagang pintu putih itu. Suasana di dalam kamar masih sepi. Hanya ada Ibu Citra yang masih tidur, lebih tepatnya belum sadar dari semalam. Tidak tampak keberadaan Kinar di dalam kamar.
“Sayang, turunkan aku,” bisik Kailla seolah takut terdengar.
__ADS_1
Pram menurunkan tubuh istrinya ke atas sofabed tempatnya semalam tidur.
“Ah, badanku sakit semua,” keluh Kailla, meluruskan kedua kakinya. Pram berdiri membungkuk di depan istrinya, memperkecil jarak antara wajahnya dan Kailla. Seulas senyum muncul di bibir.
“Anak nakal. Aku sudah memintamu pulang semalam. Tapi kamu malah memilih camping di depan kamar,” ucap Pram, menempelkan kedua dahi mereka, kemudian mengosokan hidungnya di hidung lancip istrinya.
“Jangan marah lagi,” ucap Kailla dengan manjanya, melingkarkan kedua tangan di pinggang kekar suaminya.
“Maafkan aku. Aku lelah sekali, tidak bisa mengontrol emosiku. Jadi memarahimu semalam,” ucap Pram, merapikan anak rambut yang tergerai menutupi sebagian wajah Kailla.
Kailla mengangguk, tersenyum sembari menatap hangat suaminya. Tanpa sengaja ujung ekor matanya menangkap sosok Kinar yang baru saja keluar dari kamar mandi. Perempuan itu menutup mulutnya, terkejut melihat kehadirannya di dalam kamar.
“Baiklah, aku akan menunjukan tempatmu di mana. Dasar rubah betina! Kita lihat, apa kamu bisa tersenyum seperti semalam,” ucap Kailla dala hati.
“Sayang..,” ucap Kailla dengan manjanya sudah mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya.
Dengan tidak tahu malu, mel”umat bibir Pram dengan ganas. Sesekali dia melirik sekilas ke arah Kinar apakah wanita itu masih menonton pertunjukannya atau memilih pergi.
Lelaki yang tidak tahu menahu dengan niat licik istrinya hanya menikmati, larut dalam permainan Kailla. Saat ini, dia sudah mengambil alih, memimpin pertandingan adu menempel bibir.
Pram yang hampir mencapai awan, sudah lupa dimana mereka berada. Kerinduan dan penyesalannya semalam membuatnya menikmati apa yang dimulai Kailla. Dan Kailla hanya menikmati. Menikmati apa yang dilakukan suaminya dan menikmati wajah Kinar yang terlihat kesal menatap mereka.
Tubuh kekar itu sudah ikut berbaring menindih istrinya dengan bibir yang saling membalas kecupan, semakin dalam dan menuntut. Tangannya pun ikut berpartisipasi dalam pertandingan kali ini. Menyusup masuk ke dalam kaos istrinya dan mengusap lembut apa yang ada di dalam sana.
Saat kecupan itu pindah ke leher jenjang istrinya, membuat tanda kepemilikan pertama disana, tiba-tiba Kailla membuka suara.
“S*hittt! Aku sudah gila!” Pram mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan hasrat dan nafsunya. Bahkan sekarang bertambah parah, tidak tahu tempat dan waktu.
Beberapa detik setelah menguasai keadaan, Pram mengalihkan pandangannya pada Kinar. Wanita itu sedang menutup mulut dengan kedua tangannya, raut wajahnya sulit digambarkan.
“Maaf,” ucap Pram, bergegas bangkit dari tubuh istrinya. Kata maaf yang lebih ditujukan pada Kinar yang sedang menonton apa yang dia dan Kailla lakukan. Buru-buru merapikan pakaian Kailla yang sempat disingkapnya sebingga perut rata istrinya terpampang nyata.
“Rasanya seperti tertangkap basah warga lagi mesum di bawah pohon mangga,” celetuk Pram berbisik, tersenyum memandang penuh cinta pada istrinya.
Kinar menunduk, masih membeku di tempat. Kailla tersenyum, menyerigai licik. Pandangannya tertuju pada Kinar sejak tadi, berharap wanita itu segera mengangkat wajahnya. Dia sudah tidak sabar untuk merayakan kemenangannya pagi ini.
“Anak kecil ini sengaja memamerkannya padaku!” batin Kinar kesal.
Setelah suasana canggung itu mulai mencair, Kinar pun sudah kembali bersikap biasa. Kailla masih duduk di sofa dengan memeluk lengan Pram yang ikut duduk di sampingnya.
“Kenapa tidak menemuiku di kamar semalam?” tanya Pram.
“Aku takut kamu akan mengusirku lagi,” sahut Kailla dengan memajukan bibirnya.
“Hahaha, aku segalak itukah di matamu?” tanya Pram, menepuk lembut tangan Kailla yang sedang mengunci erat lengannya.
“He-em.., aku pikir kamu ingin menikmati malam berdua dengan Kinar, jadi aku memilih mengalah. Menghabiskan malamku dengan Bayu saja, sesekali menggoda dokter jaga yang bertugas di ujung koridor,” sahut Kailla santai, menyembunyikan kecemburuannya.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan semalam dengan Bayu?” tanya Pram, melotot.
“Ternyata Bayu lebih empuk darimu, Sayang. Tubuhnya juga lebih kekar kemana-mana,” ucap Kailla, semakin memancing emosi Pram.
“Kamu mau aku membunuhnya setelah ini?” tanya Pram kesal.
“Hahahaha..!” Tawa Kailla pecah.
“Aku ke harus ke kantor sebentar lagi,” ucap Pram tiba-tiba menghentikan tawa Kailla.
“Serius? Disaat seperti ini kamu masih mau ke kantor?” tanya Kailla heran, nyaris tidak percaya. Menatap mertuanya yang terbaring belum sadarkan diri.
Bukannya Kailla tidak tahu bagaimana sayangnya Pram pada mamanya, tapi dia memilih pergi bekerja disaat hatinya sedang kacau mengkhawatirkan keadaan mamanya.
Pram menghela nafas berat. Memang berat, disaat hatinya ingin tetap menjaga mamanya, tapi dia memiliki tanggung jawab pekerjaan.
“Iya, tapi aku juga punya tanggung jawab lain. Lagipula dokter sudah mengatakan kalau mama baik-baik saja. Setidaknya ada Kinar yang menjaga mama disini.”
“Di pundak suamimu ini ada nasib ribuan karyawan. Aku tidak bisa mengabaikan pekerjaanku, hanya karena urusan pribadi,” sahut Pram dengan penuh keyakinan.
“Aku harus memastikan perusahaan tetap berjalan. Sekaligus memastikan lemari kaca di kamar kita tetap terisi dengan tas-tas koleksi terbaru dari brand favorit istriku,” sahut Pram lagi.
“Ah.., aku mencintaimu,” ucap Kailla mengecup bibir suaminya.
Pram berjalan menghampiri Ibu Citra, menggengam tangan keriput yang tertancap jarum infus.
“Ma, aku harus ke kantor sekarang. Nanti jam makan siang aku akan kesini sebentar. Sepulang kantor aku akan menjagamu,” bisik Pram, mengecup kening mamanya.
“Aku yang akan menjaga mama!” ucap Kailla tiba-tiba. Dia sudah berdiri tepat di belakang Pram.
Kalimat Kailla barusan mengejutkan Kinar dan Pram. Keduanya menatap Kailla tidak percaya.
“Kenapa? Dia kan mama mertuaku. Bukankah seharusnya aku yang menjaganya.” Kailla menjawab tatapan ketidakpercayaan suaminya dan Kinar.
“Kai, kamu serius?” tanya Pram, memastikan.
“Iya, aku serius. Bukankah aku yang harus menjaga mama, bukan orang lain. Dia mertuaku, mama dari suamiku,” ucap Kailla, melirik ke arah Kinar.
To be continued
***
Love You All
Terima kasih.
Like dan komennya dong. Supaya bisa cepet up😀
__ADS_1