Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 142 : Digoda Lolita


__ADS_3

Pagi itu, semburat cahaya mentari mengintip melalui celah gorden putih tergantung melambai. Deburan ombak pantai, memanggil di tengah dinginnya cuaca pagi di ujung musim penghujan, menusuk menembus ke tulang sum-sum. Butiran embun pun mulai menguap hilang, seiring panas mulai menyengat.


Kailla baru saja keluar dari kamar mandi setelah menumpahkan habis cairan di dalam perutnya. Kebiasaan rutinnya semenjak hamil. Hampir setiap pagi, harus mengosongkan lambungnya hingga tidak bersisa, sampai menusuk ke ulu hati.


Ibu hamil muda itu, melangkah perlahan masih dengan bathrobe putih membungkus tubuh berisinya dan rambut basah digulung handuk.


Tangannya hampir menggapai pengering rambut di laci meja riasnya saat ponselnya di atas nakas berderit. Mengerutkan dahi penuh tanya, Kailla bergegas memastikan siapakah gerangan si pengacau pagi yang sudah begitu lancang menghubungi di kala jam potensial untuk bermanja di balik selimut.


Dahi yang tadinya berkerut tambah menjadi, saat melihat pesan sekaligus panggilan tidak terjawab dari nomor tidak terdaftar di kontaknya. Memilih mengabaikan, tetapi hatinya terketuk untuk melihat isi pesan.


Sembari berjalan membaca isi pesan, Kailla kembali ke niat awalnya mengeringkan mahkotaya. Tangan itu dengan piawai menekan logo berwarna hijau yang belakangan menjadi media berkirim pesan paling digandrungi semua orang.


Bingung! Itulah yang pertama kali ada di otak Kailla. Foto berisi potongan koran kusam yang tidak jelas. Menghempaskan ponselnya begitu saja, mengira bukan hal penting. Hanya orang iseng atau salah alamat. Namun, saat ponsel yang masih menyala itu baru saja mendarat di atas meja, jantungnya berdetak kencang saat melihat ada nama suaminya di potongan koran kusam itu.


Berita anak hilang! Reynaldi Pratama.


Kailla membaca dengan seksama. Saat larut dengan isi berita, kembali ada sebuah pesan masuk di tempat yang sama. Segera Kailla menggeser ponselnya ke bawah. Jantungnya berdetak kencang saat melihat potongan koran kembali, tidak kalah lusuh dibanding sebelumnya. Berisi foto seorang laki-laki mengenakan setelan jas. Judul dengan huruf kapital menghitam itu membuat bulu kuduk merinding.


Bagaimana tidak.


Berita kematian! Seorang laki-laki bernama Pratama Indraguna, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.


Deg!


Kailla mencerna kembali, sembari membaca ulang. Apa yang dikirimkan si penelepon gelap adalah bentuk teror yang ditujukan padanya. Semakin membacanya berita yang tertulis di bawa visual, semakin dia bergidik. Apalagi menatap foto laki-laki berwarna hitam putih dengan sorot mata mengerikan, seolah memendam dendam.


Merangkai kembali, sambil mengedarkan pandangan, menyapu kamar mereka yang senyap dan sedikit gelap sampai akhirnya Kailla sendiri melempar ponselnya ketakutan. Berlari dan meloncat naik ke tempat tidur. Menimpa Pram yang terlelap, bersembunyi di balik selimut hangat.


Buk!


Tubuh kekar itu tertimpa tubuh Kailla tiba-tiba. Tentu, membuat Pram langsung terjaga kala mendapati Kailla yang seenaknya menumpuk di atas tubuhnya, tanpa permisi.


“Ada apa Kai?” tanya Pram dengan suara serak. Mata mengerjap berusaha menyesuaikan dengan cahaya redup di kamar.


“Ada setan di ponselku!” pekiknya tertahan. Belum sempat merangkai cerita, tetapi ketakukan berlebih terlalu mendominasi di hatinya. Dia langsung menyembunyikan diri di dalam selimut.


Pram terbahak seperti biasa. Tentu dia mengingat jelas, seberapa penakutnya sang istri.


“Bagaimana setan itu bisa sampai di ponselmu?” tanya Pram terbahak. Pecah sudah tawanya.

__ADS_1


“Ada, mengerikan sekali. Setan bunuh diri, wajahnya mengerikan,” jelas Kailla bergidik. Mengeluarkan matanya dari balik selimut.


“Kalau bunuh diri pastinya akan membalas dendam pada orang-orang yang membuatnya bunuh diri,”sahut Pram, ikut menakut-nakuti.


Sebuah pukulan beruntun mengenai lengan Pram, sebelum akhirnya Kailla menelusup masuk ke pelukan suaminya dengan bathrobe berantakan tersingkap di sana sini.


“Sudah tidak apa-apa. Bagaimana kalau hari ini kita shopping,” tawar Pram menenangkan. Mengingat hari ini adalah akhir pekan, pekerjaannya di kantor juga tidak terlalu banyak. Dia bisa mengajak istrinya berkeliling ke mall. Momen langka yang jarang terjadi selama ini. Hampir tidak pernah, biasanya Pram lebih banyak menghabiskan waktu liburnya di ruang kerja. Dan Kailla berbelanja selalu ditemani asistennya.


Tentu saja tawaran Pram diterima Kailla dengan gegap gempita, melupakan ketakuannya saat itu juga.


“Baiklah. Awas kalau sampai kamu berubah pikiran!” ancam Kailla, mengarahkan telunjuknya pada Pram.


“Tidak. Aku serius, Sayang,” bisik Pram mengeratkan pelukannya. Kemudian mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan.


“Thank you so much,” ucap Kailla, menghadiahkan Pram ciuman. Senyumnya merekah, membayangkan akan berkencan dengan suaminya yang super sibuk sampai tidak menyisakan waktu untuknya selama ini.


***


Pram masih setia menunggu Kailla membedah isi sebuah outlet di salah satu mall. Hampir dua jam lelaki itu duduk di sofa, menatap istrinya terbang kesana kemari. Hinggap dari satu etalase ke etalase yang lain dengan lincahnya.


Menemani Kailla berbelanja ternyata bukti ekstra kesabaran. Istrinya itu tipe yang harus belanja sampai puas. Mencoba satu persatu pakaian untuk mencari yang ternyaman dan cocok di tubuhnya.


Pram hampir tertidur saat Kailla memanggilnya. “Sudah?” tanya Pram, dengan mata memerah menahan kantuknya.


“Temani aku mencobanya,” jelas Kailla, menarik paksa tangan suaminya tanpa meminta persetujuan. Menyeret Pram menuju ruang ganti diikuti Sam dan seorang karyawan.


Sam melihat Pram yang berjalan ogah-ogahan, diseret istrinya hanya bisa tersenyum bahagia. Setidaknya lelaki itu bisa merasakan juga bagaimana penderitaannya selama ini menemani Kailla berbelanja.


“Tunggu aku disini!” perintah Kailla, menunjuk dinding tepat di samping pintu ruang ganti.


Pram mengangguk. Tidak banyak protes, hanya menurut. Bersandar di dinding dengan tangan terlipat di dada. Menunggu istrinya mencoba satu persatu pakaian.


Tidak lama, Kailla sudah muncul kembali dari balik pintu dengan pakaian baru. “Sayang, bagaimana?” tanya Kailla tersenyum, berputar-putar di depan suaminya.


“Bagus,” sahut Pram seadanya. Jujur, dia mulai bosan dan lelah. Ingin secepatnya pulang dan beristirahat.


Kailla tentu saja tersenyum. Mengulang kembali, mencoba pakaian yang lain. Semua yang dicoba Kailla selalu mendapat jawaban yang sama. Kalau tidak bagus, cantik pasti luar biasa. Bahkan Pram sudah tidak melihat lagi.


Tepat di pakaian terakhir, Kailla baru saja membuka pintu ruang ganti, Pram sudah mengeluarkan komentarnya. “Cantik, Sayang,” ucap Pram pelan.

__ADS_1


Mata lelaki itu membulat, kalimatnya menggantung, saat melihat dengan seksama gaun malam yang dikenakan Kailla. Istrinya sudah berdiri, berputar di depannya.


Belahan gaun yang tinggi, membuat paha putih mulus Kailla terekspos sempurna. Belum lagi belahan dada yang mempertontonkan gundukan kembar yang ukurannya semakin besar dan menggoda di saat hamil, hampir tumpah ruah di depan matanya. Gaun itu ketat melekat di badan, mempertontonkan lekuk tubuh Kailla yang mulai terlihat penuh di bagian perut.


Terlanjur berkomentar, membuat Pram tidak bisa menarik kembali kata-katanya. Hanya bisa menelan ludah saat Kailla tersenyum bahagia, memastikan gaun itu akan menambah koleksi pakaian yang dibawanya pulang ke rumah.


“Tunggu! Mau dikenakan dimana?” tanya Pram tiba-tiba, mempertanyakan fungsi gaun yang akan dibeli istrinya.


“Bukankah kita juga jarang ke pesta,” lanjut Pram lagi. Berharap istrinya mundur.


“Bisa buat merayakan khitanannya Sam. Cerita si Sam, dulu waktu kecil dikhitan, belum sempat dipestakan di kampungnya. Kalau kamu bersedia, bisa merayakan untuknya sekarang. Kita undang anak tetangga komplek, jadi gaunku ini bisa terpakai,” sahut Kailla asal, menatap asistennya sambil tertawa. Terdengar sedikit kesal menimpali ucapan suaminya. Bergegas kembali ke ruang ganti.


“Kurang ajar Non Kailla, malu-maluin saja!” gerutu Sam dalam hati.


Kailla sudah masuk kembali ke dalam ruang ganti, dengan Pram bersandar memijat pelipisnya. Umurnya sudah tidak muda lagi, berdiri menunggu Kailla terlalu lama membuat kepalanya berdenyut.


“Pak, ini?” tanya Sam, menunjuk pakaian menggunung di pelukannya,


“Sudah sana! Bawa semua ke kasir. Aku akan menunggu Kailla di sini,” perintah Pram.


Lelaki itu masih bersandar di dinding, saat seorang gadis muda berdiri di depannya memeluk gaun. Melihat penampilan dan wajahnya, Pram bisa menduga umurnya dibawa Kailla. Dengan celana pendek dan kaos pendek, menampilkan perut rata putih mulus dan pusarnya.


“Maaf, Om. Apa ada orang di dalam?” tanyanya, mempersembahkan senyuman manis pada Pram.


Sejak tadi gadis itu sudah memperhatikan Pram. Bukannya dia tidak tahu saat ini Pram sedang menunggu seorang gadis yang mencoba puluhan pakaian yang sekarang sudah menghuni meja kasir.


“Sebentar lagi selesai, sahut Pram santai. Masih berdiri di posisinya semula. Tidak terlalu menanggapi. Dia tahu jelas niat teselubung sang gadis.


“Oh.. kenalkan Om, namaku Lolita,” ucap sang gadis dengan tidak tahu malunya. Menyodorkan tangannya pada Pram. Dalam sekejap, pakaian di dalam pelukannya jatuh berantakan ke lantai.


“Aduh maaf,” ucapnya pelan. Berjongkok mengambil kembali pakaian-pakaian yang berantakan. Melihat itu, Pram ikut berjongkok bermaksud membantu. Namun, niatnya belum sempat terlaksana sudah terdengar teriakan memekikan telinga dari arah pintu ruang ganti.


***


To be continued


Love you all


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2