Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 157 : Memaafkan Riadi


__ADS_3

Pram dan Kailla saling bertatapan setelah Naina meninggalkan ruangan. Rasa iba menyelimuti perasaan keduanya, melihat bagaimana seorang ibu muda yang harus berjuang demi anaknya yang masih kecil. Rela berpisah dari buah hatinya demi mendapatkan kesempatan hidup yang lebih layak.


"Sayang, dia kasihan sekali," bisik Kailla, menatap nanar ke arah pintu yang baru saja menutup.


Mendengar ungkapan perasaan Kailla, Pram sependapat. Itu juga yang dirasakannya ketika mendengar cerita wanita muda yang umurnya tidak terlalu jauh beda dengan istrinya.


"Kai ....” panggil Pram, menepuk paha kirinya.


Tanpa bertanya, Kailla sudah paham maksud suaminya. Bergegas menjatuhkan bokong tanpa perasaan di atas pangkuan Pram.


"Doakan aku tetap sehat, supaya tidak membuatmu dan anak-anak kita bernasib sama dengannya." Kata itu terucap dengan lancar, menggema di telinga Kailla. Mengalun lembut, menenangkan.


"Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik mempekerjakannya. Dia terlalu cantik untuk mengurus Pieter," jelas Pram, mengeratkan pelukan di pinggang Kailla.


“Kamu tahu sendiri bagaiman buayanya Pieter. Aku takut dilahap Pieter,” ucap Pram terkekeh.


"Ini bukan berarti kamu tertarik mempekerjakannya untuk mengurusmu, kan?" todong Kailla, cemberut. Berbalik ke belakang, menatap tajam suaminya. Mengingat pujian cantik Pram untuk wanita lain, cemburunya naik ke permukaan.


"Tentu tidak! Istriku sudah sesempurna ini, kalau masih meminta lebih namanya kelewatan dan tidak tahu terimakasih" sahut Pram.


“Tidak bersyukur namanya, Sayang,” sahut Pram, melontarkan rayuan maut yang sudah sebulan ini tidak dilakukannya.


Jawaban lelaki itu bukannya mendapat respon baik dari Kailla, sebaiknya wanita hamil 3 bulan itu malah melotot hebat.


"Kamu menyindirku, hah?" cerocos Kailla, dengan nada kesal.


"Tidak, Sayang. Aku jujur. Kamu tahu betapa beruntungnya aku mendapatkanmu," sahut Pram, memberi pembelaan.


"Apa maksudmu menyebutku sempurna kalau bukan menyindir," todong Kailla.


Tawa Pram pecah, lelaki itu tergelak. Menjatuhkan dagunya di pundak Kailla, menghadiahkan kecupan manis di pipi mulus istrinya.


"Coba kamu bayangkan seberapa beruntungnya aku mendapatkanmu," jelas Pram.


"Cantik, penurut, anak baik-baik, putri konglomerat. Apa kurangnya dirimu, Kai?" ujar Pram, ingin tergelak melihat Kailla mengulum senyuman.


"Ada lagi, paling pintar menceplok telur, terampil memasangkan dasi, apalagi lincah menari di atas tempat tidur. Lincahnya seperti cacing tersiram sabun pencuci piring" Tawa Pram pecah kala mengucapkan kalimat terakhirnya, membayangkannya saja, dia geli sendiri. Namun saat ini dia sedang ingin menggoda Kailla. Sudah lama tidak merasakan sensasi semprotan mulut Kailla dikala merajuk hebat.


Senyum terkulum itu berubah kaku, raut wajah berseri saat mendengar pujian demi pujian Pram sejak tadi berubah datar.


“Kenapa harus membandingkanku dengan cacing. Huh! Laki-laki lain membandingkan istrinya seperti kupu-kupu, kelinci imut, koala, tetapi suamiku setiap kali membandingkan istrinya, pasti dengan binatang yang tidak ada manis-manisnya. Kalau tidak singa betina, macan mengamuk. Dan sekarang cacing lagi!” gerutu Kailla kesal.


Pram tersenyum, tetapi dia tetap melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Manjanya luar biasa, kalau merajuk satu rumah pasti kena amukan, apalagi paling pintar membuat kekacauan. Sempurna!" ucap Pram, menahan tawa saat melihat wajah cantik itu cemberut dan mengerucutkan bibirnya.


Kailla berbalik dan melayangkan kepalan ke dada Pram.


"Buk!! Pukulan beruntun mengenai dada bidang diiringi tawa Pram.


"Ini belum termasuk, aku belum sempat menyebutnya. Untung kamu mengingatkan, Kai."


"Suka memukul suaminya, suka merepotkan, suka membuat masalah. Kalau mengambek.. seisi rumah kerepotan dibuatnya.”


Pram tidak melanjutkan kata-katanya, menghela nafas sejenak sebelum menjelaskannya.


"Dimana aku bisa mendapatkan istri sesempurna ini," ujar Pram, tersenyum melihat ekspresi Kailla.


"Sayang! apa maksudmu menyidirku sejak tadi!" omel kailla kesal"


"Memang yang aku sebutkan itu apa? Aku tidak menyindir. Aku hanya menyebutkan kelebihan-kelebihanmu, Sayang," jelas Pram.


"Kamu sengaja mengabsen kekurangan-kekuranganku, kan?" todong Kailla.


Nafasnya naik turun menahan kesal. Ingin rasanya bangkit dan memukul suaminya, tetapi Pram tidak mengizinkannya bergeser sedikit pun.


"Bagimu itu kekurangan, kah? tanya Pram masih bisa tersenyum dan bersikap lembut.


"Bagimu kekurangan, tetapi bagiku itu kelebihanmu. Kalau kamu merasa itu kekuranganmu, belajar lah sedikit demi sedikit, berubahlah untuk dirimu sendiri. Karena aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku menerimamu, mencintaimu apa adanya, Kai."


Sebuah kecupan mendarat di pipi Kailla kembali.


"Aku ingin bisa menjagamu dan anak-anak kita di sisa hidupku, Sayang."


Kurang lebih sebulan sudah, dia tidak merasakan semua ini dan dia sangat merindukannya. Ya, Pram merindukan semua hal tentang Kailla.


***


Dari kantor, Pram membawa Kailla menemui Ibu Citra. Dengan disopiri Sam, keduanya sampai ke rumah Ibu Citra.


Saat pintu mobil terbuka, Kailla sudah menghambur masuk ke dalam rumah. Berlari dengan dress baby doll brokat yang baru saja kemarin dibelikan suaminya. Perutnya sudah membesar, tidak ada bajunya yang muat untuk dipakai.


“Kai, jangan berlari!” Pram mengingatkan.


Namun Kailla tidak peduli. Tetap berlari masuk mencari sosok mertua yang belakangan berubah baik padanya. Sangat baik tepatnya.


"Mama.." Kailla menyapa sembari berteriak nyaring sejak masuk dari pintu rumah. Memeluk erat mama mertua yang sedang duduk sembari menonton televisi.

__ADS_1


"Kailla?" Ibu Citra tidak kalah bahagianya. Apalagi saat mendapati perut Kaillla yang kian membesar.


"Sayang, biarkan mama mengusap cucu-cucu mama. Mereka rewel selama ini?" tanya Ibu Citra.


"Tidak Ma." Pram yang menjawab. Lelaki itu baru saja masuk ke dalam rumah.


"Anak-anakku itu sama seperti mommynya. Persis, Ma. Rewelnya kalau sedang bersama dengan daddynya saja. Kalau jauh, mereka jadi anak-anak baik semua, termasuk mommynya," cerita Pram.


Mendengar pernyataan Pram, ibu Citra tersenyum.


"Kalau bukan menyusahkanmu, suaminya, lalu kamu mau meminta istrimu menyusahkan laki-laki lain?" tanya Ibu Citra kembali tersenyum.


“Enak saja!” gerutu Pram.


Kehangatan seperti ini sudah lama tidak dirasakan Ibu Citra, apalagi tawa bahagia yang sekarang menghiasi wajah putranya.


"Kai, mama bisa bicara?" tanya Ibu Citra setelah melepaskan pelukannya.


"Iya Ma, ada apa?" tanya Kailla, mengerutkan dahinya.


"Kita bicara di kamar," ajak Ibu Citra, menggandeng menantunya masuk ke dalam kamar tidurnya.


"Pram mama pinjam Kailla sebentar. Kamu bisa memesan kopi pada Kinar, selama menunggu kami," pinta Ibu Citra tanpa menunggu jawaban putranya.


***


Mertua dan menantu itu duduk bersisian di tepi tempat tidur. Dengan tangan mengenggam erat jemari tangan Kailla, Ibu Citra berkata.


"Kai, jangan meninggalkan Pram lagi. Dia sangat mencintaimu," ucapnya pelan.


"Kamu tahu seberapa beratnya hari-hari yang dilewati Pram selama sebulan ini. Tidak ada sehari pun, dimana dia tidak menangis diam-diam. Mama tahu semuanya, meskipun dia bersembunyi dari dunia," lanjut Ibu Citra.


"Cintanya terlalu besar dibandingkan dendamnya. Bahkan jauh-jauh hari, dia sudah memohon padaku untuk tidak memupuk dendam padamu dan daddymu," ucap Ibu Citra dengan mata berkaca-kaca.


Bulir air mata itu luruh, lolos menetes tidak tertahan. Wanita tua itu menangis. Mungkin berat, tetapi dia harus melakukannya. Sebulan ini dia melihat sendiri betapa hancurnya hidup Pram.


Sebagai seorang ibu, tidak ada kesakitan yang tidak bisa ditanggungnya, tetapi ketika melihat anaknya hancur, disitulah titik dimana seorang ibu juga akan hancur. Seorang ibu akan sakit melihat putranya sakit. Dan dia tidak ingin mengalaminya lagi. Kalau dengan melupakan dendamnya pada Riadi, akan membuat Kailla mempercayai Pram kembali, dia akan ikhlas melakukannya.


"Mungkin berat, tetapi ... mama akan coba melupakan semua masa lalu. Mama akan mencoba untuk memaafkan kesalahan Riadi demi Pram. Tolong jangan pernah meninggalkan Pram lagi," ucap Ibu Citra terbata. Suaranya tercekat seiring dengan air mata yang mengucur kian deras.


"Besok temani mama menemui daddymu di rumah sakit," pinta Ibu Citra, tersenyum tulus pada Kailla.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2