
Tidak lama setelah kepergian Pram dari rumah, lelaki itu mengirim pesan singkat di ponsel Kailla.
“Kai, maaf aku tidak bisa menemuimu nanti malam. Ada sedikit masalah dengan pekerjaanku. Nanti, aku akan menghubungimu lagi.”
Kailla mengerutkan dahi, mencerna kata demi kata. Memaknai kalimat yang tersirat dalam untaian kata yang tersurat. Kebingungannya semakin terasa nyata, saat mencoba menghubungi nomor ponsel Pram yang lagi-lagi tidak tersambung dan berakhir dengan pesan suara.
Masih menunggu dengan penuh harap sampai malam menjemput, tetapi asa itu tidak menjadi nyata. Bahkan Kailla menunggu sepanjang malam dalam kebimbangan, menangis dalam kekhawatiran saat lagi-lagi tidak dapat menghubungi nomor ponsel Pram.
Suaminya itu bak hilang di telan bumi. Tidak ada satu pun pesannya yang sampai ke tujuan, tidak ada satu pun panggilannya yang berakhir dengan nada dering. Semua usaha dan airmatanya terasa sia-sia. Penantiannya mengarungi malam hanya percuma.
Sepanjang malam hanya bisa memeluk guling, berurai air mata dalam ketidakpastian. Mendekap dingin, berteman tangisan sampai pagi menjelang.
***
Pagi itu, masih gelap gulita. Kailla dengan wajah sembab dan kurang tidurnya, bergegas keluar kamar masih dengan piyama tidurnya. Berteriak menjerit dengan tidak sabarnya, memanggil salah satu asistennya. Siapa saja, dia membutuhkan mereka untuk mengantarnya menuju ke apartemen. Yup! Apartemen suaminya.
Lima menit, muncul Bayu dengan wajah cerahnya, bersama secangkir kopi hitam mengepul di tangan.
“Iya Non,” sahut Bayu yang sudah rapi, bersih, harum semerbak dan mewangi.
“Bay, antarkan aku ke apartemen Pak Pram,” perintah Kailla, tanpa menunggu beranjak keluar menuju mobilnya yang terparkir rapi di halaman rumah.
Bayu tentu saja heran, Kailla masih dengan tampilan tidak layak tayangnya sudah berlari keluar rumah. Piyama satin berwarna pink pucat, lengkap dengan sandal bulu dan rambut dicepol asal. Beberapa helai rambut terlihat membandel dan memberontak turun dari ikatannya.
“Tidak salah Non?” Bayu memastikan kembali, setelah melihat Kailla duduk di kursi belakang mobil dengan nyamannya. Mengabaikan penampilan asal-asalannya. Bayu yakin, kalau Pram tahu akan seperti apa mengomelnya lelaki itu saat istrinya keluar hanya dengan piyama tidur pendek dan tipis.
“Suamiku hilang sejak kemarin. Nomor ponselnya tidak bisa dihubungi. Aku sudah mencoba menghubungi David semalaman, tetapi tidak diangkat,” keluh Kailla, tangannya saling meremas. Panik dan khawatir tampak jelas di wajah bantalnya.
“Bagaimana bisa, Non?” tanya Bayu, heran.
“Sudah Bay. Jangan banyak bertanya! Cukup antarkan aku ke apartemen Pak Pram,” seru Kailla. Banyak pertanyaan dan rasa mengumpul sekaligus menyesak di dadanya. Dia butuh kejelasan dan tidak bisa ditunda lagi.
Sepanjang perjalanan, tampak Kailla berusaha menenangkan diri. Memejamkan matanya untuk mengganti tidurnya yang terlewatkan semalam.
Namun, sia-sia. Mata, tubuh dan otaknya tidak bisa di ajak bekerja sama. Semuanya memberontak, membuatnya terjaga. Matanya tidak mau terpejam, tubuhnya tidak mau beristiharat, otaknya tidak mau berhenti berpikir. Semua bersatu, membuatnya menggila dalam keputusasaan dan pikiran buruk.
“Bay, apa dia baik-baik saja,” ucap Kailla, sesaat setelah mobil yang dikendarai Bayu berhenti di parkiran basement.
“Dicek saja Non,” saran Bayu, tidak tahu harus menjawab apa.
Sampai di depan pintu apartemen, Kailla semakin panik. Saat menggedor pintu, menekan bel berulang kali, tidak kunjung mendapat jawaban.
Meneriakan nama suaminya seperti orang gila di depan pintu, sampai salah satu tetangga apartemen bersuara.
“Maaf Nona, sepertinya kosong. Kemarin sore sempat melihat pemiliknya menyeret koper dan memesan taksi di lobi,” jelasnya.
“Coba tanya ke bagian resepsionis,” sarannya lagi.
Kaila kembali turun ke lobi, menanyakan pada resepsionis yang berjaga di depan. Lagi-lagi dia harus gigit jari, tidak ada informasi apapun yang bisa didapatkannya.
Berlari panik menuju mobil dengan Bayu yang mengekor di belakangnya.
“Bay, kita ke kantor!” perintah Kailla, mulai menangis.
Sejak tadi, berusaha menahan air mata supaya tidak terjatuh, tetapi begitu duduk di dalam mobil pertahanan Kailla runtuh. Menangis tersedu sembari menutup wajahnya.
“Non, sudah. Kita pulang ke rumah dulu. Setelah mandi dan sarapan, baru kita lanjut ke kantor,” saran Bayu. Hatinya ikut teriris saat mendengar suara tangis Kailla yang begitu memilukan.
Kailla tidak menjawab, tetapi dia tidak menolak saran Bayu. Hanya duduk diam, sesekali terisak.
Saat mobil sampai di rumah, dia berlari menuju ke kamarnya. Tanpa mandi, tidak juga membersihkan diri. Bergegas menuju walk in closet, mencari pakaian ganti. Tidak membutuhkan waktu lama, Kailla sudah turun dengan dress sederhana, membuat Ibu Ida dan Ibu Sari terkejut.
“Non, mau kemana?” tanya Ibu Sari, masih sibuk menyiapkan sarapan bersama dengan Ibu Ida.
“Aku mau kantor, Bu, mencari suamiku,” jelas Kailla.
Keduanya terkejut dengan penampilan Kailla. Tanpa make up, dengan wajah berantakan karena kebanyakan menangis dan kusut karena kurang tidur.
“Sarapan dulu ya, Non,” tawar Ibu Ida, mulai khawatir.
“Tidak, aku harus berangkat sekarang,” tolak Kailla. Dia tidak merasa lapar sama sekali. Kehilangan Pram membuat perutnya kenyang seketika.
Kedua asisten itu berpandangan. Mulai khawatir dengan majikannya yang terlihat kacau dan tidak baik-baik saja.
Tanpa menunggu jawaban, Kailla sudah berlari keluar, mencari salah satu asisten yang bisa dimintainya untuk mengantar ke kantor.
“Siap Non!” sahut Sam. Asisten kesayangan Kailla itu baru saja selesai bersiap, mengambil alih tugas Bayu yang sebelum ini mengantar Kailla ke apartemen.
“Kita ke kantor, Sam,” perintah Kailla, tidak sabar.
__ADS_1
Sam menurut tanpa banyak bertanya, memacu mobilnya menerobos jalanan ibukota yang tersendat di beberapa titik. Maklum saja, saat ini jam-jamnya semua orang mulai beraktivitas.
Sampai di kantor, mobil alfard hitam itu belum berhenti sempurna saat Kailla meloncat turun dengan tidak sabarnya. Berlari menuju lift yang akan mengantarnya ke ruangan Presdir, mengabaikan sapaan beberapa karyawan kantor.
Kembali Kailla harus menelan kecewanya. Saat ruangan presdir yang biasa dihuni suaminya itu kosong melompong tak berpenghuni.
Dengan nafas naik turun karena berlari, Kailla masuk dan duduk di kursi kebesaran suaminya yang kosong dan dingin. Tidak ada jejak-jejak Pram yang tersisa disana.
Air matanya terjatuh saat melihat beberapa foto mereka yang di pajang suaminya di atas lemari kecil tidak jauh dari meja kerja.
Termenung dengan berurai air mata, merangkai kembali kisah demi kisah perjalanan rumah tangganya selama empat tahun ini. Entah berapa lama dia tertegun disana, hingga bunyi pintu terbuka dan muncul Stella dari balik pintu.
“Oh Nyonya, maaf saya tidak tahu,” ucapnya pelan, terkejut dengan kehadiran Kailla. Dia baru saja tiba di kantor.
“Ste, Pak Pram di mana?” tanya Kailla, ragu-ragu. Terpaksa menahan malunya demi mengetahui keberadaan sang suami yang tiba-tiba menghilang.
Stella yang ganti terkejut. Pertanyaan Nyonya Presdirnya terdengar aneh. Seorang istri menanyakan keberadaan suaminya sendiri.
“Pak Pram sejak kemarin sore sudah tidak Jakarta. Pastinya, aku kurang jelas juga, Nyonya. Aku dapat info kalau Pak Pieter kecelakaan parah. Dan kantor di sana tidak ada yang mengurus,” jelas Stella.
Deg—
Ada rasa yang hilang, begitu mendengar Pram yang begitu tega meninggalkannya sendirian di sini. Sebelum ini, Pram tidak pernah meninggalkannya sedetik pun. Dimana pun Pram berada, lelaki itu akan membawa serta Kailla bersamanya.
Pram berubah. Dalam dua hari ini, lenyap sudah suami yang begitu menyayanginya. Lenyap sudah suami yang selalu menjadikannya prioritas. Tidak ada lagi Pram yang begitu mengutamakan kepentingannya, kenyamanannya, dan kebahagiaannya di atas segalanya. Tidak ada lagi suami yang mengila saat tidak menemukannya, berganti Pram yang tega meninggalkannya.
Bahkan, Pram tidak mengabarinya dengan jelas tentang kepergiannya. Tidak mau berbagi kisah lagi dengannya seperti dulu.
Dengan langkah gontai, Kailla keluar dari ruangan Pram tanpa bicara, tanpa berpamitan dengan Stella. Setengah dari dirinya hilang, bersama dengan lenyapnya sosok Pram yang dulu.
Sam yang baru saja akan menyusul, heran melihat majikannya keluar dari lift, berjalan tanpa ekspresi. Seperti raga tanpa jiwa. Kailla melangkah dengan tatapan kosong dan pikiran menerawang tanpa jelas.
“Sam, kita pulang,” pinta Kailla datar, tanpa melihat ke arah asistennya.
***
Sampai malam tiba keadaan tetap sama, akhirnya memaksa Ibu Sari naik membawa nampan berisi makan malam. Mengetuk pintu kamar itu beberapa kali, sampai akhirnya memberanikan diri masuk.
Mendorong pintu kamar perlahan, mengintip isi di dalamnya. Hatinya terenyuh melihat Kailla yang berbaring di atas tempat tidur sembari memeluk guling dengan berurai air mata.
Melangkah pelan, Ibu Sari meletakan nampan ke atas nakas kemudian duduk di sisi tempat tidur.
“Non, Ibu bawakan makan malam,” bisik Ibu Sari pelan, mengusap rambut panjang Kailla yang tergerai berantakan di atas tempat tidur. Bahkan Kailla tidak berganti pakaian, masih mengenakan gaun yang sama dengan tadi pagi saat menyusul suaminya.
“Aku tidak lapar, Bu,” lirih Kailla. Menarik habis cairan yang memenuhi rongga hidungnya.
“Makan sedikit saja,” bujuk Ibu Sari.
Sebuah gelengan tanpa suara, Kailla beralih menatap asisten rumah tangga yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.
“Suamiku pergi, Bu..,” bisik Kailla, kembali air mata itu turun membasahi guling yang dipeluknya.
“Iya, nanti Pak Pram pasti pulang,” hibur Ibu Sari. Tidak tahu berkata apa untuk menenangkan hati Kailla.
“Malam ini temani aku tidur, Bu,” pinta Kailla lagi dengan suara serak karena kebanyakan menangis. Matanya bengkak dengan hidung memerah. Menangis seharian, membuat kepalanya pusing.
“Iya, Ibu tidur disini,” sahut Ibu Sari, tersenyum dengan lembutnya. Lagi-lagi mengusap lembut rambut Kailla.
Kailla masih menikmati kesedihannya, sesekali terdengar isak tangisnya yang enggan berhenti.
“Aku hanya memilikinya, Bu, tetapi sekarang dia ikutan pergi meninggalkanku,” keluh Kailla.
“Ibu tahu, hanya dia yang tidak pernah memarahiku. Senakal apapun aku dulu, dia akan tersenyum dan memelukku.”
“Bahkan kalau daddy memarahi dan memukulku, dia akan membelaku dan pasang badan untukku, dia akan menyelamatkanku dari kemarahan daddy,” cerita Kailla lagi.
“Iya Non,” sahut Ibu Sari.
“Setiap aku merindukan daddy, selalu dia yang datang menemaniku. Ketika aku menangis, hanya dia yang memeluk dan mengusap punggungku sampai tertidur.”
“Bu, sekarang dia membuangku. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi,” isak Kailla semakin kencang.
__ADS_1
“Sudah Non, nanti Pak Pram pasti pulang,” hibur Ibu Sari.
Kembali Kailla menggeleng. “Suamiku sudah pergi, Om ku juga pergi. Keduanya pergi, Bu.”
“Ibu tahu, daddy paling menurut padanya. Setiap aku meminta sesuatu, dia akan membantuku membujuk daddy.”
Kailla terdiam, mengingat kenangan demi kenangan yang dilewatinya bersama Pram. Satu peristiwa yang tidak pernah akan dilupakannya seumur hidup, saat daddy memukulnya untuk pertama kali dan Pram menjadi dewa penyelamatnya. Sejak saat itu Kailla menjadikan Pram tempatnya berlindung.
Flashback On.
Kailla masih berumur tujuh atau delapan tahun saat itu, sedang nakal dan sulit diatur. Ada satu masa dimana Kailla tidak pernah bertemu daddy selama hampir seminggu. Setiap kali menghubungi daddy, selalu diterima oleh Pram. Setiap kalau merengek ingin bertemu daddy, selalu Pram yang datang menemuinya.
Sampai akhirnya, Kailla kesal sendiri. Mengamuk dengan para asisten di rumah, merusak semua mainannya, bahkan menghancurkan beberapa perabotan rumah. Berharap daddy akan pulang dan marah padanya, tetapi rencananya gagal total. Daddy tidak peduli, hanya mengirim Pram untuk menenangkannya.
Akalnya tidak sampai disitu. Dia menyelinap masuk ke ruang kerja sang daddy, merobek berkas-berkas yang ada di atas meja. Berharap dengan begitu, daddy akan murka dan segera pulang ke rumah.
Namun, rencananya meleset. Begitu meminta asisten di rumah menghubungi daddy, yang datang bukan daddy, lagi-lagi Pram. Lelaki itu masuk ke dalam rumah dengan tersenyum menatap Kailla.
“Kamu nakal lagi,” ucap Pram, berjongkok. Mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Kailla yang setinggi pinggangnya.
Kailla menggeleng.
“Daddy sedang sibuk, jangan membuat ulah lagi,” bisik Pram, sembari menggendong tubuh Kailla kecil.
“Aku mau daddy, tidak mau Om,” sahut Kailla, memeluk leher Pram dengan erat.
“Nanti Om akan mengajakmu bertemu daddy, tetapi sekarang daddy sedang sibuk. Daddy sedang mencari uang untuk membeli permen lolipop yang banyak,” bujuk Pram.
Kailla kecil mengangguk. Tersenyum bahagia, saat sebuah lolipop keluar dari kantong celana Pram.
Namun, kenakalan Kailla tidak berhenti sampai disana. Dua hari kemudian dia berulah kembali, mengendap masuk ke kamar daddy, dan menghancurkan jam rolex kesayangan Riadi yang tidak sengaja diletakannya di atas nakas.
Setelah menghancurkannya, dia meminta asistennya menghubungi daddynya supaya pulang untuk memarahinya. Akan tetapi, lagi-lagi Pram yang datang, dan mengurus semuanya.
“Anak nakal!” ucap Pram, kembali menggendong Kailla seperti bisa. Entah apa yang akan disampaikan Pram pada sang daddu, yang jelas Riadi tidak pernah marah untuk setiap kenakalan demi kenakalannya selama ini
“Kalau ingin bertemu daddy tidak perlu seperti ini. Daddy sedang sibuk, nanti daddy akan menemuimu,” jelas Pram.
Puncaknya, Kailla mencuri keluar dari rumah. Memanjat pohon mangga di dekat komplek perumahannya. Kali ini dia bersikeras harus bisa menemui daddy. Warga panik, saat ada seorang anak kecil memanjat pohon mangga yang begitu tinggi. Entah bagaimana cara Kailla melakukannya.
Sampai akhirnya Pak RT turun tangan, membujuk Kailla kecil untuk turun. Namun, Kailla tetaplah Kailla. Dia hanya mau turun saat daddy yang membujuknya. Dengan berat hati, Pak RT menghubungi Riadi, dan sesuai dengan rencananya, daddy datang menemuinya di bawah pohon mangga, sambil menahan emosi.
Perasaan Kailla benar-benar bahagia, bahkan saat daddy menyeretnya pulang sambil marah-marah terdengar begitu indah. Sampai di rumah, Riadi mengamuk pada semua asisten rumah, termasuk pada Kailla kecil.
Dengan sebuah ikat pinggang, Riadi memukul Kailla. Tiga kali pukulan, Kailla diam di tempat. Menerima tanpa perlawanan, tidak menangis, tidak juga meringis kesakitan. Kailla menerima pukulan dengan tatapan menantang.
Saat Riadi akan melayangkan pukulan keempatnya, disitulah Pram pasang badan dan memeluk Kailla dengan erat. Pram menjadi dewa penolongnya seperti biasa.
“Presdir, izinkan Kailla tinggal bersamaku beberapa hari,” pinta Pram, sembari menggendong Kailla.
Hari itu, pertama kalinya, Kailla menginap di tempat Pram, tidur bersama Pram. Kejadian itu terus berlanjut sampai Kailla mulai beranjak dewasa. Setiap kali daddy tugas keluar kota, Kailla akan dititipkan dengan Pram.
Hingga Kailla mulai mengerti dan menolak untuk tidur bersama, menolak untuk digendong Pram. Menolak Pram yang mengusap punggungnya sampai tertidur.
Sejak saat itu, Kailla mulai tidur terpisah saat menginap di apartemen Pram.
Flashback off.
***
Hampir tiga minggu berlalu, tidak ada kabar dari Pram sama sekali. Lelaki itu lenyap begitu saja, tidak menanyakan kabarnya, tidak menghubunginya.
Setiap hari, Kailla menunggu suaminya pulang, tetapi sia-sia. Jangankan Pram, bayangan seorang Pram pun tidak ada. Rasa kehilangan itu terasa begitu besar. Dia menyadari arti seorang Pram begitu besar untuk hidupnya. Bukan hanya untuknya, tetapi juga untuk daddy dan almarhumah mamanya.
Siang itu seperti biasa, hari-harinya selama tiga minggu ini habis untuk menunggu suaminya kembali. Menghabiskan waktunya sepanjang hari di dalam kamar, tidak mau keluar menemui siapa pun.
Ketukan pelan di pintu kamar, mengalihkan perhatiannya. Tidak lama, terlihat Ibu Ida muncul dengan sebuah amplop coklat dan menyerahkan kepada Kailla.
Deg—
Mata indah itu langsung menganak sungai dengan jantung berdegup kencang begitu melihat nama si pengirim.
“Dari pengadilan, Bu,” sahut Kailla melemas.
***
To be continued
Love You all
__ADS_1
Terima kasih.
Note : Pram pemegang visa Schengen untuk durasi 5 tahun, jadi bisa lebih mudah masuk ke negara-negara eropa.