
Sam diam di belakang setir, mencari aman. Bukannya dia tidak tahu, kalau Pram sedang dalam keadaan tidak baik. Majikannya sedang cemburu dengan caranya sendiri. Sebagai bentuk protes pada istri yang tidak pernah peka padanya.
“Aku kira laki-laki ini tidak punya perasaan. Ternyata sabarnya sudah hampir melewati limit,” batin Sam.
Suara di dalam mobil lebih banyak didominasi Kailla, Pram hanya sesekali terdengar itu pun hanya sepatah-sepatah. Terkadang hanya gumaman tidak jelas dan tanpa arti.
“Sayang, bagaimana kamu bisa sampai kesini?” tanya Kailla. Sejak tadi dia terlalu senang melihat Pram, sampai lupa bertanya hal yang paling penting. Jemari lentiknya sedang menyusuri lekuk wajah sang suami. Sesekali mengusap kelopak mata terpejam milik Pram.
“Hmmmm.” Guman untuk kesekian kalinya, membuat Kailla bosan mendengarnya. Bukan jawaban, hanya suara tidaak jelas dan tidak menjawab keingintahuannya.
“Kamu kenapa?” tanya Kailla, mengecup bibir terkatup itu sekilas.
Tidak ada respon seperti biasa, Pram hanya membuka mata. Memandang wajah Kailla yang hanya terpaut beberapa senti dari wajahnya.
Kecupan kedua mendarat kembali, dengan harapan akan direspon lebih hangat dari si pemilik bibir. Hasilnya sama, Pram malah memejamkan mata kembali. Tidak ada dekapan hangat atau pelukan erat.
“Huh!” Kailla menyerah, mendengus kesal seperti biasa.
Memilih menatap pemandangan di luar jendela. Setidaknya bisa mengalihkan kekesalan pada sikap diam suaminya.
Hilir mudik kendaraan berlomba saling melewati terlihat jelas dari kaca jendela. Kailla mulai menghitung satu per satu kendaraan yang lewat. Sesekali terpana dengan beberapa penjaja makanan aneh yang belum pernah dirasai lidahnya.
Kalau hanya berdua dengan Sam, pasti dia sudah berteriak meminta asistennya menepi dan mencoba satu demi satu jajanan yang baru pertama kali dilihat bentuknya itu. Tapi tidak berlaku saat bersama suaminya. Dia teringat kembali dengan combro titipan Ibu Dion, Kailla segera membuka dan melahapnya.
“Sayang, mau?” tawarnya pada Pram.
Laki-laki itu, jangankan menjawab, membuka mata pun tidak. Seolah tidak mendengar. Membutakan mata, menulikan telinga, sengaja tidak mau beramah-tamah. Berharap sang istri peka, namun harapan dan penantiannya sia-sia.
Kailla tetaplah Kailla, tidak akan peduli dengan sesuatu yang menurut kacamatanya tidak apa-apa. Toh, dia merasa tidak ada yang salah. Hubungannya dengan Dion hanya sebatas teman lama, kedatangannya memenuhi undangan juga lebih kepada menemui sang Ibu, yang dulu sudah begitu baik padanya.
“Non, Pak Pram itu sedang cemburu,” bisik Sam pelan dari belakang setir. Terlalu kesal dengan kedua majikan di belakangnya. Yang satu mencari perhatian dengan diam, berharap si istri peka. Tapi satunya malah menolak untuk mencari tahu, seolah tidak paham maunya sang suami.
Kedua penumpang di belakang bisa mendengar jelas, baik Kailla atau pun Pram yang pura-pura tidur.
Otak Kailla sedang mencerna, kalimat Sam yang menurutnya aneh.
__ADS_1
“Sayang, kamu cemburu?” tanya Kailla, masih sibuk menghabiskan combro di dalam mulutnya. Mendekati Pram yang masih betah berdiam diri.
“Jangan bilang kamu cemburu hanya karena aku memeluk Ibu Dion,” ucap Kailla langsung memukul kencang lengan Pram.
Plakkk!!
Pukulan kencang, Pram membuka mata di tengah keterkejutannya.
“Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku juga akan melakukan hal yang sama kalau Mama Citra memperlakukanku dengan baik,” lanjut Kailla lagi.
“Nyonya majikanmu memang luar biasa, Sam,” ucap Pram. Kembali memejamkan matanya.
Pram benar-benar menutup mulutnya sepanjang perjalanan, bahkan saat tiba di kantor pun dia tetap sama. Turun dari mobil sendirian, tidak seperti biasanya menggandeng mesra tangan istrinya. Belum lagi saat masuk ke dalam gedung, dia sudah jalan mendahului. Meninggalkan Kailla dan Sam yang mengekor di belakangnya.
“Sam, Tuanmu salah makan?” tanya Kailla heran, menatap punggung kekar suaminya yang sebentar lagi masuk ke dalam pintu lift.
“Dia cemburu Non. C E M B U R U!“ Sam mengeja, berharap Kailla mengerti maksudnya.
Kailla mengerutkan dahinya, belum paham arti cemburu yang dimaksud asistennya.
Menghadapi sikap cuek dan tidak mau pusing Kailla, akan semakin membuat naik darah. Kalau dia yang menjadi suaminya, mungkin istri yang seperti ini sudah disumbangkan kepada yang membutuhkan.
“Oh ya, dulu hampir tiap hari aku bertemu dengan Dion. Bahkan tidak jarang kita jalan ke mall, makan atau sekedar nonton di bioskop. Pak Pram-mu biasa-biasa saja. Tidak ada cemburunya,” sahut Kailla tidak terima.
“Dulu mungkin belum jadi istrinya,” jawab Sam.
“Bukannya harusnya dulu lebih cemburu kalau belum jadi istrinya. Sewaktu-waktu bisa saja aku berpaling darinya. Lah, sekarang sudah jadi istrinya, apa yang ditakutkan,” celetuk Kailla.
“Mungkin semakin tua, kepercayaan dirinya menurun, Non. Apalagi semakin berkaca, semakin banyak kerutan di wajahnya. Semakin menghitung hari, dia semakin sadar diri umurnya sudah tidak muda lagi,” jelas Sam.
“Ah, pusing. Berarti masalah ada di dirinya Sam, bukan padaku. Aku ke atas dulu,” ucap Kailla dengas cueknya, melangkah masuk ke dalam lift, yang mengantar ke ruang kerja suaminya.
Sampai di dalam ruangan, Kailla melihat Pram sedang membereskan berkas-berkas. Sepertinya laki-laki itu hendak keluar.
“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Kailla.
__ADS_1
“Aku masih ada rapat sebentar lagi. Kamu pulang saja,” usir Pram. Berjalan mendekat. Dengan satu tangan dimasukan ke saku celana, menatap istrinya yang berdiri kaku.
Kailla lumayan terkejut, mendapat perlakuan yang tidak biasa dari suaminya.
“Aku salah apa?” tanya Kailla, memainkan retsleting tasnya untuk menghilangkan kecanggungan. Tatapan Pram sulit dilukiskan dengan kata-kata. Binar mata itu tidak memancarkan kemarahan, tapi tatapannya tidaklah hangat dan penuh cinta seperti biasa,
“Aku masih ada rapat diluar Kai, kamu bisa pulang sekarang dengan Sam,” ucap Pram, memandang istrinya yang mulai merasa tidak nyaman. Kailla sedang membuka tutup tasnya.
Sebenarnya ada rasa bersalah jauh di dalam hati Pram. Tapi sesekali dia merasa perlu memberi pelajaran pada istrinya. Supaya lebih sensitif dan mengerti dengan perasaannya. Apalagi Kailla jelas-jelas pergi tanpa izin darinya, hanya sekedar memberi kabar
“Sayang, kamu tidak makan siang?” tanya Kailla terkejut, menatap bekal yang disiapkan masih utuh. Biasanya kalau Pram sudah menghabiskannya, pasti sudah di bawah turun karyawan pantry.
“Aku masih kenyang.” Pram menjawab singkat. Pandangannya juga tertuju pada kotak bekal yang masih tergeletak di sisi meja, utuh tanpa tersentuh. Masih di tempat yang sama, tidak bergeser sedikit pun.
“Sayang, aku berangkat sekarang. Kalau tidak, aku akan terlambat menghadiri rapat,” pamit Pram, mengecup kening Kailla sekilas.
“Oh ya, aku akan mengunjungi mama setelah pulang kantor. Tidak perlu menungguku untuk makan malam,” lanjut Pram, meninggalkan ruangan.
Kailla membeku di tempatnya berdiri. Tidak bisa berkata-kata lagi. Suaminya benar-benar seperti bukan suaminya saja. Tidak memeluknya seperti biasa, menciumnya pun hanya asal-asalan. Meninggalkannya dengan sepatah dua patah kata tanpa makna.
“Apa-apan ini?” keluh Kailla kesal, berbalik menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu.
***
To be continued
Love you all
__ADS_1
Mohon like dan komennya dong