
“Kamu siapa?” tanya orang itu pada Kailla. Di tengah keremangan pagi semuanya tidak terlihat begitu jelas. Hanya mengandalkan lampu jalan yang menguning, tidak bisa mengenali siapa tamu yang berani meloncat pagar rumah mewah Riadi Dirgantara.
Maling kesiangan atau tetangga yang salah masuk rumah.
“Sssttt! Aku Kailla Pak,” sahutnya pada lelaki tua bersarung lengkap kopiah yang tidak lain adalah bapaknya Sam. Sepertinya lelaki itu bersiap untuk sholat subuh di mesjid komplek perumahan.
“Non Kailla?” tanyanya memastikan. Gelapnya suasana subuh, membuat laki-laki tua itu tidak mengenali.
“Ayo, ikut ke dalam,” ajak Bapak Sam, membawa Kailla menemui istrinya di rumah belakang.
Kailla terlihat mengendap-endap, menghindari sorotan kamera cctv. Tidak mau aksinya tertangkap dan akhirnya Pram mengetahui keberadaannya. Sebisa mungkin, dia harus menghindari suaminya itu. Tidak mau aksi balas dendam Pram berjalan mulus. Kailla benar-benar tidak menyangka, dibalik sikap penyabar dan penuh cinta Pram, tetapi menyimpan dendam yang begitu membara.
Wajar saja kalau dipikir kembali. Perbuatan daddy bisa dikategorikan biadab, memusnahkan satu keluarga, hanya demi harta. Kalau ditelaah kembali, tentu akan sulit sekali untuk Pram dan mamanya memberi maaf. Selama ini hanya dia yang terlalu bodoh, bisa dibohongi Pram begitu saja. Pantas saja, lelaki itu tega menceraikannya.
Begitu masuk di rumah kecil yang dibangun di belakang rumah utama, Ibu Sam terkejut begitu mengetahui keberadaan Kailla yang tiba-tiba.
“Bu, tolong jangan katakan pada siapa pun kalau aku disini,” cicit Kailla berbisik pelan, seolah takut suaranya akan terdengar.
“Aku mohon,” pinta Kailla menangkupkan kedua tangannya di dada.
“Apa yang terjadi Non?” tanya Ibu Sam, yang sedang menyiapkan sarapan. Dia tahu jelas sejak kemarin Pram mencari istrinya. Dan sekarang dia dalam posisi sulit.
“Aku.. aku... “ Kailla terlihat ragu, menatap bapak Sam.
Bapak Sam mengerti arti tatapan Kailla, lelaki tua itu kemudian berpamitan, membiarkan Kailla dan istrinya saling berbagi kisah.
“Hamil berapa bulan, Non?” tanya Ibu Sam pada Kailla yang mengenakan kaos sederhana, tetapi bagian perutnya tampak mencuat. Wanita tua itu memilih mengalihkan pembicaraan.
“Dua bulan lebih, Bu.” Kailla menjawab singkat. Mengingat kembali ayah bayi-bayinya yang sudah begitu tega. Rasanya ingin menangis tetapi berusaha ditahannya.
“Bu, jangan katakan pada siapa pun kalau aku disini. Aku mohon,” pinta Kailla.
Wanita tua itu mengangguk. Tidak bisa melakukan apa pun untuk saat ini, kecuali menerima Kailla di tempatnya.
“Ibu memasak apa?” tanya Kailla, melihat Ibu Sam yang sibuk membersihkan sayuran hijau.
“Sayur bening, Non.”
__ADS_1
“Aku bantu,” ucap Kailla, ikut meraih setangkai bayam hijau dan belajar memetiknya untuk pertama kali.
***
Pram masih berkutat dengan setumpuk pekerjaan di atas mejanya, melewati jam makan siang, saat ponsel di mejanya kembali berdering. Berulang kali sejak tadi. Sebelumnya, Bayu dan orang-orangnya yang mengabarinya kalau Kailla belum ditemukan. Hampir putus asa, memikirkan kondisi Kailla yang tanpa uang di tangan, sendirian tanpa pengawalan, ditambah lagi istrinya itu saat ini sedang hamil.
“Iya Ma,” sapa Pram, saat menyadari mamanya kembali menghubunginya.
“Pram, kamu belum makan siang?” tanya Ibu Citra.
“Belum.”
“Kinar sudah hampir sejam menunggumu di lobi. Dia tidak berani naik ke atas, tidak berani menghubungimu. Tolong kirimkan siapa pun untuk mengambil makan siangmu di tempatnya,” pinta Ibu Citra.
“Tunggu sebentar. Aku akan meminta Ste mengambilnya.”
“Kamu harus menghabiskannya. Mama bersusah payah memasaknya dengan dibantu Kinar. Kamu tahu sendiri kan, mama tidak mahir memasak,” ucap Ibu Citra, berterus terang.
“Jangan sampai tidak dimakan. Kamu harus sehat, baru bisa mencari istrimu,” ucap Ibu Citra memberi semangat pada putranya yang hampir gila.
Hanya dia yang tahu bagaimana Pram melewati beberapa hari ini tanpa Kailla. Hanya dia yang tahu jelas, bagaimana perasaan Pram saat ini. Seberapa hancur putranya itu ditinggal pergi sang istri.
Miris, sebagai ibu kandung Pram tentu tidak tega dipaksa menyaksikan luka menganga putranya. Dia bisa melakukan apapun untuk Pram. Bahkan jika harus melupakan dendamnya pada Riadi. Dia dihadapkan pada kenyataan, seberapa besar cinta Pram pada sang istri. Cinta tanpa batas, cinta tanpa syarat.
Pram tidak menanggapi ucapan ibunya, memilih memutuskan sambungan ponselnya dan memerintahkan Stella untuk mengambil makan siangnya di lobi bawah. Menghabiskannya tanpa merasakan lagi enak atau tidak enaknya.
Bagi Pram saat ini, tidak ada yang lebih dirindukannya, selain telur dadar kecap manis buatan Kailla. Makanan itu yang ternikmat di dunia, karena Kailla yang membuatkan untuknya. Kenikmatannya tidak bisa dibandingkan dengan makanan apapun. Karena Kailla membuatnya dengan sepenuh hati.
Lebay jika diceritakan, tetapi kenyataannya seperti itu. Istrinya putri orang berada. Wajar saja kalau tidak pernah menyentuh dapur dan memasak. Tidak bisa dibandingkan dengan orang biasa. Tidak adil membandingkan Kailla dengan istri-istri lainnya di luar sana.
Setelah menghabiskan makanan di kotak bekal, kembali Pram meminta Stella mengirimkannya pada Kinar di lobi sesuai instruksi sang mama.
***
Pram menghabiskan waktunya sepanjang malam di kantor. Kalau lelaki lain lebih suka melupakan kesedihannya dengan minuman, Pram memilih melupakan masalahnya dengan menyibukan diri dengan pekerjaan.
Dia baru keluar dari gedung RD Group saat waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Tidak ada karyawan yang tertinggal lagi, selain petugas jaga alias sekuriti.
__ADS_1
Memacu mobilnya dengan kencang, memecah jalanan ibukota. Pikiran Pram mengambang, tentunya memikirkan istrinya yang belum kunjung ditemukan. Sembari menajamkan pandangannya, siapa tahu dia beruntung, bisa berjumpa Kailla.
Tidak butuh waktu lama, mobil sport hitam itu sudah masuk dan terparkir di pekarangan rumah Ibu Citra. Beberapa hari ini, disinilah mobil dan sang tuannya berada. Membuka pintu dengan kunci cadangan yang diberikan Ibu Citra padanya, jadi tidak perlu lagi membangunkan Kinar setiap malam. Pram bisa masuk sendiri ke dalam rumahnya.
Dan benar saja, begitu masuk ke dalam rumah sudah tidak ada siapa-siapa. Suasana rumah sudah sepi. Tertinggal Pram seorang diri, melempar jas kerjanya asal di kursi makan, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Ibu Citra sudah terlelap. Pram pun memilih menyusul.
***
Keesokan harinya.
Ibu Citra yang terbangun lebih dulu, tersenyum saat menatap putranya yang terlelap disampingnya. Beberapa hari ini, dia merasa menjadi seorang Ibu. Selama bertahun-tahun, mereka terpisah. Dan ketika bertemu kembali, Pram memilih tinggal bersama istrinya, tidak sekalipun mau menginap di tempatnya.
Wanita lansia itu melangkah keluar dari kamarnya, untuk melakukan olahraga pagi, sekedar berjalan-jalan merenggangkan otot di halaman rumah. Begitu keluar kamar, Ibu Citra dihadapkan pada pemandangan Kinar yang sibuk memasak sehingga tidak meyadari kehadirannya. Tidak mau membuang waktu, Ibu Citra melangkah keluar untuk jalan pagi setelah sebelumnya mencuci muka.
Hampir satu jam kinar berkutat di dapur, konsentrasinya terpecah saat terdengar bunyi ponsel berdering nyaring, dengan nada yang tidak biasa. Berulang kali hingga berhenti, mengulang kembali sampai akhirnya memaksa wanita itu mencari tahu.
“Ponsel Mas Pram,” bisiknya setelah memastikan dering itu dari ponsel Pram yang tersimpan di saku jasnya. Menatap nama Bayu yang muncul di layar. Melihat panggilan yang tidak terputus dan berulang kali, Kinar tahu kalau ada berita penting yang ingin disampaikan Bayu.
“Apa ada kabar baik dari Kailla?” ucap Kinar pada dirinya sendiri. Berjalan menuju pintu kamar, tetapi ragu untuk mengetuk. Takut Pram akan marah dan berburuk sangka padanya, tetapi kalau memang berita tentang istrinya, kasihan juga kalau tidak disampaikan. Kinar bukannya tidak tahu, bagaimana stressnya lelaki itu ditinggal pergi Kailla.
Berdiri mematung di depan pintu, sambil menggengam ponsel yang terus berdering. Kinar dilema sendiri, mau memberitahu Pram atau pura-pura tidak mendengar dan tidak ikut campur. Takut niat baiknya membuat lelaki itu salah sangka.
Tangannya sudah mengepal dan siap mengetuk pintu kamar, memanggil Pram untuk bangun dan keluar, tetapi akhirnya diurungkannya. Kinar memilih menunggu Pram keluar sendiri saja, tidak mau menganggu lelaki itu dan membuat semua orang berpikiran buruk padanya. Sudah cukup dipermalukan Pram beberapa hari yang lalu, dia tidak mau lagi mengulang kisah yang sama.
Namun, baru saja dia berbalik, hendak melanjutkan membuat sarapan. Sebuah tamparan mendarat di pipinya.
Plak!!
“Apa yang ingin kamu lakukan di kamarku?” todong Ibu Citra. Yang baru saja masuk ke dalam rumah, tidak tahu-menahu apa yang terjadi sebenarnya.
“Aku hanya ingin..” Kinar belum sempat membela diri, tamparan kedua mendarat kembali di wajah gadis itu. Lebih keras dan menyakitkan. Kali ini Kinar menangis.
“Ma..”
“Kamu tahu kan di dalam ada Pram. Apa maksudmu masuk ke dalam!” tuduh Ibu Citra tanpa memberi kesempatan Kinar menjelaskan.
***
__ADS_1
TBC