Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 165 : Kamu sudah mengetahui kebenarannya?


__ADS_3

Selepas kepergian Bara, Pram kembali mendekati Kailla. Istrinya itu tidak banyak makan. Sekotak bubur yang masih ada di tangan Ibu Ida hanya berkurang beberapa suap saja.


Asisten rumah tangga itu menggeleng. “Hanya makan beberapa suap saja, Pak,” cerita Ibu Ida sembari menyerahkan bubur dan sendok plastik ke tangan Pram.


“Kai, kita makan lagi. Kasihan anak-anak,” bisik Pram.


Lelaki itu berjongkok di depan Kailla, memposisikan tubuhnya setinggi istrinya yang duduk di kursi plastik, menelungkupkan tubuh di atas peti jenazah.


“Aku sudah kenyang,” bisik Kailla pelan. Tanpa bergeser sedikitpun. Pandangannya kosong, dengan wajah sembab, berurai air mata.


“Makan sedikit lagi, ya. Aku suapi beberapa sendok lagi,” bujuk Pram.


Pram hanya sanggup membuat Kailla menelan tiga sendok bubur saja, selebihnya Kailla sudah mendorong pelan bubur itu dan menutup mulut. Gelengan pelan, menunjukan penolakan.


“Aku sudah kenyang.” Kailla berkata pelan. Tatapannya belum berpindah, masih betah memandang Riadi yang terbujur kaku di dalam peti kaca.


“Mau menangis?” tawar Pram, memindahkan tubuh lemas terkulai itu supaya jatuh di pelukan, bersandar di pundaknya.


“Daddy sudah sembuh, Sayang. Daddy sudah tidak sakit lagi. Berarti kita juga harus merelakannya.” Pram berbisik. Tangannya dengan lincah membelai rambut panjang Kailla yang tergerai asal. Dengan tangan yang lain mengusap air mata yang luruh turun terus-menerus.


“Aku tidak mau ditinggal daddy. Aku belum jadi anak baik untuk daddy.”


“Masih ada aku, Pram. Suamimu. Kita hadapi semua bersama-sama. Masih ada anak-anak kita. Di sini, ada bayi-bayi kita juga sedang bersedih melihat kamu seperti ini,” ucap Pram, mengusap pelan perut Kailla yang mulai membesar.


Isak tangis Kailla pecah lagi. Kedua tangan itu merengkuh erat leher suaminya. Menangis hebat, membasahi setelah jas hitam suaminya.


“Kamu tidak lelah menangis terus-terusan seperti ini?” tanya Pram, mengusap lembut punggung istrinya.


Tidak ada jawaban, hanya tangis Kailla semakin kencang. Ibu hamil itu sampai harus menggigit kerah jas suaminya supaya tangisnya tidak keluar.


“Aku mencoba ikhlas, tetapi aku belum bisa, Sayang ....” ucap Kailla di sela isak tangisnya. Sesenggukan hebat dengan napas naik turun.


“Doa, daddy butuh doa dan keikhlasanmu saat ini, Sayang. Daddy tidak butuh air mata putrinya. Kamu bisa lihat, daddy sudah tersenyum, sudah tidak kesakitan.” Pram berusaha menarik Kailla ke alam nyata, tidak terfokus pada kenangan yang hanya akan membuat Kailla sulit menerima kenyataan.


“Aku belum sanggup berpisah dengan daddy. Rasanya berat, Sayang,” isaknya pelan.


“Ya, tidak apa-apa. Yang terpenting kamu tahu harus bagaimana. Kamu tidak mau istirahat? Kamu tidak lelah duduk di sini?” tanya Pram.

__ADS_1


Gelengan kepala itu menguat sesaat bersamaan dengan derai air mata. Tubuh melemas, dengan pandangan berkunang-kunang. Kailla ambruk kembali di pelukan Pram, jatuh tidak sadarkan diri untuk kedua kalinya.


“Sayang ....”


“Sayang ....”


Tepukan lembut di wajah Kailla, berusaha menyadarkan ibu hamil itu kembali. Melihat kondisi Kailla yang begitu menyedihkan saat ini, Pram tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menjaga sebisanya, menguatkan dan menjadi tumpuan hidup Kailla selanjutnya. Meyakinkan istrinya, kalau hidup mereka harus berjalan ke depan, tidak bisa berhenti di tengah jalan bersama dengan kepergian Riadi Dirgantara.


Pram mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang bisa dimintai bantuan.


“Kinar, tolong!” teriak Pram. Saat itu hanya Kinar yang terdekat dengannya, berdiri tidak terlalu jauh darinya dan Kailla yang sudah terkulai lemas di dalam pelukan.


“Ya, Mas. Ada apa?” tanya Kinar, menatap Kailla yang tidak sadarkan diri.


“Tolong minta disiapkan kamar, istriku pingsan,” jelas Pram, meminta Kinar menghubungi pihak pengurus untuk minat dibukakan kamar untuk Kailla.


“Baik Mas,” Kinar berlari secepat kilat. Mengekor di belakangnya Pram yang menggendong Kailla.


Tidak butuh waktu lama, Kailla sudah ditempatkan di kamar yang nyaman. Salah satu fasilitas yang disediakan pihak rumah duka.


Kinar yang berdiri di belakangnya hanya dia, tanpa kata.


“Kinar, aku titip Kailla sebentar. Aku harus ke depan, tidak enak dengan para tamu yang datang. Nanti aku akan memberitahu mama supaya menemani Kailla di sini.”


“Ya Mas,” sahut Kinar. Menatap punggung Pram menghilang di pintu kamar.


Gadis itu memilih duduk disamping tempat tidur. Sesekali merapikan anak rambut tergerai berantakan yang menutupi sebagian wajah cantik Kailla.


“Aku turut berdukacita, Kai,” bisik Kinar pelan, menggengam tangan Kailla dengan erat.


***


Begitu keluar dari ruangan, Pram terkejut melihat sosok dengan jas hitam berdiri di depan peti jenazah Riadi. Dari tempatnya berdiri, lelaki itu tidak bisa melihat dengan jelas.


Ketika langkah kakinya semakin dekat, barulah Pram mengenali. Lelaki paruh baya, pengacara pribadi sekaligus sahabat dekat Riadi.


“Pram, aku turut berduka cita,” ucap sang pengacara, berbalik saat mendengar langkah kaki mendekatinya. Lelaki itu langsung memeluk dan menepuk punggung Pram, memberi semangat.

__ADS_1


“Terimakasih, Pak.”


“Aku baru mendengar kabar berpulangnya teman baikku ini. Terakhir aku mengunjunginya di rumah sakit, sekitar setengah tahun yang lalu,” ceritanya.


“Ya, sudah terlalu lama koma. Sudah bisa diduga, cepat lambat pasti akan berakhir seperti ini. Tubuh daddy sudah tidak bisa merespon apapun sejak jatuh koma ketiga kalinya,” cerita Pram.


“Mana Kailla?” tanya sang pengacara, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari gadis kecil manja yang sering menyusahkan Riadi Dirgantara.


“Dia sedang istirahat, Pak. Kondisinya drop, apalagi saat ini sedang hamil, benar-benar ujian terberat untuknya.” Pram tersenyum kecut.


Keduanya sudah duduk mengitari meja bundar bertelapak putih polos. Pram dengan tangan saling menaut di atas meja, menunggu berita yang ingin disampaikan pengacara Riadi padanya. Sedangkan lelaki paru baya itu terlihat mengeluarkan amplop coklat berukuran sedang, dalam posisi terlipat dari saku jasnya.


“Ini pesan dari Riadi untukmu. Kamu ingat sewaktu aku menemuimu dan Kailla, membicarakan pengalihan aset Riadi. Mungkin sekitar empat tahun yang lalu.”


Pram mengangguk.


“Mertuamu menitipkan surat itu untukmu. Dia memintaku menyerahkannya padamu disaat dia sudah tiada,” jelas Pak pengacara. Matanya berkaca-kaca, mengingat bagaimana kedekatan mereka sewaktu masih muda.


“Mertuamu orang baik. Meskipun banyak berbuat kesalahan di masa mudanya,” lanjutnya lagi.


Pandangan sang pengacara tiba-tiba tertegun menatap Ibu Citra, terkejut dan kaget. Beralih kemudian menatap Pram. Hampir tidak percaya dengan apa yang disaksikannya.


“Dia ....” Kalimat sang pengacara menggantung, menunjuk ke arah Ibu Citra yang duduk di sudut ruangan bersama Ibu Sari dan Ibu Ida.


Tatapan Pram mengikuti arah telunjuk sang pengacara. Tersenyum sambil menjawab rasa penasaran lelaki yang duduk disebelahnya. “Dia Citra Wijaya, mama kandungku,” sahut Pram, dengan yakin.


Ucapan Pram, bagai petir di siang bolong. Wajah pengacara itu memucat seketika. Tidak menyangka kalau Pram sudah mengetahui semuanya. Entah salah paham atau mengetahui dengan jelas, tetapi terlihat semua baik-baik saja.


Pandangannya beralih menatap Pram. “Kamu sudah mengetahui kebenarannya?” tanya sang pengacara memastikan.


***


TBC


Sambil menunggu Om Pram dan Kailla up lagi, bisa mampir di karya temanku, Mak Jingga ya. Ada Reno dan Tenri


__ADS_1


__ADS_2