Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 38 : Lamaran Untuk Bayu


__ADS_3

Kailla tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya menatap dan terus menatap suaminya yang sedang tersenyum.


Reaksi berbeda di tunjukan Ibu Citra, yang tersenyum menepuk pipi Pram yang saat ini sedang bermanja-manja dengannya.”


“Mama berjanji akan menyayangi Kailla, istrimu,” bisik Ibu Citra.


Kailla dengan berurai air mata, segera berdiri. Baru saja akan melangkah pergi tapi Pram memeluknya dari belakang secara tiba-tiba.


“Lepaskan aku!” ucap Kailla keras, masih dengan isak yang tertahan. Berusaha tegar dan sekuat mungkin. Tidak ingin terlihat lemah dan diinjak-injak.


“Kamu tidak mau mempertahankanku? Hanya sebesar ini sajakah kepercayaanmu padaku,” bisik Pram, menyingkirkan rambut tergerai itu, mengecup tengkuk yang terekspos dengan lembut dan dalam.


“Jangan menangis, airmatamu, membuat hatiku sakit,” lanjut Pram, mengeratkan pelukannya.


Ibu Citra, perempuan berusia senja itu terlihat biasa. Bahkan kalau Pram ingin mel”umat istrinya saat ini, dia sudah tidak peduli. Ada hal penting yang membuatnya bahagia.


Pandangannya tidak lepas dari Kinar yang menyunggingkan senyum yang sama dengannya. Senyumaan bahagia, tanpa peduli dengan tangis perempuan lain.


“Mama bisa tersenyum bahagia, disaat istriku menangis?” kejut Pram tiba-tiba. Berdiri di hadapan mereka dengan tangan yang menggengam erat Kailla.


Deg—


Baik Ibu Citra maupun Kinar terkejut kembali. Senyum itu sekarang menjadi datar. Hanya Bayu yang tetap terlihat biasa. Bayu sangat mengenal baik atasannya itu.


“Maksudmu Pram?” Ibu Citra bertanya, sedikit heran walau dalam hati masih ada sisa-sisa kebahagiaan.


“Apakah mama bisa sebahagia sekarang, di saat suamimu atau papaku melakukan hal yang sama. Melamar perempuaan lain di hadapanmu! Apa mama bisa sebahagia ini menanggapinya?” tanya Pram menatap keduanya. Kinar dan Ibu Citra bergantian.


“Dan kamu, apakah kamu akan tersenyum seperti yang kamu tunjukkaan sekarang, disaat suamimu melamar perempuan lain di depan matamu sendiri?”


Pram tersenyum sinis menatap kedua perempuan yang tertunduk di depannya.


“Mungkin kalian bisa menerima atau reaksi kalian lebih menyedihkan lagi dibanding istriku saat ini. Tapi yang perlu kalian ketahui, hati istriku tidak seluas samudra. Dan aku bahagia, setidaknya dia masih menangis untukku saat ini. Pram masih cukup berharga untuknya," lanjut Pram, menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Kailla.


“Keterlaluan kamu Pram, apa maksudmu melamar Kinar? Kalau pada akhirnya kamu menjatuhkannya!” Kalimat pertama yang keluar dari bibir Ibu Citra setelah ucapan panjang lebar putranya.


“Untuk menyadarkanmu dan menyadarkan kalian, Ma!” lanjut Pram.


“Pikirkan saja, apakah mama bisa ikhlas jika berada di posisi istriku! Disaat mama berkata menerima istriku, merestui istriku. Tapi hati mama sendiri masih terpaksa, masih berharap aku bisa dengan perempuan lain. Restu seperti apa yang mama maksud? Akan bertahan berapa lama senyuman palsu mama untuk istriku?”


“Katakan saja padaku! Apa yang dimiliki Kinar dan tidak dimiliki istriku. Aku akan mencoba membuatnya semirip Kinar,” lanjut Pram.


“Pram kenapa jadi begini. Bukankah semuanya baik-baik saja sejak tadi?” tanya Ibu Citra melemah, tidak sekeras sebelumnya.


“Tidak baik-baik saja, hanya terlihat baik-baik saja. Dan aku tidak suka kalau mama bersandiwara seperti ini!” sahut Pram.

__ADS_1


“Mama belum mau ikhlas merestui istriku. Untuk apa kita menjadi baik-baik saja. Kalau semuanya hanya palsu.”


“Pram, cukup! Kenapa harus mempermalukan mama dan Kinar di depan orang lain,” ucap Ibu Citra menatap Kailla.


“Hahaha.. bahkan mama menganggap istriku orang lain! Padahal dia yang akan melahirkan anak-anakku di mana akan mengalir darah mama juga di dalamnya, melahirkan penerus nama keluarga kita.”


Pandangan Pram beralih pada Kinar, menatap tajam perempuan yang sudah dianggap keluarganya sendiri karena jasa telah merawat ibunya selama ini.


“Dan kamu! perempuan seperti apa dirimu!” tuding Pram, menatap sinis pada Kinar.


“Mas, maafkan aku.” Kinar berkata, dengan mata berkaca-kaca.


“Tidak ada laki-laki lainkah? Sampai harus merampas milik orang lain?” tanya Pram.


“Maaf, aku mencintaimu” ucap Kinar pelan, dengan tidak tahu malunya. Akal sehatnya hilang sudah, apalagi sebelum ini dia disuguhkan adegan mesra laki-lali yang dicintainya dengan sang istri.


Kailla langsung melotot, menghempaskan tangan Pram. Melangkah maju, siap bertempur dengan Kinar. Kalau saja Pram tidak mencegah, dia sudah akan menjambak rambut Kinar dan menyeretnya ke jalan.


“Sayang biarkan saja. Dia sedang menunjukkan di mana tempatnya,” cegah Pram.


Pram memijat pelipisnya. Menatap mamanya yang diam sejak tadi.


“Ma, aku serius melamar Kinar untuk asistenku, Bayu. Aku pribadi bahkan tidak setuju, asisten terbaikku mendapatkan perempuan seperti Kinar. Tapi mama malah mau menjadikannya istriku!”


“Cukup Pram, jangan mempermalukan Kinar!” ucap Mama Citra, keras.


“Pram, kamu tahu jelas kan alasannya dan janjiku pada Kinar jauh-jauh hari sebelum menemukan putraku.”


“Kalau begitu anggap saja putramu sudah mati, Ma. Dengan begitu, kamu tidak merasa melanggar janji,” ucap Pram dengan santainya.


Ibu Citra menggelengkan kepala. Sejak kemarin dia memang sudah belajar mengikhlaskan dan menerima Kailla. Tapi memang berat, apalagi istri Pram jauh dari idealnya menantu yang diharapkannya.


“Mulai sekarang, aku tidak akan meminta mama merestui istriku. Lupakan saja pernah memiliki putra sepertiku. Aku tidak pantas menjadi putramu.”


Ibu Citra mengangkat pandangannya. Menatap putra semata wayangnya. Kali ini dia menangis.


“Bahkan kamu memilih dia dibandingkan mama?” tanya Ibu Citra memastikan.


Pram menggelengkan kepala.


“Aku tidak memilih, Ma. Mama yang memintaku pergi dari hidup mama.”


“Pram, jangan seperti ini,” pinta Ibu Citra.


“Jangan pernah menginjakan kaki mama ke rumahku, tanpa seizinku. Jangan pernah mencuri bertemu dengan istriku tanpa sepengetahuanku.”

__ADS_1


“Kalau mau menemuiku, mama bisa datang ke kantorku,” lanjut Pram.


“Pram, kamu memutus hubungan dengan orang tuamu hanya karena istrimu?” tanya Ibu Citra, menangis.


“Tidak, kamu tetap mamaku. Tapi pada kenyataannya mama dan istriku tidak akan bisa menyatu. Jadi sebaiknya kalian tidak saling mengenal, tidak saling dekat. Untuk apa, kalau pada akhirnya saling menyakiti dan akan membuatku dan Kailla semakin terlihat seperti anak durhaka.”


“Pram kenapa jadi begini?” tanya Ibu Citra, mengelus dada.


“Aku tetap putramu, tapi aku juga suami Kailla.”


Ibu Citra tidak bisa berkata-kata lagi, hanya menangis dan memeluk Kinar yang duduk di sebelahnya.


“Besok pengacaraku akan menemui mama. Aku akan mengalihkan semua kepemilikan perusahaan pada mama.”


“Tidak, mama tidak mau. Mama hanya mau putra mama!” tolak Ibu Citra.


“Mama tenangkan saja pikiran mama dulu, menerimaku berarti harus menerima istriku. Baik dan buruknya, kelebihan dan kekurangannya.”


“Istriku tidak bisa apa-apa, tepatnya belum bisa apa-apa. Belum bisa memasak, belum bisa mengurus rumah tangga, belum bisa mengurus suaminya sendiri, bahkan belum bisa menjadi istri yang baik.”


“Sangat tidak adil kalau mama membandingkannya seperti itu. Tapi setidaknya dia jujur, disaat dia suka, dia akan mengatakan suka. Disaat dia tidak suka, dia tidak akan memberi senyuman palsu.”


“Kalau mama membutuhkanmu?” tanya Ibu Citra.


“Kalau aku sempat, aku akan menemui mama atau mama bisa mengunjungiku ke kantor,”


Pram menghela nafas berat.


“Aku hanya ingin menjaga hati kalian berdua. Untuk saat ini sebaiknya mama dan istriku berada di tempatnya masing-masing. Tidak saling mengganggu dan tidak saling menyakiti.


“Entah sampai kapan, tapi aku berharap ada hari dimana mama ikhlas dan merestui Kailla.”


Pram menggandeng tangan istrinya, tapi sampai di pintu dia berbalik lagi.


“Ma, lamaranku tadi serius. Bayu serius dengan Kinar, pikirkan saja. Aku akan menjamin kehidupannya. Kalau Kinar menerimanya, rumah yang mama tempati berikut fasilitasnya akan aku alihkan ke Bayu.”


Tidak ada jawaban, Pram pun memilih keluar dari restoran.


“Sayang, tas warna pink-ku,” rengek Kailla saat sudah berada di luar ruangan.


“Sudah, aku akan membeli selusin tas yang seperti itu untukmu,” sahut Pram tersenyum, mengedipkan matanya.


***


Terimakasih.

__ADS_1


Love You All


Mohon Like dan Komennya.


__ADS_2