Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 47 : Istri Adalah Titipan


__ADS_3

Ting!


Pintu lift terbuka, tampak Pram berjalan keluar tergesa-gesa. Dengan tangan menahan ponsel tetap menempel ditelinganya. Menghubungi David, asisten yang sedang menikmati makan siang.


“Dave, aku ada sedikit pekerjaan di luar. Lanjutkan saja rapat kita setelah makan siang. Aku akan mengikuti rapatnya di perjalanan, sambungkan saja ke ponselku nanti!” perintah Pram.


Dengan wajah serius, Pram mengabaikan beberapa sapaan dari karyawan yang berpapasan dengannya.


“Rick, antarkan aku ke alamat ini,” perintah Pram, sesaat sesudah Ricko berdiri di hadapannya Wajah tampan itu sedang menyembunyikan ketakutan. Melihat layar ponsel majikannya dengan seksama, mengingat alamat yang dimaksud.


***


Mobil Sam sudah terparkir di sebuah Restoran Sunda, yang masih terletak di pusat kota. Siang itu, suasana lumayan ramai, karena berbenturan dengan jam makan siang. Beruntung, Dion sudah melakukan reservasi terlebih dulu, jadi mereka tidak perlu mengantri untuk mendapatkan tempat duduk.


“Sam, kamu tidak ikut masuk?” tanya Kailla, menatap Sam yang diam di belakang setir.


“Temani aku sebentar di dalam,” pinta Kailla kembali.


“Aku tidak enak Non,” tolak Sam.


“Ayo, akan lebih tidak enak kalau kamu tidak ikut. Aku takut suamiku marah, dikira aku main mata lagi sama Dion,” jelas Kailla.


Dengan terpaksa Sam menurut, mengikut masuk ke dalam. Tapi saat matanya menangkap Dion dan keluarganya yang sudah duduk manis, hatinya langsung berbunga-bunga saat melihat gadis manis yang duduk di sebelah Dion.


Belum lagi menu yang sudah tersaji di atas meja benar-benar sesuai dengan lidahnya. Ada ikan goreng, komplit dengan sambal terasi dan lalapan.


Tampak Sam merapikan rambutnya yang acak-acakan dengan tangannya. Berharap penampilan sederhananya bisa membuat gadis manis itu terpesona.


“Ibu..,” sapa Kailla, langsung memeluk Ibu Dion dengan wajah berbinar-binar.


“Nak Kailla..,” sapa Ibu Dion tidak kalah histerisnya, membalas pelukan itu dengan erat. Sudah lebih dari empat tahun mereka tidak bertemu.


“Bertambah cantik putri Ibu,” ucapnya menepuk lembut pipi Kailla.


“Ah, Ibu bisa saja,” celetuk Kailla, melepas pelukannya. Selanjutnya mencium tangan Ayah Dion.


“Bapak, apa kabar?” tanya Kailla.


“Baik.. duduk, Nak,” sahut sang Ayah tersenyum mengingat satu-satunya gadis yang membelikannya setelan kemeja dan celana.


“Hai, Dian. Kamu sudah besar sekarang,” sahut Kailla memeluk adik Dion sebentar.


Mengekor di belakangnya, Si Sam yang menyalami satu per satu anggota keluarga Dion, terdiri dari Ayah, Ibu dan adiknya Dian. Giliran Dian, dia sengaja memperlama gengaman tangannya sampai mendapat tepukan panas dari Kailla.


“Ini Sam kan?” tanya Ibu Dion memastikan.


“Iya Bu,” sahut Sam tersenyum, sesekali mencuri pandang pada Dina.


Setelah acara salaman dan pelukan pelepas rindu, Kailla dan Sam ikut bergabung. Duduk mengitari meja bundar yang sudah tersaji berbagai menu makanan. Kailla memilih duduk di samping Ibu Dion, diapit Dian, supaya bisa leluasa berbagi cerita dengan wanita yang sudah dianggap ibunya sendiri walau pertemuan mereka dulu hanya sesaat.


“Suamimu tidak ikut?” tanyanya menggengam tangan Kailla.


“Suamiku masih di kantor. Lain waktu aku akan mengajaknya,” sahut Kailla tersenyum.


Dulu wanita itu pernah kecewa, saat mengetahui Kailla sudah memiliki calon suami. Tapi dia bisa apa, putranya tidak berjodoh dengan gadis manis yang disukainya.

__ADS_1


Dia masih mengingat jelas, saat Dion meminta restu padanya untuk menyatakan perasaannya pada Kailla. Saat itu, dia sangat mendukung putranya, tapi keputusannya itu akhirnya membuat Dion kecewa.


Bahkan sampai sekarang, Dion tidak pernah lagi membawa pulang seorang gadis pun ke rumah, mengenalkannya pada mereka. Dan setelah empat tahun berlalu, tetap Kailla yang diajak menemui mereka.


“Kai, kamu tidak pesan makanan?” tawar Dion.


Kailla menggeleng.


“Sam?”


“Aku.. mau..” Sam tidak melanjutkan kalimatnya, ponsel di kantongnya bergetar. Setelah melihat siapa yang menghubunginya, hatinya langsung dag dig dug.


“Non, aku diluar saja,” pamit Sam, mengangkat ponsel di tangannya. Memberitahu kalau ada seseorang yang menghubunginya saat ini.


Sam memutuskan menunggu di mobil. Baru saja dia mengirim lokasi mereka saat ini pada Pram. Entah apa yang akan terjadi, tapi harusnya Pram cukup mengerti, saat ini Kailla bukannya berduaan dengan Dion.


Tapi sedang temu kangen dengan keluarga Dion. Bahkan kalau diperhatikan, sangat jarang sekali keduanya terlibat pembicaraan. Obrolan didominasi oleh Kailla dan Ibu Dion.


***


Pram masih menatap layar ponsel, serius mengikuti jalannya rapat. Laparnya hilang sesaat setelah membaca pesan dari istrinya.


Entah dia yang terlalu berlebihan dan ketakutan untuk hal-hal yang mungkin bagi orang lain terdengar biasa. Istrinya hanya bertemu dengan temannya, tapi dia begitu panik dan khawatir, bahkan memilih meninggalkan rapat.


Apakah menikah dengan wanita yang usia jauh dibawah usianya membuat sensasi tersendiri seperti ini. Dia harus selalu merasa kalah pamor dan tidak percaya diri saat berhadapan dengan teman-teman Kailla yang usianya sepantaran.


Bahkan dia sering merasa ketakutan akan jiwa labil Kailla. Sejujurnya dia sendiri tidak bisa menebak seperti apa istrinya. Terlau sering membuat keonaran dan kekacauan, menutupi jati dirinya yang sebenarnya.


Tak lama, mobil mereka masuk ke sebuah restoran, Ricko terlihat mengedarkan pandangan mencari mobil Sam yang seharusnya terparkir di tempat itu juga.


“Pak, kita sudah sampai,” ucap Ricko, menengok ke belakang. Memberi tahu majikannya tentang keberadaan mereka.


“Tidak Pak, itu mobil Sam,” sahut Ricko menunjuk ke arah mobil putih yang terparkir tidak terlalu jauh dari tempat mereka.


“Oke, kamu boleh pulang sekarang,” perintah Pram, keluar dari mobil dan menghampiri Sam yang tertidur di mobil.


Tok!Tok!Tok!


Pram mengetuk kaca mobil yang terbuka sebagian. Mengejutkan Sam yang sedang pulas, duduk di belakang setir.


“I-iya Pak,” ucap Sam terkejut, tiba-tiba wajah serius Pram sudah terlihat jelas di dekatnya, hanya terhalang kaca mobil saja.


Pram memilih menunggu di mobil, memberi kesempatan Kailla menyelesaikan pertemuannya dengan Ibu Dion.


“Sudah lama, Sam?” tanya Pram, menyandarkan tubuh lelahnya.


“Belum terlalu. Pak Pram tidak masuk ke dalam?” tanya Sam heran.


“Tidak, aku menunggu disini saja. Kabari aku, kalau mereka sudah keluar dari restoran,” pinta Pram memejamkan mata, dengan tangan terlipat di dada.


Entah sudah berapa lama, Pram hampir pulas saat Sam membangunkannya.


“Pak, mereka sudah keluar,” panggil Sam.


Pram mengusap wajah dengan kedua tangannya. Dia tertidur. Matanya tertuju pada Kailla yang sedang memeluk erat lengan seorang wanita paruh baya dengan manjanya, keluar dari pintu restoran. Di belakangnya mengekor Dion yang berbincang dengan seorang laki-laki seumuran sang wanita. Ada lagi seorang gadis kecil keluar paling belakangan.

__ADS_1


Pram membuka pintu mobil, melangkah keluar sembari merapikan setelan jasnya. Berjalan menghampiri Kailla.


“Selamat siang,” sapanya dengan suara berat. Mengagetkan semuanya.


Kailla menutup mulutnya, hampir tidak percaya. Laki-laki yang berdiri dengan gagah di hadapan mereka adalah suaminya.


“Sayang,” sapa Kailla, mendekati dan merengkuh lengan Pram.


“Siang Pak Pram,” sapa Dion tersenyum.


“Bapak, Ibu, kenalkan ini suamiku,” ucap Kailla, mengajak Pram berdiri mendekat.


“Sayang, ini Ayah dan Ibu Dion,” lanjut Kailla, memperkenalkan.


Tampak Pram menyodorkan tangan menyalami keduanya. Ada rasa sungkan di mata Dion, saat tiba-tiba melihat kehadiran Pram, di tengah mereka. Berbeda dengan Pram, yang terlihat biasa dan santai.


Laki-laki itu sungguh pintar menguasai keadaaan. Raut wajah dan bahasa tubuhnya jauh berbeda dibanding saat dia keluar kantor, yang penuh amarah dan kecewa.


Setelah acara perkenalan singkat itu, mereka pun kembali ke mobil. Pram bisa melihat jelas, betapa akrabnya sang istri dengan Ibu Dion. Bahkan Kailla tidak sungkan-sungkan memeluk dan bermanja dengan wanita setengah baya itu.


“Nak Kailla, ini untukmu,” panggil Ibu Dion, kembali. Menyerahkan sebuah kotak makanan.


“Ini apa Bu?” tanya Kailla heran. Baru saja Dion mengambil kotak itu dari dalam mobilnya


“Itu combro kesukaanmu,” sahut Ibu Dion, tersenyum.


“Ah...terimakasih,” sahut Kailla, menyerahkan kotak makanan itu ke tangan Pram. Memeluk Ibu Dion dengan erat.


“Nanti Ibu harus main ke rumahku. Bolehkan Sayang?” tanya Kailla berbalik menatap suaminya.


Pram mengangguk dan tersenyum.


***


Pram dan Kailla sudah kembali ke mobil. Sejak masuk, Kailla terlihat ceria, suaranya tanpa berhenti menceritakan pertemuannya dengan Ibu Dion. Tidak seperti biasanya, Pram memilih diam, bahkan tidak merespon semua ucapan istrinya.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Kailla heran, tanpa merasa bersalah.


Pram memejamkan mata, memilih bungkam. Raut wajahnya membingungkan dan tidak bisa ditebak. Tidak marah, tapi tidak pula ramah seperti biasa.


“Sam, mumpung kamu belum menikah. Sebaiknya kamu harus belajar untuk mengurus diri sendiri, memasak, mencuci pakaian. Harus bisa mengerjakan semua pekerjaan seorang istri,” ucap Pram tiba-tiba.


“Baik Pak,” sahut Sam, tidak begitu paham dengan maksud dan tujuan majikannya. Memilih tetap fokus dengan setirnya.


Kailla juga tidak kalah bingung. Sejak tadi dia bicara sampai mulutnya lelah, Pram tidak bereaksi seperti biasa. Tapi saat ini, suaminya memberi kalimat petuah untuk asistennya. Yang menurutnya tidak ada hubungan sama sekali dengan pembicaraannya sejak tadi.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Kailla, mengulang kembali.


“Dengar Sam, kamu harus bisa mandiri. Jangan terlalu bergantung pada istri walau sudah menikah. Karena istri adalah titipan. Kalau tidak diambil kembali oleh Tuhan, pasti diambil laki-laki lain,” sindir Pram. Berharap ucapan dan kecemburuannya sampai ke istrinya.


***


To be continued


Terimakasih

__ADS_1


Love you all


Mohon like dan komennya dong.


__ADS_2