Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 69 : Ditya Halim Hadinata


__ADS_3

Pram menurut, masuk ke dalam kamar mandi untuk mencari tahu. Matanya tertuju pada benda asing yang baru kali ini dilihatnya. Benda pipih memanjang yang dicelupkan dalam wadah kecil berisi cairan, diletakan di atas meja wastafel.


“Bagaimana cara melihat hasilnya ini,” ucap Pram membeku di tempat, mengangkat wadah berisi cairan itu perlahan, takut tertumpah.


“Sayang, ini bagaimana melihatnya?” teriak Pram, dengan posisi masih di dalam kamar mandi. Empat tahun menikah, dia sama sekali belum pernah menggunakannya. Di kehamilan Kailla yang pertama, istrinya itu mengecek seorang diri tanpa melibatkanya. Bahkan dia tidak tahu menahu, tiba-tiba mendapat kabar Kailla sudah positif hamil.


“Satu garis negatif, dua garis positif,” sahut Kailla. Dia sudah merebahkan diri kembali ke sofa. Kantuk membuatnya malas berpikir, apalagi dia yakin tidak hamil. Tidak merasa ada perubahan apa-apa di tubuhnya. Bahkan dia belum terlambat datang bulan.


“Sayang, ini tidak ada garisnya,” teriak Pram lagi. Lelaki tampan itu berdiri di pintu kamar mandi, mengamati test pack dengan seksama.


“Ambil spidol, buat garis sendiri,” canda Kailla. Tertawa setelah mengucapkannya.


“Tunggu sebentar lagi, nanti muncul sendiri,” jelas Kailla lagi. Tidak tega mengerjai suaminya yang begitu sudah tidak sabaran menanti hasil tes.


Ternyata dibalik penolakan keras untuk tidak mau memiliki anak selama ini, Pram memiliki keinginan yang sangat besar untuk segera memiliki buah hati.


Hening— Tidak ada lagi suara berisik Pram yang tidak henti bertanya mengenai cara kerja test pack. Merasa ada yang aneh dengan suaminya yang sudah tidak bersuara lagi, Kailla akhirnya menyusul ke kamar mandi.


“Sayang, ada apa?” tanya Kailla heran. Menatap punggung suaminya yang sedang memandang wadah urine di tangan kiri dan test pack di tangan kanan. Diteliti, telaah, diperhatikan dengan seksama tidak dalam tempo sesingkat-singkatnya.


“Kai, tadi kamu yakin mengisi wadah ini dengan urine, bukan air kran, kan?” tanya Pram masih menolak percaya dengan hasil satu garis yang terpampang nyata di test pack. Kembali dia menatap wadah yang menampung, airnya terlihat lebih menguning dibanding air kran biasa.


“Dicoba saja minum kalau tidak percaya,” sahut Kailla santai.


Suami istri itu sedang berdiri bersisian di depan wastafel menatap ke arah yang sama, yaitu testpack yang menunjukkan satu garis.


“Kai, apa empat tahun ini kemampuanku menurun?” tanya Pram tiba-tiba. Memecahkan keheningan yang sudah tercipta sejak beberapa menit yang lalu. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara.


“Aku baru dua puluh empat tahun, masih banyak kesempatan kita untuk memiliki bayi,” sahut Kailla, pelan. Masih berusaha membesarkan hati suaminya.


“Kenapa di saat kita menginginkannya, dia tidak mau datang,” ujar Pram pelan. Suaranya tercekat, ada rasa bersalah tiba-tiba mengisi relung hatinya. Dia membuang waktu dan kesempatannya selama 3,5 tahun ini untuk memiliki anak. Dan sekarang dia mendapat hukumannya.


“Mungkin belum. Kita masih bisa berjuang untuk mendapatkannya.” Kailla masih terus menghibur. Tangannya sudah memeluk erat pinggang suaminya.


“Maafkan aku,” bisik Pram pada akhirnya pertahanannya runtuh. Membalas, memeluk erat istrinya. Saat ini Pram sedang menyembunyikan perasaannya sendiri, menangis dalam hati.


Mungkin bagi sebagian orang hasil ini terlihat biasa, tapi tidak bagi Pram. Di usinya yang tidak muda lagi, dia masih harus berjuang untuk mendapatkan anak, buah cinta yang akan mengikatnya dan Kailla seumur hidup.


Pram berusaha menutupi kecewanya. Dia sudah memupuk harapan tinggi untuk hasil memuaskan kali ini. Berkaca dengan pengalaman mereka dulu yang begitu mudah. Bahkan saat itu, mereka tidak merencanakannya.


Jika menghitung usia kandungan Kailla dulu, ada kemungkinan bayi itu hadir di saat pertama mereka melakukannya. Dan Pram masih berharap keajaiban itu tetap ada sekarang. Tetapi Tuhan berkata lain, hasil tidak sesuai dengan harapannya.


Berbagai pikiran buruk pun muncul ke permukaan. Berbagai andaikan dan misalkan mengisi otaknya.


“Kai, misalkan kita tidak bisa memiliki anak, kamu bagaimana?” tanya Pram tiba-tiba. Dia masih menyandarkan kepalanya di pundak Kailla.


“Kenapa bicara seperti itu? Aku pernah hamil anakmu, pasti semunya baik-baik saja,” hibur Kailla, menenangkan, mengusap lembut punggung suaminya.


“Hanya saja, mungkin kita belum diberi sekarang. Tetapi pasti kita bisa memilikinya,” lanjut Kailla. Tangannya kembali mengusap lembut rambut Pram. Kailla tahu, suaminya sedang terpukul.

__ADS_1


“Seandainya tidak?” Pram masih bersikukuh bertanya. Ingin mendengar langsung jawaban Kailla.


Kailla menghela nafas sebelum menjawab.


“Dunia kedokteran sudah maju sekarang. Kalau tidak bisa mendapatkannya dengan cara normal, kita bisa mendapatkannya dengan inseminasi, bayi tabung atau apa lah itu. Sudah jangan dipikirkan,” hibur Kailla.


“Kalau kesempatan itu sudah tidak ada?” Pram masih memaksa ingin tahu.


“Kita adopsi!” sahut Kailla dengan santai.


“Kenapa kamu berpikir sejauh itu. Semuanya akan baik-baik saja. Ayo tidur, aku masih mengantuk,” rengek Kailla.


Pram menurut, dia masih shock dengan hasil test pack yang di luar dugaanya. Dengan langkah gontai, mengikuti Kailla yang menyeretnya keluar dari kamar mandi. Karena kurang berhati-hati, dia menyenggol wadah urine yang diletakan di atas meja wastafel. Pram mencoba menghindar, tapi wadah itu terlanjur tumpah mengenai tangan dan ujung kaosnya.


Bunyi wadah terjatuh mengejutkan Kailla, segera berbalik dan memastikan apa yang terjadi.


“Oh no!!” pekik Kailla, melepas tangan Pram seketika. Suaminya sedang membeku di tempatnya berdiri. Menatap tumpahan urine dengan tatapan yang sulit diungkapkan.


“Sayang, kamu jangan mendekat!” ancam Kailla saat melihat tangan Pram yang basah.


Pram segera mencuci tangannya diiringi tawa Kailla yang pecah.


“Itu karena kamu menuduhku menampung air kran di wadah. Jadi diberi bukti nyata, kalau itu benar-benar air....hahahahaha..!” Kailla berlari menjauh.


“Sayang mau kemana? Ayo kesini!” ujar Pram, kesal melihat Kailla meledeknya. Dengan kasar melepas kaos, melempar ke sudut kamar mandi.


“Kesini kamu!” perintah Pram, memberi kode dengan tangannya supaya Kailla mendekat.


Tawa itu terhenti saat Pram berhasil mengejar dan menggulingkannya. Menjatuhkan tubuh mungil dengan kemeja berantakan itu ke atas sofa, kemudian menindih dan mengunci dengan tubuh kekarnya.


“Kai...” ucap Pram di sela helaan nafasnya.


Hening—


“Aku bahagia menjadi yang pertama untukmu. Tolong izinkan aku untuk menjadi yang terakhir di dalam hidup dan matimu.”


“Mungkin aku egois, tetapi saat aku sudah tidak ada di dunia, aku ingin Kailla Riadi Dirgantara tetap menjadi milikku,” lanjut Pram, memejamkan matanya. Mengedipkan matanya, menahan air yang memgumpul di kelopak matanya supaya tidak terjatuh.


“Kenapa bicara seperti ini?” tanya Kailla dengan mata berkaca-kaca.


“Berjanjilah padaku, Kai. Kita akan seperti ini sampai menua. Bahkan saat nafas sudah terlepas dari raga, aku mau kita berada di liang yang sama,” pinta Pram.


Kailla menatap, tapi pernyataan dan pertanyaan Pram sepertinya serius. Terlihat dari raut wajah yang sedang menunggu jawabannya. Pada akhirnya Kailla mengangguk.


“Jangan cuma bisa mengangguk. Mata itu dijaga, jangan lihat yang kencang sedikit, otakmu sudah kemana-mana!” omel Pram tiba-tiba. Sentilan mendarat di kening Kailla, disertai cubitan di kedua pipinya.


“Besok, kalau ketahuanku masih tersenyum dengan laki-laki lain, aku akan membunuhnya di depan matamu,” ancam Pram.


“Ah.... aku tidak sengaja melihat. Mau bagaimana lagi, Tuhan mencipta mata ini untuk menikmati keindahan dunia. Dan para lelaki tampan itu salah satu keajaiban dunia,” sahut Kailla beralasan.

__ADS_1


***


Pagi-pagi sekali, Pram sudah berangkat ke kantor bersama Bayu, meninggalkan Kailla yang sudah rapi bersiap ke kampus. Hanya tinggal menunggu Sam menjemput saja. Bosan menunggu di dalam kamar mertuanya, Kailla memilih menunggu Sam di lobi.


“Ma, aku ke kampus. Kalau mama butuh sesuatu bisa menghubungiku,” pamit Kailla, mencium tangan ibu mertuanya.


Seulas senyuman hangat dipersembahkan Ibu Citra padanya. Menghabiskan waktu lebih banyak dengan Kailla membuat hati Ibu Citra sedikit melunak. Walau belum sepenuhnya menerima.


“Bu, aku titip mama,” ujar Kailla pada Ibu Ida yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mertuanya.


Baru saja melangkah keluar dari kamar, mata Kailla terpaku menatap pasien tampan titisan dewa yunani sedang duduk di kursi roda tepat di depan pintu kamar ditemani perawat. Lelaki itu tersenyum, begitu pun Kailla. Senyuman keduanya baru terhenti saat Sam berteriak dari kejauhan.


“Non Kailla, maaf terlambat menjemput,” teriak Sam, berlari menghampiri.


“Ayo kita berangkat sekarang,” ajak Kailla, melempar senyuman terakhir pada tetangga kamar sebelum berlalu meninggalkan lelaki yang diam-diam menatap punggungnya menghilang di balik pintu lift.


***


Siang itu seperti siang sebelumnya, Pram mengunjungi mamanya setiap jam makan siang. Kailla masih terjebak macet di jalan, mungkin akan tiba di rumah sakit sedikit terlambat. Langkah kaki Pram terhenti, saat seorang kurir dari toko bunga bertanya padanya.



“Maaf, apakah ini kamar rawat A2?” tanya kurir sopan.


“Iya, ada apa?” tanya Pram heran. Matanya tertuju pada sebuah buket bunga mawar merah berukuran besar.



“Ini ada kiriman bunga untuk Nona Kailla. Apa benar di kamar ini ada yang bernama Kailla?” tanya kurir memastikan.


Pram mengangguk tanpa sadar. Matanya tertuju pada buket indah yang masih di tangan sang kurir.


“Ini Pak, saya mengantarkan pesanan. Yang ditujukan untuk Nona Kailla, alamat di kamar A2,” jelas kurir, menyerahkan rangkaian bunga yang juga dilengkapi kartu ucapan terselip disana.


Pram menerima, sembari membaca kartu ucapan. “Ini dari siapa?”



“Di kartu ada nama pengirimnya, Pak,” jelas kurir.


“Terimakasih!” ucap Pram melenggang masuk ke dalam kamar, tidak bertanya lebih jauh lagi. Dia paham lelaki itu hanya kurir dan tidak tahu apa-apa.


Perasaannya campur aduk. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Nama si pengirim terus terngiang di otaknya.


“Ditya Halim Hadinata.” Pram mengeja kembali nama asing yang terdengar sangat familiar di telinga.


***


To be continued

__ADS_1


Love You All


Terima kasih, mohon tinggalkan jejak like dan komennya.


__ADS_2