Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 51 : Perlawanan Kailla


__ADS_3

Kailla terus menerus menghubungi ponsel Sam. Dengan ragu-ragu, mengendap keluar berusaha menguatkan diri dari rasa takut yang menyerangnya. Tampak dia merapatkan jaket yang membungkus tubuhnya, menapaki anak tangga turun perlahan.


Saat kakinya menginjak lima anak tangga terakhir, terdengar teriakan Sam menggema. Pantulan suaranya yang nyaring bersahut-sahutan, memantul di dinding ruangan.


“Non Kailla!” pekiknya.


Seketika membuat Kailla terkejut di tengah keberanian palsunya. Kakinya tersandung karpet tangga, membuatnya terguling jatuh ke lantai dasar.


“Hahahaha...!” Sam bukannya menolong, malah tertawa sambil menahan perutnya yang bergejolak.


“Huh!” dengus Kailla kesal, pelipisnya sakit, membentur anak tangga terakhir. Bokongnya juga tidak kalah ngilu, menggelinding jatuh melewati lima anak tangga.


“Maaf Non, ada apa menghubungiku?” tanya Sam.


“Sam, antarkan aku ke rumah mertuaku,” pinta Kailla, langsung menarik tangan Sam mengikutinya keluar. Tidak memberi kesempatan asistennya bertanya lebih jauh. Sesekali mengusap pelipisnya dan bokongnya yang ngilu.


“Non, apa tidak diobati dulu?” tanya Sam, menatap pelipis Kailla yang mulai terlihat bengkak memerah, terbentur sudut pijakan tangga.


“Sudah jalan saja dulu, jangan banyak bertanya,” pinta Kailla menarik tangan Sam menuju mobil.


“Ada apa di tempat mertuamu, Non?” tanya Sam heran.


“Suamiku menginap disana Sam. Kamu ingat kan, tadi siang dia mendiamkanku dan sekarang dia malah tidak pulang, menginap disana Sam. Aku akan menyeretnya pulang,” lanjut Kailla, kesal.


Keduanya sudah berada di dalam mobil. Berkali-kali Kailla meminta Sam menambah kecepatan mobilnya. Semakin melihat jam, semakin dia panik. Otaknya sudah jalan kemana-mana, pikirannya sudah merambah kemana-mana.


Tangannya saling meremas, panik, khawatir, dan was-was. Apalagi setiap mengingat Kinar yang tinggal di sana bersama mertuanya, pikirannya semakin tidak karuan. Kasus Anita dulu masih tergambar jelas di ingatannya. Dia tidak mau suaminya terjebak untuk kedua kalinya.


Mobil itu sudah berhenti di depan gerbang. Security yang tidak mengenali, langsung menghampiri.


“Pak, aku istrinya Pak Pram. Mau bertemu dengan suamiku,” jelas Kailla, membuka kaca mobil.


“Bertemu Ibu?” tanya security, memastikan.


“Iya, boleh juga. Tolong bukakan pintunya,” perintah Kailla.


Mobil yang dikendarai Sam belum berhenti sempura, Kailla sudah meloncat turun dari dalam mobil. Sam hanya bisa menggeleng, melihat kelakuan Nyonya majikannya. Dia memilih menunggu di mobil, tidak mau terlibat terlalu jauh. Membiarkan Kailla menyelesaikan masalahnnya sendiri.


Tok!Tok!Tok!


Kailla mengetuk pintu rumah mertuanya, ketukan berulang. Pada akhirnya berujung dengan gedoran.


“Sayang, ini aku Kailla!” panggil Kailla, terus-terusan mengetuk.


“Ma, ini aku, Kailla,” panggilnya lagi setelah hampir lima menit tidak ada yang meresponnya sama sekali.


Dia baru saja akan menggedor pintu jati itu lagi, tapi tiba-tiba Kinar muncul dengan gaun tidur seksinya. Mata Kailla semakin melotot.


“Tante, dimana suamiku?” tanya Kailla menerobos masuk.


“Sayang, kamu dimana. Ayo kita pulang,” teriak Kailla, semakin panik.


Hening.


Kinar menatap Kailla heran. Menatap dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Belum sempat dia menjawab, dari arah dalam muncul Ibu Citra menatap heran pada menantunya.


“Wah, menantuku bertamu malam-malam begini. Ada apa Kai?” tanya Ibu Citra tersenyum sinis.

__ADS_1


“Ma, aku ingin bertemu dengan suamiku,” sahut Kailla, mencoba bersikap lebih sopan.


“Oh... kamu kehilangan suamimu. Apa putraku sudah muak dengan istrinya yang tidak bisa apa-apa ini,” celetuk Ibu Citra, menyindir.


“Ma.., aku serius. Suamiku ada disini?” tanya Kailla sekali lagi.


“Tidak ada. Dia sudah pulang sejak pukul 08.00 malam,” sahut Ibu Citra menjawab jujur.


Kailla diam, menatap keduanya bergantian, Ibu Citra dan Kinar. Beralih menatap keluar, ke halaman rumah. Panik membuat otaknya tidak bekerja, dia lupa mengecek mobil suaminya yang pasti ada di halaman kalau memang Pram menginap disini.


Deg—


Tidak ada mobil siapa-siapa. Kecuali mobilnya dan mobil sang mertua. Kailla tersenyum.


“Ma, maaf sepertinya aku salah. Aku pamit sekarang. Maaf sudah mengganggu tidur mama,” ucap Kailla, bermaksud mencium tangan mertuanya sebagai permohonan maaf.


Ibu Citra bergeming, bahkan tidak peduli.


“Maaf Tante, aku pamit,” ucap Kailla, tersenyum pada Kinar, melambaikan tangan tanpa dosa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal dia baru saja mengganggu penguni rumah.


Ibu Citra menatap punggung Kailla yang berbalik, berjalan ke arah pintu keluar.


“Kailla.. Riadi.. Dirgantara!” teriak Ibu Citra, membuat Kaila menghentikan langkahnya.


Berbalik dengan wajah terkejut, menatap Ibu mertua yang saat ini sedang menatapnya tajam.


“Aku sedang menunggu saat-saat ini. Saat kamu dibuang putraku!” ucap Ibu Citra sinis. Berjalan mendekati Kailla yang membeku di tempatnya berdiri.


“Pramku sudah membuangmu kah?” tanyanya.


“Ma..,” ucap Kailla pelan nyaris tidak terdengar.


“Aku muak mendengar keturunan Riadi memanggilku mama,” ucap Ibu Citra.


“Kenapa diam?” tanya Ibu Citra lagi. Emosinya kian memuncak, diingatkan pada musuh bebuyutan.


“Kamu terkejut? Bagaimana aku bisa mengetahui semuanya.”


“Ma...,” bisik Kailla semakin pelan.


“Perlu aku sebutkan deretan kesalahan ayahmu. Oopss, biasa kamu memanggilnya daddy bukan?” tanya Ibu Citra.


Semakin melihat Kailla diam, kekesalannya semakin menjadi.


“Mama mau apa?” tanya Kailla mencoba bersopan, menatap Kinar yang berdiri diam tidak jauh dari mereka.


Dia sudah bersiap-siap untuk kabur, kalau mereka akan berbuat macam-macam. Tidak mungkin juga dia membalas perlakuan mertuanya. Walau bagaimanapun, dia mamanya Pram, suaminya.


“Oh.., mau bernegosiasi denganku?” tawar Ibu Citra.


“Apa yang mama mau?” tanya Kailla, tidak ada sedikit pun ketakutan di matanya.


“Tinggalkan Pram, aku mungkin akan melepaskanmu,” sahut Ibu Citra.


Kailla tersenyum.


“Kalau aku tidak mau. Mama mau apa?” tanya Kailla, mulai menantang.

__ADS_1


“Aku akan menganggap dendam masa lalu antara keluarga kita selesai,” ucap Ibu Citra.


“Aku tidak akan meninggalkan putramu,” sahut Kailla, tersenyum.


“Tidakkah mama berpikir, di dalam sini mungkin saja ada keturunan keluarga Pratama,” ucap Kailla dengan licik, mengusap perut ratanya. Berjalan mendekat dengan mertuanya.


“Kamu...!” Mama Citra mulai terpancing emosinya.


Melihat keberanian istri kecil putranya. Diluar dugaannya, dia tidak menyangka gadis manja yang tidak bisa apa- apa ini, ternyata memiliki nyali, bahkan tidak takut dengan apa pun.


“Mama mau menjodohkan suamiku dengan pelakor itu?” tanya Kailla menunjuk ke arah Kinar.


“Mama jangan bermimpi!” lanjut Kailla, tersenyum licik.


“Kalau mama memintanya baik-baik padaku, mungkin aku akan mempertimbangkannya. Tapi aku takut putramu menjadi gila, kalau aku meninggalkannya,” ejek Kailla.


“Kamu..keterlaluan Kai!” ucap Mama Citra menunjuk ke arah Kailla.


“Mama berlaku baik dan sopan padaku, aku pasti akan melakukan hal yang sama,” celetuk Kailla.


“Aku permisi, Ma,” pamit Kailla, berbalik arah. Tapi baru saja melangkah, tangannya sudah dicekal.


Plakkkk!!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kiri Kailla. Lumayan kencang dan memberi efek panas dan berdenging seketika.


Kailla diam, hanya menatap sambil tersenyum. Mengusap bekas tamparan yang mungkin saja sudah memerah.


“Sudah Ma?” tanya Kailla, bergetar. Menahan tangisnya supaya tidak keluar.


“Masih kurang,” tanya Kailla menyodorkan pipinya kembali, menantang.


Plakk!! Sebuah tamparan kembali, lebih kencang dari sebelumnya. Bahkan kali ini membuat keseimbangan tubuhnya goyah.


“Cuma begini saja?” ucap Kailla tersenyum, menjilat sudut bibirnya yang sepertinya sobek. Ada rasa asin ketika lidahnya menyentuh di sana.


“Aku Kailla Riadi Dirgantara, putri kesayangan Riadi Dirgantara. Memohon maaf atas semua kesalahan daddyku pada keluarga Pratama,” ucap Kailla. Kembali suara itu bergetar, mengingat dosa-dosa masa lalu ayahnya.


“Mama boleh menamparku sepuasnya, kalau memang itu bisa membayar kesalahan masa lalu daddyku,” ucap Kailla.


Baru saja Ibu Citra hendak mengangkat tangannya kembali, tapi Kinar menahannya.


“Ma, kalau Mas Pram tahu mama menyakiti istrinya, dia akan membenci mama,” bisik Kinar mengingatkan.


“Wanita ini sengaja memancing mama. Dia mengalah, untuk kemenangannya. Lepaskan saja, Ma,” bujuk Kinar.


“Aku serius, meminta maaf atas nama daddyku,” ucap Kailla. Air matanya menetes, mengingat bahkan saat ini, daddynya sedang terbaring koma, tapi masih saja ada yang ingin menuntut balas padanya.


“Aku pamit Ma,” ucap Kailla, mengusap air matanya yang sempat turun. Maju, mencium tangan mama Citra yang melemas, tidak bisa berbuat apa-apa.


Entah apa yang dipikirkan Ibu Citra. Dia hanya menatap Kailla tak berkedip. Lebih tepat, dia hampir tidak percaya dengan menantu manja yang biasanya hanya bisa merengek pada putranya itu benar-benar bisa sekuat tadi.


***


To be continued


Love You All

__ADS_1


__ADS_2