
“TIDAK!” tegas Kailla.
“Istri daddy hanya mamaku!” lanjut Kailla, menolak menerima kenyataan.
Kailla menoleh ke arah suaminya. Laki-laki itu duduk dengan tenang, tanpa suara. Hanya memeluk erat pundaknya.
“Sayang, katakan padaku kalau yang dikatakan penipu ini tidak benar. Dia bukan orang baik-baik. Dia dan papanya ingin merebut semua milik daddy. Pasti ini semua kebohongannya lagi. Bukan begitu, Sayang?” tanya Kailla, meminta pembenaran dari Pram.
Rangkaian kisah yang dirangkainya sendiri, meskipun dia sudah menebak arahnya saat melihat batu nisan terukir nama Anna Wijaya di samping tempat peristirahatan sang daddy.
“Sudah, biarkan saja dia mau bicara apa. Untuk saat ini kita fokus pada prosesi pemakaman daddy,” bisik Pram, membiarkan kepala Kailla bersandar di bahunya. Berusaha menenangkan istrinya yang mulai terpancing emosi.
Lelaku itu memilih mengabaikan kehadiran Dennis, tidak mau menyanggah atau pun terlibat pembicaraan yang akhirnya menguak rahasia besar istrinya.
“Tidak, aku tidak mau Sayang. Daddy tidak boleh dimakamkan bersama orang asing. Aku mau dimakamkan di samping mama saja!” pinta Kailla, dia sudah berdiri, menarik tangan Pram. Memaksa suaminya memindahkan tempat pemakaman Riadi.
“Aku tidak mengenal siapa Anna, aku tidak mau daddy dimakamkan bersama orang asing. Makamkan saja daddy bersama mama. Ayo, Sayang, mumpung masih belum dimakamkan, kita masih bisa memindahkannya,” ucap Kailla, memohon pada Pram.
“Kai, dengar. Itu permintaan daddy. Aku tidak bisa membantah,” jelas Pram.
Ucapan Pram seakan membenarkan apa yang disampaikan Dennis, tentu saja Kailla tidak terima.
“Tidak. Aku berhak menentukan dimana daddy harus dimakamkan. Dia hanya orang asing. Aku tidak mau daddy dimakamkan bersamanya,” ucap Kailla, menunjuk ke arah nisan Anna Wijaya. Matanya mengembun, dipenuhi airmata yang siap turun.
Hanya melihat sikap Pram saja dia tahu kalau semua yang dikatakan Dennis itu benar, tetapi kenyataan itu menghantamnya tiba-tiba. Ibu hamil itu tidak siap dengan fakta di depan matanya.
“Ayo Sayang, aku mau daddy dimakamkan bersama mama Rania. Aku putrinya, aku berhak mengambil keputusan.
__ADS_1
“Kai, sudah. Jangan begini. Anna Wijaya itu istri daddy. Dia istri sah Riadi Dirgantara. Lagipula ini permintaan daddy, yang ingin dikebumikan bersama orang yang dicintainya.” Pram akhirnya berterus terang. Tidak sanggup berbohong di saat seperti ini.
Deg—
Mendengar pernyataan suaminya, Kailla bagai disambar petir di siang bolong. Menerima kenyataan kalau daddynya sudah pergi saja, Kailla masih setengah hati. Dan sekarang di hadapkan pada fakta baru, kalau daddynya memiliki istri lain selain mamanya.
“Katakan sekali lagi, Sayang,” pinta Kailla, tidak peduli dengan suaranya yang bisa saja didengar orang lain di sekitarnya.
Dennis, si pembuat masalah segera beranjak pergi setelah melihat perdebatan suami istri di depannya. Tidak mau terlibat terlalu jauh, laki-laki itu sudah menghilang di balik kerumunan para pelayat.
“Katakan sekali lagi! Aku ingin mendengarnya langsung dari bibirmu!” teriak Kailla, di depan Pram.
“Sudah Kai. Jangan begini. Aku mohon. Aku akan menjelaskannya nanti saat di rumah,” pinta Pram, dengan wajah memelas.
Kedua tangan Kailla sudah mengepal. Ibu hamil itu bersiap meluncurkan pukulannya pada sang suami, menumpahkan isi hatinya saat ini. Beberapa pukulan sempat mengenai pundak dan dada Pram, sebelum akhirnya laki-laki itu berdiri dan berhasil menguasai Kailla yang sedang mengamuk padanya di tengah keramaian. Memaksa memeluk supaya istrinya tenang. Berhenti menangis dan menumpahkan perasaannya.
“Aku mau daddy dimakamkan di samping mama. Aku mohon,” pinta Kailla di sela isaknya. Sedikit tenang, menikmatu belaian Pram.
“Iya, aku tahu. Tenangkan dirimu, Kai. Ingat kamu sedang hamil. Ingat ada anak-anak kita bersamamu, jangan emosi berlebihan, Sayang,” bisik Pram, memeluk dan mengusap punggung istrinya, berusaha membuat ibu hamil itu tenang.
Kailla masih menggeleng kencang di dalam pelukan, isaknya tangisnya terdengar begitu memilukan. Sejak semalam, berusaha menguatkan hati, di saat dihadapkan kenyataan ini, Kailla kembali terbawa perasaan.
“Aku mohon, makamkan daddy bersama mamaku. Mamaku juga berhak untuk bersama daddy di tempat peristirahatan terakhirnya,” pinta Kailla memohon. Tangisnya semakin kencang, sampai tubuh lemah itu berguncang hebat.
“Ssttttt ... sudah Sayang. Jangan berpikiran yang macam-macam. Sekarang cukup ikhlaskan dan kirim doa untuk daddy.”
“Aku tidak mau, aku hanya minta daddy bersama mamaku, bukan bersama orang asing itu. Aku tidak mengenalnya. Aku mohon,” pinta Kailla memohon terus menerus.
__ADS_1
Saat peti jenazah itu akan diturunkan ke liang lahat, Kailla kembali mengamuk, memohon pada Pram. Wanita hamil dengan pakaian hitam itu terus menerus meminta pada suaminya. Sampai akhirnya Kailla memohon sambil berlutut di depan Pram.
“Aku mohon, jangan biarkan daddy dimakamkan dengan orang asing. Aku mau daddy dimakankan bersama mamaku. Semasa hidup, daddy tidak sekali pun mengunjungi mama. Ini tidak adil kalau sampai di akhir hidupnya pun, mama di perlakukan seperti ini. Aku mohon,” pinta Kailla, memeluk kedua kaki Pram.
“Kai, jangan begini Sayang.” Pram ikut berlutut memeluk istrinya.
“Tolong berikan keadilan untuk mamaku. Aku tidak masalah kalau daddy tidak dimakamkan bersama orang asing itu, tetapi menjadi tidak adil untuk mamaku kalau begini. Aku mohon. Mamaku istri daddy juga, aku mohon,” pinta Kailla di sela tangisannya.
“Dengar Sayang, ini bukan masalah adil atau tidak adil. Kenyataannya mama Rania bukan istri daddy. Tidak mungkin dimakamkan bersama “ ucap Pram sembari membingkai wajah Kailla dengan kedua tangannya, terpaksa berterus terang. Dia tidak punya jalan lain. Kailla akan terus mengamuk tidak berkesudahan.
Kailla tertegun, berusaha mencerna ulang kalimat yang disampaikan padanya. Tubuh yang sedang bertumpu di atas kedua lututnya itu melemas. Ucapan Pram terngiang-ngiang di telinganya. Tentu saja, kenyataan yang didengarnya kali ini tidak kalah menguncang dibanding kenyataan sebelumnya.
Tubuh Kailla ambruk, kehilangan kesadaran tepat di depan pusara daddynya. Seiring dengan peti jenazah yang sudah diturunkan di dasar lubang. Pram hanya bisa pasrah, melihat kondisi Kailla. Menepuk pelan pipi istrinya supaya segera tersadar kembali.
“Sayang, bangun. Kita harus mengantar daddy untuk terakhir kalinya,” bisik Pram, memeluk Kailla yang terbaring lemas. Tampak Bayu dan Sam berjalan mendekat.
“Bos, ada apa?” tanya Bayu setelah berhasil menerobos keramaian. Kedua asisten itu sejak tadi sudah memperhatikan kalau ada yang tidak beres pada kedua majikannya.
“Kailla pingsan, Bay. Tolong minyak kayu putih atau apa saja untuk membangunkannya,” pinta Pram panik.
“A-apa bawa ke mobil saja, Pak?” tawar Sam membantu menggosok-gosok tangan Kailla.
“Tidak. Dia harus bangun sebelum peti jenazah Riadi ditimbun tanah. Kailla harus melihat sendiri,” jelas Pram masih berusaha membangunkan istrinya.
“Kai, bangun Sayang. Aku mohon jangan begini. Kasihan daddy,” bisik Pram, mengecup wajah Kailla yang pucat pasi.
***
__ADS_1
TBC