Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 137 : Pemilik hati dan hidupku


__ADS_3

Kailla sedang membongkar shopping bag hadiah dari suaminya saat Ibu Citra mengetuk perlahan pintu kamar.


“Kai, mama boleh masuk?” tanya Ibu Citra dari balik pintu, berusaha bersikap sopan. Bagaimana pun disini Kailla lah tuan rumahnya.


Wanita hamil yang sedang duduk bersila di lantai berlapis kayu itu bahkan tidak berpindah sedikit pun, hanya berteriak mengizinkan sang mertua masuk.


“Masuk saja, Ma,” sahut Kailla, masih sibuk dengan hadiah-hadiahnya.


Sebuah tas pink, dikeluarkannya dari dalam kantong belanjaan, menyusul sebelumnya sepasang sepatu dan kacamata hitam dengan merk yang sama. Sorot matanya berbinar, penuh kebahagiaan menyambut semua pemberian sang suami yang tidak terduga.


Ibu Citra yang melangkah masuk ke dalam kamar diikuti Kinar tidak kalah terpana. Menantunya sedang duduk dengan santai di tengah kantong belanjaan yang berserakan. Tidak jauh dari tempat Kailla duduk, tampak tas dan sepasang sepatu bermerk. Dan sekarang Kailla sedang membuka kantong belanjaan yang lain.


“Ya Tuhan. Apa yang dilakukan Pram,” ucap Ibu Citra menatap isi kantong yang baru dikosongkan Kailla.


Satu set perhiasan bertabur berlian terpampang nyata di depan mata saat kota bertuliskan tiffany & co itu dibuka Kailla.


“Oh my God!” Kailla menutup mulutnya saat melihat isi kotak. Terselip sebuah kertas dengan tulisan tangan di bawah tutup kotak. Saat membuka dan membacanya, Kailla langsung menangis penuh haru.


Teruntuk pemilik hati dan hidupku, Kailla Riadi Dirgantara.


Terimakasih, untuk dua puluh empat tahun ini. Senyuman dan kebahagiaan yang kamu bawa di dalam hidupku tidak akan bisa terganti dengan apapun.


Terimakasih untuk dua malaikat kecilku yang sekarang bertumbuh di dalam dirimu.


Terimakasih sudah memaafkanku dan mau tersenyum lagi padaku.


Dan, terimakasih sudah mengizinkanku mencintaimu dan memanjakanmu.


Reynaldi Pratama.


“Itu cantik sekali Kai,” ujar Ibu Citra tiba-tiba, berjalan mendekat supaya bisa melihat lebih jelas. Mertua dan menantu itu terlihat sibuk mengagumi perhiasan berwarna putih dengan berlian berkilauan.


“Iya, Ma,” sahut Kailla, melipat kembali surat dari Pram, buru-buru menghapus jejak-jejak airmata yang tersisa di pipinya.


Sedangkan Kinar, terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Mengagumi kamar mewah dan luas, yang terlihat sangat nyaman. Dari pintu masuk, terlihat jelas jendela kaca mengisi satu bidang dindingnya, dengan gorden putih melambai. Disana juga ada akses keluar menuju ke balkon yang langsung menghadap ke jalan raya. Menampilkan pemandangan laut di seberang rumah.


“Kamarnya cantik,” cicit Kinar pelan.


Berbarengan dengan itu, pintu kamar yang berada di belakangnya terbuka. Ketiga wanita yang menghuni kamar seketika menoleh. Muncul Pram dengan senyumnya, membawa nampan berisi sepiring nasi goreng, segelas air putih dan beberapa butir vitamin istrinya.

__ADS_1


“Sayang..!” pekik Kailla, berlari menyambut Pram. Bahkan dia harus menendang kantong belanja yang berantakan di lantai.


“Jangan peluk aku sekarang, makanan ini akan tumpah,” tolak Pram saat melihat gelagat Kailla yang mencurigakan.


“Biarkan aku meletakannya di meja terlebih dulu,” lanjut Pram lagi, senyum sendiri melihat wajah merona istrinya. Saat ini, kebahagiaan Kailla adalah kebahagiaannya. Tidak ada lagi yang lain.


Begitu nampan terlepas dari tangan Pram, mendarat mulus ke atas nakas. Kailla langsung meminta gendong suaminya seprti biasa. Kedua tangan langsung bergelayut manja di leher Pram dengan kedua kaki mengapit pinggang suaminya.


Pram butuh beberapa detik untuk menyeimbangkan tubuhnya supaya mereka berdua tidak terjatuh.


“Aduh Kai. Kamu bertambah berat,” keluh Pram, dengan kedua tangan melingkar di tubuh Kailla supaya istrinya itu tidak merosot turun. Menggendong sang istri seperti bayi koala raksasa.


“Terimakasih hadiahnya,” ucap Kailla, melabuhkan kecupan singkat di bibir Pram, mengabaikan keberadaan dua orang asing yang sedang bertamu di kamar mereka.


"Kamu menyukainya?" tanya Pram.


"Suka sekali," sahut Kailla dengan logat manjanya.


Ibu Citra terlihat sibuk. Beliau melanjutkan membongkar kantong belanjaan yang tersisa. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan Pram dan Kailla.


Dan Kinar, lagi-lagi harus menelan rasa cemburu dan irinya saat melihat Kailla diperlakukan begitu manis, dimanjakan dan dihujami cinta begitu besar oleh Pram.


Masih menatap nanar pada sepasang sejoli yang enggan terpisah. Bahkan dia harus dipaksa menonton adegan demi adegan mesra yang bukan hanya membuat matanya sakit, tetapi hati ikut teriris-iris, terluka tercabik-cabik.


“Ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan dan mencintai suami orang,” ucapnya dalam hati.


Pram sudah menjatuhkan perlahan tubuh istrinya, duduk di atas tempat tidur.


“Habiskan nasi gorengmu, Kai,” pinta Pram, meraih piring nasi goreng dan meletakannya di atas pangkuan Kailla.


Sudut mata lelaki itu menangkap aura kecemburuan di raut wajah sang mama. Apalagi saat ini, Ibu Citra sedang menimang sebuah tas dengan model dan merk yang sama dengan yang pertama kali dikeluarkan Kailla dari kantong. Hanya berbeda warna.


“Sayang, sepertinya mama menyukai tas hitammu,” ucap Pram, mengalihkan konsentrasi sang istri.


Kailla menatap ke arah yang sama, ibanya muncul pada sang mama mertua yang sekarang sudah menjalin hubungan baik dengannya.


“Ma, itu untuk mama saja,” ujar Kailla tiba-tiba.


Pram yang sedang berdiri di depan Kailla, sontak membungkuk. Memberi sebuah kecupan di bibir istrinya yang di dalam mulutnya masih penuh dengan nasi goreng.

__ADS_1


Dan Ibu Citra, tentu saja wanita itu bahagia. Diusianya yang tidak muda lagi, dia baru bisa menikmati hobinya, berburu barang-barang branded. Hobi yang dulu sempat digelutinya saat sang suami masih ada.


“Terimakasih Kai,” ucap Ibu Citra.


“Mama boleh mengambil di lemariku juga kalau mama mau. Ambil saja mana yang mama mau,” lanjut Kailla dengan santainya.


Kailla memang tidak pernah kekurangan, tidak pernah kesulitan uang. Dari sebelum menikah sampai menikah, Pram selalu menuruti semua keinginannya. Untuk masalah hobinya berburu tas branded, suaminya tidak pernah protes sedikit pun. Bahkan terkadang Pram yang menawarinya.


Tawaran Kailla sontak membuat Ibu Citra bergegas menuju walk in closet. Masih dengan memeluk tas hitamnya, wanita tua itu tersenyum.


“Ckckckk, padahal mama itu tidak kekurangan. Untuk wanita seusianya, aku yakin tas yang dimiliki mama lebih dari cukup. Aku selalu membelikan sama untukmu dan mama, tetapi selalu saja mama akan seperti anak kecil setiap membahas masalah tas,” cerita Pram, sedikit kesal dengan sikap mamanya,


“Padahal kalau mama mau, mama bisa membeli sendiri. Uang bulanan yang aku berikan padanya berlebih. Dia memegang kartu yang sama dengan milikmu,” lanjut Pram, tersenyum sembari menggelengkan kepala.


Kinar masih mematung, diam-diam mencuri pandang pada Pram.


“Tante Kinar kalau mau juga boleh memilih satu,” ucap Kailla, sambil memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Kali ini Pram terkejut. “Kamu serius, Kai?” tanya Pram, tidak percaya.


Kailla mengangguk.


“Biarkan saja, yang terpenting dia tidak mengambil suamiku. Tas masih bisa dibeli lagi. Apalagi kalau memiliki suami seperti laki-laki di hadapanku ini. Bukan hanya tas, aku bisa membeli pabrik tas,” sahut Kailla. Masih saja sibuk menyuapi nasi goreng ke dalam mulutnya.


Tertinggal mereka berdua. Kinar dan Ibu Citra sedang melihat koleksi tas Kailla. Pram yang saat ini mengambil alih sendok dari tangan Kailla, memilih fokus menyuapi istrinya


“Ma, cepat pilih mana yang mau. Setelah itu tolong keluar dari kamarku,” teriak Pram, menyuapi sesendok penuh nasi goreng terakhir ke dalam mulut Kailla.


“Minum vitaminnya, Kai,” pinta Pram, tersenyum menatap sebutir pil berukuran besar berwarna kemerahan. Sudah terbayang bagaimana susahnya Kailla menelannya.


Aku akan meminumnya nanti,” ucap Kailla, berusaha mengulur.


“Jangan menipu semua orang di rumah. Aku tahu, kamu membuang semua vitaminmu selama beberapa hari ini,” ucap Pram, berjalan ke arah tempat sampah, mengijak pijakannya. Dalam sekejap penutup itu pun terbuka. Dan benar saja, isi tempat sampah dipenuhi vitamin Kailla.


“Aku tidak mau. Ukurannya besar sekali. Aku tidak bisa menelannya,” tolak Kailla.


“Ayo Kai, aku harus kembali bekerja. Sebentar lagi aku ada rapat,” bujuk Pram, menatap ke arah walk in closet, tidak ada tanda-tanda mamanya dan Kinar akan keluar dari sana.


“Ma! Bisa memilihnya nanti saja. Aku masih ada urusan dengan Kailla,” teriak Pram, mengusir mamanya keluar dari kamar.

__ADS_1


***


To be continued


__ADS_2