
Habibie mengembuskan napas kasar. Pria itu memejamkan mata seraya terus beristighfar, sedangkan sang ibu dan ayahnya malah tersenyum, senyum kecil seolah menunjukan kesenangan mereka di atas kepusingan sang anak.
"Kiara udah bilang Kiara enggak mau pulang. Kiara betah di sini, Kiara mau belajar masak sama Ummi. Ummi juga udah janji mau ngajarin Kiara ngaji."
Habibie kembali duduk dengan posisi tegak, ingin membentak tapi dia berusaha untuk tersenyum. "Kita itu sudah punya rumah sendiri. Nanti saya yang ajar kamu ngaji. Sekarang pulang dulu! Kasihan Ummi kalau kamu recokin terus!"
"Ummi!"
Kiara merengek dengan nada manjanya. Ummi Amelia tersenyum. Wanita itu mengusap wajah Kiara, merangkulnya dan mengusap punggungnya dengan usapan lembut.
"Kia ... maafkan Ummi ... tapi, kalau kamu mau belajar ngaji, salah satu syaratnya, kamu harus nurut sama suami. Karena sekarang, surga kamu terletak padanya!"
"Tapi Ummi ...."
"Enggak bisa tapi, Sayang. Nanti, kalau suami kamu mengizinkan, pas dia ke kantor, Kia main ke sini ya! Ummi ajarin masak lagi. Kita buat makanan yang lebih enak. Atau, mau Ummi ajarin buat kue?"
Hembusan napas kasar keluar dari mulut perempuan itu, dia memeluk Ummi Amelia dengan erat. Ingin rasanya Kiara menangis, tapi dia juga takut masuk neraka jika terus-menerus membangkang pada suaminya.
"Kalau enggak gini aja! Kalian nginep aja di sini. Lagian besok juga Habibie libur toh!" ayah Habibie menyarankan.
Baru akan menjawab tidak, Kiara sudah melompat ke sisi tubuhnya, duduk anteng sambil memasang wajah puppy. Mata berbinarnya membuat Habibie tidak bisa untuk berpaling. Pria itu tertegun melihat mata bulat yang mengerejap lucu.
"Mas~~ boleh ya ... please. Satu malam saja!"
Ummi Amelia dan suaminya saling menyenggol. Mereka tersenyum, melihat Habibie ditodong seperti itu rasanya sangat menyenangkan. Dia yang tidak terbantahkan kebingungan hanya karena rengekan Kiara.
__ADS_1
"Udah, Bie ... nginep aja. Mungpung kalian masih belum sibuk. Lagian juga bener kata Abi kamu. Besok libur, dua hari 'kan? Lumayan. Ummi juga rencananya mau pergi ke kebun sayur. Kita mancing, bakar-bakaran ikan kayaknya seru."
Mendengar hal tersebut, Kiara semakin antusias. Dia merangkul lengan suaminya semakin memelas dengan bibir mengerucut. "Mas ... ayolah .... Mau ya!"
Habibie kembali dibuat bungkam. Wajah ini, terlalu lucu dan menggemaskan untuk perempuan yang sudah berusia 25 tahun. Namun, yang membuat Habibie luluh bukan itu, dia berpikir, jika Kiara menghabiskan waktu untuk hal-hal yang positif, mungkin saja dia bisa melupakan teman-temannya untuk sementara waktu.
"Baiklah!"
"Yeaayyyyy!"
Kiara berjingkrak heboh mendengar persetujuan dari Habibie. Dia kembali ke sisi Ummi Amelia kemudian memeluknya dan mengecup pipi ibu mertuanya itu beberapa kali.
"Kia sayang Ummi. Ummi adalah yang terbaik!"
Orang-orang itu hanya tersenyum. Habibie pun melakukan hal yang sama. Ummi Amelia mungkin menjadi orang yang paling bahagia. Dia telah lama mendambakan seorang anak perempuan, setelah mengenal Kiara, dia menjadi tahu bagaimana sensasinya memiliki anak perempuan yang manja dan ingin selalu disayang seperti menantunya itu.
"Ini kamar Mas Habibie? Lebih serem ya. Berasa dark banget ini, Mas Abie pasti---!"
Perempuan itu tertegun saat Habibie tiba-tiba menarik tangannya lalu meletakan telapak tangan kanannya di atas kening Kiara. Pria itu diam untuk beberapa saat, dan hal itu membuat Kiara mematung, tidak kuasa menahan debaran jantung yang menggila.
"Kau sudah sembuh," kata Habibie. Ia melengos meninggalkan Kiara lantas masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian.
"Mau sampai kapan melongo di sana!" ketus Habibie lagi.
Kiara mengerejap. Ia tersentak dan langsung berlari ke kamar mandi. Habibie yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. Merasa heran dengan sikap aneh yang istrinya tunjukkan.
__ADS_1
Di kamar mandi, bukannya mempersiapkan diri untuk tidur, dia malah mematung di depan cermin, menatap wajahnya seraya menggelengkan kepala. "Jangan jatuh cinta Kiara. Kau sudah janji kalau pria itu lah yang akan jatuh cinta lebih dulu. Stay strong! Kamu bisa!"
Kiara melangkah masuk ke kamar. Perempuan itu memasang wajah ice tanpa mau menoleh ke arah Habibie. Duduk di tepian ranjang, dan merangkak perlahan-lahan.
"Ambil selimut yang lain!" kata Habibie membuat Kiara mengerutkan kening.
"What!"
"Saya bilang sambil selimut yang lain! Kau terlalu mengganggu!"
Astagfirullah ... Kiara menggeleng-gelengkan kepalanya. Perempuan itu menatap Habibie dengan mata memincing, apalagi saat Habibie berbaring menyamping memunggunginya.
"Dasar enggak punya hati!" geram Kiara. Perempuan itu tersenyum menyeringai. Ia mengambil ujung selimut lantas menutup seluruh tubuh suaminya itu dengan kain besar tersebut, setelahnya, dia mendorong tubuh Habibie dengan kedua kakinya sehingga ....
Brukkk!
Pria itu jatuh ke bawah. Kiara terkikik menahan tawa. Buru-buru ia berbaring memunggungi suaminya dengan bahu bergetar.
"Kau itu sangat menyebalkan, Tuan!"
Settt!
Tawa perempuan itu langsung berhenti begitu Habibie menarik bahunya, mengungkungnya dengan tangan juga tatapan mata bak elang pemangsa.
"Mas Habibie ~~!" gumam Kiara. Suara perempuan bergetar. Dia ketakutan, matanya tidak bisa dia alihkan meksipun dia sudah mencoba.
__ADS_1
"Kau harus saya hukum, Kiara~!"