Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
75. Kepanikan Semua Orang


__ADS_3

Perempuan itu menatap Habibie lekat. Namun, tidak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Lidahnya mendadak kelu, Kiara tidak tahu dia harus menjawab apa.


"Kia ... Habibie sudah memiliki niat baik, Nak. Coba dipirkan lagi. Kalian tidak bisa berpisah karena sekarang kamu lagi mengandung, tapi ... bukankah kamu juga berdosa jika mendiamkan suami kamu terlalu lama? Inget Nak. Kalau masih ada cinta dalam hati kamu, melunak lah. Tapi, kalau kamu sudah tidak memiliki apa pun untuk suami kamu, perjelas ini sekarang Nak. Kasihan Nak Abie. Suami kamu adalah manusia biasa, kamu juga tahu bagaimana dia tidak pernah tergoda oleh banyaknya wanita di luaran sana. Habibie selalu menundukkan pandangannya. Jika saat itu dia lupa, maafkanlah ke khilafannya, Nak."


Kiara termenung mendengar apa yang Ummi Rahma katakan. Dia tersenyum samar. Ingin menyentuh wajah suaminya, tapi tangan itu kembali terkepal. Laki-laki ini memang sangat baik, dia setia ... tapi, karena kesetiaan yang terlalu berlebihan itu, Kiara menjadi sakit hati dan pergi meninggalkan suaminya.


"Maaf Budhe, Kiara mau istirahat dulu."


Perempuan itu melengos pergi ke kamarnya, meninggalkan semua orang yang kini tengah menatapnya nanar. Kiara menutup pintu itu perlahan, dia kembali menunduk, mengusap dada sebelah kirinya berusaha untuk menormalkan degup jantung menggila. Kiara tahu, masih ada cinta dalam hatinya. Namun, untuk sekarang Kiara masih ragu. Dia mengusap perutnya yang semakin membesar. "Maafkan mama, Nak. Maaf kalau mama buat kamu kehilangan kasih sayang papa kamu. Tapi, mama memiliki alasan, kenapa mama melakukan ini semua."


Di luar kamar pun, Ummi Rahma sedang berusaha untuk menenangkan Habibie. Mengusap punggung suami keponakannya itu dengan usapan-usapan lembut. "Kiara akan baik-baik saja, Nak. Percaya sama Budhe, nanti dia akan memaafkan mu. Tapi ingat satu hal, yakinkan lagi hati Nak Abie, sekiranya memang Nak Abie tidak benar-benar yakin, sebaiknya tinggalkan tempat ini sekarang juga. Kiara aman bersama kami."


Risyam mengangguk mantap. Pria itu janji, dia akan menjaga Kiara seandainya Habibie sudah tidak menginginkan perempuan itu lagi. Risyam bisa kok menggantikan Habibie untuk menjadi ayah anak Kiara meskipun dia tidak akan mungkin bisa menggantikan posisi Habibie sebagai suaminya perempuan itu.


"Benar kata Ummi, kalau enggak yakin, pulang sekarang. Kita enggak akan maksa, Kiara aman bersama kami."


Habibie menarik napas dalam. Ia tidak menjawab dan hanya menunduk saja. Pria itu berusaha untuk mengingat kembali semuanya, apa yang pernah dia lakukan pada Kiara, seberapa banyak dia menyakiti Kiara sampai, seberapa sering dia membuat perempuan itu kecewa.


** ** **


Ketika sore hari menjelang, lebih tempatnya saat adzan ashar hendak dikumandangkan. Kiyai Salim menarik Habibie untuk maju ke sap depan. Suami Kiara itu terlihat kebingungan, celingukan untuk melihat reaksi orang-orang disekitarnya.


"Adzan Nak!" pinta Kiyai Salim. "Ayok!" pintanya lagi karena Habibie malah melongo seperti orang linglung. "Ayok Abie. Sebentar lagi masuk waktu shalat ini."


"Tapi, Pakdhe --!"


"Enggak usah tapi-tapian. Pakdhe tahu kalau kamu bisa. Ayoklah!"

__ADS_1


Pria itu tersenyum, mau tidak mau Habibie maju ke depan, ia tidak bisa menolak karena Kiyai Salim sangat memaksa. "Bismillahirrahmanirrahim!"


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar ! Allaahu Akbar, Allaahu Akbar !"


Temen-temen Kiara yang masih ada di depan rumah Budhe Rahma langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka terpaku, merenung mendengarkan lantunan adzan yang sangat merdu tersebut.


"Allaahu Akbar! Alhamdulillah ... MasyaAllah ... suaranya adem banget. Ini bukan suara ustadz Risyam. Siapa ya?" tanya perempuannya tersebut.


"Ya Allah ... suaranya kayak lagi ngajak berumah tangga ini mah. Adem banget."


Kiara tersenyum kecil, perempuan itu ikut menatap ke arah masjid yang menjadi tempat keluarnya suara tersebut. Namun, beberapa saat kemudian, senyum itu semakin lebar saat bayi yang ada di dalam kandungannya menendang cukup kuat.


"MasyaAllah, Nak. Kamu suka suaranya?" tanya Kiara pada calon bayinya. Kiara ikut meresapi betul-betul suara tersebut. Keningnya mengkerut ketika ia mengingat sesuatu. Tunggu ... suara ini tidak asing, Kiara sudah pernah mendengarnya.


"Mas Abie," gumam Kiara menatap ke arah masjid itu dengan seksama. Jantungnya berdebar, Kiara kembali mengingat semua kenangan yang sudah pernah mereka lewati bersama. Saat Habibie selalu membentaknya, dikala Habibie mencontohkan bagaimana cara membaca Alqur'an yang baik, juga di saat Habibie menjadi imam shalat untuknya.


"Astagfirullah ....!" Kiara menunduk, perempuan itu mengusap bulir bening yang mengalir dari sudut matanya. Perempuan itu tidak mengerti kenapa hatinya bisa selemah ini. Kiara tidak ingin memaafkan suaminya dengan mudah, Kiara ingin menghukum pria itu dengan segala kekuatan yang dia miliki.


"Ya Allah, Nak. Mama minta maaf, mama udah bikin kamu jauh dari papa kamu, tapi mama terlalu takut kalau dia akan menyakiti kita lagi. Maafkan mama, Sayang." Suara perempuan itu terdengar sangat lirih dan memilukan. Ia kembali mengusap air matanya dan segera beranjak untuk mengambil air wudhu.


** ** **


Sebenarnya, sejak ashar itu, Kiara tidak keluar dari kamarnya. Ini sudah magrib dan sudah hampir masuk jam makan malam. Namun, tak sekalipun Habibie melihat batang hidung istrinya.


"Syam ... Kiara ke mana? Dia baik-baik aja 'kan?" tanya Habibie khawatir. Pasalnya, semarah apa pun Kiara, perempuan itu tidak pernah seperti ini.


"Ummi lagi cek kayaknya," sahut Risyam.

__ADS_1


"Astagfirullah!" panik Ummi Rahma. Perempuan yang baru keluar dari kamar Kiara itu kelimpungan.


"Kenapa Budhe, Kiara kenapa?" Habibie menjadi ikut panik. Begitu pun dengan Risyam.


"Kiara demam, Abie. Badannya panas tapi dia menggigil. Gimana dong?"


"Bawa ke rumah sakit aja, Budhe. Kiara lagi hamil besar, saya takut terjadi apa-apa."


"Tapi gimana?" Budhe Rahma terlihat semakin panik. "Ayesha sama Pakdhe mu lagi enggak ada."


Habibie berlari menuju kamar Kiara. Pria itu memekik meminta Risyam untuk mengambil kunci mobilnya. " Tolong ambilkan kunci mobil, Kak Syam! Ada di lemari. Kamu bisa nyetir kan?"


Risyam mengangguk mengiyakan. Pria itu melakukan apa yang Habibie minta, sedang Habibie sudah bersiap untuk memangku istrinya. "Kerudung, kerudung Kiara, Mas!" lirih perempuan itu.


Ummi Rahma langsung berlari menyambar kerudung instan, juga blazer untuk keponakannya itu.


"Pegangan, Sayang," ucap Habibie seraya menggendong istrinya membawa istrinya keluar dari rumah.


"Hati-hati, Bang!" ujar Risyam, menutup pintu mobil belakang untuk Habibie. "Ummi duduk di depan."


"Ah iya," sahut Ummi Rahma. Keringat dingin mulai membanjiri wajahnya. Jika Kiara tidak sedang hamil, Ummi tidak akan sekhawatir ini, tapi sekarang keadaannya berbeda.


"Mas sakit ... dingin," lirih perempuan itu.


Habibie semakin mengeratkan pelukannya. Pria itu merasakan sesak luar biasa. "Yang sabar, Sayang. Mas izin peluk ya. InsyaAllah semuanya akan baik-baik aja."


Berulang kali Habibie mengecup puncak kepala istrinya, pria itu mengamalkan doa -doa berharap Allah akan menjaga anak dan istrinya.

__ADS_1


"Mas sakit," lirih perempuan itu lagi. Habibie tidak bisa melakukan apa-apa. Jika memang kuasa ada di tangannya, Habibie mungkin akan memindahkan rasa sakit itu padanya agar Kiara tidak menderita lagi.


"Budhe!" panggil Habibie dengan mata membulat sempurna. "Budhe ada yang rembes." Pria itu semakin ketakutan, matanya benar-benar sudah panas juga dadanya bergemuruh kencang.


__ADS_2