Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
82. Habibie Sudah Berubah


__ADS_3

Satu minggu setelah berpindah ke rumah baru, Habibie benar-benar menunjukkan keseriusannya. Pria itu mengurus Kiara di disela-sela kegiatannya yang padat karena sudah 2 minggu dia tidak pergi ke kantor. Meskipun Gibran mengurus semuanya dengan baik, Habibie tetap harus mengetahui segalanya.


Setelah shalat ashar, Habibie pulang ke rumah. Wajah pria itu berseri-seri. Setelah pintu mobilnya ditutup, Habibie berlari masuk ke dalam rumah mewahnya.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam, Tuan!" sahut Bi Arum. Ia mengambilkan tas dan juga jas dari tangan Habibie. Pria itu tidak pernah menuntut Kiara untuk melayaninya, apalagi saat ini Kiara sudah memiliki bayi kecil yang harus selalu diperhatikan. Malah, setiap hari, Habibie lah yang menyiapkan semua keperluan sang istri. Bukan takut Kiara lari, karena bisa saja Habibie mempekerjakan seorang pengasuh untuk istrinya itu. Namun, mengetahui beratnya mengurus bayi, Habibie merasa jika dia harus membantu sang istri agar Kiara bisa selalu happy.


"Nyonya di mana Bi?" tanyanya celingukan, biasanya di jam seperti ini Kiara ada di bawah, tapi kenapa sekarang sangat sepi.


"Nyonya ada di halaman belakang, Tuan. Katanya pengen liat yang hijau-hijau."


Tanpa menunggu apa pun lagi, Habibie langsung berlari untuk menemui istri dan anaknya. Pria itu tersenyum ketika melihat Kiara sedang membacakan buku dongeng. Sedang sang anak ada di dalam stroller.


"Assalamua'laikum!"


"Wa'alaikumsalam." Kiara menoleh, perempuan itu baru akan beranjak tapi Habibie menahan bahunya. Pria itu menunduk, mengecup kening dan seluruh permukaan wajah sang istri tanpa ada yang terlewat sedikit pun. "Mas kangen, Sayang."


Kiara hanya terkekeh, perempuan itu mengambil tangan sang suami, mengecup punggung dan telapak tangan suaminya itu lantas mendongak. Kiara merentangkan tangannya meminta Habibie untuk masuk ke dalam dekapan.


"Kiara juga kangen, Mas. Apalagi Elkhan. Hari ini agak rewel, tapi Alhamdulillah tadi Ummi ke sini sebentar."


Habibie yang sedang mendekap sang istri melepaskan dekapannya. Pria itu duduk di sebelah Kiara, mengusap wajah sang istri, menatapnya dalam penuh kelembutan.


"Sayang pasti capek ya," ujarnya lirih. "Mas udah pulang, sekarang kamu bisa istirahat. Terima kasih karena sudah menjaga dan merawat anak kita dengan baik. Mas bangga sama kamu, istri kecilnya mas udah bisa ngurus bayi. Alhamdulillah."


"Mas enggak boleh ngomong gitu terus, Elkhan anak Kiara juga. Lagian Kiara udah bukan istri kecilnya Mas Abie. Kiara udah jadi Ibu untuk Baby Elkhan," ucapnya yang langsung duduk di atas pangkuan sang suami. Mas mau dibuatkan teh atau kopi?" Tangan itu merangkul leher suaminya agar tidak jatuh.

__ADS_1


"Enggak usah, mas bisa bikin sendiri kalau mau," ujarnya tersenyum hangat, lagi-lagi Habibie mengecupi istri cantiknya itu. Mengeratkan pelukannya membuat si perempuan semakin nyaman.


"Kiara suka wangi Mas Abie, ademmmm ... enak, Kiara jadi lebih rileks dan lebih nyaman. Jadi pengen tidur 'kan."


Pria itu terkekeh. Habibie menangkup wajah Kiara, menggesekkan jenggotnya pada pipi sang istri yang mana hal itu membuat Kiara terkiki geli. Bukannya berhenti, Habibie malah semakin gencar melakukan aksinya. Namun, saat mendengar Baby El menagis, mau tidak mau Habibie melepaskan istrinya.


Pria itu mendudukkan sang istri di atas bangku taman dengan sangat hati-hati seolah Kiara adalah barang antik yang tidak boleh tergores sedikit pun.


"Wuahhhh ... anaknya papa cemburu ya? Gara-gara papa udah gendong mama tapi El belum? Sini Sayang ... papa gendong."


"Udah cuci tangan belum? Cuci tangan dulu, Mas!" Kiara memekik dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


Hehehe ... Habibie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mas lupa, mas cuci tangan dulu ya."


Perempuan itu terkekeh kecil, kepalanya menggeleng, membayangkan betapa absrudnya sang suami. Habibie memang lebih perhatian, pengertian, tapi lebih banyak lupanya.


"Maafkan Papa Abie ya El. Papa kamu emang udah tua. Harap dimaklumi. Ohh ... mau Papa yang muda, nanti kita cari ya ...."


Kiara tertawa sambil menggendong anaknya. "Mama lupa kalau papa itu pikun bukan budek." Kiara berbisik di samping telinga sang anak.


** ** **


Dini hari, sekitar pukul tiga pagi, Habibie menggeliat dalam tidurnya, pria itu langsung duduk karena suara tangisan sang anak. "Ya Allah El, ini masih pagi. Mau shalat tahajud apa?"


Pria itu menggrundel tapi dia tetap beranjak, mengambil baby El untuk ia gendong. "Ekh, bau apa ini?" bisik Habibie takut membangunkan Kiara. Pria itu mengangkat sang anak, mendekatkan hidungnya ke pantat baby El dan seketika itu juga ia hampir muntah. "Alhamdulillah ... El pupup ya! Papa bersihin dulu ya Nak."


Habibie berjalan mengendap-endap menuju meja, yang di sana terdapat banyak perlengkapan bayi. Pria itu dengan telatennya menggantikan popok sang anak, membersihkannya dan kembali membawa bayi itu ke dalam gendongan. Namun, entah karena apa. Si bayi malah menangis.

__ADS_1


"Mas Abie ~~!"


Kiara yang mendengar tangisan bayinya langsung menoleh ke arah sumber suara. Perempuan itu duduk, bersandar pada sandaran ranjang seraya merentangkan tangan meminta sang anak dikembalikan.


"Kalau mas bisa kasih ASI, mas pasti bisa diemin Baby El."


"Enggak papa. Kiara seneng kok meskipun cuma ditemenin kayak gini. Lagipula, bayi memang harus sering dikasih ASI, Mas."


Usapan-usapan lembut Habibie berikan di atas puncak kepala sang istri. Pria itu beranjak ke sisi ranjang lain, mengambil air hangat untuk dia berikan kepada Kiara.


"Mas bantu ya. Kata dokter, kamu juga harus banyak minum."


"Makasih, Mas."


"No!" Habibie dengan cepat meletakan kembali gelasnya di atas nakas. "Yang harusnya bilang kayak gitu adalah mas. Bukan kamu, Baby El juga seharusnya tanggung jawab Mas, karena mengasihi juga harusnya mas yang nanggung. Mas banyak-banyak terima kasih, mengasihi itu enggak mudah."


Habibie terus saja berceloteh sambil memijit kaki sang istri. Pria itu beberapa kali memperdengarkan cerita yang sebelumnya belum pernah Kiara dengar. Alhamdulillah ... buah dari kesabaran Kiara ternyata sangat manis. Mungkin Allah memberikannya kesakitan memang untuk membuat Kiara terus bersyukur di kemudian hari. Habibie yang sekarang, entah kenapa Habibie yang ini terlihat lebih hidup daripada Habibie yang dulu.


** ** **


3 Bulan kemudian. Habibie dan Kiara tengah beraliran di lorong rumah sakit. Salah satu tangan Habibie ia gunakan untuk menggendong sang anak, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menggenggam tangan sang istri.


Keduanya saling menatap dengan wajah khawatir. Kiara sampai berkeringat saking gerah dan lelahnya ia kala itu.


"Assalamu'alaikum!" ucap Kiara dan Habibie bergantian. Setelah mencari informasi di bagian resepsionis, sepasang suami istri itu akhirnya bisa menemukan anggota keluarganya.


"Wa'alaikumssalam!" jawab Ummi dan Abi Fawas.

__ADS_1


"Kenapa Ummi di sini? Bukannya Humaira sudah melahirkan?" tanya Kiara bingung, keningnya mengerut begitu melihat ekspresi tidak biasa dari kedua mertuanya.


"Ummi, ada apa? Humaira sama bayinya baik-baik aja 'kan?"


__ADS_2