Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
67. Ambil Sisi Positifnya


__ADS_3

"Telpon aja, Ummi. Bilang Kiara ada di sini, tapi jangan ditengok dulu, takutnya malah Kiara kesel dan kabur lagi dari sini. Biarkan Kiara tenang dulu, saya tahu kalau Kiara adalah anak yang baik, dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri."


Ummi Rahma mengangguk mengiyakan. Memang betul, jika sampai Amzar datang ke sana, takutnya Kiara malah pergi untuk mencari persembunyian lain.


** ** **


"Alhamdulillah ya Allah! Alhamdulillah!" Pak Amzar menitikkan air mata setelah mendengar kabar kalau Kiara ada di pesantren kakak iparnya. Amzar sudah sangat kebingungan dan hampir putus asa, tadinya ia akan melaporkan hilangnya Kiara kepada pihak kepolisian, tapi ternyata ... anak perempuannya aman di tempat lain.


"Kenapa Yah?" tanya Sabina menatap suaminya penuh harap. Bukannya menjawab, Amzar malah menghambur memeluk Sabina, membawa perempuan itu masuk ke dalam dekapannya.


"Alhamdulillah ... Kiara aman, Sayang. Anak Kita aman. Kiara ada di suatu tempat."


Perempuan itu melepaskan dekapan suaminya, ia menatap Amzar penuh selidik. "DI mana? Di mana anak kita? Ayok kita jemput dia Mas!"


Sabina menarik tangan Amzar tapi Amzar malah menahan pergelangan tangan sang istri, kepalanya menggeleng, meminta Sabina untuk tidak melakukan itu.


"Kenapa?" tanya Sabina dengan wajah kecewa.


"Mbak Rahma bilang, Kiara bisa kabur ke tempat lain kalau kita maksa ke sana sekarang. Lebih baik kita pergi ke supermarket. Kita beli makanan terus kita kirim ke sana. Kasihan Kiara, Sayang."


"Tapi Mas---!"


"Udah, enggak usah tapi-tapian. Ini demi kebaikan Kiara juga. Kita enggak boleh egois, Bu."


Sabina mengembuskan napas kasar. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Kiara, Sabina menyesal karena saat Kiara ada di dekatnya dia terlalu sibuk dengan anak-anaknya sendiri, tapi setelah mendengar Kiara hilang, hatinya ikut hancur, rasa bersalahnya benar-benar sangat besar, dia merasa berdosa karena dulu dia tetap menikah dengan Amzar meskipun Kiara melarang, dan sekarang ... perempuan itu tengah membutuhkan rangkulan tapi dia tidak bisa melakukan apa pun.


** ** **


"Wuahhhh ... apa ini Budhe?" tanya Kiara saat matanya melihat buah-buahan yang sangat banyak di atas meja, bukan hanya itu, makanan ringan, crackers, susu, yoghurt bahkan coklat kesukaannya ada di sana.


"Ada orang baik yang mengirimkan ini untuk anak-anak di pesantren. Kamu juga kebagian, Kia. Alhamdulillah."


Kiara langsung duduk di meja makan itu, matanya berbinar. "Alhamdulillah masih ada orang baik, Kia punya makanan buat janin Kia, Budhe!"


"Aku juga mau!" pekik Ayesha. Perempuan itu duduk di samping Kiara, belum sempat Ummi menjawab, tangannya terulur hendak mengambil yoghurt di depannya.

__ADS_1


Plak!


Ummi Rahma memukul punggung tangan Ayesha tanpa aba-aba.


"Ummi," rengek perempuan itu tidak terima. "Kenapa mukul tangan Ayesha. Ayesha salah apa?"


"Itu punya Dek Kiara, Nduk. Jangan asal main comot!"


"Umiiii~~~!"


Kiara terkekeh kecil, melihat tingkah Ummi Rahma dan Ayesha, ia mengambil satu kotak yoghurt lantas memberikan itu kepada kakak ciliknya. "Kita harus berbagi."


"Bolehkah?" tanya Ayesha memastikan.


Kiara mengangguk. Tentu saja boleh, jika tidak, Kiara tidak akan memberikan itu kepada Ayesha.


"Besok boleh ikut belajar ngaji enggak?" tanya Kiara membuat Ummi Rahma dan Ayesha tertegun. Keduanya saling menatap, seolah mempertanyakan apakah yang mereka dengar itu adalah kenyataan atau hanya halusinasi.


"Kiara udah bisa baca Al-Qur'an, Budhe. Yesha, tapi masih harus banyak belajar. Kiara juga mau jadi santri wati kayak temen-temen Kiara!"


Ummi Rahma tersedak setelah mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kiara, alasannya sangat sederhana dan rada nyeleneh, tapi apa pun itu, Ummi sangat senang sebab Kiara telah memiliki keinginan untuk memperdalam ilmu agamanya.


"Kita enggak cuma belajar baca Al-Qur'an aja Kak Kia, ada beberapa kitab sama banyak banget hafalan, Kakak yakin sanggup?" tanya Ayesha.


Kiara kembali mengangguk penuh keyakinan. Kiara yakin, dia akan belajar dengan sungguh-sungguh juga tidak akan mengecewakan semua orang.


"Alhamdulillah. Itu artinya, kita akan mendapatkan murid baru, Dek!" ujar Ummi Rahma. Untuk pertama kalinya di pesantren mereka ada ada santriwati yang belajar dalam kondisi hamil, tapi apa pun itu Ummi harap Kiara bisa istiqomah.


** ** **


"MasyaAllah cantiknya," puji Ummi dan juga Ayesha saat melihat Kiara keluar dari kamarnya. Malam ini mereka akan mendengarkan pengajian salah satu ustadz tersohor di kota itu, Kiyai dan Ustadz Risyam tersenyum, mereka juga sangat terkejut karena tampilan Kiara benar-benar sangat berbeda. Wajah ciliknya berubah agak dewasa saat Kiara mengenakan jilbab.


"Ikh, jangan natap Kiara kayak gitu. Nanti Kiara malu."


Mereka semua tertawa, hal itu tentu malah membuat Kiara semakin gugup.

__ADS_1


"Sudah. Kita berangkat sekarang yuk!"


"Tunggu!" cegah Kiara pada semua orang.


"Mau ke mana lagi Kia?" tanya Ummi Rahma sebab Kiara mengacir ke dapur.


"Kiara nyari keresek dulu, Budhe. Takut muntah di jalan!"


Gelak tawa kembali terdengar di ruangan itu. Kiara ini benar-benar sangat lucu, mungkin karena kehamilan yang dia alami, Kiara lebih sering mual, apalagi jika sudah naik ke mobil, sudah pasti anak itu akan mabok perjalanan.


** ** **


Sementara itu, di tempat lain, seorang pria tengah meringkuk di dalam lemari besar yang ada di kamarnya. Ia menangis dalam diam, memeluk pakaian yang biasa dikenakan oleh Kiara dengan erat. Habibie menyadari satu hal, kepergian Kiara membuat dia tahu jika kesakitan yang dia rasakan sekarang lebih besar dari saat dia kehilangan Aisyah dulu.


"Maafkan aku, Kiara!"


"Astagfirullah ... Habibie!"


Ummi Amelia berjongkok di depan lemari itu. Beberapa hari ini Ummi Amelia memang lebih banyak memperhatikan Habibie sebab anaknya itu terlihat sangat kacau.


"Abie! Sini, Nak. Keluar! Kenapa kamu bersembunyi di sini?"


Habibie menggelengkan kepalanya, ia malah memeluk pakaian istrinya semakin erat. Pria itu seperti enggan untuk meninggalkan lemari tesebut.


"Habibie mau Kiara, Ummi. Habibie mau Kiara!"


Ummi Amelia ambruk di dekat lemari itu, ia menunduk dalam, bahunya bergetar saat tangisan itu tidak bisa dia tahan lagi. Sakit rasanya melihat Habibie seperti ini. Ummi Amelia tahu ini juga karena kebodohan anaknya sendiri, tapi ... Ummi Amelia tetap tidak tega.


"Habibie. Eling, Nak. Nyebut! Kamu itu harus kuat, kamu laki-laki. Ayok kita cari Kiara sama-sama yok! Ibu bantu kamu, Nak!"


"Kiara enggak mau ketemu Abie lagi Ummi. Bagaimana kalau Kiara minta pisah? Habibie enggak mau, Habibie sayang sama istri Habibie, Habibie sayang Kiara."


Lelehan bening itu kembali membanjiri wajah Ummi Amelia. Perempuan itu tidak tahan melihat anaknya ada dalam kondisi seperti itu terus-menerus. Mereka harus segera menemukan Kiara jika tidak ingin melihat Habibie gila.


"Nak! Kalau kamu terus kayak gini, Kiara enggak bakal ketemu. Ayok Nak! Kamu harus kuat, kita jari cari Kiara lagi."

__ADS_1


__ADS_2