
Kiara dan Habibie mematung saat melihat Gibran tengah menangis seraya memeluk Humaira. Pria itu ikut berbaring di samping perempuan cantik yang kini terbaring lemah. Derai air matanya terus berjatuhan tapi dia bungkam. Tidak ada isak tangis, justru Gibran lah yang masih sesenggukan.
"Assalamu'alaikum, Gibran ... Humaira ...."
"Wa'alaikumsalam," sahut Gibran. Pria itu menolehkan kepalanya. Ia langsung beranjak saat melihat Habibie, Gibran memeluk Habibie dan kembali menangis dalam dekapan kakaknya.
"Inalilahi wainailaihi rojiun, kamu kuat Gibran. Semua yang ada di dunia ini adalah titipan dari-Nya. Menangis lah! Tidak akan berdosa untuk berduka. Keluarkan semua kesedihan yang kamu rasakan saat ini."
"Gibran negerti, Kak. Gibran tahu, tapi lihat istri Gibran!" Pria itu melepaskan dekapannya, menoleh ke arah sang istri. "Sudah satu jam, dia masih seperti itu, tidak mau berbicara, tidak bergerak dan tidak mau membuka matanya. Tolong istri Gibran, Kak."
Kiara yang ada di belakang suaminya mengusap bulir bening dari sudut mata. Perempuan itu menghampiri Humaira, duduk di tepian ranjang seraya mengulurkan tangan menggenggam perempuan di depannya.
"Humaira ... selamat karena sekarang kamu juga sudah menjadi seorang ibu. Mbak enggak bisa ngomong apa-apa. Mbak enggak pandai hibur orang, tapi ... rhido Cantik. Jika ikhlas sangat berat, tidak apa-apa, kita lakukan pelan-pelan. Mbak tahu, kamu pasti lebih mengerti dari Mbak. Kita memang kehilangan satu bayi perempuan, tapi masih ada Gibran kecil yang harus dibahagiakan." Kiara mengusap puncak kepala Humaira penuh kasih sayang.
"Mbak tahu, kehilangan seseorang yang sangat kita cintai memang sangat menyakitkan. Tapi, Allah sudah memiliki garis takdir untuk setiap umatnya. Pada dasarnya, kita itu tidak memiliki apa pun, semua ini hanya titipan. Tidak masalah untuk sedih, tapi jangan terlalu berlarut - larut, Gibran junior sangat membutuhkan mu, Ra."
Kelopak mata Humaira terbuka perlahan. Perempuan itu menatap Kiara dengan mata merah karena menangis terlalu lama. Rasa bersalahnya terhadap anak perempuannya yang meninggal benar-benar sangat besar. Humaira merasa bodoh dan tolol, dia yang tidak bisa diam malah ikut mengerjakan pekerjaan rumah. "Aku ceroboh, Mbak. Anak aku meninggal karena aku enggak bisa jaga dia. Aku bolak balik naik turun tangga, padahal Mas Gibran udah sering mewanti-wanti." Humaira mengatakan itu masih dengan derai air mata dan sekarang suara tangisnya mulai terdengar cukup kencang. "Aku jatuh, Mbak. Salah satu anak aku meninggal gara-gara aku."
"Astagfirullah, Humaira ... istighfar. Astagfirullah. Nyebut, Ra." Kiara langsung menarik bahu Humaira untuk memeluk perempuan itu.
Habibie dan Gibran hanya mendengarkan percakapan dua wanita mereka dengan wajah tertunduk. Baik Gibran maupun Habibie merasa sangat sedih untuk hal ini. Pantas Humaira seperti itu, karena rasa bersalah, dia pasti merasa sudah gagal menjadi ibu, istri, dan menantu yang baik, terlebih Habibie, dia sudah pernah merasakannya.
"Humaira ... minta ampun sama Allah, Dek. Kamu itu enggak boleh ngomong kayak gitu. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah karena takdir Allah, jangan mengatakan hal-hal yang aneh. Mbak tahu kamu juga enggak mau ini terjadi. Jangan seperti itu ... Allah, mungkin mengambil bayi perempuan mu kembali karena Allah lebih tahu sampai dimana kesanggupan mu merawat anak, Allah sayang sama kamu, Allah jadikan bayi perempuan mu lebih dulu ke surga karena sampai di sini lah kesanggupan bayi perempuan mu untuk bertahan. Ra ... InsyaAllah ... anak perempuan kita sudah bahagia, bayi mungil itu akan menunggumu di pintu surga."
__ADS_1
** ** **
Mereka semua kembali menangis setelah acara pemakaman selesai. Humaira, Gibran, Habibie, dan Kiara masih ada di sana, sementara Ummi Amelia dan Abi Fawas sudah kembali membawa Baby El.
Tidak ada yang mereka katakan, Humaira pun sudah tidak menangis, perempuan itu kini tengah berjongkok, mengusap pusara anak bungsunya yang sudah lebih dulu dipanggil yang maha kuasa.
"Maafkan Ibu, Sayang ... Ibu hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Dinara tunggu Ibu ya Sayang. InsyaAllah, kelak kita akan kembali bertemu. Mas Niscala sama Ibu, sama Ayah dulu. Baik-baik di sana, Nak. Ibu sama Ayah sayang Dinara, bidadarinya ibu, terima kasih karena sudah menemani kami selama hampir 9 bulan. Ibu pamit ya, Sayang."
Kiara menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Padahal dari tadi dia sudah berusaha untuk bersabar. Kiara sudah mencoba untuk tegar, tapi ketika melihat seorang ibu dipisahkan dari anaknya dengan cara seperti ini, Kiara benar-benar tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Humaira.
"From Allah, back to Allah," gumam Habibie seraya mengusap punggung istrinya.
"Kiara enggak tahu, kalau ini menimpa Kiara, Kiara bisa sekuat Humaira atau enggak."
Kiara mengangguk. Perempuan itu baru menyadari satu hal dimana ketika semua orang banyak yang berpikir kalau kehidupannya, kehidupan keluarganya adalah kehidupan yang sangat sempurna.
Namun, setelah Kiara banyak mengalami hal-hal kurang menyenangkan, melihat kesulitan orang-orang, Kiara menjadi sangat yakin kalau sesempurna apa pun kehidupan manusia, mereka tetaplah makhluk Allah yang memiliki garis takdir atas kehendak-Nya.
Tidak perlu merasa iri dengan kehidupan orang lain karena kesempurnaan yang nampak diluar. Senyum tidak selalu tentang kebahagiaan, dan tangis tidak selalu tentang luka atau kesedihan.
Iri adalah sebuah perasaan yang sangat menakutkan. Kita selalu berpikir kehidupan orang lain lebih baik dan lebih sempurna hanya karena melihat mereka di permukaan saja. Hal itu pula yang menjadikan kita kurang bersyukur. Pada kenyataannya setiap orang pasti memiliki masalahnya masing-masing, dan bagaimana masalah itu bisa diselesaikan, tergantung kita yang menjalaninya. Apakah kita akan berserah kepada yang maha kuasa, atau menyalahkan keadaan? Itu tergantung kita yang menentukan.
"Kiara tahu satu hal Mas Abie."
__ADS_1
"Apa, Sayang?"
"Yang membuat kita sedih, merasa hancur ketika kehilangan sesuatu adalah rasa kepemilikan. Kita menganggap apa yang Allah titipkan pada kita adalah milik kita, tapi kalau kita yakin jika semuanya adalah milik Allah, rasanya tidak akan semenyakitkan itu kan, sekalipun itu harta yang sudah kita usahakan, tapi pemilik sesungguhnya adalah Allah."
Habibie mengangguk seraya tersenyum. Kembali mengecup kening sang istri, bangga karena kini, istri kecilnya sudah lebih bijak dan lebih dewasa. "Good girl."
** **
"Kita pulang sekarang ya, Dek. Kasihan Niscala udah nunggu kita, Sayang."
Gibran membantu istri cantiknya untuk berdiri. Namun, karena kondisi sang istri yang kembali lemas, pria itu menggendong Humaira, dan Habibie dengan Kiara pun mempersilahkan mereka untuk berjalan lebih dulu.
"InsyaAllah ... saya janji kalau saya akan berusaha mencintaimu seutuhnya, Humaira. Saya tidak akan membiarkan kamu terluka meskipun hanya seujung kuku."
*
*
*
*
The End.
__ADS_1