
Kiara melemparkan kunci mobilnya sembarangan. Perempuan itu menghentikan sebuah taksi, masuk ke sana masih dengan derai air mata.
"Jalan Pak!"
"Mbak mau ke mana?" tanya sopir taksi.
"Jalan dulu saja!"
Kiara menyandarkan punggungnya pada sandaran jok yang dia duduki, menatap perusahaan besar itu dengan kepedihan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Masih lebih sakit saat ia ditinggal ibunya pergi, tapi perasaan ini. Kiara tidak bisa menjabarkan kalutnya ia seperti apa sekarang. Rasa sakitnya benar-benar diluar kendali. Sesak, Kiara muak dan ingin meluapkan amarahnya saat itu juga.
Banyak orang berpikir jika orang yang beruang itu pasti bahagia ... tidak seperti itu. Lihatlah perusahaan menjulang tinggi yang dia tinggalkan. Ini semua tidak ada artinya jika orang yang paling dia sayangi telah menghancurkan segala keyakinannya.
"Mas Abie ...." Kiara membatin di dalam hati. "Kalimat mu hari ini menjadi sebuah pembuktian kalau kamu memang bukan laki-laki yang baik. Aku tidak akan menyalahkan diriku, aku tidak akan meminta dan menyakiti diriku untuk introspeksi diri demi manusia seperti Mu, Mas. Ini kali terkahir dan aku tidak akan pernah memaafkan mu lagi."
Tatapan Kiara kosong, perempuan itu menangis tanpa suara. Hanya mengusap perut ratanya dan membiarkan kesedihan itu menggerogoti hatinya sampai dia bilang cukup. Kenyataan pahit ini, rasa sakit ini, Kiara tidak akan pernah melupakannya. Dia mungkin bukan yang terbaik, tapi dia tidak bisa membiarkan dirinya disakiti terus menerus.
Lebih dari 30 menit, Kiara sudah sampai di depan perubahan ayahnya. Dia akan meminta sang ayah untuk memungutnya sementara waktu. Tidak mungkin dia pulang ke rumah karena Kiara sangat enggan bertemu dengan sosok sang suami.
Namun, baru sampai di lobby perusahaan. Kiara menyembunyikan dirinya dibalik tembok di sudut ruangan. Ia melihat ayahnya sedang tertawa dengan dua anak perempuan di sisinya. Kiara kembali tersenyum. Ayahnya sudah bahagia? Tidak mungkin dia membutuhkan cerita menyebalkan darinya.
"Apa aku harus menyusul mu, Bunda?"
Untuk kesekian kalinya Kiara dikecewakan keadaan, ia dengan cepat lari dari tempat itu, helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Sudah tidak ada tempat untuknya berlindung, Kiara tidak mungkin pergi ke rumah mertuanya karena itu sama saja bohong. Kiara takut kalau mereka akan memberitahu keberadaannya pada sosok Habibie.
"Kita harus ke mana Nak?" tanya Kiara mengusap perutnya setelah menyeka air mata. Perempuan itu menatap langit kemudian beralih pada mobil yang berlalu lalang.
"Budhe!"
** ** **
__ADS_1
Gibran terlihat sangat kelimpungan. Mereka berdua sudah mencoba untuk mencari keberadaan Kiara tapi tidak ada hasil. Terlebih, security menemukan kunci mobil Kiara diparkiran perusahaan, entah kemana orang itu.
"Maafkan saya, Humaira. Saya menyembunyikan hal ini darimu."
Perempuan di samping Gibran itu tersenyum getir, dia tidak akan mempermasalahkan tentang Habibie, Gibran dan Kiara. Ini adalah masalah keluarga suaminya, Humaira juga sudah tahu kalau sejak awal mereka menikah tanpa cinta, hanya beralasan untuk menyelamatkan pernikahan seseorang.
Humaira hanya terkejut dan tidak percaya kalau permintaan itu adalah untuk menyelamatkan pernikahan Habibie juga istrnya.
"Aku siap berbagi dengan Mbak Kiara Mas."
Kitttt!
Mobil itu mendadak berhenti seketika. Gibran menepikan mobilnya setelah mendengar kalimat aneh yang istrinya lontarkan. Apa maksud Humaira, kenapa dia mengatakan hal menggelikan seperti itu.
"Apa maksud mu, Dek? Siapa yang mau menikah lagi?"
"Mas Gibran!"
"Eumm ... maksudnya Mas Gibran yang harus menikah lagi. Saya enggak bohong. Pasti sakit banget jadi Mbak Kiara. Bagaimana bisa suaminya meminta Mas Gibran untuk bertukar istri. Kasihan Mbak Kiara Mas."
Astagfirullah .... Gibran menyembunyikan wajahnya pada stir mobil. Pria itu menarik napas dalam masih dengan mata terpejam. Bukan itu yang Gibran mau. Kenapa dia harus menikahi Humaira kalau dia memiliki niat untuk menikahi Kiara. Gibran hanya ingin Kiara bahagia, begitupun dengan Habibie. Pernikahan bukan suatu hal yang bisa dipermainkan. Gibran ingin kakaknya kembali normal seperti dulu.
Habibie, siapa yang tidak mengenalnya. Pria itu kehilangan jati diri setelah Aisyah meninggal. Entahlah ... Gibran juga tidak tahu, tadinya dia pikir masih bisa menolong hubungan keduanya tapi ternyata sesuatu hal yang dipaksakan tidak selalu berakhir baik.
"Mas enggak pernah berniat untuk poligami, Dek. Cinta itu tidak selalu harus saling memiliki. Jika Kak Kiara bisa bahagia, Mas akan mencari kebahagiaan lain untuk Mas sendiri."
** ** **
Seseorang dengan wajah suram, pakaian kusut, juga jantung yang berdebar sangat kencang tengah kebingungan di tengah jalan. Habibie bodoh, bagaimana bisa mulutnya mengatakan kalimat seperti itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kiara. Maafkan aku."
Satu hari penuh Habibie mencari Kiara. Dia sudah kembali ke rumah, berlarian ke sana kemari berharap istri kecilnya itu sedang bersembunyi di suatu tempat. Rumah orangtuanya, zonk. Rumah Pak Amzar juga kosong. Habibie telah mencari ke setiap teman istrinya itu tapi hasilnya tetap tidak ada.
"Tuan!" panggil Bi Arum.
"Bi." Pria itu langsung berbalik. "Bibi tahu enggak istri saya di mana? Saya kehilangan istri saya Bi."
Kening Bi Arum mengerut samar, sejak pagi, Kiara pergi, pamit untuk pergi ke kantor, tapi sampai sekarang pun nyonyanya itu belum pulang? Bi Arum pikir Kiara akan bersama dengan Habibie. Dia baru akan mempertanyakan sebab Habibie terlihat sedang mencari sesuatu, Ekh ternyata ... Habibie tengah mencari keberadaan istrinya.
"Nyonya belum pulang. Tapi beberapa hari ini sepertinya Nyonya kurang enak badan. Bibi udah bilang untuk periksa ke dokter tapi Nyonya enggak mau. Nyonya bilang beliau hanya tidak enak badan karena tubuhnya harus beradaptasi dengan cuaca di sini, Tuan."
"Istri saya sakit?" tanya Habibie kebingungan. "Kenapa Bibi enggak bilang sama saya?"
Bi Arum semakin bingung lah. Habibie adalah suaminya. Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka, kenapa Habibie sampai tidak tahu kalau istrinya hamil.
"Tuan mau ke mana?" tanya Bi Arum sebab Habibie malah melengos begitu saja.
"Di luar hujan Bi," jawab pria itu. "Istri saya pasti kedinginan. Dia takut petir. Saya akan mencarinya dulu."
** ** **
Pria itu melakukan mobilnya tidak terlalu cepat. Habibie sudah meminta Ali untuk ikut mencari, hanya kedua orang tuanya saja yang belum diberitahu tentang hilangnya Kiara, termasuk Pak Amzar. Habibie tidak tahu harus menyampaikan kabar ini dengan cara seperti apa.
"Ya Allah, Kia ... kamu di mana?"
Habibie benar-benar sudah sangat putus asa. Harus kemana lagi dia mencari, hujan semakin lebat, hari juga sudah semakin malam. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada istrinya itu.
"Kiara," gumam Habibie saat melihat seseorang tengah berdiri di dekat halte bus. Pria itu menyunggingkan senyum, ia langsung menepikan mobilnya, membuka pintu mobil itu terburu-buru, berlari menerjang hujan tanpa memperdulikan pakaiannya yang basah.
__ADS_1
"Kiara!" panggil Habibie. Ia menarik tangan perempuan itu, senyum di bibirnya merekah. Jelas ada kelegaan yang pria itu rasakan.