
"Ya Allah, Kiara belum liat Mas Abie, katanya Mas Abie mau baikin Kiara, Kiara juga belum hukum Mas Abie dengan baik. Tolong Kiara, ya Allah."
"Kiara ... Kiara ini ayah, Nak! Ini ayah."
"No! Anda malaikat maut kan ... Kiara takut, Om jangan gitu, jangan di serem-seremin mukanya."
Perempuan itu masih meracau tidak jelas, dia menyahut saat ditanya, tapi memang ucapannya tidak nyambung, malah ngawur ke mana-mana.
"Istri saya kenapa, Dok?" tanya Habibie bingung, dia tidak tahu kenapa Kiara terus menyebutkan masalah mati, malaikat, surga dan lain sebagainya. Bahkan sebelum ini mereka dibuat jantungan karena Kiara menangis tersedu-sedu dengan mata terpejam. Dia terus mengatakan kalau dia tidak meninggal.
"Tidak apa-apa, Pak. IsnyaAllah sebentar lagi istri Anda akan mendapatkan kesadaran secara penuh. Mungkin juga tadi istri Anda bermimpi, semuanya akan baik-baik saja. IsnyaAllah."
Semua orang yang ada di ruangan itu mengembuskan napas lega. Mereka pikir Kiara kenapa, tapi akhirnya mereka bisa tertawa, menatap Amzar yang juga tidak habis pikir kenapa Kiara begitu tega menganggapnya sebagai malaikat pencabut nyawa.
"Kiara!" panggil Amzar lagi.
"Hmmm .... saya mau jadi ratu dulu. Saya mau mereka yang pernah menyakiti saya jadi dayang untuk saya. Saya tidak mau pergi sekarang. Satu bulan saja, Kiara janji, setelah Kiara bisa menghukum orang-orang itu, Kiara akan pergi, tapi Kiara mau ke surga aja, Kiara mau ketemu sama Bunda."
Habibie tersenyum. Pria itu mengusap puncak kepala sang istri juga mengecup kening istrinya dengan kecupan hangat. Bahkan dalam kondisi seperti ini, Kiara mampu membuat mereka tersenyum. Padahal, sejak semalam hanya ada air mata, dunia mereka gelap gulita. Namun, saat perempuan ini kembali hadir, mentari seakan muncul tiba-tiba, menyinari dunia gelap mereka dengan sinar hangat yang dia berikan.
"Terima kasih, Sayang ... terima kasih karena sudah kembali kepada kami."
Perempuan itu pun tersenyum. Dia membuka matanya sebentar dan kembali menutup mata itu lagi. "Hehehe ... dayang-dayangku," gumamnya pelan.
Habibie mengangguk. "Iya Ibu Ratu, Ibu Ratu membutuhkan sesuatu?" tanya Habibie.
Kiara mengangguk - anggukan kepalanya. "Saya mau minum, tapi jangan pakai gelas, mau pakai sendok saja, tapi enggak boleh tumpah-tumpah."
Refleks semua orang yang ada di ruangan itu tertawa menatap Habibie dan Amzar bergantian. Kiara ini benar-benar bocah tengil, dalam kondisi tidak sadar, dia bisa mengerjai orang tanpa orang itu bisa menolak.
Untuk Gibran, ini adalah sebuah berkah luar biasa, matanya berkaca-kaca meskipun bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Bahagia rasanya karena dia bisa melihat senyum pada wajah semua orang, terlebih Kiara ada dalam kondisi yang baik.
__ADS_1
"Semuanya akan baik-baik saja, Mas," ucap Humaira seraya mengusap punggung tangan suaminya. Entah terbuat dari apa hati perempuan itu, satu lagi wanita hebat yang mampu bertahan di saat hatinya tidak baik-baik saja. Namun, ini agak berbeda dengan Kiara, Humaira memiliki kelapangan yang lebih baik. Perempuan itu selalu bersyukur saat melihat suaminya tersenyum meskipun dia tahu bagaimana hati Gibran untuk kakak iparnya.
"InsyaAllah. Terima kasih, Sayang," kata Gibran menarik bahu Humaira lantas dia kecup kening perempuan itu lembut. Air mata keduanya menetes entah karena apa.
Andai Gibran bisa memberikan seluruh hatinya untuk Humaira, dia bersumpah hanya Humaira yang akan mendapatkannya. Namun, tidak bisa Gibran pungkiri kalau rasa cintanya masih untuk Kiara. Meskipun dia sangat menyayangi Humaira, tapi Kira dan perempuan ini memiliki posisi yang berbeda di hatinya.
** ** **
Setelah menunggu cukup lama, Humaira dan Gibran memutuskan untuk pergi ke penginapan di dekat rumah sakit tersebut. Kondisi Humaira yang sedang hamil besar tidak memungkinkan mereka untuk menemani orang-orang di rumah sakit.
"Assalamu'alaikum!" ucap Gibran mendorong sebuah meja masuk ke kamarnya. Seburuk apa pun dia, Gibran akan berusaha untuk meratukan istrinya. Pria itu memesan kamar terbaik dan tadi, Gibran sempat memesan banyak makanan kesukaan Humaira.
"Wa'alaikumsalam, Mas."
Humaira yang sejak tadi tengah menikmati view indah dari kaca jendela kamarnya menoleh. Perempuan itu tersenyum, matanya berbinar melihat betapa banyaknya makanan yang suaminya bawa.
"Mas ini apa?" tanya Humaira.
"Di sini ada banyak makanan kesukaan kamu, tadi Mas minta pihak hotel untuk menyiapkan semuanya," beber Gibran seraya meletakan makanan itu di atas meja satu per satu. Ia juga mengambil sebuah lilin untuk dia nyalakan.
"MasyaAllah Mas, tapi ini banyak banget, gimana cara kita ngabisinnya?"
Gibran tersenyum, pria itu tentu sudah mempertimbangkan ini semua, untuk setiap makanan yang ada, Gibran hanya memesan satu porsi untuk satu menu, itu pun bukan porsi besar.
"Kita makan bersama, Adek makan duluan, kalau enggak abis nanti mas yang habiskan. Bukannya selama ini mas selalu menjadi agen pembersih."
Humaira terkekeh, matanya mulai berembun juga napasnya agak sedikit sesak. Iya, setelah Humaira hamil, dia memang sering kelaparan, tapi, setiap kali dia makan, makannya tidak pernah habis, dan selalu Gibran yang menghabiskan itu semua.
"Allah itu maha adil, aku enggak tahu bagaimana kalau mas Gibran menikah dengan wanita yang sangat dia cintai, aku saja diperlakukan seperti ini, apalagi perempuan itu."
"Terima kasih, Mas."
__ADS_1
Gibran mengangguk. Lagi-lagi dia mendatangi sang istri hanya untuk mengecup kening dan perut buncit perempuan itu. "Selamat makan Ssyang, selamat makan bayi kecil. Jadi anak berbakti, awas kalau bikin Bunda mual, nanti ayah enggak kasih makan es krim lagi."
Lagi-lagi Humaira tertawa, perempuan itu mengusap sudut matanya dengan salah satu tangan mengelus puncak kepala sang suami. Perempuan itu bahagia, diperlakukan seperti ini pun dia sudah sangat bersyukur, apalagi Gibran teramat sangat baik pada ibu dan adik-adiknya.
** ** **
"Mas Abie~~!" perempuan cantik itu berucap dengan sangat lirih. Kiara menolehkan kepalanya mencari sosok sang suami tapi Habibie belum terlihat. Ia malah bertemu tatap dengan mahluk lain.
"Ini siapa?" tanya Amzar menunjuk dirinya sendiri.
"Ayah," jawab perempuan itu pelan.
Amzar mengembuskan napas besar. Pria itu merasa sangat lega karena kesadaran putrinya sudah kembali.
"Alhamdulillah ... akhirnya kamu mengakui ayah, Kia."
Kiara mengerutkan keningnya bingung, kenapa pula ayahnya mengatakan itu. "Kiara enggak jadi meninggal ya Ayah?" pertanyaan polos itu tiba-tiba membuat perut Ummi dan Abie Fawas tergelitik.
"Belum!" sahut Amzar. "Katanya mau jadi ibu ratu dulu."
"Ibu ratu?" tanya Kiara lagi. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa ayahnya mengatakan hal-hal aneh.
"Hushh! Udah, Kiara sudah sadar sepenuhnya. Alhamdulillah, Nak!" ucap Sabina, "Semuanya berjalan lancar. Kamu dan bayi kamu InsyaAllah baik-baik aja."
Bayi, iya ... Kiara lupa kalau dia baru selesai melakukan operasi sesar untuk mengeluarkan bayinya.
"Bayi Kiara mana Ibu?" tanya Kiara menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ia baru akan bangun tapi Ummi Amelia bergerak cepat dan menahan bahunya. "Bayi kamu masih ada di NICU. Dokter harus melakukan beberapa test kesehatan. Habibie juga tadi ke sana dulu sebentar."
"Putri Kiara baik-baik aja 'kan Ummi? Dia lahir sempurna 'kan?"
"Putri???"
__ADS_1