Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
55. Melamar Humaira?


__ADS_3

"Maksud Bapak apa? Apakah ada persyaratan seperti itu untuk bekerja di perusahaan ini, Pak?"


Gibran tersenyum sinis. Pria itu menarik dirinya ke belakang. Humaira, nama yang cantik tapi sedikit polos. Bukan sedikit, tapi sepertinya memang sangat polos karena usianya saja baru 19 tahun. 6 tahun lebih muda darinya.


"Saya anggap jawaban kamu iya. Jika kamu berkenan, saya ingin melamar kamu Humaira."


"Hah?"


Perempuan itu dibuat terbengong dengan penuturan konyol pria di depannya. Humaira melongo, dia tidak mungkin salah dengar, jelas-jelas Gibran mengatakan kalau dia ingin melamarnya. Tapi tunggu, melamar untuk dijadikan apa?


"Saya ingin melamar mu untuk menjadi istri saya. Kamu bersedia 'kan?"


Seolah mengerti akan kebingungan dan pertanyaan Humaira, Gibran langsung to the point saja. Lagipula, bagi Gibran, cinta itu tidak terlalu penting. Hatinya sudah untuk perempuan lain. Menikah dengan siapa pun sudah tidak harus menggunakan cinta, ia bisa menyayangi dan menghormati siapa pun yang akan menjadi istrinya di masa depan.


"Pak ... jangan bercanda. Ini tidak lucu. Saya memang masih single, tapi saya tidak sedang ingin menikah. Saya hanya akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan ibu dan adik-adik saya. Saya belum---"


"Saya yang akan membiayai mereka. Kamu tahu saya sanggup, Humaira. Kamu tahu kan pernikahan itu tidak selamanya harus karena cinta, jika pernikahan bisa membawa kebaikan di masa depan, bukankah ini juga baik untuk kita?"


Humaira terdiam, dia tahu apa yang dimaksud oleh Gibran, tapi bukan berarti dia bisa langsung mengiyakan, pernikahan juga tidak semudah membalikan telapak tangan. Semuanya butuh pertimbangan yang matang, Humaira tidak ingin pernikahannya berakhir singkat hanya karena niat yang tidak tepat.


"Saya tunggu jawabannya sampai besok, Humaira. Ini kartu nama saya, jika butuh sesuatu, hubungi saya."


Tangan perempuan itu terulur, ia mengambil kartu nama Gibran tapi setelah itu ia tersenyum. "Maaf sebelumnya, Pak. Saya tidak bisa menerima lamaran Bapak. Bukan karena saya tidak ingin, tapi memang tidak bisa. Pernikahan itu bukan hal yang bisa dipermainkan, saya tahu Bapak lebih paham dari saya."


Humaira kembali menyodorkan kartu nama itu, ia beranjak kemudian membungkuk dan berbalik hendak ke luar dari ruangan itu.


"Tunggu Humaira."

__ADS_1


Gibran menahan pergelangan tangan perempuan di depannya. "Ambil ini, saya tidak yakin tapi saya tahu kamu akan membutuhkannya. Jangan egois Humaira, ini bukan hanya untuk mu, pikirkan keluargamu."


Humaira tertegun. Perempuan itu mengambil kartu nama Gibran, kembali membungkuk dan pergi dari sana. Kepala perempuan itu menunduk selama berjalan, bahkan saat seseorang berpapasan dengannya, Humaira seperti tidak melihat keberadaan istri dari pemilik perusahaan.


Kening Kiara mengerut samar, padahal ia baru akan menyapa karyawan tersebut, tapi karyawan itu sudah melesat pergi meninggalkannya.


"Eishhhhhhh ... sudahlah!"


Ia kembali berjalan, perempuan itu tersenyum dan berlari menghampiri Gibran. Kiara lupa batasannya, ia melompat, merangkul leher Gibran memeluk pria itu.


Tangan pria itu terambang di belakang punggung Kiara, ia gemetaran, ingin membalas pelukan kakak iparnya tapi syukurlah Kiara sudah melepaskan pelukan itu.


"Ah, maafkan aku Gibran. Aku enggak sengaja." Perempuan itu menyengir kuda. Ia kembali berjingkrak heboh.


"Ada apa?" tanya Gibran. "Apa yang membuat Kakak seneng?"


"Mas Abie. Dia bilang, besok Mas Abie mau ngajak aku bulan madu Gibran. Kita mau umroh dulu, abis itu pergi ke Jepang. Ya Allah, Kia seneng banget."


"Alhamdulillah ...." Gibran mengusap puncak kepala Kiara. Pria itu tersenyum tapi hanya dia sendiri yang tahu apa arti dari senyum itu. "Semoga Kak Kia sama Kak Abie bahagia ya. Aku ikut seneng."


Kiara mengangguk. Perempuan itu tidak menyangka jika hari seperti ini akan datang kepadanya dan juga kepada suaminya. Kiara pikir Habibie hanya bercanda saat mengatakan kalau mereka akan pergi bulan madu, tapi ternyata ... Habibie bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Makasih, Gibran."


** **


Malam harinya, dalam sujud terakhir di sepertiga malam itu, Gibran bersujud sangat lama. Ia terisak dalam diam, pria itu menumpahkan segala keresahan dan juga gundah dalam hatinya. Gibran memohon ampun atas perasan yang muncul tanpa dia minta, Gibran juga berjanji kalau dia tidak akan pernah menyentuh Kiara lagi walau hanya seujung kuku. Kemarin adalah hari terakhirnya untuk menyentuh wanita kakaknya.

__ADS_1


Gibran kembali menengadahkan tangannya ke atas. Pria itu berdo'a untuk segalanya. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang-orang yang menyayanginya juga orang-orang yang dia sayangi, Gibran tahu kesalahan dia sudah terlalu banyak. Tapi Gibran tidak berbohong, ia benar-benar akan berubah, cintanya hanya akan berhenti sampai di sini, satu hal lagi yang Gibran minta, ia memohon agar Allah meridhoi niatnya untuk menikahi Humaira. Ia akan mengajak Humaira untuk membina rumah tangga meskipun sebenarnya dia melakukan itu untuk menjaga pernikahan Habibie dan Kiara.


Selesai dengan shalat malamnya, Gibran kembali ke tempat tidur, baru akan berbaring, tiba-tiba ponsel di samping nakas bergetar. Pria itu menatap ponselnya dengan seksama. Nomor baru?


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumssalam, Pak. Pak Gibran ini saya Humaira Pak. Pak tolong saya, Ibu ... Ibu saya tiba-tiba pingsan, saya sudah membawanya ke rumah sakit tapi dokter mengatakan kalau ibu harus segara dioperasi. Tolong saya, Pak. Saya enggak punya uang."


Tanpa menunggu apa-apa lagi, Gibran langsung menyambar kunci mobilnya. Pria itu mengambil jaket kemudian ke luar dari kamar dengan tergesa. Kenapa harus tiba-tiba, padahal Gibran tidak mendoakan hal-hal buruk untuk Humaira.


"Inalilahi ... aku tidak tahu apakah ini jawaban dari semua do'a-do'a ku, atau Allah hanya sedang menguji mu Humaira."


** **


Langkah kaki Gibran memasuki area IGD di rumah sakit tersebut. Ia berlari saat melihat Humaira sedang duduk dengan kepala tertunduk dalam.


"Humaira!"


Perempuan itu mendongak, ia langsung berdiri, menghampiri Gibran dengan linangan air mata.


"Ibu, Pak. Ibu saya memiliki masalah dengan jantungnya. Dokter bilang harus segera dioperasi, jika tidak, kemungkinan besar tidak akan selamat. Mereka tidak mau menyelematkan ibu. Saya enggak punya uang, Pak!"


Humaira kembali tertunduk. Ia bingung harus meminta bantuan kepada siapa, semua saudaranya sudah dia hubungi tapi tidak satu pun mau menolongnya.


"Sudah, Humaira. Tenangkan diri dulu." Gibran menepuk pundak Humaira pelan. "Saya akan mengurus administrasi. Kamu tunggu di sini!"


Perempuan itu mengangguk. Humaira kembali mondar-mandir. Ia benar-benar takut kehilangan ibunya, hanya sang ibu lah tempat dia mengadu, ibu adalah rumah sesungguhnya untuk Humaira, ia tidak ingin hal buruk terjadi padanya, tidak.

__ADS_1


"Ya Allah, semoga ibu baik - baik saja."


__ADS_2