
Satu minggu setelah Gibran dan Humaira menikah, mereka sudah memulai terbiasa dengan hal-hal kecil, bahkan untuk saling memanggil dengan sebutan sayang saja cukup bisa dilakukan meskipun agak canggung, Gibran tahu, tidak mungkin setelah menikah ia harus memanggil nama lengkap sang istri, hal itu tidak dibenarkan oleh pemahamannya tentang masinisnya berumah tangga.
Setelah satu minggu berada di bawah atap yang sama, Gibran sadar kalau Humaira ini adalah perempuan yang sangat baik, saking baiknya, ia tidak pernah mengatakan tidak saat Gibran melarangnya untuk melakukan sesuatu, pada hakikatnya, tugas perempuan adalah di rumah, menjaga hal-hal yang buruk yang mungkin saja bisa terjadi andai ia meninggalkan tempat naungan mereka. Hebatnya, saat Gibran meminta Humaira untuk berhenti bekerja, Humaira mengiyakannya tanpa banyak bertanya.
"Pagi ini, Rara bikin makanan kesukaan Mas Gibran, dibantu Ummi sih," Perempuan itu mengatakannya dengan wajah berseri. Mengenal Gibran adalah sebuah anugrah yang sangat besar untuknya, sikap pria itu benar-benar sangat baik. Selama satu minggu ini, tidak pernah sekalipun Humaira merasa kalau pernikahan mereka memang tanpa cinta, ada sesuatu hal milik Gibran yang tidak dimiliki orang lain, adab. Gibran memiliki adab yang sangat baik, caranya memperlakukan istri dan menghargai istrnya membuat Humaira kagum.
"Masak apa, Dek?" tanya Gibran.
Humaira tersenyum, ia menaruh lauk di atas piring suaminya. "Ada ayam bakar madu. Maaf kalau rasanya tidak seenak buatan Ummi."
Gibran menggelengkan kepalanya. Pria itu menatap Humaira lekat, membuat pipi perempuan itu bersemu kemerah-merahan. Sama seperti namanya.
"Apa pun yang kamu masak, mas pasti suka."
"Ekhemmmm!"
Ummi Amelia dan Abi Fawas saling melirik setelah berdehem. Mereka benar-benar hanya di anggap ulat daun di tengah-tengah hamparan kebun teh. Ummi dan Abi tahu kalau Gibran dan Humaira adalah pengantin baru, tapi apakah harus seketara ini, Ummi juga dulu tidak begitu.
"Apa sih Ummi. Jangan iri. Ummi kan udah punya Abi Fawas, orang paling ganteng dan paling dihormati di perumahan ini."
"Eishhhhhhh. Siapa yang iri. Jangan mengada-ada kamu."
__ADS_1
Gibran tertawa melihat kedongkolan Ummi Amelia. Ya siapa suruh Ummi malah menggodanya. Mengganggu kegiatan Gibran untuk mencari pahala dari pernikahan yang sudah dia lakukan.
"Mi ...."
"Iya Abi. Kenapa?"
"Udah seminggu Kiara enggak ke sini, kemarin juga pas hari Minggu enggak ada. Biasanya kalau ada Kiara rumah ini selalu ramai."
Gibran dan Ummi Amelia mendadak diam. Mereka tidak bersuara malah cenderung menunjukkan wajah sendu, Abi Fawas mengetahui hal itu, ia menjadi sangat bersalah karena sudah membahas Kiara padahal juga masih ada Humaira di sana.
"Makan sarapannya, Nak!" ucap Abi Fawas menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
Setelah kalimat itu keluar, tidak ada lagi yang berani bersuara. Mereka mendadak hening, segala pembicaraan menjadi hambar seperti tidak ada makna. Alhasil, Gibran pun pamit untuk berangkat ke kantor, ia mengatakan jika Humaira boleh datang ke kantornya saat makan siang. Ini adalah hari pertama Gibran kembali bekerja setelah pernikahan ia dan Humaira berlangsung.
"Iya Mas. Mas juga hati-hati."
Gibran pun mengangguk, ia mengecup kening sang istri, juga Humaira mengecup punggung tangan suaminya, mereka saling menatap untuk beberapa saat, setelah itu barulah Gibran pergi.
** ** **
Sampai di depan perusahaan, Gibran menatap perusahaan itu dengan perasaan tidak menentu, dia bingung ... hati kecilnya terus memintanya untuk menanyakan kabar Kiara, tapi nuraninya meminta Gibran untuk tidak melakukan hal itu. Memang, Kiara adalah kakak iparnya, tapi mereka memiliki keterikatan hanya karena Habibie
__ADS_1
"Aku harap kalian baik-baik saja dan kalian bisa menggapai kebahagiaan kalian sendiri."
Langkah lebar Gibran membawa pria itu masuk ke perusahaan. Hal pertama yang harus dia lakukan adalah pergi menyapa Habibie. Namun, kening pria itu langsung mengerut saat melihat Habibie dari celah pintu, Gibran melihat tampilan kusut kakaknya, jenggotnya juga tidak serapi saat terkahir kali mereka bertemu.
"Ada apa dengan kamu, Kak?"
Gibran ingin masuk tapi tiba-tiba Ali menahan tangannya. Pria itu menggelengkan kepala, sebagai tanda kalau Gibran tidak boleh menemui Habibie.
"Ada apa?" tanya Gibran kebingungan.
Ali menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan. Pria itu meminta Gibran untuk menjauh, "Tuan Habibie sedang tidak dalam kondisi yang baik. Belakangan ini beliau tidak mau ada yang mengganggu. Saya mohon jangan membuatnya marah."
Kening Gibran mengerut samar, pria itu melirik ke arah pintu tapi setelahnya ia kembali menatap Ali heran. "Lantas, dimana Kak Kiara, sejak saya masuk ke sini, saya tidak melihatnya. Dimana dia?"
Pria itu celingukan mencari sosok kakak iparnya, tapi mau menoleh seperti apa pun, Kiara memang tidak ada di sana, Gibran tidak menemukan apa pun.
"Nyonya Kiara lagi kurang enak badan, pagi ini bilang sama saya untuk menghandle urusan Tuan."
"Kenapa enggak diantar Kak Habibie?"
"Nyonya meminta saya untuk merahasiakan ini dari Tuan, Pak Gibran."
__ADS_1
Gibran mengangguk - anggukkan kepalanya. Pria itu benar-benar ingin menghajar wajah Habibie, tapi rasanya tidak mungkin. Jika Kiara tidak mau berbicara, berarti ada yang terjadi diantara mereka. Harusnya Habibie lebih peka, tapi ini ... dia malah membiarkannya. Jika perempuan manja seperti Kiara tidak mengatakan apa pun kepada orang terdekatnya, itu artinya, Kiara sedikit demi sedikit sudah hilang respek pada suaminya sendiri.
"Jangan sampai aku juga ikut membencimu, Kak. Andai Kak Kiara tidak mencintaimu, aku pasti akan merebutnya darimu."