Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
37. Kesadaran Habibie


__ADS_3

Keesokan paginya, Kiara sudah disambut dengan berbagai hidangan enak di atas meja makan. Perempuan itu tersenyum sumringah, kondisi tubuhnya telah membaik. Kiara sudah tak lagi merasakan sakit di perut bagaian bawah, hanya moodnya saja masih naik turun tidak jelas.


"Bi, tumben banyak makanan?" tanya Kiara sudah duduk di meja makan.


"Tuan Habibie yang minta, Nyonya. Beliau minta koki di rumah ini untuk membuatkan makanan kesukaan Nyonya Kiara."


Perempuan itu menipiskan bibir, mengangkat kedua bahunya acuh seolah dia tidak perduli akan keanehan yang dilakukan oleh suaminya.


"Hari ini kita libur dulu, Kia!" Habibie mengatakan itu tepat di samping Kiara. Tiba-tiba ia meletakan sebuah kotak kecil di samping sang istri.


"Apa ini?" ketus Kiara. "Jangan sogok aku dengan hal-hal seperti itu karena aku tidak akan mau."


Habibie menurunkan bahunya.


Pelan-pelan tapi pasti Kiara meraba-raba kotak tersebut. Ia melirik Habibie. Saat suaminya tengah mengambil ayam pop, Kiara membuka kotak kecil itu ogah-ogahan.


Namun, ketika sebuah benda mungil bersinar, memantulkan cahaya lampu, perempuan itu langsung memekik tertahan.


"MasyAllah ... ini safir biru yang aku mau. Ya Allah ... darimana Mas Abie dapet ini. Wuahhhh, cantik banget."


Habibie hanya tersenyum. Siapa yang tadi mengatakan kalau dia tidak bisa disogok. Dan lihatlah sekarang, batu safir itu sudah berpindah tangan.


"Makan dulu! Kamu masih belum benar-benar sembuh Kiara."


"Tapi ini buat Kiara 'kan Mas Abie? Bukan untuk orang lain."


Habibie mengangguk. "Anggap saja itu sebagai permintaan maaf saya untuk semua perlakuan tidak baik saya terhadap mu. Saya tahu ini sudah terlambat, tapi saya akan berusaha untuk memperbaiki semuanya."


Kiara tidak langsung menjawab. Perempuan itu malah mengangkat tangannya, mengangkat jemarinya untuk melihat betapa cantiknya cincin safir biru itu pada jemarinya yang mungil.

__ADS_1


"Kia mau ketemu sama Ayah, Mas Abi. Boleh kan?"


Habibie kembali mengangguk. Untuk hari ini tidak masalah. Lagipula, ada beberapa hal yang harus dia bicarakan dengan mertuanya itu. Ya anggaplah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.


....


Sepasang anak manusia itu berjalan di lobby perusahaan milik Amzar. Kiara menarik tangan Habibie. Perempuan itu membuat semua wanita yang ada si sana iri karena tingkahnya yang sangat di luar nalar. Seorang gadis kecil, menarik tangan pria dewasa seperti anak-anak yang sedang bermain dengan teman sebayanya.


"Itu anak sulung Pak Amzar 'kan? Sama suaminya?" tanya seseorang dengan mata berbinar.


"The power of visual ini mah. Anak Pak Amzar udah cantik kebangetan. Dan suaminya lebih cakep lagi. Ya Allah. Pria seperti ini yang hamba maksud."


"Ngarep lo. Jangan halu, mereka itu orang-orang terpandang. Kekayaan keluarga mereka sama-sama tidak ternilai. Orang kaya mah nikahnya sama orang kaya lagi. Paling enggak, kalau gak kaya minimal S3. Lha elu!"


"Ya kalau ngehalu mah gak papa kali. Masa iya gue gak boleh punya cita-cita."


"Terserah lo aja! Nanti kalau jatoh nyangkut di pohon toge baru tahu rasa."


Sampai di depan pintu ruangan sang ayah. Kiara memekik. Perempuan itu memanggil ayahnya seraya berlari bak anak TK.


"Ayahhhhhh!" pekik perempuan itu.


Amzar yang sedang duduk pada kursi kebesarannya langsung menoleh. Amzar tersenyum. Ia beranjak dari duduknya sementara Kiara langsung memeluk ayahnya dengan dekapan sangat erat.


"Kiara kengen, Ayah. Kenapa Ayah enggak pernah nengok Kiara? Apa Kiara sudah dibuang?"


Amzar tertawa kecil. Pria itu mengusap punggung Kiara dengan usapan yang sangat lembut. Anaknya ini, Amzar pikir setelah Kiara menikah, Kiara akan berubah, ternyata sama saja. Tidak ada apa pun yang berubah dari anak sulungnya itu.


"Kamu itu masih saja manja, Kiara. Enggak malu sama suami kamu?"

__ADS_1


Amzar melirik Habibie kemudian meminta sekretarisnya untuk keluar. Kini tinggal Habibie, Amzar dan Kiara saja yang ada di sana.


"Duduk Nak Abie!" Amzar mempersilahkan. Sementara dia sedang berusaha untuk melepaskan Kiara dari pelukannya.


Karena tidak kunjung diam. Amzar terpaksa menyeret anaknya untuk mendekat ke arah Habibie. Amzar bermaksud untuk meminta Kiara segera melonggar, tapi kemudian tiba-tiba perempuan itu memekik.


"Ayah!" teriaknya menepuk pundak Amzar beberapa kali. "Lihatlah! Kiara lupa, Kiara ke sini mau liatin ini sama Ayah!"


Perempuan itu menyodorkan tangannya. "Safir biru, Ayah. Safir biru!" Perempuan itu terlihat sangat bahagia. "Ini yang waktu itu Kiara minta, tapi enggak dikasih. Sekarang ada Mas Abie, jadi Mas Abie kasih ini buat Kiara. Kiara pasti sangat baik sampai Mas Abie mau beliin ini."


Amzar hanya tersenyum. Dia menarik tangan anaknya, mengusap batu safir itu dengan mata berembun. Bukan batu safir itu yang membuat Amzar sedih, tapi sudah bertahun-tahun lamanya dia tidak melihat kebahagiaan tulus dari wajah sang anak. Terakhir kali Amzar melihat itu sebelum dia menikah dengan istrinya yang sekarang.


"Cincinnya cantik. Tapi lebih cantik anak ayah kalau senyum kayak gini."


Kiara kembali mengangkat tangannya. Diciumnya jari tangan itu lalu duduk di sebrang suaminya.


Habibie melihat itu dengan seksama. Tiba-tiba hatinya ikut mendung. Habibie tidak tahu kenapa Amzar sampai berkaca-kaca seperti ini. Namun, yang membuat Habibie sangat tersentuh adalah keceriaan dan kebahagiaan Kiara. Saking senangnya dia mendapatkan batu safir itu, Kiara sampai menemui ayahnya hanya untuk memperlihatkan benda yang nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan Kiara dan ayahnya.


"Sesederhana ini cara mu untuk bahagia, Kiara."


"Mas Abie ... nanti kalau ada yang merah jambu kasih tahu Kiara ya. Untuk yang ke dua, biar ayah aja yang beli. Ayah kan belum kasih kado pernikahan."


Pria itu hanya mengangguk seraya tersenyum. Semoga, setelah ini Habibie bisa membuka hatinya untuk sosok sang istri. Habibie harus bisa membahagiakan istrinya meskipun tidak mudah untuk hatinya.


"Jadi gimana? Kapan mau kasih cucu buat ayah?"


"Hah?"


__ADS_1



__ADS_2