Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
66. Jalan Untuk Kiara


__ADS_3

Habibie sudah akan bersujud di kaki mertuanya akan tetapi ditahan oleh Pak Amzar. Beliau tidak ingin Habibie merendahkan dirinya seperti itu. Ada cara lain untuk mendapatkan maaf, tapi bukan dengan bersujud kepada mahluk yang sama-sama diciptakan oleh Tuhan.


"Saya enggak butuh permintaan maaf mu, Habibie. Hanya ingin mengatakan, cari dan temukan istri kamu. Saya juga akan mencari anak saya. Ini adalah masalah rumah tangga kalian. Tidak seharusnya saya ikut campur. Dan untuk masalah kalian mau melanjutkan pernikahan atau tidak, pikirkan ini baik-baik. Saya permisi dulu, Pak Fawas!"


Pria di depan Habibie itu menatap anaknya sengit. Bodoh, Habibie benar-benar bodoh karena sudah menyakiti perempuan baik seperti Kiara, mereka tidak tahu permasalahan apa yang sebenarnya terjadi, tapi satu hal yang Pak Fawas ingin tekankan, ia kecewa, sangat-sangat kecewa.


"Kami akan mencari Kiara. Jika kamu masih seorang laki-laki, cari Kiara sampai ketemu, Habibie!"


Tidak ada jawaban. Tubuh pria itu ambruk setelah kepergian mertua dan ayahnya. Habibie melirik kanan kiri, pria itu menatap meja makan sangat lama, bibirnya menyunggingkan senyum melihat bagaimana dulu Kiara selalu mengganggunya di meja makan tersebut.


"Nah. Kiara sudah buatkan Mas Abie kopi terbaik, dengan cinta dan kasih sayang. Cobalah!" Habibie tersenyum, ia masih bisa merasakan bagaimana Kiara mengecupnya dengan hangat kala itu.


Kepalanya kembali menoleh ke arah lain, tempat dimana mereka selalu menaruh kunci mobil mereka.


"Ini beneran buat Kiara Mas?" tanya perempuan itu dengan binar pada matanya. "Wuahhhh ... terima kasih, Mas Abi! Kiara sayang Mas Abie. Pokoknya Mas Abie adalah suami terbaik di dunia ini." Ia melompat, memeluk leher Habibie sehingga pria itu membalas dekapannya.


Lihat pria itu, dia memeluk dirinya sendiri seolah saat ini Kiara masih ada di sana. Penyesalan memang selalu datang terlambat, tapi kali ini benar-benar sangat terlambat karena Habibie kehilangan sosok itu setelah kalimat terkejam keluar dari mulutnya.


"Aku merindukan mu, Kiara. Kamu di mana!"


Percuma, sekarang pertanyaan itu tidak akan memiliki jawaban. Bagaimana bisa seorang Kiara menjawab saat dia telah ingin pergi dari hadapannya?


** ** **


Pagi hari di halaman rumah Ummi Rahma, halaman yang dihubungkan langsung dengan area pesantren, hanya dibatasi dengan pagar sepinggang, Kiara tersenyum melihat banyaknya para santri di sana.


Mereka sedang bersih-bersih tapi Kiara merasa kegiatan itu sangat seru sebab dilakukan bersama-sama.

__ADS_1


"Nak!" panggil Ummi Rahma.


"Iya Budhe?" jawab Kiara menolehkan kepalanya menatap perempuan cantik itu.


"Bagaimana mual nya? Sudah hilang?"


Kiara menggeleng tapi kemudian mengangguk. "Alhamdulillah sudah mendingan Budhe."


Ia kembali menatap ke arah anak-anak yang sedang bercanda dengan kawan-kawannya.


"Kamu mau ikutan sama mereka?" tanya Ummi.


Awalnya perempuan itu diam, tapi saat mereka semua tertawa, Kiara benar-benar gemas, Kiara ingin menjadi bagian dari mereka juga.


"Bolehkah?" Kiara menatap Ummi Rahma dengan binar di wajahnya.


Perempuan itu langsung beranjak dari kursi yang ada di teras depan rumah. Antusiasme yang dia tunjukan membuat Ummi Rahma ikut bersemangat karena sejak semalam Kiara hanya menangis, ketika perempuan ini kembali menunjukan ketertarikan untuk hidup, Ummi Rahma merasa jika Kiara tidak akan kehilangan sifat aslinya yang memang jenaka dan periang.


"Assalamualaikum!" sapa Ummi Rahma.


"Wa'alaikumssalam, Ummi!" jawab mereka serempak. Tatapan mereka langsung tertuju kepada Kiara yang berdiri tepat di samping Ummi Rahma.


"Adek cantik itu siapa, Ummi? Calonnya Ustadz Risyam ya?"


"Hush!" Ummi Rahma dan Kiara tertawa. "Ini keponakan Ummi. Adeknya Ustadz Risyam, namanya Kiara. Boleh gabung sama kalian 'kan?"


Orang-orang itu diam, mereka saling menatap satu sama lain dengan wajah serius. Namun, beberapa detik kemudian, mereka semua berhamburan menarik Kiara agar ikut bermain sambil bersih-bersih bersama mereka.

__ADS_1


"Hati-hati Nduk! Ah satu lagi, Kiara lebih dewasa 6 tahun dari kalian, hormat sedikit."


"Hahhhhh?" cengo orang-orang itu mereka mengelilingi Kiara, menatap perempuan itu dari atas sampai bawah. Kenapa tidak ada tanda-tanda menua, Kiara malah terlihat seperti anak gadis yang baru masuk SMA. "MasyaAllah ... maafkan kami, Mbak. Kami enggak tahu."


Kiara menggelengkan kepalanya. Perempuan itu tidak mau diperlakukan dengan hormat, dia hanya ingin berteman. "Enggak usah kayak gitu, aku cuma mau jadi temen kalian kok. Seriusan."


Kiara mengacungkan jari telunjuk dan jari manisnya membentuk huruf V. Lesung pipi pada salah satu sisi wajahnya membuat dia malah terlihat semakin imut saja.


"Akh ini mah udah enggak bener. Kita kalah muda euyy!"


Kiara tertawa, anak-anak ini benar-benar sangat lucu.


Mereka kembali melakukan aktifitas mereka yang sempat tertunda, Kiara yang bertugas untuk menyiram tanaman mengambil selang air, menyiram tanaman itu dengan baik, tapi tiba-tiba jiwa jahilnya keluar saat melihat beberapa orang berdiri tak jauh darinya.


"Bommm! Rasakan ini!" Kiara menyemprotkan air itu pada anak-anak di depannya.


"Heiiiii Kak Kiara jangan lakukan itu!"


"Mbak kami basah!"


Kiara tidak mengindahkan hal tersebut, ia malah semakin gencar mengejar anak-anak itu sampai mereka semua terkena semprotan air yang berujung mereka bermain basah-basahan.


"Lihat Kiyai. Kiara sangat bahagia di sini, semoga mereka semua bisa membantu Kiara melupakan masalahnya."


Kiyai Salim mengangguk. "Semoga ini menjadi jalan agar dia bisa menemukan jati dirinya sebagai seorang perempuan."


Ummi Rahma mengiyakan. Perempuan itu menjadi minoritas diantara anak-anak yang mengenakan hijab, Ummi Rahma tidak bisa memaksa, ia yakin akan tiba saatnya Kiara mau menjalankan kewajibannya, apalagi sekarang Kiara ada di sini. Lingkungan yang baik akan membawa dampak baik, begitupun sebaliknya.

__ADS_1


"Apa kita harus menghubungi Mas Amzar Kiyai?"


__ADS_2