Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
26. Suami Menyebalkan


__ADS_3

Hari ini, Kiara dan Habibie memutuskan untuk kembali. Sebenarnya mereka bisa saja pulang nanti malam, tapi Habibie meminta kepada kedua orangtuanya untuk segera pulang setelah mengetahui hal menyedihkan apa yang terjadi pada Kiara di masa kecilnya.


Perempuan itu tidak banyak bicara. Sejak masuk ke dalam mobil sampai sekarang, dia benar-benar bungkam. Bibirnya seperti kelu entah kenapa.


"Kau sariawan?" tanya Habibie.


Kiara masih tetap diam. Perempuan itu malah memalingkan wajah, enggan untuk menoleh ke arah suaminya saking kesalnya Kiara saat itu.


"Kiara!"


"Apa sih!" ketusnya dengan nada suara yang sangat tinggi. "Kalau mau pulang, pulang aja. Kenapa harus banyak ngoceh," ujarnya. Kiara masih marah tapi nada suaranya semakin lama semakin memelan. "Udah dibilang enggak mau pulang, malah maksa pulang!"


Meskipun perempuan itu hanya bergumam, tapi Habibie bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Habibie menghentikan mobilnya di tepian kemudian menoleh menatap Kiara.


"Dengar, Kiara. Kamu itu bukan anak Ummi, kamu istri saya! Meskipun kamu sangat ingin bertemu dengan Ummi, jika tidak ada izin dari saya, kamu tidak boleh pergi, apalagi ini untuk menginap. Berdosa!"


Kiara mendengar hal tersebut dengan mulut komat kamit. Perempuan itu mengulang apa yang Habibie katakan dengan gerakan mulutnya. Ia sama sekali tidak merasa segan, Habibie selalu memarahinya, untuk apa dia sungkan terhadap pria itu.


"Kiara!"


"Hmmmm!"


"Mulai besok, kamu harus setor hafalan kepada saya. Dimulai dari juz Amma."


"What?"


"Tidak ada bantahan. Kita mulai besok subuh, jika ada yang harus dikoreksi, kau harus setor hafalan lagi setelah isya."

__ADS_1


"Kalau enggak mau?"


Habibie tersenyum menyeringai. Pria itu mengangkat kedua bahunya acuh. Kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Kalau kamu tidak mau. Bi Arum sama Devi saya pecat hari ini juga."


"Massss!" pekik Kiara tidak terima. "Oke! Aku akan belajar, tapi jangan pecat mereka, kasian!"


Habibie mengangguk penuh kemenangan. Ternyata benar apa yang dikatakan Amzar, Kiara mungkin sangat manja dan sulit untuk diatur. Tapi, rasa kemanusiaan yang dia miliki untuk orang lain membuatnya tidak akan bisa berkutik jika diancam dengan cara seperti itu.


"Ish, menyebalkan!" ketus Kiara.


Lagi-lagi Habibie tidak perduli. Masa bodoh dengan kemarahan Kiara. Mau perempuan itu mengomel, mengoceh atau bagaimana, Habibie tidak akan menoleh. Toh, ini juga untuk kebaikan Kiara sendiri. Sudah waktunya Habibie merapatkan aturan agar Kiara bisa sedikit diatur jika dia terus membiarkan Kiara bebas seperti itu, entah apa yang akan terjadi di masa depan.


Sampai di rumah, Kiara langsung turun dari mobil, sedangkan Habibie memanggil Mang Agus untuk mengeluarkan sayur mayur segar yang mereka ambil dari kebun mereka sendiri.


"Nyonya Kiara. Nyonya enggak papa kan?" tanya Bi Arum. Melihat Kiara duduk di kursi yang ada di dekat dapur, seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, Bi Arum menjadi sangat khawatir.


"Astagfirullah, Nyonya! Nyonya kenapa?"


Bi Arum menarik kursi lain kemudian duduk di depan Kiara.


"Bi ... kenapa sih Ayah jodohin Kiara sama Mas Abie. Kalau karena uang, Ayah juga banyak uang. Kiara rasanya capek kalau ditekan seperti ini. Mana Mas Habibie galak banget, sesekali baik. Banyaknya marahhhhh aja!" Perempuan itu berbicara sambil terisak. Ia sesenggukan yang mana hal itu malah membuatnya terlihat sangat lucu.


Bi Arum menarik tangan Kiara. Ia tersenyum lantas mengusap punggung tangan itu dengan usapan yang sangat lembut. Bi Arum tahu, bagaimana tertekannya Kiara karena ulah majikannya. Namun, mau bagaimana lagi. Habibie telah menjadi suaminya. Kiara harus patuh, apalagi jika kerasnya Habibie itu karena urusan akhirat.


"Nyonya, Kia ... saya tidak tahu, segimana sakitnya Nyonya saat ini. Tapi, setelah bertahun-tahun saya bekerja dengan Tuan, saya tidak pernah melihat hal-hal aneh yang Tuan lakukan. Beliau cenderung cuek. Dan selama lima tahun ke belakang, cuma Nyonya Kiara, satu-satunya perempuan yang Tuan bawa ke rumah ini. Nyonya mungkin merasa seperti itu karena belum terbiasa, tapi percayalah. Tuan adalah orang yang sangat baik. Jangan buang air mata Nyonya untuk hal-hal seperti ini. Nyonya harus semangat, buktikan pada Tuan Habibie kalau Nyonya pantas mendapatkan sikap baiknya!"

__ADS_1


"Huaaaa ... Bibi!" Kiara memeluk perempuan di depannya dengan erat. Dia sangat bersyukur karena memiliki orang dekat seperti ini. "Saya lapar, Bi. Mau ayam pop buatan Bibi!"


Bi Arum tersenyum. Wanita paruh baya itu mengusap punggung Kiara lantas menjauh dari majikannya itu. "Akan saya buatkan. Nyonya istirahat aja dulu! Nanti saya panggil kalau sudah selesai masak."


"Oke!" sahut Kiara dengan antusias. "Makasih ya Bi!"


Dia mengusap wajahnya kasar sebelum berlari menuju kamar di lantai atas.


Punggung Habibie yang ada di depan pintu dia tabrak yang mana hal tersebut membuat benda pipih di tangannya loncat dengan cukup keras ke atas lantai.


"UPS, maaf Tuan! Saya tidak sengaja," ledek Kiara seraya menjulurkan lidah dengan jari tangan melambai-lambai di atas kepala. Perempuan itu langsung berlari saat Habibie menatapnya dengan tajam.


"Bocah tengil!" ketus Habibie.


Perempuan tadi malah berjingkrak heboh. Dia masuk ke kamarnya akan tetapi matanya langsung terbelalak begitu melihat sesuatu yang coklat mengkilap berlari ke arahnya.


"Mas Abiiiiiieeeeee!"


Perempuan itu berteriak dengan nada tiga oktafnya. Dia kembali membuka pintu, berlari menghampiri suaminya kemudian melompat untuk merangkul leher sang suami dan menggantung seperti anak koala. Karena refleks menahan bobot istrinya, ponsel yang Habibie pungut dari lantai pun kembali jatuh sampai layarnya retak tak beraturan.


"Mas Abie! Mas tolong, ada kurma jadi-jadian. Dia mau nyerang Kiara. Jijik Mas, tolong usir mahluk asing itu!"


Kiara semakin erat memeluk Habibie saking takutnya dia pada hewan bernama kecoa. Kepalanya ia benamkan diantara leher suaminya dan Habibie pun tidak melakukan pergerakan apa pun.


"Turun, Kiara!"


"Enggak mau!"

__ADS_1


"Saya bilang turun!"


"Kiara bilang enggak mau Mas! Kalau enggak mau ya enggak mau. Mas kok maksa sih!"


__ADS_2