Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
42. Bertarung Dengan Masa Lalu


__ADS_3

Habibie mencengkram tangan Kiara. Namun, perempuan itu menipisnya dengan kuat. Kiara masuk ke kamarnya, membanting pintu kamar itu lantas menguncinya agar Habibie tidak masuk.


Sepasang kaki jenjangnya melangkah ke arah walk in closet. Dia mengambil sebuah koper. Koper miliknya yang di dalam koper itu terdapat beberapa dress malam yang sangat cantik. Pilihan perempuan itu jatuh pada long dress hitam, belahan dressnya sampai di tengah-tengah paha perempuan itu. Wajahnya juga dia poles sedemikian rupa, perona bibirnya membuat tampilan perempuan itu benar-benar sangat berbeda dengan tampilan Kiara biasanya. Dia seperti sengaja melebih lebihkan apa pun untuk membuat seseorang kesal karena tingkahnya.


Rambut panjangnya dia biarkan tergerai, Kiara terlihat sangat cantik dan bisa dipastikan kalau ini adalah tampilan Kiara yang sangat Habibie benci. Habibie pasti akan sangat membencinya karena dia tidak pernah suka melihat Kiara menampakkan auratnya kepada siapa pun.




Perempuan itu menyambar sebuah paper bag kemudian keluar dari kamarnya. Dia sama sekali tidak menghiraukan Habibie yang masih berdiri di samping pintu kamar, menyandarkan punggungnya pada tembok dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Berhenti Kiara. Apa kau mau masuk neraka?"


Perempuan yang baru akan menuruni anak tangga itu berbalik. Dia tersenyum sinis, menatap Habibie dengan mata memincing tajam. "Bukankah rumah ini juga neraka? Lebih baik jangan campuri urusan saya, Tuan!"


Habibie memejamkan mata untuk beberapa saat. Oke, baiklah ... dia salah karena mungkin Kiara membaca surat-surat yang dia tulis untuk istrinya. Tapi apa boleh dikata, Habibie juga sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Dia berusaha untuk memberikan kasih sayangnya meskipun mungkin memang belum bisa setulus yang Kiara inginkan.


"Apa perbuatan saya terlalu salah?" gumam Habibie. Pria itu masih belum sadar jika perbuatan yang dia lakukan sudah menjadi hal yang sangat buruk untuk kesehatan hati seseorang.


Pria itu mengikuti istrinya. Habibie ingin mencegah Kiara untuk tidak pergi akan tetapi perempuan itu sudah masuk ke dalam sebuah taksi.


"Astagfirullah ... dia mau pergi ke mana?" Habibie menarik dasi dilehernya prustasi. Ia tidak bisa membiarkan Kiara menghilang begitu saja. Habibie takut Kiara akan terjerumus pada hal-hal yang kurang baik. Apalagi tampilannya sekarang. Sudah bisa dipastikan jika tempat yang dituju pun bukan tempat biasa.

__ADS_1


Meski jalanan masih sangat ramai, tapi sebenarnya malam itu sudah cukup larut. Pria itu celingukan mencari keberadaan mobil taksi yang istrinya tumpangi. Setelah menyalip beberapa mobil, barulah Habibie melihat mobil itu. Semakin lama, Habibie semakin tahu ke mana arah tujuan mobil itu pergi. Meskipun dia tidak bisa berada tepat di belakang mobil tersebut, Habibie tahu di mana taksi itu berhenti.


"Apa yang kau lakukan di sini, Kiara."


Dengan cepat Habibie melepaskan seat belt miliknya. Pria itu keluar dari mobil, melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah club malam dengan perasaan campur aduk. Dalam hati pria itu terus saja beristighfar, karena seorang Kiara, untuk pertama kalinya Habibie mau menginjakkan kakinya di tempat yang sangat buruk. Benar-benar buruk bagi orang - orang mengerti sepertinya.


Dentum suara musik mampu membuat telinga sakit dan berdengung. Pria itu mengedarkan pandangan, mencari sosok sang istri yang menghilang entah ke mana. Orang-orang bersorak dengan suara memekik. Hal itu membuat keadaan di sana semakin tidak menyenangkan saja.


"Wuahhhhhh ... ada Mas ganteng. Butuh temen enggak Mas? Joget bareng kita yuk!"


Dengan cepat Habibie menepis tangan perempuan itu. Dia sangat tidak nyaman, Habibie risih ketika para perempuan itu berusaha untuk menempelkan tubuh mereka padanya.


Sementara itu, seseorang di dalam taksi yang masih berada di luar klub malam itu tersenyum sinis. Kiara mengambil coat dari dalam paper bag yang tadi dia bawa kemudian memakaikan coat itu pada tubuhnya.


"Baik, Mbak."


Hembusan napas pelan keluar dari mulut perempuan itu. Kiara menatap langit malam dari kaca jendela taksi tersebut. Membiarkan angin malam menerbangkan rambutnya. Perlahan, mata Kiara terpejam. Bulir bening itu kembali menyeruak, terbang tertiup angin.


"Bunda, Bunda lagi apa? Ayah bilang Bunda udah bahagia ya di langit? Kenapa saat itu Bunda tega ninggalin Kiara, setelah Bunda pergi, hidup Kiara enggak berarti lagi. Enggak ada yang sayang sama Kiara Bunda. Ayah Sibuk sama istri dan anak-anak barunya. Kiara sendirian di sini. Jika boleh, Kiara mau ketemu sama Bunda, sekali aja, Kiara pengen dipeluk, Bunda. Kiara kangen. Meskipun hanya di dalam mimpi, Kiara mau Bunda."


Perlahan, suara isak tangis terdengar dari mulut perempuan itu. Sopir taksi sampai kebingungan.


"Mbak? Mbak kenapa? Apakah hari ini ada hal buruk yang terjadi?"

__ADS_1


Perempuan itu malah semakin terisak. Kiara menangkup wajahnya, menyandarkan kepalanya ke belakang, perempuan itu mendongak berharap jika air matanya akan berhenti mengalir.


"Hari ini semuanya berjalan sangat buruk, Pak! Saya dikhianati harapan saya sendiri."


Setelah mendengar kalimat itu, sopir taksi tadi sudah tidak berbicara. Beliau kembali bungkam, tidak tahu harus melakukan apa. Pak sopir tidak pandai membuat kata-kata mutiara, jadi dia hanya memberikan ruang untuk Kiara menangis sepuasnya agar dia bisa lebih tenang nantinya.


"Kita sudah sampai, Mbak!"


Kiara mengangguk. Dia mengambil paper bag dan memberikan itu kepada sang sopir. "Ambil kembalinya, Pak!"


"Terima kasih, Mbak!"


Kiara tidak menjawab. Perempuan itu turun dari dalam taksi sementara sopir itu membuka kantong yang Kiara berikan. Sepasang netranya terbelalak begitu melihat segepok uang dari dalam paper bag tersebut.


"MasyAllah, ini mah bukan kembalian, tapi saya benar-benar dikasih. Ya Allah, Alhamdulillah. Mungkin ini rejeki istri dan anak - anak saya. Kita punya uang untuk biaya persalinan, Bu."


....


Tok! Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumssalam," sahut seseorang dari dari dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2