
Perempuan itu berjalan meninggalkan Habibie. Tidak ada lagi yang harus dia harapkan. Jika pernikahan ini memang tidak berhasil, tidak ada yang harus dipertahankan. Kiara memang tidak pernah mencintai siapa pun. Mungkin karena itu juga dia pikir saat dia mulai mencintai seseorang, Kiara akan mendapatkan balasan, tapi itu tidak pernah terjadi.
"Akh!" perempuan itu ambruk di atas lantai. Kiara menunduk, memegangi kakinya, tangan mungil itu mengambil heels yang ia kenakan dan melempar heels itu saat tau jika heels nya patah. Perempuan itu meraung. Dia marah sampai ingin menjedotkan kepalanya ke lantai kantor tapi tangan seseorang menahannya.
Kiara berdecih, dia menepis tangan suaminya. Menghindar dari sang suami juga mencoba untuk berdiri tapi malah kembali jatuh. Perempuan itu meringis memegangi mata kakinya yang sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Habibie menyambar jas miliknya, menyimpulkan lengan jas itu pada pinggang sang istri kemudian menangku istrinya itu keluar dari ruangan. Kiara tidak menolak, kali ini hanya menatap wajah khawatir suaminya dari samping.
"Tuan!" Ali memanggil. Asisten Habibie itu ingin menanyakan keadaan Habibie dan Kira tapi dia terlalu sungkan.
"Siapkan mobil, Ali. Kita pergi ke rumah sakit sekarang."
"Biak, Tuan!"
Pria itu mengabaikan banyaknya pasang mata yang memperhatikan dia dan Kiara. Fokusnya sekarang adalah sang istri. Terlebih Habibie buka tipe orang yang akan memusingkan pendapat orang lain.
"Ikh, Pak Habibie itu sama sekertaris barunya 'kan?"
Seseorang yang lain mengangguk. "Tapi kok kayak enggak asing. Mukanya itu kayak pernah liat tapi dimana gitu ...."
"Ekhhhhh ...." Orang lain menepuk-nepuk pundak temannya. "Itu istrnya, anjir. Waktu nikah kan pake kerudung, mangkanya pangling. Owwla, baru ngeuh gue."
Orang-orang yang ada di sana tercengang. Banyak diantara mereka merasa tertipu. Sudah sering mereka bertemu, tapi mereka tidak tahu kalau Kiara adalah istri dari pemilik perusahaan. Apalagi sikap yang mereka tunjukkan sama sekali bukan sikap yang baik. Mereka pikir Kiara hanya orang baru, jadi ketika perempuan itu meminta bantuan untuk menggunakan mesin fotocopy saja mereka tidak ada yang mau bantu.
"Alamat dipecat ini mah," gumam mereka ketakutan.
"Tapi kita enggak tahu kalau Bu Kiara itu adalah istri sah Pak Abie. Kalau gue tahu, gue bakal baik-baik sama beliau."
Seseorang yang lain mendelik mendengar hal itu. "Mangkanya jangan baik sama orang karena jembatan dan statusnya saja. Sebagai mahluk sosial, kita harus bersikap baik terhadap semua orang tanpa terkecuali."
__ADS_1
**
**
Sampai di rumah sakit pun, Kiara sama sekali tidak bersuara. Dibawa ke sana kemari untuk melakukan pemeriksaan pun hanya Habibie yang menjawab pertanyaan dokter. Perempuan itu sejak tadi lebih fokus pada ekspresi wajah suaminya.
Perempuan itu merasa jika sikap yang Habibie lakukan ini adalah sopan santun. Seperti ini saja Habibie sudah terlihat bak suami baik yang perhatian. Apalagi kalau Habibie benar-benar mencintainya, entah akan seperti apa keperduliannya terhadap Kiara.
"Istri Anda hanya keseleo, Pak. Akan sembuh dalam beberapa hari. Tapi untuk beberapa hari ini, istri Anda tidak akan nyaman saat beraktivitas. Mohon diperhatikan ya Pak!"
Habibie mengangguk mengiyakan. "Dokter yakin bukan kalau istri saya baik-baik saja? Bagaimana jika kakinya bengkak? Apa tidak harus dirawat?"
Dokter itu tersenyum tipis. Sebegitu perhatiannya Habibie sampai memiliki ketakutan seperti ini.
"InsyaAllah aman, Pak. Saya sudah meresepkan obat pereda nyeri. Jika istri Anda kuat, tidak dikonsumsi pun tidak apa-apa."
"Terima kasih, Dok!"
"Sama-sama, Pak. Semoga lekas sembuh."
**
**
Helaan napas kasar keluar dari mulut perempuan itu. Dia melirik kakinya setelah Habibie lenyap dibalik pintu. "Haruskah aku terluka setiap hari agar kau mau mencintaiku, Mas." Kelurahan perempuan itu terdengar sangat lirih dan memilukan. Kiara bersandar dengan mata terpejam. Sebenarnya ia sangat kebingungan, sikap Habibie ini membuatnya bimbang.
Beberapa menit kemudian, Habibie kembali. Pria itu menyodorkan air tapi ditolak oleh Kiara. "Minum dulu, Kia. Setelah ini makanan dan minum obatnya. Jangan memaksakan diri. Saya tahu ini sakit."
"Lebih sakit hati Kiara, Mas!"
Deg!
__ADS_1
Satu kalimat itu sukses membuat Habibie kembali mematung. Jadi ini alasan sejak tadi Kiara bungkam, karena kesalahan yang dia buat, istrinya mendadak diam tidak mau menggubrisnya sama sekali.
"Kiara!" Habibie berucap setelah meletakan gelasnya. "Dengarkan saya. Saya minta maaf kalau saya banyak salah. Tadi saya belum sempat mengatakan hal ini."
Kiara diam tidak menjawab.
"Saya akan belajar untuk mencintaimu Kiara. Tapi saya minta waktu, mungkin kalian pikir saya gila karena saya terlalu mencintai almarhumah istri saya yang bahkan baru dua hari saya nikahi."
Kiara mengerutkan kening. Perempuan itu mendongak, menatap suaminya penuh tanda tanya. Lantas, kenapa Habibie masih melakukan itu saat dia sendiri tahu kalau dia sudah seperti orang gila.
"Saya menikahi Aisyah karena sebuah kecelakaan."
"What?" Kiara membatin.
"Lima tahun yang lalu, saya tidak sengaja membuat calon suami Asiyah meninggal dalam kecelakaan yang tidak saya sengaja. Malam itu saya berkendara dalam keadaan kurang sehat, saya tidak tahu kalau malam yang kelam itu akan membuat saya melenyapkan nyawa seseorang."
Kiara yang awalnya tidak tertarik mulai memperhatikan. Perempuan itu menatap suaminya lekat seolah meminta Habibie untuk melanjutkan ceritanya.
"Calon suaminya Aisyah meninggal seminggu sebelum mereka melangsungkan akad pernikahan. Saya merasa sangat bersalah Kiara. Pria itu tidak memiliki keluarga, sedang keluarga Aisyah meminta saya untuk menikahi Aisyah dan berjanji tidak akan menjebloskan saya ke penjara."
"Teruskan!" pinta Kiara.
"Saya bilang saya tidak mau. Lebih baik saya dihukum daripada seperti itu. Tapi mereka tetap menolak. Akhirnya saya menikah dengan Aisyah, kau tahu bukan kalau Asiyah itu bercadar? Saya melihat wajahnya setelah kami resmi menjadi suami istri. Foto-foto yang kamu lihat dikamar itu adalah bentuk kemarahan Asiyah kepada saya. Perempuan itu mengatakan jika semakin banyak kenangan, maka saya akan semakin menderita."
"Mas cinta sama Kak Asiyah?"
Habibie mengangguk dengan derai air mata yang tidak terbendung. "Saat perempuan itu terbaring di rumah sakit, saya berjanji untuk selalu mencintainya, Kiara. Saya berjanji kalau saya akan membahagiakannya. Saya salah karena telah merenggut kebahagiannya. Saya salah, saya yang seharusnya dihukum, bukan Aisyah."
Kiara tergugu. Perempuan itu berusaha untuk bergerak mendekati suaminya. Memeluk sang suami dan mengusap punggungnya dengan usapan yang sangat lembut.
"Maafkan Kiara, Mas Abie!" Perempuan itu malah ikut menangis. Kiara tidak tahu kalau rasa cinta suaminya kepada Aisyah adalah rasa bersalah yang teramat sangat besar. Kiara bodoh karena membiarkan Habibie menanggung ini sendirian.
__ADS_1
"Jangan minta maaf, Kiara. Saya yang salah."
"No." Perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan yakin. "Aku yang salah karena terlalu egois. Aku akan sabar, Mas Abie. Kiara akan sabar menunggu sampai Mas Abi mau mencintai Kiara."