Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
48. Kesempatan Kedua


__ADS_3

Setelah Kiara mendengar kejujuran Habibie tadi malam, hari ini Kiara melihat Habibie mengemas semua barang milik almarhumah. Menurutnya ini sudah satu langkah lebih baik daripada tidak sama sekali. Kiara senang sebab Habibie menepati janjinya.


"Astagfirullah!" Kiara menepuk keningnya ketika sadar akan sesuatu. Ia buru-buru turun ke lantai bawah seraya menyeret salah satu kakinya. Perempuan itu terlihat sangat panik dan khawatir. Saking hebohnya Kiara, dia sepertinya lupa jika ada rasa sakit yang tubuhnya rasakan kala itu.


Sudah cukup lama sejak Habibie mengepak pakaian dan barang-barang lain milik Almarhumah. Pria itu melirik jam pada pergelangan tangan. Sepertinya dia meninggalkan sang istri sudah dari tadi, Habibie keluar dari kamar itu lantas mencari keberadaan istri kecilnya.


"Kiara!" panggil Habibie. "Kiara ~~!"


Pria itu turun ke lantai bawah tapi masih belum menemukan Kiara, alhasil Habibie menghampiri asisten rumah tangga untuk bertanya. "Bi Arum, liat istri saya enggak?"


Wanita paruh baya itu mengerutkan kening. Namun, beberapa saat kemudian Bi Arum seperti mendapatkan bola lampu di atas kepalanya. "Ikut saya, Tuan!" ajak Bi Arum. Habibie pun menurut. Ia tidak banyak bicara sampai akhirnya mereka tiba di depan pintu utama. Pria itu awalnya memang ingin menemui sang istri. Namun, langkahnya terhenti saat melihat istri cantiknya malah sedang tertawa kecil.


"Itu Nyonya, Tuan!" ucap Bi Arum menunjuk ke arah Perempuan yang sedang berjongkok di depan puluhan kucing liar. "Nyonya selalu memiliki waktu untuk memberikan kucing-kucing itu makan."


"Setiap hari?" tanya Habibie tanpa mengalihkan perhatiannya dari sang istri.


"Iya, Tuan. Sebelum Nyonya berangkat kerja, kucing-kucing itu akan menunggunya di sana, bahkan setelah waktunya pulang kerja, mereka juga akan menunggu kepulangan Nyonya. Tapi kalau Nyonya telat pulang, biasanya bibi yang diminta tolong untuk memberikan kucing-kucing itu makan."


Habibie melangkahkan kakinya untuk lebih mendekat. Senyum simpul tersungging di bibir pria itu ketika ia melihat sang istri tengah tertawa saat para kucing itu saling berebut makanan.


"Hei! Masih banyak. Jangan berebut dong."


Kiara ingin mengambil kembali makanan kucing itu, tapi ternyata sudah habis. Wajahnya terlihat sangat murung, perempuan itu terlalu sedih sebab kucing-kucing itu pasti belum puas makan.


"Ya Allah, maafkan Bunda. Makanan nya habis. Nanti sore balik lagi ya. Biar Bunda belikan makanan yang banyak."

__ADS_1


Perempuan itu mengelus salah satu kepala kucing di depannya. Dia memang tidak suka memelihara kucing. Namun, jika untuk sekedar memberi makan, Kiara tidak pernah sungkan. Perempuan itu akan dengan suka rela menghabiskan uangnya untuk memberi makan kucing-kucing tersebut.


Kiara beranjak dari duduknya. Ia berdiri dengan susah payah, berbalik tapi Kiara langsung dikejutkan saat ia tidak sengaja melihat suaminya ada di depan mata.


"Astagfirullah!" Kiara hampir saja terjengkang kalau Habibie tidak menahan pinggangnya. Pria itu menatap Kiara lekat lantas tersenyum.


"Nanti saya antar beli makanan kucing."


"Really?" tanya Kiara dengan mata berbinar.


Habibie mengangguk mengiyakan ia memangku Kiara, membawa perempuan itu masuk ke rumahnya karena Habibie tahu betul jika istrinya itu sedang tidak bisa berjalan dengan baik.


"Kalau gitu sekalian makan malem di resto kesukaan Kiara boleh?"


Pria itu tidak langsung menjawab. Habibie malah menatap sang istri setelah mendudukkannya di sofa. Mengungkung istri kecilnya masih enggan untuk beranjak.


"Boleh ya, please!" ucap Kiara lagi.


Senyum simpul tersungging di bibir Habibie. Tangan besarnya terangkat, mencubit hidung istrinya gemas. "Baiklah ... kita berangkat sebentar lagi!"


"Yesss!" Kiara bersorak heboh.


Cup!


Bibir itu mengembang semakin lebar setelah mengecup pipi suaminya membuat si pemilik tertegun untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Kau itu sangat nakal Kiara."


"No!" Kiara meletakan jari telunjuknya di atas bibir Habibie. "Jangan panggil Kiara. Panggil Sayang atau Istriku. Tidak ada penolakan, Mas Abie harus mau!"


"Bisa?" tanya Kiara lagi meyakinkan.


Habibie hanya mengangguk. Habibie sudah berjanji untuk membahagiakan Kiara, ia telah bertekad untuk mencintai perempuan di depannya ini. Perempuan cantik yang jauh dari harapan. Namun, Habibie yakin, banyak kebaikan yang bisa dia dapatkan dari Kiara terlepas dari cara berpakaiannya saat ini. Ia yakin, suatu saat Kiara akan mengerti jika terus diingatkan sedikit demi sedikit.


**


**


"Mas Abie!" Kiara memekik dari arah walk in closet. Ia telah selesai berdandan tetapi kesulitan untuk menarik zipper di belakang punggung. Ia sudah mencoba beberapa kali, tapi itu percuma saja karena itu tidak berpengaruh.


"Mas Abie!!!!!"


"Iya, Sayang kenapa? Ini bukan hutan."


Kiara mendelik dengan bibir mengerucut tinggi. Perempuan itu menghampiri suaminya lantas memunggungi sang suami setelah menyibak rambutnya ke salah satu sisi bahunya sehingga tampaklah punggung Kiara yang mulus tanpa noda.


"Tolong tarik zippernya, Mas. Tangan Kiara enggk nyampe."


"Mas!" panggil Kiara lagi karena suaminya itu tidak mendengar apa yang telah dia minta.


"Akh iya," sahut Habibie gelagapan. Pria itu mengulurkan tangan untuk menutupi punggung istrinya. Namun, seiring dengan itu, kepala Habibie mulai menunduk, kecupan hangat ia berikan tepat di bawah tengkuk sang istri.

__ADS_1


"Mas Abie~~." Kiara bergumam dengan sangat pelan. Tubuhnya meremang merasakan hangat sentuhan yang suaminya lakukan. Jujur, Kiara selalu suka bagaimana pun cara Habibie menyentuh. Suaminya ini selalu pandai membuat dia merasakan sesuatu yang aneh. Gejolak dalam hatinya benar-benar membuat Kiara kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


__ADS_2