
"Budheeee ... orang itu udah tua, enggak mungkin dia nyasar. Lha wong Kiara aja bisa kok nyari jalan sendiri, masa dia enggak."
Budhe Rahma mengembuskan napas kasar. Tidak, bukan masalah muda atau tua, laki-laki atau perempuan. Tapi masalahnya, Habibie belum pernah ke sini. Dan ini adalah yang pertama untuknya keluar sendirian. Kalau itu Budhe Rahma, dia juga pasti akan kebingungan, semua jalan terlihat sama seolah lupa tadi berpijak pada tanah atau tidak.
"Ikh kamu, Kia. Dia itu suami kamu, gimana kalau dia nyasar sampai ke hutan Pinus, digigit ular derik baru tahu rasa kamu."
"Budheeee~~!" Kiara memegang bahu perempuan di depannya. "Ular derik itu adanya di gurun, bukan di kebun. Lagian juga Budhe jahat ikh, masa nyumpahin orang kayak gitu, Kia aduin ya sama Pakdhe."
"Ishhhh, keterlaluan kamu Kia."
Budhe Rahma meninggalkan Kiara dengan mood kurang baik. Ya meskipun Budhe sempat kesal kepada Habibie, tapi bukan berarti mereka bisa menghukum pria itu dengan cara seperti ini. Habibie juga manusia, sudah sepantasnya memanusiakan manusia.
Kiara menolehkan kepalanya ke arah jalan, ada rasa khawatir yang melanda, tapi dia tidak perduli. Habibie adalah laki-laki, lihatlah perutnya, pria itu sudah membuat perutnya bengkak seperti itu, masa digigit ular saja kalah.
"Dahlah ... mending mandi aja."
Sementara itu, di tempat lain, orang yang sedang dibicarakan oleh Budhe Rahma tengah berusaha mati-matian untuk memanggul dua karung besar pucuk teh di punggungnya. Keringat besar bercucuran membanjiri wajah tampannya, lutut pria itu sudah bergetar sebab dia juga belum sarapan.
"MasyaAllah. Udah ganteng, baik, kuat juga ya Kang Habibie. Nanti saya antar ke pesantrennya Ustadz Risyam." Ibu-ibu pemetik teh itu tersenyum merasa sangat senang karena Habibie mau membantunya.
"Akang itu orang kota ya? Apa suaminya si Eneng cantik?"
Habibie mengangguk dalam kepayahannya. Pria itu mau menjawab tapi dia terlalu lelah, memang beban di punggungnya tidak terlalu berarti, tapi karena belum ada asupan ke tubuhnya, ia merasa sangat lemah.
"Eummm ... Akang kerja di Dubai ya? Kayak anak saya? Soalnya, si Eneng cantik udah lama di sini tapi Akang baru muncul. Tapi ya Kang, Akang itu beruntung punya si Eneng cantik, selain baik, dia juga setia sama Akang."
Habibie mengerutkan kening, Kiara memang sebaik itu, pada kucing-kucing liar saja dia sayang, apalagi kepada sesama. Namun, bagaimana mungkin mereka mengatakan kalau Kiara setia.
"Bener Kang. Nih ya, Bi Edoh pernah denger kalau Pak Kades minta Ummi Rahma buat jodohin Neng Kia sama anaknya."
__ADS_1
"What?" cengo Habibie. Karung-karung di punggungnya sampai jatuh saking kagetnya dia kala itu. "Istri saya lagi hamil, Bu. Gimana bisa kayak gitu?"
Para ibu-ibu itu menggelengkan kepalanya. Mereka juga tidak mengerti, anaknya Pak Kades sudah lama menduda, "Kata Pak Kades beli satu gratis satu, Kang."
"Emangnya istri saya barang diskonan, Bu. Astagfirullah!"
Ibu-ibu itu mengangguk. Mereka kembali mengangkat karung-karung itu lantas meletakannya lagi di punggung Habibie, mobil pengangkut sudah tidak jauh, mereka hampir sampai.
"Mungkin Pak Kades keblinger, Kang. Saya juga heran, kan enggak boleh nikahin perempuan yang lagi hamil."
Habibie mengembuskan napas panjang. Pria itu menyesal karena sudah membiarkan Kiara pergi dari sisinya. Seharusnya Habibie sadar lebih awal agar kejadian seperti ini tidak terjadi.
** **
"Alhamdulillah ... makasih Kang. Kita pulang dulu ya, kan Akang udah nyampe pesantren. Lain kali hati-hati ya! Jangan sampai nyasar lagi."
"Saya juga makasih ya Bu. Maaf sudah merepotkan."
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumssalam," sahut orang dari dalam. "Nah pulang juga, Pak. Budheeee!" teriak Kiara. "Pak Habibie enggak jadi digigit ular derik."
"Alhamdulillah!" Ummi Rahma menyahut. Wajahnya sudah tidak murung lagi. Ummi senang karena Habibie tidak jadi hilang.
"Budhe doain saya digigit ular?" tanya Habibie dengan wajah sendu. Air mukanya menunjukkan jika saat ini Habibie sangat sedih. Dia sudah berusaha untuk meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Namun ternyata itu belum cukup untuk membuat semua orang memafkannya.
"Ya Allah ... enggak ada Nak Abi. Anak itu memang suka asal bicara. Nak Abi dari mana aja? Masuk yuk! Belum makan pan? Budhe udah masak banyak."
Kiara mendengus, perempuan itu menatap sang suami dengan mata memincing. Dikasih hati minta jantung. Udah syukur dikasih tempat tinggal, sekarang malah mau ngambil perhatiannya Budhe Rahma.
__ADS_1
"Kenapa merengut?" tanya Risyam.
"Wa'alaikumssalam," ketus Kiara kesal. "Makin ngelantur ya."
Hehehe ... Risyam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia mengucapakan salam dan Kiara membalasnya kembali. Pria itu berjalan mendekat, menelisik wajah Kiara yang redup bagai bohlam tanpa listrik.
"Bahagia banget kayaknya," ujar Risyam membuat Kiara semakin mendelik.
"Aku marah Kak Risyam. Lagi kesel."
Risyam terkekeh. Dia tahu Kiara marah, tapi perempuan ini terlalu lucu jika wajahnya ditekuk seperti ini. "Memangnya marah kenapa sih?"
Mereka berdua mengobrol, Risyam juga menuntun Kiara untuk masuk ke dalam agar perempuan itu bisa duduk di atas kursi yang nyaman.
"Lihatlah!" marah Kiara. "Pria tua itu mengambil kasih sayang Budhe. Harusnya Budhe enggak usah baik-baikin dia, Kak. Aku enggak mau dicuekin lagi. Cukup ayah aja yang kayak gitu."
Risyam mengangguk. Pria itu mengerti kekhawatiran apa yang Kiara rasakan. Namun, Kiara juga tidak tahu kalau yang selama ini selalu mengirimkan makanan adalah ayah dan juga ibu sambungnya. Risyam sempat memberikan saran agar semuanya dibuat transparan saja. Akan tetapi Amzar menolak, beliau takut kalau Kiara tahu fakta sesungguh, Kiara tidak akan mau menerima semua barang pemberian darinya.
"Kiara!" Risyam menarik tangan Kiara. Pria itu menatap sendu wajah adik sepupunya itu. "Maaf kalau saya lancang. Coba kamu pikir baik-baik, Kak Habibie memang sudah banyak menyakiti kamu, tapi kamu juga masih sangat mencintainya bukan?"
Kiara bungkam, perempuan itu tidak menjawab dan lebih memilih untuk diam.
"Kamu lihat, kamu yang punya ayah, masih merasa kesepian karena kamu merasa ayah kamu udah enggak perduli sama kamu. Bagaimana dengan anak yang ada dalam kandungan kamu hah? Dia yang akan menerima dampaknya kalau sampai kamu salah melangkah. Habibie sudah berjanji untuk tidak menyakiti kamu lagi."
"Tapi, Kak---!"
"Kiara~~"
Perempuan itu menoleh, entah sejak kapan Habibie sudah ada di dekatnya.
__ADS_1
"Mas janji, mas enggak akan pernah menyia-nyiakan kalian lagi. Mas pernah salah, mas mohon, maafkan mas ya ... terserah kamu mau bersiap seperti apa sama mas. Mas enggak akan marah, mas ridho, Sayang. Tapi, kamu mau kan kembali ke rumah Kita. Kalau enggak mau balik ke rumah lama, kita beli rumah baru, hmm?"